November 11, 2016

DKWSS – Chapter 2 : Ingot

 

Ingot

Part 1

16 April. Langit Cerah.

Hari itu dimulai seperti hari yang lain, udaranya bersih dan kering. Para wisatawan mengalir ke sana kemari di sepanjang jalan utama yang membelah kota Jinan .

Tapi bagi beberapa orang, meskipun hari itu dimulai seperti hari biasanya, akhir dari hari itu akan berbeda.

Cara lain untuk menjelaskannya adalah dengan mengatakan bahwa beberapa orang terlihat biasa saja dari luar, tapi sebenarnya sama sekali tidak.

Wu Tao adalah orang yang seperti itu.

***

Wu Tao adalah seorang yang biasa saja, seorang pebisnis, terlihat cukup jujur, tapi sama sekali tidak bodoh.

Tidak gemuk ataupun kurus, tidak tampan atau jelek, dia memakai setelan pakaian yang meski tidak dibuat dari bahan terbaik tapi terlihat cukup awet walau kerap tertutupi debu selama melakukan perjalanan. dia mengendarai seekor keledai yang sama-sama terlihat bekerja keras seperti dia. Wu Tao tidak lagi muda, dia tampak seperti tipe orang yang memiliki tabungan di suatu tempat. Dia hanya ingin menghidupi istri dan anak-anaknya, dan mungkin membuat hidupnya sedikit lebih nyaman saat dia tua nanti.

Siapa yang tahu berapa banyak orang seperti ini di dunia. Satu-satunya perbedaan antara Wu Tao dan yang lainnya adalah sebelum matahari terbenam pada tanggal 15 April, tidak ada yang pernah melihatnya.

Tidak ada yang pernah melihatnya, tak seorang pun.

***

Bahkan bisa bilang—

Pebisnis biasa Wu Tao ini tidak muncul di dunia hingga setelah kematian jutawan besar Sun Jicheng.

Tidak pernah muncul sama sekali.

Part 2

Di luar kota-kota besar selalu ada kota kecil, dan kota kecil selalu punya penginapan.

Desa Liu di luar Kota Jinan juga punya penginapan, dan di sanalah Wu Tao menginap. Dia tiba larut malam pada 15 April.

Saat itu, bulan telah mulai terbenam, dan gerbang utama penginapan telah ditutup. Dia memanggil selama beberapa kali sebelum mereka membukanya.

Dia memilih penginapan di desa ini karena pada jam tersebut, semua gerbang kota di Prefektur Jinan telah ditutup. Sebagai wisatawan dari daerah lain Cina, tidak peduli berapa kali kau memanggil, mereka tidak akan membukanya. Jadi dia tidak punya pilihan selain bermalam di sebuah penginapan.

—Tapi apakah dia benar-benar melakukan perjalanan dari daerah lain Cina menuju Prefektur Jinan? Atau apakah dia sebenarnya akan meninggalkan Jinan?

Untungnya, pemilik penginapan dan stafnya tidak tertarik untuk menanyakan hal seperti itu, ataupun mengamati apakah penampilannya berubah saat dia datang dan pergi.

Sama halnya, tidak seorang pun akan memperhatikan apa yang dia lakukan di kamarnya malam itu.

***

Tanggal 16 adalah hari acara pasar di desa Liu; pagi-pagi sekali orang sudah berbondong-bondong dari segala tempat untuk ikut turut serta, membawa ayam, bebek, babi, domba, buah, sayur, makanan laut, bunga, beras, tepung, dan gandum untuk di barter dengan alat-alat makeup, kain sutera, sulaman atau keping perak untuk dibawa pulang ke keluarga bahagia mereka.

Tentu saja, pencopet dan pengemis tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan dari keriuhan ini.

Pada saat penginapan itu membuka gerbang utamanya, alun-alun dan jalan utama di seberangnya sudah penuh sesak dengan berbagai macam pejalan kaki. Bahkan ada dua rombongan teater Jianghu yang mengadakan pertunjukan, sehingga desa itu lebih sibuk dari biasanya.

Wu Tao tidak bisa untuk tidak tertarik melihat keramaian tersebut.

Kemudian ia mengamati sesuatu yang menakjubkan. Sepertinya para pengemis itu sangat terorganisir; mereka mengumpulkan hasil yang mereka dapatkan ke suatu area tertentu secara sembunyi sembunyi. Jika pejalan tidak memberi apapun pada mereka, mereka tidak akan memintanya. Jika orang-orang memberi banyak, mereka juga tidak memanggil, atau sekedar mengucapkan “terima kasih.”

Dalam setiap kelompok, seorang pengemis tua dengan karung goni di punggungnya duduk di belakang, membagi hasil yang  mereka kumpulkan secara adil dengan anggota lainnya.

Siapa yang akan membayangkan bahwa para pengemis itu akan punya peraturan sistematis. Setiap orang pasti menganggap hal ini cukup menarik.

Tapi ada satu pengemis, seseorang dengan mata lebar, yang sepertinya tidak mengerti peraturan ini.

Lelaki muda ini memiliki wajah bundar, saat dia tersenyum, dua lesung pipitnya muncul. Ketika dia menarik perhatian seseorang, dia akan tersenyum dan membuka kedua tangannya. Mungkin karena penampilannya yang menawan, atau karena kemampuannya menilai karakter seseorang, saat dia membuka tangannya, mereka jarang kembali dalam keadaan kosong.

