December 15, 2016

DKWSS – Chapter 16 : Big Boss Tang’s Adventure

 

Big Boss Tang’s Adventure

Part 1

19 April. Fajar.

Sinar pucat cahaya pagi menerobos melalui jendela, memungkinkan Big Boss Tang untuk memandang wajah Ingot.

Dia mabuk. Tadi saat dia mengatakan “Aku tidak mabuk,” dia langsung jatuh tertidur, dan sekarang saat dia tidur, dia terlihat seperti anak-anak.

Dia memang masih kecil, seorang anak laki-laki yang cerdas, nakal, menawan dan menjengkelkan, seperti anak laki-laki yang dikenalnya saat dia masih muda.

Dia memanggilnya “kakak,” dan anak itu memanggilnya “adik laki-laki.” anak itu benar-benar menganggapnya sebagai adik laki-lakinya. Setiap hari mereka mendaki atau memanjat pohon bersama. Mereka mengumpat dan berkelahi, mengendarai sapi dan mengejar anjing, mencuri ayam dan pergi memancing.

Semua hal yang dilarang orang dewasa untuk dilakukan anak-anak, anak itu akan mengajaknya melakukannya. Semua trik yang dimainkan anak laki-laki, juga dimainkannya.

Akhirnya, dia hampir lupa bahwa dia adalah seorang anak perempuan.

Lalu satu hari di musim panas, anak itu mengajaknya ke hutan di belakang gunung untuk pergi bermain air di sungai.

Saat itu adalah hari yang panas, dan dia mengenakan pakaian tipis dari kain rumput tenun. Air di sungai itu sejuk dan menyegarkan. Mereka berdua berteriak seperti badai saat bermain, hingga pakaiannya basah kuyup.

Pakaian itu menempel ketat di tubuhnya, dan sinar matahari siang musim panas menyinari dalam kehangatannya.

Tiba-tiba dia menyadari bahwa anak laki-laki itu tidak berteriak lagi. Dia sedang menatapnya seperti orang bodoh dengan mata besarnya.

Itu adalah saat di mana anak laki-laki ini menemukan bahwa dia bukan anak laki-laki, dan terlebih lagi, dia telah tumbuh.

Dia mulai merasa gugup.

Kemudian dia melihat sesuatu berubah pada tubuh anak laki-laki itu, berubah dengan cara yang menakutkan. Dia ingin lari, tapi kedua lututnya lemas.

***

Saat mereka kembali ke rumah hari itu, langit gelap, dan makan malam sudah sejak lama dimakan.

Sejak hari itu, meskipun anak itu masih memanggilnya “adik laki-laki,” dia tidak pernah lagi mengajaknya bermain seperti anak laki-laki.

Sejak itu, dia menjadi miliknya, seluruhnya hingga hari di mana anak itu memutuskan untuk pergi dan menjelajah Jianghu. Dia menyuruhnya untuk tidak bermain dengan anak laki-laki lain, dan menunggunya hingga dia kembali.

Tapi anak itu tidak pernah kembali.

***

Dia berusia tujuhbelas saat itu, dan sekarang dia berusia tigapuluh empat.

Selama tujuhbelas tahun itu, dia tidak pernah punya lelaki kedua. Dan belum pernah ada lelaki kedua yang bisa menggerakkan hatinya.

Dia tidak pernah membayangkan setelah tujuhbelas tahun yang seolah tak berujung itu, dia akan tiba-tiba bertemu pemuda seperti ini, begitu cerdas, nakal, menawan dan menjengkelkan.

Dia merasakan jantungnya berdebar.

Baru saja saat Ingot memeluknya, perasaan hangat yang akrab menjalari tubuhnya, perasaan yang sama yang dirasakannya pada malam musim panas itu.

Jika Ingot tidak jatuh tertidur tadi, apa yang akan terjadi?

Dia tidak berani memikirkannya.

–Bagaimana bisa bajingan ini bersikap seperti ini? Bagaimana dia bisa begitu jahat?

***

Meskipun saat itu masih April, tampaknya akan semakin panas. Panas yang tidak nyaman.

Dia mulai berkeringat, berkeringat tak terkendali.

Dia tidak bisa menunggu bajingan kecil ini bangun. Dia tidak bisa memberinya kesempatan untuk main-main dengannya, untuk membuatnya bingung, untuk menyakitinya.

Wanita seusianya tidak seharusnya melakukan hal sebodoh ini.

Perlahan dia memungut sepatu tenun keemasannya dari bawah tempat tidur, lalu mendorong pintu terbuka untuk pergi. Namun kemudian dia kembali pelan-pelan dan menutupi Ingot dengan sebuah selimut tipis. Akhirnya dia pergi.

Halaman luar yang remang-remang itu dingin dan lembab. Kabut putih mengambang di sekitar. Seseorang sedang duduk di tangga batu koridor di seberangnya, pipinya bertumpu di tangannya, menatapnya.

