December 13, 2016

DKWSS – Chapter 15 : A Dark Night on Lake Hu

 

A Dark Night on Lake Hu

Part 1

19 April. Sebelum fajar.

Angin lembut berhembus melintasi air yang tenang, bulan dan bintang tenggelam. Cahaya lampu semakin terang. Dalam kegelapan sebelum fajar, lampu adalah benda paling terang di dunia.

Ini adalah karena lampu mengorbankan dirinya. Dia membakar dirinya sendiri untuk menerangi yang lain.

Sama halnya manusia.

Jika seseorang mengorbankan dirinya sendiri, tak peduli seberapa gelap sekelilingnya, cahaya akan menyinari.

***

Gao Tianjue. Jadi, orang ini adalah Gao Tianjue.

“Akhiri surga, hancurkan bumi, musnahkan semuanya.”

Orang misterius yang hanya muncul dalam legenda ini, sekarang duduk di depannya.

Xiao Jun adalah seorang yatim piatu. Pada saat dia lahir, Gao Tinjue sudah menjadi salah satu sosok yang paling menakutkan di Jianghu.

Mereka berdua semestinya tidak ada hubungan apapun. Tapi sekarang, untuk beberapa alasan mistis, takdir mereka sepertinya terikat bersama.

Gao Tianjue tiba-tiba bertanya, “Apa kau ingin menyingkirkan topengku untuk melihat orang seperti apa aku?”

“Awalnya, iya.”

“Dan sekarang?”

“Saat ini, aku tidak ingin,” kata Xiao Jun, “karena aku menyadari sesuatu.”

“Apa itu?”

“Aku tidak bisa melihat wajahmu, tapi kau juga tidak bisa melihat wajahku. Dalam perjalanan ke sini tadi, kau berjalan sangat pelan. Alasannya karena kau tidak bisa melihat.”

Saat orang-orang menggunakan topeng, mereka akan meninggalkan dua lubang untuk mata mereka.

Tapi topeng perak itu tidak punya lubang mata, hanya satu lubang untuk mulut.

Dia bisa minum teh, tapi tidak bisa melihat.

Hanya orang buta yang akan menggunakan topeng seperti itu. Bagaimana Gao Tianjue yang sangat terkenal di alam semesta bisa buta?

Xiao Jun tidak bertanya.

Dia tahu bahwa pertanyaan itu pasti menyentuh sesuatu yang sangat menyakitkan bagi Gao Tianjue.

“Kau tidak bisa melihatku, karenanya aku tidak ingin melihatmu.”

“Apakah menurutmu itu adil?” tanya Gao Tianjue

“Ya.”

“Kalau begitu kurasa tidak ada salahnya memberitahumu sesuatu hal lain yang sangat adil.”

Xiao Jun tidak bertanya tentang apa yang dia maksud.

Dia telah menyadari sepanjang waktu ini, Gao Tianjue menyembunyikan lengan kirinya di balik jubah hitam.

Tapi kemudian, dia merentangkannya.

Yang dia rentangkan bukan sebuah lengan, melainkan penjepit perak yang berkilauan.

“Aku memotong lenganmu, dan orang lain memotong lenganku.” Suara Gao Tianjue mengandung cibiran rasa sakit yang bisa didengar siapapun. “Tidakkah itu adil?”

Xiao Jun tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, dia menjawab, “Apakah orang yang memotong lenganmu itu menyerupai aku? Itukah sebabnya kau potong lenganku?”

Gao Tianjue tertawa keras.

“Tertawa” adalah hal yang menyenangkan, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi untuk orang lain.

Tapi wajah anak buah Gao Tianjue yang berjubah abu-abu tiba-tiba diliputi ketakutan.

–Mungkinkah ini karena dia tahu bahwa sumber tawa ini bukan kebahagiaan, namun bencana dan kemalangan?

Telapak tangan Xiao Jun basah oleh keringat dingin.