Lalu dia mengumpulkan semakin banyak uang, yang semuanya masuk dalam tasnya sendiri.

Ketika tasnya mulai terisi, dia mulai berkeliling di tengah kerumunan, dan pada satu titik dia menabrak Wu Tao dan membuatnya terjatuh.

Wu Tao tidak memberinya sekeping pun koin tembaga.

Dia bukan tipe orang yang memberi amal. Uangnya telah dihasilkannya dengan susah payah, jauh lebih berharga dibandingkan uang yang dihasilkan pengemis ini.

Dia tahu bahwa pengemis muda itu berpapasan dengannya secara sengaja. Tapi dia lebih licin daripada ikan, dan segera setelah menabrak Wu Tao, dia lari, menghilang tanpa jejak dalam hitungan detik.

Wu Tao tidak mengejarnya.

Dia juga bukan tipe orang yang mencari masalah atau gampang emosi karena hal-hal sepele. Dan setelah ditabrak tadi, semangatnya untuk melihat keramaian pasar itu hilang.

Dia kembali ke penginapan, menaiki keledainya dan langsung menuju Jinan.

***

Dia benar-benar langsung menuju Jinan.

Terlepas dari dimana dia berasal, ini adalah fakta, dan bukan kebohongan. Sekitar siang hari, dia telah tiba.

Part 3

Suara gong dan gendang saling beradu di keramaian pasar . Seorang gadis, berumur tujuh belas atau delapan belas tahun, dengan rambut dikepang dua sedang menampilkan pertunjukan tumbling. Kakinya, panjang, lurus, dan kuat, seperti sudah siap kapanpun untuk menerobos dari celana panjang yang dikenakannya, yang dijahit dari banyak potongan kain katun warna warni.

Area pasar ini lebih meriah dari yang lainnya, dengan banyak orang berkumpul untuk menonton pertunjukan ini.

Pengemis muda itu menyelinap seperti ikan menembus kerumunan, lalu jongkok, terengah-engah.

Dia tahu bahwa lelaki tua pelit dengan wajah runcing itu, tidak akan mengejarnya. Dia mungkin belum sadar jika dompet koinnya sudah tidak ada di pinggangnya, tapi ada dalam kantong pengemis muda ini.

Dompet koinnya sama sekali tidak ringan; pasti ada sedikitnya dua puluh atau tiga puluh keping perak berkilau di dalamnya.

Pengemis muda itu, mata lebarnya mengarah ke kaki jenjang gadis berambut kepang itu, dan merasa cukup bahagia.

Ketika si gadis mengulurkan gong tembaganya dan berkata, “Para penonton, tolong beri beberapa koin,” pengemis muda yang mengemis untuk memohon sedekah itu, tiba-tiba menjadi murah hati. Dia mengeluarkan beberapa koin dan melemparnya ke dalam gong.

Gadis berkepang itu tersenyum manis padanya, dan pengemis itu tiba-tiba merasa sedikit pusing. Pada saat dia sedang berpikir untuk memberi beberapa koin lagi, dia tiba-tiba merasakan ada tangan menekan pundaknya.

Itu adalah dua pengemis, yang satu bopeng, yang lainnya pincang, dan tekanan pada cengkeraman mereka tidak ringan.

Mungkin saja pengemis muda itu selicin ikan, tapi dalam cengkeraman mereka dia sulit bergerak.

Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah tersenyum pada mereka dengan senyum andalannya.

Sayangnya, dua pengemis ini tidak sedikitpun tergerak oleh wajah bulat, mata besar dan lesung pipitnya. Tidak hanya menolak melepaskannya, mereka menarik lengannya dan menyeretnya bangun lalu menjauh dari kerumunan.

Semua orang di sekeliling sedang memperhatikan kaki jenjang itu, dan tidak satu pun peduli pada urusan dari tiga pengemis bau itu.

Gong dan gendang berbunyi lagi, dan sebuah pertunjukan baru dimulai.

Part 4

Pengemis muda itu tidak kecil. Melihat wajahnya mungkin kau perkirakan dia berusia 14-16, meskipun dinilai fisiknya mungkin dia antara 17-19.

Tapi di tangan pengemis bopeng dan pincang itu, dia seperti anak ayam, dua kakinya bahkan tidak menyentuh tanah.

Dia ingin tertawa, tapi tidak bisa.

Dia juga ingin berteriak, tapi pengemis bopeng itu sudah meraup segenggam lumpur dari tanah. “Jika kau teriak, akan kusumpal mulutmu dengan ini.”

Dengan mulutmu yang disumpal segenggam besar lumpur bukan hal yang menyenangkan, jadi pengemis muda itu hanya memasang wajah getir dan berkata, “Tuan-tuan, aku tidak melakukan apapun yang menyinggungmu. Mengapa kau perlakukan anak malang sepertiku dengan cara ini?”

“Kami tidak ingin berurusan denganmu,” kata si pincang. Meskipun wajahnya kaku, suaranya lembut. “Tapi kau harus ikut dengan kami ke suatu tempat.”

“Pergi ke suatu tempat? Kemana?”

“Untuk bertemu paman.”

