December 19, 2016

DKWSS – Chapter 18 : A Red Flower in a White Head of Hair

 

A Red Flower in a White Head of Hair

Part 1

19 Agustus. Akhir pagi.

Ingot menunggu kematian, tapi bahkan setelah menunggu cukup lama, dia tidak mati.

Tangan Gao Tianjue masih mencengkeramnya erat-erat, telapak es itu perlahan mulai menghangat, seperti gunung es yang mengapung di kutub utara sejak jaman kuno yang akhirnya mulai mencair.

Gunung es akhirnya akan mencair, seperti halnya manusia dengan darah dan daging.

Ingot tertawa.

“Aku tahu kau tidak akan bisa untuk membunuhku,” katanya. “Bagaimana kau bisa tega membunuh orang semenarik aku?”

Gao Tianjue tidak menunjukkan reaksi.

Tampak seolah dia tidak ada di sana, seolah dia telah menyelinap dalam ke sebuah perangkap manis dan gelap. Seperti seseorang telah mengambil mimpi yang jauh dari masa lalu dan menenunnya menjadi sebuah perangkap.

Ingot membelai tangannya, lalu menghela nafas.

“Tangan yang begitu indah. Kau seharusnya bisa menggunakannya untuk melakukan banyak hal yang membahagiakan dirimu dan orang lain. Mengapa mengubahnya menjadi senjata pembunuh?” Dia tidak bisa menahan untuk bertanya: “Mengapa kau tidak bisa seperti wanita lain, dan melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh wanita?”

Tangan dan tubuh Gao Tianjue seketika menjadi sedingin es dan kaku.

“Bagaimana kau tahu aku seorang wanita?”

“Aku tahu saja,” jawab Ingot. “Aku sudah tahu sejak lama.”

Gao Tianjue segera membalik tangannya dan mencengkeram pergelangan tangannya. Dengan marah, dia berkata, “Kau tahu aku seorang wanita, dan kau berani memperlakukanku seperti ini?”

Tiba-tiba dia berubah. Sekarang dia terlihat seolah bisa membunuh kapanpun. Tangannya sekarang adalah senjata pembunuh.

Tapi Ingot sama sekali tidak terlihat takut.

“Karena aku tahu bahwa kau seorang wanita maka aku memperlakukanmu begitu,” katanya. “Karena aku benar-benar merasa iba padamu sepanjang waktu ini.”

“Kau merasa iba padaku?” Amarah mengisi suaranya yang serak. “Kau berani merasa iba padaku?”

“Mengapa tidak bisa?” jawabnya. “Kau tidak punya keluarga, tidak punya teman. Hidupmu sepanjang tahun-tahun ini lebih menyakitkan dan kesepian dibandingkan hidup orang lain.” Dia menundukkan kepalanya. “Terus terang, tidak hanya merasa iba padamu, aku menyukaimu.”

Gao Tianjue menatapnya seolah dia telah dicincang dengan sebuah pedang. Ujung jarinya yang tajam telah menusuk ke dalam kulit Ingot.

“Apa kau bilang?” tanyanya marah. “Apa yang baru saja kau katakan?”

“Aku bilang aku sungguh menyukaimu.” kata Ingot, terdengar sedikit marah. “Jangan bilang aku tidak bisa menyukaimu? Jangan bilang kau percaya bahwa dirimu tidak cukup berharga untuk disukai?” Semakin dia bicara semakin menjadi marah dia. ”Jangan bilang kau berpikir aku sedang mencoba mengelabuimu untuk membuatmu tertarik dan merayumu ? Jika kau memang berpikir seperti itu, bunuh saja aku sekarang, dan jika kau tidak melakukannya, berarti kau benar-benar seorang bajingan.”

***

Siapa yang akan berani bicara seperti itu pada Gao Tianjue? Bahkan Ingot pun tahu bahwa tidak seorangpun berani.

Karenanya, dia menutup matanya lagi dan menunggu kematiannya.

Part 2

“Selamat? Kau memberiku selamat?”

Big Boss Tang tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan sebuah jeritan. Tenggorokannya seolah akan terbelah setiap saat.

Tapi Grand Miss Lei terus melanjutkan dengan gembira: “Aku memberimu selamat.” Dia mengulangi ucapannya lagi: “Selamat, selamat! Aku mendoakan bagimu keberuntungan dan sukacita yang besar.”

“Aku sedang duduk di rumah mengurusi urusanku sendiri, ketika tiba-tiba seorang bajingan tua aneh menyeretku ke sini. Lalu kau, kau nenek tua, menelanjangiku, menjadikanku setengah mati. Dan kemudian kau memberiku selamat?” Suaranya serak, dia bertanya, “Apa yang salah denganmu?”