Dia merasakan takut yang tidak bisa dijelaskan dalam hatinya. Itu bukan karena dia belum pernah mendengar tawa yang menakutkan sebelumnya, tapi karena dia pernah.

Saat itu, dia tiba-tiba mengingat banyak hal. Beberapa terlihat nyata, tapi yang lain adalah mimpi buruk.

Mimpi buruk, bukan mimpi buruk, dia tidak tahu.

***

Tawa Gao Tianjue tiba-tiba berhenti. Wajah anak buah berjubah abu abu itu menjadi kaku, dan Xiao Jun tersadar dari lamunannya.

Tidak ada yang berubah dalam kabin itu. Di sekeliling kapal, Danau Daming setenang biasanya.

Tapi bagi mereka, tampak seolah segala sesuatu di bawah surga telah berubah. Mereka merasakan tekanan yang sangat besar dalam hati mereka.

Tidak ada angin dalam kabin, tidak juga Gao Tianjue bergerak. Namun tiba-tiba, tampak seolah jubahnya menggembung.

Tutup dari mangkok teh terlempar tiga inci ke udara, lalu hancur berkeping-keping.

Kemudian suara gemerincing terdengar saat jendela terbanting menutup, merobekkan kertas jendelanya dan melayangkan potongannya beterbangan seperti kupu-kupu neraka yang berserakan oleh setan di neraka.

Suara petikan terdengar dari kecapi bersenar tujuh yang terletak di atas rak kayu di sudut, dan tirai mutiara di pintu mulai saling beradu.

Lalu suara retak keluar dari kecapi itu saat senarnya putus. Mutiara-mutiara di tirai itu berjatuhan di tanah seperti air mata. Semua suara berhenti. Dua lelaki berjubah abu abu yang sedang berjaga di luar tidak terlihat.

Tidak ada seorang pun di atas dek. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi.
Kecuali Gao Tianjue.

“Dia datang,” katanya dengan desahan dalam. Satu per satu kata, dia berkata, “Dia sudah datang.”

Part 2

Big Boss Tang menatap Ingot, dengan mata dan mulut lebar.

Matanya tidak kecil sejak awal. Namun sekarang, mereka dua kali lebih besar dari biasanya. Mulutnya juga tidak kecil, tapi saat ini sepertinya cukup besar untuk bisa menelan dua telur utuh.

Dia berusia tigapuluh empat tahun dan telah melihat banyak hal dalam hidupnya, namun saat ini, dia terlihat seperti gadis kecil yang ketakutan setengah mati. Saat ini, tampak seolah dia berusia tidak lebih dari tujuh atau delapan tahun.

Yang baru dikatakan Ingot benar-benar telah mengejutkannya.

“Apa yang kau katakan barusan?” Dia menggelengkan kepalanya. “Kau tidak mengatakannya. Aku pasti salah dengar. Kau tidak mengatakan apa-apa.”

“Sebenarnya, aku mengatakannya,” jawab Ingot, mukanya benar-benar datar. “aku mengatakannya dengan sangat jelas, setiap kata.”

“Tapi aku tidak mendengarnya.”

“Kau mendengarnya.”

“Tidak.”

“Kau pasti mendengarnya.”

“Aku sungguh tidak mendengarnya.” jawab Big Boss Tang.

Ingot menatapnya, lalu, berteriak dengan suara seperti orang yang sedang tenggelam dan berteriak minta tolong, mengulang kalimatnya.

“Aku ingin kau menikah denganku.”

Big Boss Tang lagi-lagi terkejut. Setan kecil ini sangat mengejutkannya sehingga dia merasa seolah jiwanya telah pergi.

“Ya Tuhan,” suaranya serak. “Ya Tuhan.”

“Apa kau mendengarku kali ini?” tanya Ingot. “Ataukah aku harus mengatakannya lagi?”