“Paman? Sejak kecil aku tak pernah punya ibu atau ayah, darimana bisa ada paman?” Pengemis muda itu terlihat sudah hampir menangis. “Tuan-tuan, menurutku kalian pasti membuat kesalahan.”

Mereka mengacuhkannya. Suara gendang dan gong dari pasar terdengar semakin jauh.

Mereka telah mencapai sebuah bukit kecil di luar desa.

***

Di lereng bukit berdiri sebuah pohon hijau kebiruan yang besar. Di bawah pohon itu terletak sebuah lempengan batu hijau kebiruan. Dan di atas batu itu duduklah seorang lelaki yang mengenakan pakaian dari kain hijau kebiruan.

Kain itu usang, tertutup tambalan-tambalan,tapi cukup bersih.

Wajah lelaki itu juga bersih, tapi tanpa ekspresi, seperti tanpa warna apapun, hampir seperti orang mati.

Untungnya saat itu tengah hari, jika itu tengah malam, orang yang melihatnya bisa mati ketakutan atau sangat takut sampai melompat tiga meter ke udara.

Kelihatannya lelaki berbaju hijau kebiruan itu tidak melihat mereka. Dia hanya duduk di sana, kepalanya dimiringkan pada sudut tertentu, menatap jauh, seperti melamun. Mungkin dia mengingat kenangan pahit, atau orang yang tak terlupakan.

Dan wajah pucatnya masih tidak menunjukkan ekspresi, dan matanya yang dingin terlihat seperti mata mayat.

Pengemis bopeng dan pengemis pincang itu berdiri di depannya, tak berani bernapas.

Pengemis muda itu seperti kehilangan nyalinya, dan terlalu takut untuk mengatakan apapun.

Beberapa saat berlalu sebelum lelaki berpakain hijau kebiruan itu berkata. Dan saat dia melakukannya, dia hanya mengucapkan tiga kata: “Lepaskan anak itu.”

Dua pengemis itu segera melepaskan pegangan menjepit mereka pada pengemis muda itu. Bahkan saat dia mengeluarkan napas lega, dia melihat lebih jelas dan tiba-tiba tahu bahwa lengan baju bagian kanan lelaki berpakaian hijau kebiruan itu kosong. Benar-benar kosong dan dimasukkan ke dalam bagian pinggang pakaiannya. Di punggungnya dia membawa beberapa karung goni besar, semuanya kosong. Sepertinya ada sedikitnya lima, dan mungkin bahkan tujuh atau delapan. [3]

Sebuah karung goni lain tergeletak di atas batu hijau kebiruan, sepertinya menggembung dengan sesuatu, entah apa siapa yang tahu.

Siapapun dengan pengalaman di Jianhu pasti bisa tahu bahwa lelaki berbaju hijau kebiruan dan kehilangan lengan itu adalah seseorang dengan kekuatan dan pengaruh besar, dengan murid tak terhitung banyaknya di bawah kendalinya, Dia jelas salah satu dari Tetua “Beggar Sect” yang terkenal dan dihormati.

Tapi pengemis muda ini tidak menyadarinya.

Dia tidak mengerti peraturan, dan tidak tahu cara-cara di dunia. Dan parahnya lagi, untuk hal-hal yang seharusnya dia tidak mengerti, sepertinya cukup banyak yang dia pahami.

Selain mencuri ayam dan membelai anjing, memamerkan lesung pipitnya dan berpura-pura dengan keimutan serta kepolosannya, dan lari dengan uang orang lain, dia juga tampaknya mengerti bagaimana menghargai kaki wanita.

Lelaki berlengan satu itu terus menatap jauh beberapa saat sebelum tiba-tiba berkata, “Kau tahu siapa aku?”

Pengemis muda itu menggelengkan kepala kuat-kuat. Dan kemudian tiba-tiba menganggukkan kepalanya.

“Aku tau siapa kau.” jawabnya. “Dua tuan ini bilang mereka akan membawaku menemui paman. Pasti kau yang dimaksud.”
Lelaki itu tidak menjawab.

Pengemis muda itu mendesah. “Sayangnya, kau bukan pamanku. Aku bahkan tak punya paman. Jadi, Paman siapa kau ini?”

Lalu dia tiba-tiba bertepuk tangan. “Aku tahu. Kau bukan paman siapapun. Orang-orang hanya memanggilmu begitu. Itu panggilanmu.”
Lelaki itu tidak menjawab.

Pengemis muda itu tertawa, senang karena merasa dirinya begitu pintar. Bahkan pertanyaan sulit begini bukan masalah baginya.

Sayangnya, pertanyaan selanjutnya tidak begitu mudah.

“Apa kau tahu mengapa aku menyuruh mereka membawamu menemuiku?”

“Mengapa?’ Saat tidak mampu menjawab pertanyaan, hal terbaik untuk dilakukan adalah menanyakan pertanyaan tersebut, sebuah trik yang sering dipakai orang-orang bijaksana.

Dan tampaknya bajingan kecil ini tahu trik itu juga.

Akhirnya, lelaki berbaju hijau kebiruan itu menolehkan kepalanya, manatap pengemis muda itu dengan tatapan dingin. Dengan suara dingin dia mengucapkan sepuluh kata.

“Itu karena kau telah melanggar peraturan dari sekte kami.”