Suaranya tidak sedikitpun marah, Grand Miss Lei berkata, “Tidak ada yang salah dengan kami, ataupun dengan kau. Aku bisa menjamin bahwa tubuhmu tidak mempunyai masalah apapun.”

“Aku selalu seperti itu.”

“Jadi karena tidak ada yang salah denganmu, aku memberimu selamat. Aku perlu memeriksa untuk melihat, dan karena itu aku membuatmu dibawa ke sini.”

“Ada banyak orang di dunia. Mangapa kau tidak bisa pergi melihat jika ada yang salah pada beberapa dari mereka?”

“Karena mereka bukan kau,” kata Grand Miss Lei cerdik. “Itu karena kau bukan orang lain maka kami memilihmu.”

“Apakah aku punya sesuatu yang salah atau tidak ada hubungannya denganmu?”

“Tentu saja ada.”

“Bagaimana?”

“Karena Tuan Muda Kesembilan kami menyukaimu, dan ingin menikahimu,” kata Grand Miss Lei. “Jadi tentu saja aku harus melihatmu baik-baik dari dekat. Orang bermasalah tidak bisa menikah dengan Dragon Family.”

Note : Dragon Family adalah keluarga yang sama dengan yang ada pada novel “7killers” dengan begitu ingot adalah Dragon 9th

Big Boss Tang akhirnya mengerti. Namun dia tidak bisa menahan mengajukan pertanyaan uintuk memastikan: “Tuan Muda Kesembilanmu adalah badut itu?”

“Dia bukan badut. Dia adalah ingot,” tawanya.  “Ingot hebat yang disukai semua orang.”

***

Wajah Big Boss Tang memerah, merah padam.

“Bagaimana kau tahu bahwa dia ingin menikahiku?” Dia mengerahkan keberanian, lalu bertanya lagi, “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Bagaimana kami bisa tidak tahu?” tawa Grand Miss Lei, terdengar makin gembira. “Kami tahu semua yang kau katakan dan lakukan tadi malam di kamar tidur.”

Wajah Big Boss Tang semakin merah dan terasa panas.

Bagaimana mungkin orang-orang ini tahu tentang semua yang telah dia katakan dan lakukan tadi malam?

“Kami bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Kami belum pernah melakukannya bertahun-tahun. Tapi jika itu urusan tentang Tuan Muda Kesembilan, kami harus terlibat, kami tidak punya pilihan.”

“Kenapa?”

“Karena kami berhutang pada ayahnya.”

Big Boss Tang mulai menjadi marah lagi. “Dia di luar menyebabkan kerusakan dan memicu masalah, mengapa kalian tidak terlibat dengan hal itu?”

“Kami tidak terlibat dalam hal-hal seperti itu,” kata Grand Miss Lei. “Sebenarnya, ayahnya tidak bisa mengendalikannya, jadi meskipun kami ingin, kami tidak bisa.” Dia bicara dengan sikap terus terang. “Selama kau tidak mengganggunya, maka dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya, dan kami tidak akan terlibat.”

“Dan bagaimana jika dia mengganggu yang lainnya?”

“Dia adalah anak yang baik. sopan dan berhati baik. Mengapa dia ingin mengganggu orang lain?” Suaranya penuh cinta. “Bahkan meskipun terkadang tampak seolah dia mengganggu orang, itu bukan masalah besar.” Lalu suaranya mengeras. “Tapi jika dia ingin mengganggu, biarkan saja. Kami akan berpura-pura tidak tahu. Dan jika dia mencoba, tapi gagal, kami akan maju untuk membantu.”

Big Boss Tang mendengarkan, terkejut.

Dia tidak mengerti bagaimana seseorang bisa mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu.

“Saat ini,” kata Grand Miss Lei, “Aku tahu kau tidak punya cacat, jadi kau memenuhi syarat untuk menikahinya. Tentu saja aku harus memberimu selamat.” Lalu dia bertanya, “Sekarang apakah kau mengerti?”

“Tidak.”

“Kau masih tidak mengerti?” tanya Grand Miss Lei, terkejut. “Apakah kau seorang idiot?”

“Aku bukan idiot,” kata Tang Lanfang. “Tapi aku tua.”

“Kau sama sekali tidak tua.”

“Aku sedikitnya sepuluh tahun lebih tua darinya.”