“Kumohon, tolong, dengarkan aku.” Big Boss Tang sama sekali tidak terlihat seperti seorang Bos Besar sekarang. “Jika kau mengatakannya lagi, aku akan melompat ke dalam sungai dan menenggelamkan diri.”

“Kenapa kau mau menenggalamkan diri?”

“Bahkan orang tuli berjarak lima jalan jauhnya bisa mendengar apa yang baru saja kau katakan.”

“Apa salahnya dengan itu?” tanya Ingot sambil menatapnya. “Aku tidak pernah takut jika orang mendengar apa yang kukatakan.”

“Mungkin kau tidak takut, tapi aku takut.”

“Apa yang kau takutkan?” katanya, sambil menepuk dadanya. “Denganku di sini, apa yang kau takutkan?”

Big Boss Tang mengerang, dan tampak seolah dia akan pingsan di atas meja setiap saat.

“Apa kau tahu berapa usiaku?” katanya. “Aku cukup tua untuk menjadi nenekmu.”

Ingot mengangguk.

“Benar, benar, benar. Kau hampir setua nenekku. Nenekku hanya berusia seratus satu tahun.” Lalu dia sengaja bertanya, “Ngomong-ngomong, berapa usiamu?”

“Ya, aku tidak setua itu, tapi aku berusia lebih dari tigapuluh. Setidaknya aku cukup tua untuk jadi ibumu.”

“Ibuku? Hahaha!”

“Apa maksudnya hahaha?”

“Hahaha artinya kau hanya ingin membuatku benar-benar kesal. Kakak perempuanku yang keempat berusia lebih dari tigapuluh, dan kau bilang kau cukup tua untuk jadi ibuku? Apa kau mencoba membuatku marah?”

“Tidak.”

“Kalau begitu biarkan aku memberitahumu sesuatu. Saudara perempuanku yang tertua cukup tua untuk jadi ibumu,” katanya dengan sungguh-sungguh. “Jika kau ingin pulang ke rumah denganku, satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah dengan menjadi istriku. Dan kau tidak punya pilihan lain selain menjadi istriku.”

Big Boss Tang menutup telinga dengan kedua tangannya.

“Aku tidak mendengar apa-apa.” katanya. “Kau tidak mengatakan apa-apa dan aku tidak mendengar apa-apa.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan mengatakannya lagi.”

Dan dia melakukannya, dengan suara yang bahkan lebih keras dari yang sebelumnya. “Aku ingin kau…”

Kali ini, dia hanya mengeluarkan setengah dari kalimatnya, karena Big Boss Tang melesat maju dan menggunakan kedua tangannya untuk menutup mulutnya.

Tangannya hangat dan lembut.

Tubuhnya juga lembut.

Ingot tahu, karena saat wanita itu melesat maju, dia segera mengambil kesempatan untuk memeluknya. Dia ingin mendorongnya , tapi tidak bisa.
“Kau setan kecil, kau benar-benar tak berguna.”

“Aku bukan orang tak berguna. Aku manusia. Seorang lelaki.”

“Kau penuh omong kosong,” katanya. “Sedikitnya, aku sepuluh tahun lebih tua darimu.”

“Saudara ipar laki-lakiku yang ketiga dan kelima keduanya sepuluh tahun lebih tua dari saudara-saudara perempuanku,” bantah Ingot dengan berani. “Jika seorang lelaki berusia tigapuluh tahun bisa menikahi gadis belasan tahun, mengapa seorang wanita berusia tigapuluh tahun tidak bisa menikahi pemuda belasan tahun?”

“Kau mabuk.”

“Tidak.”

“Kau jelas-jelas mabuk.”

“Tidak. Aku tidak…”

Part 3

Siapa “dia?” Siapa yang telah datang?

Air Danau Daming yang sebening kaca tiba-tiba terbelah oleh gelombang putih.

Sebuah kapal kecil membelah air seperti sebuah pisau tajam yang memotong sutera. Kecepatannya seperti sebuah anak panah.