“Sekte?” Pengemis muda itu sepertinya tak mengerti. “Sekte apakah kau ini?”

“The Poor Family Sect.”

Setiap orang di Jianhu tahu bahwa the Poor Family Sect tidak lain adalah the Beggar Sect. Tapi sepertinya pengemis muda ini tidak tahu.

“Kau membuat kesalahan. Aku bukan dari the Poor Family Sect. maksudku, aku miskin, tapi aku tidak punya keluarga. Jika punya, mungkin aku tidak akan miskin!”

“Itu tidak masalah meskipun kau bukan anggota sekte kami.”

“Kenapa?”

“Karena sekte kami memimpin siapapun di dunia yang hidup dari mengemis.” Suaranya, meskipun dingin dan lepas, membawa kesan dia memiliki kekuatan yang mengerikan.

Pengemis muda itu tertawa lagi, tawa kebahagiaan yang murni. Dan kemudian dia mengucapkan dua kata yang orang lain tak mungkin bayangkan: “Selamat tinggal.”

Biasanya orang hanya mengucapkan selamat tinggal pada saat sudah waktunya untuk pergi—kadang ketika mereka memang harus pergi, atau saat lain ketika mereka sama sekali tidak ingin. Kadang itu hanya pura-pura, cara untuk membujuk yang lain untuk memaksamu tinggal.

Tapi pengemis muda ini benar-benar berniat untuk pergi. Segera setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia pergi.
Sayangnya, dia tidak bisa.

Sebelum dia bisa melangkah semeter, dua pengemis dengan pegangan menjepit mereka memeganginya.

“Untuk apa kalian memegangiku?” pengemis muda itu protes. “Aku tidak ada urusan di sini. Aku bukan dalam Poor Family Sect kalian, dan aku bukan seorang pengemis.”

“Kau bukan?”

“Tentu saja bukan. Aku baru saja mengganti profesiku.”

“Mengganti profesi jadi apa?”

“Aku adalah seorang pencuri.” Pengemis muda itu bicara dengan kepercayaan diri penuh. “Bahkan jika kau adalah leluhur dari semua pengemis muda di dunia, kau tidak bertanggung jawab atasku, karena aku seorang pencuri.”

Apa yang diucapkannya masuk akal. Tidak ada yang bisa bilang tidak.
Lelaki tanpa lengan berpakaian hijau kebiruan itu menatap jauh lagi. “Hal-hal di mana orang lain mungkin tidak bertanggung jawab atasnya, “ katanya dengan dingin, “Aku yang bertanggung jawab.”

“Kenapa?”

–“Karena aku bukan orang lain.” “Karena aku lebih kuat dari orang lain.” “Karena aku lebih berkuasa daripada orang lain.”

Dia tidak mengucapkan semua ini.

Dia tidak ingin dan tidak perlu melakukannya. Kadang tidak mengatakan apapun itu yang terbaik.

Dia menunjuk karung goni menggembung yang tergeletak di sampingnya di atas batu hijau kebiruan. “Lihatlah,” katanya. “Lihatlah apa yang ada di dalamnya.”

***

Pengemis muda itu sudah ingin melihat isinya sejak awal tadi.

Dia tahu bahwa apapun yang ada di dalamnya bukan sesuatu yang baik, dan tidak akan membawa kebaikan apapun baginya untuk melihat. Tapi keingintahuan merayapi hatinya seperti seekor ulat.

Tentu saja dia ingin melihat. Dia tidak bisa untuk tidak melihat.

Dan setelah dia melakukannya, ulat keingin tahuan yang merayapi hatinya tidak pergi. Malahan, dia berubah menjadi seratus seribu, sepuluh ribu ulat. Menggeliat tidak hanya dalam hatinya, tapi juga perutnya, ususnya, pori-porinya, pembuluh darahnya, dan bahkan tulang-tulangnya.”

Kemanapun ulat keingintahuan itu bisa merayap dalam tubuhnya, mereka lakukan, hingga dia ingin menendang, mengutuk dan menangis dan muntah.

***

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dengan benda-benda di dalam tas itu. Mereka hanyalah benda-benda yang bisa orang lihat setiap hari, setiap saat.

Tas itu penuh dengan hidung, telinga, dan beberapa tangan.

Hidung manusia, telinga manusia, dan tangan manusia.

seperti tumpukan manusia.

Selama kau tinggal di dunia, dan tidak buta, maka selain saat kau sedang tidur, kau akan melihat benda-benda ini setiap waktu, akan sulit untuk tidak melihatnya.

Tapi benda-benda ini tidak seharusnya berada dalam sebuah karung goni.
Lelaki barbaju hijau kebiruan itu, dengan suara dingin, berkata, “Mengancam untuk memeras, telinga dan hidungnya dipotong. Mencuri kekayaan, tangannya dipotong. Memperkosa istri dan anak perempuan, dibantai tanpa ampun. Tak peduli apakah kau anggota the Sect atau bukan.”

“Siapa yang membuat peraturan tersebut?”

“Aku.”

“Apa kau pernah berhenti dan berpikir bahwa mungkin peraturanmu ini terlalu kejam?” tanya pengemis muda itu. “Lagipula, kau tak punya wewenang untuk membuat peraturan seperti itu!”