“Little Cai,” kata Big Boss Tang, terkejut. “Untuk apa kau duduk di sini? Mengaapa kau tidak tidur?”

Little Cai mengabaikannya, sebaliknya menatap datar pada sepatu keemasan di tangannya.

–Gadis muda ini sudah tumbuh dewasa, dan sudah berada di usia dimana dia mulai berkhayal. Semakin dia seharusnya tidak memikirkan sesuatu, semakin dia suka memikirkannya. Dan dia akan selalu memikirkan hal yang terburuk.

Big Boss Tang tahu apa yang dia pikirkan, tapi tidak bisa menemukan cara untuk menjelaskannya sendiri.

–Ketika seorang wanita tinggal semalaman di kamar seorang lelaki, lalu keluar di pagi hari, acak-acakan, menenteng sepatunya, setengah mabuk…

Apa yang akan orang pikirkan? Apa yang bisa dia katakan?

“Kembalilah ke kamarmu dan pergi tidur!” katanya, menghindari tatapan Little Cai. Lalu dengan suara datar dia mengatakan, “Kau seharusnya sudah berangkat tidur sejak tadi.”

“Ya, seharusnya begitu. Dan bagaimana denganmu?” Dia menatapnya.

“Semalaman, kau tidak kembali. Kenapa?”

Big Boss Tang tidak bisa memikirkan sesuatu pun untuk dikatakan.

Dengan tawa dingin, Little Cai berkata: “Aku sarankan kau mengenakan sepatumu secepatnya. Berjalan tanpa alas kaki bisa menyebabkan pilek.”

Dengan itu, dia berdiri, berbalik, dan pergi tanpa menoleh ke belakang. Tampaknya seolah dia tidak berniat melihat Big Boss Tang lagi.

Ada hawa dingin di udara awal musim semi.

Big Boss Tang berdiri di sana seperti orang bodoh di jalan batu itu, merasakan dingin yang menjalar dari kakinya menuju hatinya.

Dia tidak melakukan sesuatu yang salah, tapi dia tahu bahwa apa yang telah dilakukannya adalah membuat seorang gadis patah hati.

***
Fajar pagi mulai menyebar, tapi kabut belum juga menghilang.

Dia menghela napas dalam-dalam dari hatinya, dan hendak kembali ke kamarnya saat tiba-tiba dia menyadari bahwa dia sekali lagi tidak sendirian di halaman. Seseorang duduk di tangga batu di tempat yang baru diduduki Little Cai tadi, pipinya bertumpu di tangan.

Perbedaan besarnya adalah, ini bukan seorang gadis muda, tapi seorang lelaki tua.

Seorang lelaki tua kecil yang aneh.

Part 2

Big Boss Tang tidak mengenali lelaki tua kecil ini, dan belum pernah melihat seseorang yang terlihat begitu aneh seperti dia sebelumnya. Dia tidak pernah membayangkan akan melihat orang seperti ini.

Lelaki ini tidak saja terlihat sangat tua, tapi dia juga sangat kecil. Beberapa bagian darinya tampak lebih tua dari siapapun di dunia, dan beberapa bagian lebih kecil.

Kepalanya hampir botak. Hanya beberapa rambut putih mencuat dari atas kepalanya, dan mereka tampak seolah ditempel. Bahkan angin paling kuat pun tidak bisa menerbangkannya.

Hampir semua giginya sudah tanggal. Dari bagian atas sampai bawah, dari kiri ke kanan, dia hanya punya satu gigi. Tapi giginya tidak seperti umumnya gigi lelaki tua, kotor dan kuning.

Giginya yang tersisa itu putih cemerlang, begitu cemerlang hingga berkilau dan bersinar.

Dia benar-benar tua, namun kulit wajahnya seperti kulit bayi, putih dan lembut. Putih kemerahan, dan lembut seperti tahu.

Dia mengenakan satu set pakaian merah dengan lapisan emas, dengan sulaman bunga emas. Hanya seorang playboy kaya baru yang sedang dalam perjalanan ke rumah bordil yang akan mengenakan sesuatu seperti ini.

Tidakkah kau setuju bahwa lelaki tua seperti ini sangat luar biasa?

***

Big Boss Tang hampir tertawa.

Tapi dia tidak melakukannya. Karena di halaman ini seharusnya tidak ada orang seperti itu.

Namun, dia duduk di depannya, menatapnya. Dia menatapnya dengan binar di matanya, tatapan yang mungkin kau harapkan terlihat pada wajah lelaki berusia duapuluh, atau tigapuluh, atau empatpuluh atau mungkin limapuluh tahun.

Untungnya, Big Boss Tang tahu bagaimana menjaga dirinya tetap tenang. Dia bisa melakukannya meskipun tak bersepatu. Jadi dia mengangguk dan tersenyum.