Seorang lelaki tinggi dengan jubah hitam berdiri di depan kapal, lengannya ditautkan di belakang punggungnya. Jubah panjangnya berkibar tertiup angin.

Bintang-bintang telah menghilang, begitu juga bulan. Ini adalah saat tergelap di malam hari, dan meskipun wajahnya tidak bisa dibedakan, siapapun bisa merasakan kewibawaannya yang kuat.

Tidak ada orang lain di kapal kecil itu, tidak ada layar, tidak ada tiang pengayuh, tidak ada orang yang mengayuh dayung, tidak ada yang berada di bagian kemudi.

Tapi kapal itu telah tiba, lebih cepat dari yang bisa dibayangkan siapapun.
Merendahkan suaraanya, Gao Tianjue bertanya, “Apakah kau tahu siapa dia?”

“Li Xiao?”

“Ya, itu dia.”

***

Li Xiao. Three Fearsome Laughs.

General Li Xiao.

Xiao Jun tahu bahwa Li Xiao adalah Wu Tao. Tapi orang ini sama sekali tidak terlihat seperti Wu Tao.

Dia telah menjadi orang lain, karena saat ini, dia tidak punya alasan untuk menyembunyikan identitasnya.

Hilang sudah perutnya. Semua lemak di tubuhnya secara ajaib menghilang.

Dahi sempitnya yang runcing sekarang lebar dan optimis, wajahnya yang pucat sekarang bersinar seperti giok putih.

–Benarkah dia pengusaha kelas bawah biasa yang dompet koinnya telah dicuri itu?

Xiao Jun tidak mempercayainya.

Dia tidak pernah percaya pada siapapun di dunia yang memiliki teknik mengubah penampilan yang ajaib itu, ataupun pada siapapun yang bisa berubah begitu banyak.

Tapi saat ini, dia tidak bisa menolak mempercayainya.

Ini adalah orang yang ingin dibunuhnya, namun, dia tiba-tiba merasakan ketakutan dan kekaguman yang tidak bisa dijelaskan terhadapnya, sejenis perasaan yang dimiliki remaja berdarah panas saat melihat idolanya.

Xiao Jun tidak memahami perasaan ini, tapi itu membuatnya menyadari sesuatu.

–Seperti ada dua orang sedang bertarung di dalam dirinya, bertarung dengan dua pedang. Saat satu pedang balas menusuk, yang lainnya menikam juga, dan keduanya mencincang hatinya.

Ini menyebabkan hatinya terus-menerus dipenuhi pertentangan dan rasa sakit.

“Kau hanya akan punya satu kesempatan, dan kau harus mengambilnya. Seranganmu harus mengenainya pada titik vital.”

Xiao Jun tidak lupa apa yang telah diulang Gao Tianjue sampai tiga kali.

Tapi saat kesempatan itu datang, akankah dia menyerang? Dia tidak yakin.

***

Kapal kecil itu mengapung di danau. Lelaki itu telah mencapai kapal Gao Tianjue.

Sesaat yang lalu, kapal kecil itu masih agak jauh.

Tapi sekarang, lelaki itu berdiri di kabin, dan Xiao Jun bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Dia memiliki penampilan yang berbeda, seolah dipahat dari giok halus. Sebuah wajah lebar dan hidung lurus, dan sebuah senyum yang terlihat mengandung kesinisan.

Matanya bersinar cemerlang dengan kekuatan, bersama perasaan sedih dan patah hati.

Dia berdiri lurus dan tinggi, seperti sebuah lembing.

Akan sulit menemukan orang lain di dunia yang bisa menyamai kegagahannya, sikapnya yang mengesankan dan elegan.

Mengapa orang seperti ini memiliki kesedihan? Mungkinkah hatinya merasakan kebingungan dan rasa sakit yang sama seperti Xiao Jun?