“Tidak, aku tidak pernah berpikir begitu.”

“Dan tidak ada yang pernah memberitahumu?”

“Tidak!”

Pengemis muda itu mendesah, “Baiklah, aku memberitahumu sekarang. Aku menyarankan kamu untuk mengubah peraturanmu itu secepatnya.”

Lelaki berbaju hijau kebiruan itu menolehkan kepalanya, melihat pengemis muda itu dengan pandangan dingin. “kau beruntung.” katanya tiba-tiba.

“Apa maksudmu?”

”Karena kau masih anak-anak. Jika tidak, kau pasti sudah mati di tanganku.”

Pandangannya menerawang lagi, mengacuhkan pengemis muda itu, dan memberi perintah dengan dingin, “Potong tangan kirinya.”

Pengemis muda itu segera mengambil langkah seribu, secepat mungkin.
Orang muda seperti ini akan selalu siap untuk melepaskan diri. Dia mungkin tidak punya kemampuan lain, tapi dia bisa lari dengan cepat.

Sambil berlari, dia berteriak, “Karena kau kehilangan tangan kirimu, makanya Jadi kau ingin memotong tangan kiri orang lain!”

Dia berani berteriak seperti ini karena sudah memastikan bahwa tak ada orang di belakang yang sedang mengikutinya.

Memang tidak ada orang di belakangnya. Tapi ada orang di depannya.

Sulit menentukan kapan itu terjadi, tapi orang berbaju hijau kebiruan itu sudah berdiri di depannya sekarang. Bahkan tanpa memandangnya, lelaki itu berkata, “Mulai sekarang, kamu mungkin hanya punya satu tangan, tapi jika kau berjanji untuk menjadi orang baik, kau bisa tetap hidup. Dan kau mungkin akan punya hidup yang lebih baik dibandingkan saat kau punya dua tangan.”

Pengemis muda itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Tidak bisa, aku tidak mau. Dua tangan masih lebih baik daripada satu. Tidak akan kubiarkan kau memotong tanganku.”

Dan saat dia berteriak mendesak, tiba-tiba terdengar suara orang yang belari ke atas lereng bukit. Lalu dari belakang muncul dua kepangan hitam berkilau.

Dia berlari dengan cepat, karena kakinya yang panjang dan kuat.
Sambil berlari, dia berteriak, “Dia hanya anak kecil yang malang, tolong ampuni dia!”

Lelaki berbaju hijau kebiruan mengerutkan kening, “memangnya siapa dia buatmu?” tanyanya.

“Aku tidak kenal dia. Yang kutahu aku merasa kasihan padanya.”

“Kau kasihan padanya? Mengapa kau tak kasihan pada orang yang dompet koinnya dia curi? Mungkin saja dompet koin itu berisi semua uang yang dia miliki. Dan sekarang orang tuanya, istri dan anak-anaknya tidak akan punya uang untuk hidup. Mengapa kau tak kasihan pada mereka?”

Gadis berkepang itu seperti kehabisan kata-kata. “Mungkin saja seperti itu.” Dia tergagap. “Tapi terlebih dulu kau harus berusaha mencari tahu kebenarannya sendiri.”

“Aku tidak perlu mencari tahu apapun.”Tiba-tiba matanya bersinar penuh kebencian yang tak dapat dijelaskan. “Lebih baik aku salah membunuh seratus orang, daripada membebaskan satu orang.”

“Tapi…”

Sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya, dia merasakan dirinya ditarik ke samping. Lalu kemudian dirasakannya sebuah pisau kecil ditempelkan ke lehernya. Itu tak lain adalah si pengemis muda.

Menempelkan pisaunya ke tenggorokan gadis itu, dia berkata, “Jika kau tak membebaskan aku, aku akan membunuhnya. Dan kematiannya adalah karenamu. Apa hukuman dari melukai orang tak bersalah? Aku yakin itu adalah memotong semua anggota badanmu.”

Lelaki berbaju hijau kebiruan itu tidak terlihat marah. Ekspresinya tidak berubah. Bahkan tanpa berpikir, dia menjawab, “Kau boleh pergi.”

Part 5

Dan pengemis muda itu pun pergi dengan gadis berkepang itu, dua tangannya masih utuh.

Mereka menuruni lereng bukit dan meninggalkan desa Li. Mereka berjalan hingga mencapai hutan lebat yang jauh dari peradaban, dan saat pengemis muda itu yakin bahwa mereka tidak diikuti, akhirnya dia melepaskan gadis itu.

Gadis berkepang itu segera berbalik, matanya berkilat marah “Sebenarnya kau ini manusia bukan?” tanyanya dengan geram.

“Tentu saja.” jawab pengemis muda itu sambil tertawa. “Dari kepala hingga kaki.”

“Jika benar, lalu bagaimana bisa kau lakukan itu? Bagaimana bisa kau perlakukan aku seperti itu?”

Gadis itu benar-benar marah, tapi pengemis muda itu hanya tertawa gembira dan membalas, “bukannya kau tadi kesana untuk menyelamatkanku?”

“Tentu saja.”

“Baiklah. Kamu sudah membebaskan aku. Harapanmu menjadi kenyataan. Terus salahku di mana?”

Si gadis terlihat bingung dengan pertanyaannya, dan harus mengakui bahwa yang dia ucapkan sedikit masuk akal.