“Halo, apa kabar?”

“Sangat baik,” jawab lelaki tua kecil itu. “Sangat baik, teramat sangat baik.”

“Bolehkah aku menanyakan marga terhormatmu? Dan bisnis khusus apa yang membawamu kemari?”

“‘Terhormat’ bukan margaku.” jawabnya. “Dan aku tidak datang kemari untuk bisnis apapun. Alasan aku ke sini sama sekali tidak khusus.”

“Dan apakah itu?”

“Tebak.” Lelaki tua kecil itu mengedipkan mata seperti anak kecil. “Jika kau menebak dengan benar aku akan memberimu kowtow sebanyak tigaribu enamratus kali.”

Big Boss Tang menggelengkan kepalanya. “Kowtow sebanyak itu akan sangat melelahkan. Aku tidak membutuhkan kowtowmu, dan aku tidak punya cara untuk menebak apa yang kau lakukan di sini.”

“Tentu saja kau tidak bisa menebaknya,” kata lelaki tua kecil itu tertawa lebar. “Seandainya kau menghabiskan seluruh hidupmu, kau tidak akan bisa menebaknya dengan benar.”

“Kalau begitu mengapa tak kau katakan saja padaku sendiri?”

“Jika aku memberitahumu, kau tidak akan mempercayaiku.”

“Cobalah.”

“Baiklah, akan kucoba. Aku di sini karena istriku ingin menanggalkan semua pakaianmu dan melihatmu dari dekat.”

***

Big Boss Tang tertawa.

Dia seharusnya marah, tapi sebaliknya dia tertawa, karena belum pernah seumur hidupnya dia mendengar sesuatu yang begitu konyol dan menggelikan seperti ini.

Dia tidak pernah membayangkan akan mendengar sesuatu seperti yang baru dikatakannya.

Lelaki tua kecil itu mendesah, “Aku tahu kau tak akan percaya. Aku sudah tahu kau akan menolak untuk mempercayainya.”

Setelah dia mendesah, dia terbang ke udara, seperti seorang anak kecil yang direnggut ke udara oleh seorang dewasa. Dia berputar tanpa henti.

Big Boss Tang bukan tipe orang yang mudah digertak.

Seorang wanita yang siapapun percaya sebagai Bos Besar jelas-jelas bukan tipe yang mudah digertak.

Dia berlatih seni bela diri. Seni bela diri yang dilatihnya ada beberapa jenis secara acak. Beberapa dia pelajari setelah diterima sebagai master. Beberapa diajarkan oleh para lelaki yang berharap bisa dekat dengannya, untuk menyanjungnya. Untuk membuatnya kagum, mereka mengungkapkan rahasia paling berharga mereka.

Flying Blossom Fist, Double Duckweed Palms, Mantis Kung Fu, Flying Phoenix Finger, Greater and Lesser Qinna, Five Animals and Seven Transformations, 36 Path Long Fist, Yellow 72 Path Legs, Chain Locking Legs…

Dia bisa melakukan sedikitnya tigapuluh atau empatpuluh jenis seni bela diri. Tapi saat berhadapan dengan lelaki tua kecil ini, dia tidak bisa menggunakan satupun.

***

Ada seseorang berputar di udara terus menerus. Tapi itu bukan lelaki tua kecil itu, melainkan Big Boss Tang.

Dia tidak tahu bagaimanahingga dia berada di udara berputar secara melingkar.

Dia hanya tahu segera saat lelaki tua kecil itu mendarat ke tanah, dia merasa tiba-tiba seperti sedang dilemparkan.

Dan kemudian dia mulai berputar, tanpa henti, di udara, hingga semuanya mulai menjadi gelap.

Dan kemudian dia tidak tahu apa-apa.

Part 3

Saat ini, Ingot telah terbangun.

Dia tadi tidur seperti batu, begitu dalam hingga jika seseorang memukulinya dan menendangnya serta membuangnya ke selokan, dia masih tidak akan bangun.

Tapi sekarang dia terjaga. Dan saat dia bangun, dia melihat matahari pagi menyinari jendela.

Dia mengerang, segera menutupi kepalanya dengan selimut. Dia merasa Jika lebih lama terkena cahaya matahari maka matanya akan tertusuk mati oleh sinar matahari, kepalanya seolah terbelah jadi dua.

Jika seseorang benar-benar mabuk untuk pertama kali, lalu terbangun di ruang penuh sinar matahari, mereka biasanya akan mengalami reaksi seperti ini.

Tapi tak lama setelahnya, Ingot perlahan memunculkan kepalanya dari balik selimut.

Ini karena, sebelum menutup matanya dengan selimut, dia melihat ada orang lain dalam kamar.

Seseorang yang pastinya bukan Big Boss Tang.

Dia tidak salah.