***

Gao Tianjue tidak melihatnya. Dia tidak bisa melihat apapun. Hal yang aneh adalah, tampaknya dia sebenarnya bisa melihat lebih dibandingkan orang lain.

Dan yang lebih aneh lagi, meskipun tak seorang pun bisa melihat wajah Gao Tianjue, sepertinya orang ini bisa.

Mereka berhadapan, saling memandang, seolah kedua belah pihak bisa melihat wajah yang lainnya.

Topeng perak Gao Tianjue berkilauan dalam cahaya lampu yang berkerlip.

Topeng tidak menampakkan emosi atau ekspresi. Tapi topeng ini tampaknya membawa ekspresi, sebuah ekspresi yang tidak seorang pun kecuali mereka berdua bisa mengerti. Kemudian tampak seolah kilauan perak berubah menjadi nyala api yang menderu.

Ekspresi pada wajah General Li mustahil dijelaskan. Dan kemudian itu menjadi tanpa ekspresi, seolah dia tiba-tiba mengenakan topeng es.

“Jadi itu kau,” kata General Li. “Aku tahu kau akan menemukanku cepat atau lambat.”

“Kau datang mencariku,” kata Gao Tianjue dingin. “Aku tidak datang untukmu.”

“Sekarang karena kita sudah di sini, tak terlalu penting siapa pergi mencari siapa.”

“Itu penting.”

“Oh?”

“Aku tidak mencarimu, atau bisa melihatmu. Aku pernah berkata sebelumnya bahwa aku tak akan pernah melihatmu lagi seumur hidupku.”

“Jadi itu sebabnya kau memakai topeng seperti ini?”

“Ya.”

“Dan bagaimana jika aku memutuskan bahwa aku harus melihat wajahmu?”

“Kau tidak bisa.”

General Li tertawa dingin. Tubuhnya telah terbang ke udara.

***

General Li tidak memperhatikan Xiao Jun sama sekali, bahkan tidak meliriknya. Itu hampir seolah dia tidak tahu ada orang lain dalam kabin.

Tapi Xiao Jun memperhatikan mereka, pada ekspresi, pada percakapan mereka.

Dia menunggu kesempatannya.

Dia tidak tahu kapan kesempatan akan datang baginya untuk menyerang, jadi dia menunggu.

Dan tak punya kesempatan.

Li Xiao berdiri di sana, tidak bergerak, lengah, seperti sebuah patung kayu.

Tapi patung kayu ini dipahat sempurna. Setiap sentuhan dipahat dalam posisi benar secara tepat, setiap garis potongan sempurna. Tubuhnya tidak mengandung cacat sedikit pun.

Jadi, meskipun lengah, dia bukannya rapuh.

Untuk bergerak tanpa menggerakkan, untuk tidak bergerak, dan karenanya bergerak. Mengalahkan ketenangan dengan gerakan, mengalahkan perubahan dengan yang tak bisa berubah.

Itu adalah keadaan Zen.

Meskipun Xiao Jun ingin mengambil langkah, dia tidak punya kesempatan. Tapi, dia melihat sesuatu yang aneh.

Tampaknya mereka berdua saling mengenal, dan mungkin pernah menjadi teman. Namun, sebuah kebencian yang tak terselesaikan ada di antara mereka.

Apakah mereka musuh atau teman? Siapa yang tahu?

General Li yang tidak bergerak tiba-tiba bergerak.

***

Tidak seorang pun yang mungkin bisa menjelaskan gerakan ini. Terlihat pelan, namun begitu cepat sehingga tidak bisa terlihat jelas. terlihat seperti kikuk dan canggung, dan pada saat yang bersamaan terlihat anggun dan elegan seperti burung phoenix yang terbang tinggi.

Gao Tianjue ingin dia mati dan berada dalam tanah. Tapi dia tidak ingin Gao Tianjue mati.