Pengemis muda itu menanyainya lagi, “Apa yang akan kau lakukan untuk menunjukkan rasa terima kasihmu padaku?”

“Menunjukkan rasa terima kasih?” teriak gadis itu. “Kau ingin aku berterima kasih padamu?”

“Tentu saja kau harus berterima kasih,” kata pengemis muda itu dengan yakin. “Lelaki berbaju hijau kebiruan dengan satu lengan itu adalah tipe orang yang mengambil keputusan dengan cepat, dan kemampuan bela dirinya tingkat tinggi. Lagipula, dia itu semacam orang aneh yang eksentrik. Jika aku tadi tak memakai cara itu, bagaimana caranya kau akan membebaskan aku darinya?”

Gadis berkepang itu tidak bisa berkata apa-apa.

Semakin pengemis muda itu berbicara, semakin masuk akal yang dikatakannya. “Mungkin kau tak akan bisa menyelamatkanku, lalu kemudian kau akan sangat sedih. Aku memberimu kesempatan untuk merasa bahagia, dan dengan bantuan seperti itu, bagaimana bisa kau tak berterima kasih?”

Gadis itu tertawa, dan saat dia tertawa, dia terlihat bagaikan mekarnya kuncup bunga putih yang tumbuh di tepi hutan.

“Kau bajingan kecil, Kau memang penuh dengan trik licik.”

“Jika kau kesulitan mencari trik, aku akan senang  memberi saran.”

“Trik licik apa yang sedang kau bicarakan sekarang?”

“Caramu untuk berterima kasih.”

“Dengan cara apa. Katakan padaku.” katanya sambil berkedip. Dia ingin mendengar rencana licik yang akan disampaikan oleh bajingan kecil ini.

Pengemis muda itu berdehem beberapa kali, kemudian dengan ekspresi yang benar-benar datar, berkata, “Jika kau biarkan aku mencium bibir indahmu, itu tandanya kau berterima kasih padaku, dan kuanggap kita impas.”

Wajah gadis itu jadi memerah. Pengemis muda itu terlihat sungguh-sungguh berniat dengan cara ini.

“Berani kau! Jika kau berani mencoba menciumku, aku akan…”

“Apa, apa salahnya?”

Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah berlari, dengan cepat, kepang rambutnya melayang –layang di belakangnya. Kedua pitanya tampak seperti dua kupu-kupu yang menari di udara.

Pengemis muda itu tertawa dengan keras, begitu kerasnya sampai dia membungkuk-bungkuk.

Sekarang bulan April, dan musim Semi telah tiba.

Part 6

Semak tumbuhan murbei yang lebat dan rimbun, selebat dan serimbun siraman musim semi yang turun dan kesedihan yang dibawa bersamanya.

Pengemis muda itu tidak mengejar dua kupu kupu tadi. Dia menyukai kupu-kupu yang indah, namun dia tidak memiliki keinginan untuk bertemu kembali dengan orang berwajah pucat seperti mayat tadi.

Hutan ini akan jadi tempat yang lebih aman.

Dia menoleh ke arah hutan, berharap akan menemukan pohon rimbun untuk bergelung di bawahnya dan tidur sebentar.

Siapa yang akan mengira bahwa dia tidak sempat menemukan pohon seperti itu, karena ada orang lain yang sudah menemukan dia lebih dulu.

***

Sebenarnya, ada lima orang yang menemukannya, dan mereka mengepungnya, membuatnya sulit untuk melepaskan diri.

Lima lelaki besar yang terlihat menakutkan, kuat dan garang; sepertinya mereka bukan ahli bela diri hebat, tapi mereka pasti masih bisa membunuh beberapa anak seperti pengemis muda ini .

Salah satu dari mereka punya gondok besar di lehernya dan membawa pedang yang sangat besar; tampaknya dia pimpinan kelompok ini. Dengan seringai yang menyeramkan pada pengemis muda itu, dia berkata, “Hei bocah, kau tahu peraturan di jalanan? Kami yang pertama kali melihat domba kecil gemuk di jalan tadi, mengapa kau yang mencurinya?”

“Domba kecil gemuk? Di mana ada domba kecil gemuk?” Pengemis muda itu memasang mimik aneh di wajahnya, “Aku belum bertemu domba kecil kurus, apalagi domba kecil gemuk untuk dicuri.”

“Jika kau mencium wangi uang, kau harus membaginya jadi dua. Kau mengerti peraturan ini?”

“Tidak,” jawab pengemis muda itu. “Aku belum mandi sedikitnya empatbelas atau limabelas hari dan badanku bau sekali. Aku tidak mencium wangi apapun.”

Dia menarik bajunya dan mencium baunya, lalu segera menutup hidung dan mengerutkan kening. “Bau sekali. Sangat bau hingga bisa membunuhmu. Jika tak percaya, datanglah ke sini dan cium sendiri.”

“Dengar bocah!” kata lelaki gondok itu dengan marah. “jangan pura-pura bodoh.”

Dia memutar pergelangan tangannya, dan pedangnya berkilau. Kawan-kawannya tiba-tiba berteriak, “Ayo kita urus bajingan ini, kita lihat apa dia mau memberikan uangnya atau nyawanya.”