“Lalu?” tanyanya, terdengar sangat berpikiran terbuka dan sungguh-sungguh. “Pasangan menikah dan teman adalah sama. Selama mereka berdua bahagia, apa hubungannya dengan sedikit perbedaan usia.”

Tang Lanfang ternganga.

Dia belum pernah mendengar siapapun mengatakan hal seperti itu sebelumnya, ataupun berani memikirkan tentang itu.

Namun sekarang, dia terpaksa melakukannya. Jantungnya mulai berdebar, cepat.

Lalu dia mendengar suara lelaki tua itu dari luar: “Bisakah aku masuk sekarang?”

“Berani kau!” teriak Grand Miss Lei dengan marah. “Jika kau berani masuk, aku akan mencungkil bola matamu.”

Dia tampaknya menghela napas.

Grand Miss Lei menggumamkan umpatan, “Si tua mesum.” Sambil mengumpat, dia memasangkan kembali pakaian Tang Lanfang.

Setelahnya, dia berteriak, “Cepat masuk ke sini!”

***

Akhirnya, Tang Lanfang bisa melihat mereka berdua dengan jelas.

Si suami, terlihat sembunyi-sembunyi dan kuno, sangat kurus dan pendek.

Si istri, terlihat lebih sembunyi-sembunyi, lebih kuno dan lebih kurus, dan sedikitnya dua kali setinggi suaminya.

Usianya jauh dari batasan “Nona Besar.” Dia sedikitnya cukup tua untuk meenjadi nenek nona besar manapun.

Namun dia mengenakan pakaian yang dipakai seorang nona besar. Dan apa yang dikenakannya bahkan lebih mencolok dari yang akan dipakai seorang nona besar.

Dia memakai makeup pada wajahnya yang tirus, dan sebuah bunga merah besar dipasangkan ke rambut putih di pelipisnya.

Tang Lanfang belum pernah melihat orang-orang yang begitu menggelikan seperti ini. Namun dia tidak tertawa.

Dia tidak bisa.

Meski begitu, lelaki tua itu tertawa. Melihatnya dan tertawa.

“Apakah kau tahu mengapa istriku mengatakan yang baru saja dikatakannya?” tanyanya. “Mengapa dia bilang bahwa perbedaan usia bukan masalah di antara pasangan menikah?”

Dia cepat-cepat menjawab prtanyaannya sendiri, rupanya takut istrinya akan melarangnya untuk mengatakannya: “Karena dia berusia duabelas tahun lebih tua dariku.”

Tang Lanfang merasa bahwa itu sangat aneh.

Yang aneh bukan apa yang telah dikatakannyaa, tapi kenyataan bahwa setelah dia mengatakannya, dia tidak menerima tamparan di wajah.

Tidak hanya Grand Miss Lei tidak terlihat bermaksud melakukan apapun, dia sebenarnya melihat suaminya dengan tatapan hangat, penuh arti.

“Dia lahir di tahun kambing,” katanya, “dan dia selalu beranggapan aku juga. Itu akan membuatku duabelas tahun lebih tua darinya. Kecuali, bahwa sebenarnya aku lahir di tahun naga, yang membuatku sembilanbelas tahun lebih tua darinya.”

“Kau pikir aku tidak tahu?” kata lelaki tua itu dengan tawa keras. “Kau pikir kau bisa mengelabuiku?”

“Kau tahu?”

“Tentu saja aku tahu,” kata lelaki tua itu, terlihat sangat senang. “Aku tahu bahkan sebelum kita menikah.”

“Lalu mengapa kau memintaku menikahimu?”

“Karena aku mencintaimu,” kata lelaki tua itu pada istrinya, matanya penuh dengan kasih sayang yang manis dan lembut. “Meskipun kau tujuhbelas tahun lebih tua dariku, aku masih ingin menikahimu.”

“Benarkah?”

“Kapan aku pernah berbohong padamu?” tanyanya sambil mengedipkan mata. “Jika aku pernah melakukannya, itu hanya karena aku tidak ingin membuatmu marah.”

Grand Miss Lei tertawa, tawa yang benar-benar terdengar seperti seorang nona besar.

“Sekarang, kau tidak boleh berbohong padaku,” katanya, wajahnya tiba-tiba berubah sangat serius. “Setelah kau menikahiku, apakah kau menyesalinya?”

“Mengapa aku harus menyesalinya?”

“Bukan saja aku lebih tua darimu, aku sengit dan kasar dan mudah cemburu.”