Itu adalah seseorang dengan jubah hitam dan topeng perak berkilau. Meskipun ruangan itu penuh sinar matahari, dia seperti bayangan setan.

Ingot tertawa.

Dia bukan jenis orang yang takut pada orang yang menyeramkan. Semakin menyeramkan orang tersebut, semakin tidak takut dia.

“Kau punya topeng setan yang bagus.” Katanya. “Bisakah kau meminjamkannya padaku sehari atau dua hari? Aku akan senang pergi berkeliling menakut-nakuti orang.”

“Aku bukan berada di sini untuk menakut-nakutimu.” jawab orang itu dengan suara hangat. “Aku tahu bahwa kau sudah berani sejak kecil.”

“Kau tahu siapa aku?”

“Ya.”

Ingot tertawa lagi. “Untungnya, aku juga tahu siapa kau. Jika tidak, aku akan benar-benar berada dalam kesulitan.”

“Siapa aku?”

“Kau adalah Gao Tianjue,” kata Ingot. “Kau adalah orang yang melemahkan kekuatan anggota gerakku, membuat seluruh tubuhku tak berdaya, lalu membawaku kemari.”

“Benar.” kata Gao Tianjue. “Itu aku.”

“Jika kau tahu siapa aku, mengapa kau berani memperlakukanku seperti ini?” suara Ingot tiba-tiba menjadi sengit dan ganas. “Tidakkah kau khawatir keluargaku akan datang untuk membalas dendam?”

“Mereka tidak akan mencarimu.”
Mengapa tidak?”

“Karena mereka tahu apa yang kulakukan adalah untuk kebaikanmu sendiri. Menurutku kau juga mengerti itu.”

“Sayangnya, aku tidak mengerti.”

“Kami tidak pernah melihat cahaya siang, dan seharusnya sudah lama mati,” kata Gao Tianjue. “Kami membawa bersama kami kekejaman dan kebencian yang tidak pernah bisa dihilangkan.”

Meskipun suaranya lembut, itu penuh kebencian yang bisa membuat bulu kuduk seseorang berdiri: “Tidak peduli siapa yang kami temui, itu bukan hal yang baik bagi mereka, karena apa yang kami bawa bersama kami adalah pembunuhan, bencana dan darah.”

“Kalian, jamak?” tanya Ingot. “Siapa kalian?”

“Mungkin kami bahkan bukan manusia, tapi lebih sebagai roh jahat. Karenanya, aku tidak ingin kau terlibat dalam keluhan dan perjuangan kami.”

“Dengan kata lain, kau tidak ingin aku mencampuri yang bukan urusanku.”

“Ya.” jawab Gao Tianjue. “Karena kau datang dari latar belakang yang berbeda. Karena itu aku membawamu kemari.”

“Jika tidak, kau khawatir bahwa akhirnya kau harus memenggal kepalaku?”

“Aku tidak akan memenggal kepalamu.” kata Gao Tianjue dingin. “Jika kau ingin membunuh seseorang, kau tidak perlu memenggal kepala mereka. Ada banyak cara untuk membunuh orang, dan itu adalah salah satu yang terkonyol.”

“Bagaimana biasanya kau membunuh orang?”

“Aku menggunakan semacam rasa sakit.”

“Semacam rasa sakit,” kata Ingot. “Kau menyebabkan mereka merasakan sakit, atau menyebabkan rasa sakit pada dirimu sendiri?”

Gao Tianjue tiba-tiba terdiam.

“Itu bukan metode yang bagus.” kata Ingot. “Orang yang ingin kau bunuh sudah mati, dan tidak merasakan sakit. Karenanya, rasa sakit itu pasti milikmu. Hanya orang hidup yang bisa merasakan sakit.”

Gao Tianjue tidak mengatakan apa-apa, atau bergerak. Namun, jubahnya berkibar kencang seperti ombak yang bergejolak dalam laut yang marah.

Ingot terus bicara: “Ada satu hari di mana aku sangat bahagia. Itu seperti roti daging raksasa jatuh dari langit langsung ke dalam mulutku. Aku sangat bahagia. Dan karena itu, semua orang di sekelilingku juga bahagia. Semua sangat bahagia.”

Dia mendesah, “Rasa sakit juga sama. Saat kau membuat orang lain merasakan sakit, maka kau sendiri pasti akan merasakan sakit.”

Bahkan sebelum dia selesai bicara, dia merasakan tangan sedingin es mencengkeram tenggorokannya.

Part 4

Pada saat itu, Big Boss Tang juga telah terbangun.

Saat dia membuka matanya, dia tidak melihat cahaya matahari, atau merasa sakit kepala. Namun sama dengan Ingot, dia berharap dia tidak pernah bangun. Kenyataannya, dia berharap dia mati dan melupakan segalanya.

Translator / Creator: Jade77