Pengemis muda itu tiba-tiba seperti paham apa yang sedang terjadi. “Oh, kalian adalah bandit, dan kalian menginginkan uangku.” Dia mendesah. “Bandit yang hanya berani mencuri uang dari pengemis. Bandit seperti ini sangat jarang.”

Lelaki gondok itu mengeluarkan teriakan dan mengayunkan pedangnya. Pengemis muda itu segera melambaikan tangannya dan berkata, “Jangan marah dulu. Jika kau marah, gondokmu akan semakin membesar. Siapa bilang itu tidak mungkin jadi lebih besar dari kepalamu, dan itu tidak akan menyenangkan. “

Dia tersenyum, dan sekali lagi lesung pipitnya muncul, “Selama kau tidak marah, aku akan memberikan apapun yang kalian inginkan.”

“Kami tidak menginginkan apapun kecuali perak putih yang berkilau! Itu akan mencegah kami untuk marah!”

“Aku tak punya perak. Tapi bagaimana jika kuberi kalian ingot?”

“Ok.” Kemarahan lelaki gondok itu berubah jadi tawa. “Tentu saja itu boleh.”

“Kau ingin yang besar? Atau yang kecil?”

“Yang besar, tentu saja. Semakin besar semakin baik.”

“Itu soal mudah,” kata pengemis muda itu dengan tawa. “Aku tak punya yang lain. Aku hanya punya satu ingot, dan itu sangat besar.”

Tiba-tiba dia menjatuhkan tubuhnya ke tanah lalu berbaring, meletakkan kepalanya di atas tangannya. “Ingotnya ada di sini. Ambillah.”

Tidak ada yang terlihat seperti ingot di mana pun. “Di mana?” tanya mereka dengan tidak sabar.

“Akulah ingot itu. Karena aku adalah sebuah ingot.” Dia menunjuk hidungnya. “Tidakkah kau ingin punya ingot sebesar ini?”

Kali ini lelaki gondok itu sangat marah, dan gondok di lehernya memang mulai menggembung dan membesar. “Dasar anak jalang,” umpatnya, “Kau berani macam-macam dengan orang lebih tua?”

Kali ini dia benar-benar menyerang dengan pedangnya, dan saat dia mengangkat pedang besarnya, sangat jelas jika itu mendarat di atas si pengemis muda, itu akan membelah tubuhnya jadi dua.

Kawan-kawan lelaki gondok itu juga segera maju, penusuk, belati, kapak, semua diarahkan ke pengemis muda itu. Walaupun serangan mereka tidak gesit, dan senjata yang mereka gunakan bukan jenis yang dipakai ahli dunia bela diri, mereka bisa dengan mudah mencincang pengemis muda itu menjadi potongan-potongan dalam hitungan detik.

Pengemis muda itu tampak ketakutan sekali, sangat takut hingga seluruh tubuhnya gemetar. Tapi jauh dalam matanya, tidak ada rasa takut yang terlihat.

Tepat pada saat yang sama, sesuatu yang terlihat seperti empat atau lima kilatan cahaya yang menyilaukan keluar dari dalam hutan. Beberapa dari mereka, yang paling terang, bersinar dengan sesuatu yang terlihat seperti cahaya perak, meski mustahil untuk melihatnya dengan jelas.

Itu karena mereka bergerak terlalu cepat, mustahil bagi mata manusia untuk melacaknya dengan jelas.

Cahaya yang menyilaukan itu besinar, lalu kemudian menghilang. Lima lelaki tegap itu jatuh ke tanah.

Mereka jatuh ke tanah dengan cepat, tidak pernah bangun lagi, tidak bisa berdiri lagi.

Sebuah cahaya yang menyilaukan itu seperti senjata rahasia yang mematikan.
Lima lelaki sekuat kerbau, terbunuh begitu cepat sehingga mereka tidak punya kesempatan berteriak kesakitan atau ketakutan.

Jenis senjata rahasia ini terlalu cepat, terlalu akurat, terlalu menakutkan.

Siapapun yang menggunakan senjata ini pastilah pendekar yang hebat. Hanya sekitar sepuluh ahli seperti itu di dunia, dan baru saja muncul sedikitnya dua orang.

Ini jelas karena cahaya menyilaukan itu ditembakkan dari dua arah yang berbeda, dan warna yang dihasilkan juga berbeda.

Mengapa dua ahli terbaik ini muncul di sini, bersamaan?

Mungkinkah mereka datang hanya untuk menyelamatkan pengemis muda itu?

Cahaya menyilaukan itu sudah menghilang, begitupun jejak kedua ahli tersebut.

Pengemis muda itu tidak melihat kilatan atau cahaya, atau melihat ada orang berdiri dalam hutan.

Dia sungguh tidak tahu siapa yang telah menyelamatkannya, tapi yang pasti, nyawanya kembali di tangannya. Tentunya dia harus mengucapkan terima kasih.

Angin bertiup melewati daun-daun di hutan yang sunyi itu.

Tiba-tiba dia berdiri, sepertinya tanpa sedikitpun rasa berterima kasih. Kenyataannya, dia kelihatan sangat marah, wajahnya memerah.

“Siapa kalian, bajingan?” umpatnya. “Siapa yang menyuruh kalian menyelamatkanku? Kalian pikir aku tidak bisa mengatasi beberapa bandit tingkat delapan?”