“Kau sengit karena kau ingin yang terbaik untukku. Kau cemburu karena kau mencintaiku, dan kau khawatir aku akan mengejar seorang wanita yang lebih muda. Jika kau tidak mencintaiku, aku bisa mengejar delapanratus wanita, berlutut dan memohon padamu agar cemburu, tapi kau tak akan cemburu.”

Dia tiba-tiba menggenggam tangan istrinya, seperti seorang pemuda menggenggam tangan cinta pertamanya. “Ijinkan aku bertanya, setelah sekian tahun, akankah kau katakan bahwa hidup kita bahagia?”

Grand Miss Lei menganggukkan kepalanya pelan. “Setiap hari sejak hari kita menikah selalu sangat bahagia. Jika Tuhan mengijinkanku menjalaninya lagi, aku masih akan menikahimu.”

Kemudian dia menolehkan kepalanya dan menatap Tang Lanfang: “Aku yakin kau berpikir bahwa kami lucu dan memuakkan.”

***

Tang Lanfang tidak merespon. Dia tidak perlu melakukannya. Dia yakin mereka bisa melihat apa yang dirasakannya. Saat ini, jika ada yang mengatakan bahwa mereka lucu dan memuakkan, dia akan menampar wajah mereka.

Awalnya, dia telah berpikir bahwa pasangan ini menggelikan, tapi sekarang dia hanya ingin menangis.

Seperti orang yang terjebak dalam sebuah kamar gelap untuk waktu yang sangat lama, lalu tiba-tiba melihat langit cerah, gunung hijau dan pohon-pohon, bunga merah dan tanah luas, airmata mengalir dari matanya.

“Kau menangis?”

“Aku tidak menangis.”

“Kau jelas-jelas meneteskan airmata. “

“Meneteskan air mata belum tentu menangis,” kata Tang Lanfang. “Dan menangis belum tentu. meneteskan airmata.”

“Kau pasti berpikir seorang nenek tua sepertiku, berdandan seperti gadis kecil, cukup menggelikan. Mangapa kau malah menangis?”

“Aku tidak tahu,” jawab Tang Lanfang. “Aku sungguh-sungguh tidak tahu.”

***

Sebenarnya, dia tahu, dia hanya tidak ingin mengatakannya. Jadi lelaki tua itu mengatakan untuknya.

“Jika kau percaya dirimu masih muda, siapa yang berani menyebutmu tua?” katanya pada istrinya. “Jika kau percaya dirimu tua, kau bisa berpakaian seperti yang kau inginkan, dan tidak akan ada yang berpikir itu menggelikan.” lanjutnya: “Faktor penentu menjadi tua bukanlah usia seseorang, tapi lebih pada hatinya. Karenanya, beberapa orang berusia delapanbelas tahun sudah tua, tapi beberapa orang yang sudah hidup selama delapanpuluh tahun masih cukup muda.”

Grand Miss Lei tertawa, lalu mencubit pelan pipi Tang Lanfang. “Jika aku tidak tua, lalu bagaimana kau berani menyebut dirimu tua? Ayo! Kita harus kembali.”

“Kembali?” tanya Tang Lanfang. “Kembali ke mana?”

“Kembali ke badut kecilmu!”

Dia menariknya untuk pergi, tapi Tang Lanfang, wajahnya memerah, berkata, “Tunggu sebentar.”

“Tunggu apa?”

“Ada hal lain yang ingin kutanyakan padamu.”

“Apa itu?”

“Mungkin dia ingin menikahiku, tapi apakah aku ingin menikah dengannya?” tanyanya, wajahnya merah padam. “Terlepas dari apapun, kau setidaknya harus bertanya padaku dulu.”

Dia harus mengerahkan banyak keberanian untuk mengatakan hal ini. Namun, bagi Grand Miss Lei pertanyaan ini tampaknya bahkan tidak terhitung sebuah pertanyaan.

“Tentu saja kau ingin.” katanya. “Siapa yang tahu berapa banyak wanita yang ingin menikahi pemuda berbakat seperti dia. Jika mereka mengantri, maka antriannya akan terbentang di sepanjang Kaifeng.”

“Benarkah ada wanita sebanyak itu yang ingin menikahinya?”

“Tentu saja.”

“Lalu mengapa kau tidak membiarkan salah satu dari mereka menikahinya?”

“Mengapa aku harus membiarkan orang lain menikahinya?”

“Karena aku bukan orang lain,” kata Tang Lanfang, wajahnya datar.

“Orang lain ingin, tapi aku tidak.”

Grand Miss Lei tertawa lagi. “Aku tahu,aku tahu. Wanita memang seperti ini. Di bibir mereka bilang mereka tidak ingin, tapi di hati mereka , mereka 1000% ingin.”

Tampaknya dia telah benar-benar memutuskan masalah itu, tidak berniat untuk mengubah pikirannya sama sekali. Bahkan jika Tang Lanfang mengatakan lebih tentang itu, dia tidak akan mendengarkan.

Tang Lanfang hanya bisa mengikutinya.

Berurusan dengan orang seperti ini, apa lagi yang bisa dilakukannya?

***

Itu adalah hari musim semi yang cerah dan indah. Bunga bermekaran. Beberapa mekar sedikit lebih awal, dan beberapa sedikit terlambat, tapi pada akhirnya, mereka semua mekar.

Bunga yang terlambat mekar selalu lebih berwarna dan lebih indah.

Hidup beberapa orang seperti bunga yang terlambat mekar. Tepat saat mereka berpikir, bahwa tidak ada bunga yang menghasilkan buah dalam hidup mereka, surga mengirimkan sebuah kejutan tak terduga. Bunga-bunga akan mekar lagi, membawa kebahagiaan.

Selama seseorang hidup, ada harapan.

Part 3

Jantung Tang Lanfang berdebar cepat. Semakin dekat jarak mereka dari rumahnya, semakin cepat detaknya.

Apa yang akan terjadi setelah dia melihat Ingot? Bagaimana dia akan memperlakukan dirinya? Bagaimana dia sendiri akan memperlakukannya? Dia masih tidak berani memikirkan hal itu.

Bajingan kecil itu hanya mengatakan hal-hal tersebut setelah dia mabuk. Siapa yang tahu berapa kali di masa lalu dia mengatakan hal yang sama pada para gadis. Mungkin dia telah lupa dengan apa yang dikatakannya.

Tapi pasangan tua ini menganggap serius yang diucapkannya, seolah dia telah secara resmi melamarnya sesuai dengan three letters and six etiquettes. Tampaknya mereka siap mengirimkan mereka berdua ke ruang pernikahan. Saat dia memikirkan itu, jantungnya berdebar makin kencang.

Dia menyukai Ingot, sangat menyukainya. Tapi tidak cukup untuk segera menikahinya.

Dia bahkan belum pernah berpikir untuk menikahi seseorang.

Tapi jika Ingot, dengan segala keseriusan, mengakui apa yang telah diucapkannya, mungkin dia tidak akan semarah itu.

–Bagaimana bisa wanita tua berusia tigapuluh empat tiba-tiba mulai bersikap seperti seorang gadis kecil?

Dia benar-benar ingin memberikan dua tamparan keras di pipinya sendiri.

***

Bagaimana dengan Ingot? Apakah dia telah terbangun dan menemukan bahwa dia telah pergi? Apakah dia mengkhawatirkannya?

***

Lelaki tua itu telah memandanginya sepanjang waktu, tertawa sendiri, seolah dia bisa membaca hatinya. Dia tiba-tiba berkata, “Jangan khawatir, dia tidak akan lari. Bahkan jika seseorang mencoba memukulnya pergi dengan sebuah sapu, dia tidak akan pergi. Aku tahu bahwa dia mencintaimu, dan dia akan menunggumu kembali.”

Tang Lanfang mengacuhkannya.

Lelaki tua itu terus main-main dengannya. Dengan sengaja, dia bertanya, “Kau tahu siapa ‘dia’ yang sedang kubicarakan, bukan?”

Dengan sengaja, dia menjawab, “Tidak.”

“Kau sungguh-sungguh tidak tahu?”

“Tidak.”

“Yah, kalau begitu aku harus memberitahumu,” katanya sambil mengedipkan mata. “Aku sedang membicarakan tentang badut itu, calon suamimu.”

Wajah Tang Lanfang memerah, dan lelaki tua itu bertepuk tangan, tertawa. Dia tertawa begitu keras hingga tampak seolah giginya yang tinggal satu itu akan jatuh.

Grand Miss Lei juga tampak cukup senang. Bahkan bunga merah besar di rambut putihnya juga terlihat tertawa bahagia. Tang Lanfang ingin marah, tapi tidak bisa.

Ketika kehidupan begitu indah, alasan apa yang mereka miliki untuk marah? Pembenaran apa untuk menjadi marah?

Jadi mereka bahagia. Karena mereka tidak tahu apa yang telah terjadi pada Ingot.

Bahkan jika seseorang memberitahu mereka, mereka mungkin tidak akan mempercayainya.

***

Apa yang terjadi pada Ingot, bahkan dia sendiripun nyaris tidak mempercayainya.

Translator / Creator: Jade77