Dia sudah diselamatkan dan kemudian mengumpat pada penyelamatnya.

Jika kau harus memilih bajingan yang tidak tahu mana yang baik dan buruk, kau akan sangat sulit menemukan kandidiat yang lebih baik dari bocah ini, tidakkah kau setuju?

Syukurlah, penyelamatnya sudah pergi, jika tidak, mereka mungkin akan sangat marah.

***

Bicara, menyanyi, bahkan mengumpat tanpa penonton itu sangat melelahkan dan membosankan.

Semakin pengemis muda itu mengumpat, semakin tak berguna kelihatannya. Dia hanya ingin menemukan sebuah pohon untuk tidur sebentar, lalu memikirkan cara untuk mengurus lima mayat itu.

–Meskipun mereka bandit tingkat delapan, dia tidak bisa membiarkan mereka mati tanpa peti mati.

Kali ini, dia menemukan pohon yang sesuai, dan bersiap-siap untuk berbaring. Karena dia telah berbalik, dia tidak tahu apa yang terjadi di belakangnya, dan tidak akan pernah membayangkan bahwa satu dari lima orang mati itu telah hidup lagi.

Part 7

Orang mati tidak bisa hidup lagi. Di sana tidak ada lima orang mati, tetapi empat.

Lelaki gondok itu tidak mati, dan segera setelah pengemis muda itu berbalik, “mayat”nya mulai bergerak.

Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, meskipun dia telah terluka, gerakannya sangat tangkas, bahkan lebih tangkas dari sesaat yang lalu.
Pengemis muda itu telah mencapai pohon.

Lelaki gondok itu menatapnya dengan mata merah. Gondoknya tiba-tiba berubah menjadi merah, lalu dari merah berubah jadi ungu, kemudian mulai berkilau, berkilau seperti sebongkah amethyst transparan.

Dan kemudian, tubuhnya melompat ke depan seperti macan tutul, lurus ke arah pengemis muda itu.

Gerakannya sekarang adalah sesuatu yang hanya bisa dimimpikan untuk dilakukan oleh bandit tingkat delapan. Faktanya bahkan bandit tingkat tujuh, enam, lima, empat, tiga dan dua pun tidak bisa melakukannya. Gerakannya tiba-tiba menjadi tingkat satu.

Walaupun terluka, tetapi saat dia maju untuk menyerang, kecepatannya, momentumnya, jurus dan kekuatannya semua adalah tingkat satu.

Dia telah menjatuhkan pedangnya karena terluka, tapi sekarang sepertinya dua tinjunya bahkan lebih menakutkan dibandingkan pedangnya.

Urat biru berdenyut di bagian belakang tangannya, lalu berubah jadi ungu, dan kemudian mulai berkilau.

Bahkan orang dengan penglihatan terburuk pun bisa melihat bahwa ini adalah teknik tinju yang telah dilatih hingga puncak kesempurnaan.
Sayangnya, pengemis muda itu tidak bisa melihatnya, matanya sedang fokus pada arah yang berlawanan.

Hal yang menguntungkan adalah bahwa dia punya pendengaran yang tajam, dan dia bisa mendengar suara dari serangan tinju itu saat meluncur di udara.

Kemudian sebuah suara retakan keluar saat tinju lelaki gondok itu beradu dengan batang pohon yang tebal.

***

Pengemis muda itu berdiri di sana, ketakutan setengah mati. Dia tidak terluka, sama sekali tidak. Tapi keringat dingin menetes di seluruh tubuhnya.

Karena sekarang, dia tahu bahwa lelaki itu bukan tingkat delapan, tapi sudah pasti tingkat satu. Sebelumnya, dia hanya bersandiwara saja.

Seorang ahli tingkat satu tidak akan berteman dekat dengan orang-orang tingkat delapan, jadi kawan-kawan lelaki gondok itu pasti juga tingkat satu.

Salah mengira ahli bela diri tingkat satu dengan tingkat delapan adalah hal yang sangat berbahaya. Jika saja seseorang tidak menyelamatkannya barusan, mungkinkah dia masih hidup?

Sekarang dia tahu bahwa tidak seharusnya dia mengumpati mereka.

Tapi apa yang tidak dia mengerti adalah mengapa ahli dunia bela diri tingkat pertama mau berpura-pura jadi orang bodoh yang ceroboh hanya demi usaha membunuh seorang pengemis muda. Dan mengapa mereka sangat menginginkan nyawanya?

**
[1] Liu adalah karakter untuk Willow
[2] Loach adalah sejenis ikan. http://tinyurl.com/lfbt9o9
[3] Semisal anda tidak begitu paham tentang the Beggar Sect, saya akan menjelaskan secara singkat tentang perkumpulan itu. Tingkatan dalam the beggar Sect biasanya diindikasikan dari banyaknya tas yang dibawa oleh pengemis tersebut. Tingkatan tertinggi, dipegang oleh Elders, biasanya delapan atau sembilan.
[4] Kiasan ini terdengar lebih baik dalam Chinese karena kata “bow” secara harfiah bermakna “butterfly knot.”
[5] Sebuah ingot adalah potongan emas besar berbentuk sabit. http://tinyurl.com/kyj9wu7

Translator / Creator: Jade77