Dia hanya ingin melepaskan topeng buruk dan cantik yang misterius dan menakutkan itu.

Gao Tianjue tidak akan membiarkannya.

Gao Tianjue juga bergerak.

Mereka berdua diam, lalu tiba-tiba bergerak melompat. Mereka bergerak seperti angin, seperti riak, kuntum, awan di tengah angin. Seperti angin di tengah riak dan kuntum dan awan.

Hati Xiao Jun tenggelam lebih dalam.

Dia selalu berpikir bahwa dirinya adalah salah satu master tertinggi di Jianghu. Kebanyakan yang lain juga berpikir begitu.

Tapi sekarang dia tahu betapa menggelikannya hal itu.

Seni bela dirinya tidak sebanding dengan kedua orang ini. Benar-benar tidak sebanding.

Dia tidak pernah membayangkan bahwa siapa pun di dunia bisa memiliki seni bela diri seperti mereka.

Tapi sekarang dia melihatnya dengan matanya sendiri.

Bagaimana dia bisa mengambil langkah? Bagaimana dia bisa punya kesempatan untuk mengambil langkah?

***

Bayangan mereka berkerlip, dan cahaya lampu padam.

Tapi bagian tergelap malam telah berlalu. Sinar pertama matahari pagi mulai bersinar di atas Danau Daming.

Bayangan yang bertarung itu tiba-tiba berpisah, dan General Li muncul langsung di depan Xiao Jun. tangannya meluncur seperti kilat, dan dia meraih lengan kanan Xiao Jun. Lengan satu-satunya.

Xiao Jun tidak punya waktu untuk bereaksi. Dia hanya bisa mendengar General Li berkata dengan suara rendah: “Kau tidak bisa tetap di sini, ikutlah denganku, sekarang.”

Saat dia telah selesai bicara, Xiao Jun telah meninggalkan tanah, dan terbang bersama General Li.

Dia tidak bisa menahannya.

Dan kemudian, saat mereka terbang keluar kabin, tiba-tiba dia melihat kesempatannya.

Saat itu, sinar pucat matahari pagi menyinari punggung General Li.

Punggungnya tidak terlindung. Ini adalah pertama kalinya dalam seluruh hidupnya dia mengekspos punggungnya pada seseorang, dan itu tidak diragukan lagi akan jadi yang terakhir.

Dia tidak pernah membayangkan bahwa Xiao Jun akan menyerang, tidak pernah membayangkan bahwa sekarang dia punya lengan yang lain.

Saat dia melihat matahari menyinari punggung General Li, short sword yang dipegang pada penjepit baja meluncur, menusuk ke tulang rusuk di bawah bahu kirinya, langsung menuju jantungnya.

Gerakan itu seperti reaksi reflek seseorang yang memegang batubara panas, itu bahkan tidak melewati pikiran sadar Xiao Jun.

–Orang ini adalah musuhnya, dan ini adalah kesempatan satu-satunya.

Dia harus merebut kesempatan untuk menyerang.

Pikiran itu telah mengakar di hatinya, dan bahkan dia tidak perlu berpikir untuk bertindak.

Akhirnya dia merebut kesempatannya. Karena semua pengalamannya dalam hidup, reaksinya cepat.

Kecepatan reaksi ini lahir dari pertarungan getir yang tak terhitung banyaknya dan latihan yang menyakitkan.

Seharusnya dia cukup senang dengan serangan itu.

Tepi seumur hidupnya, setiap dia memikirkan tentang ini, dia merasakan tikaman rasa sakit.

Meskipun pedangnya telah menusuk General Li, dia merasa seolah dia telah menusuk jantungnya sendiri.

***

Kilauan pedang itu sudah tidak terlihat lagi.

Tubuh General Li mengkerut ke dalam dan dia melepaskan pisau itu, menggeliat di udara.

Kepalanya berbalik untuk menatap wajah Xiao Jun, dan matahari menyinari wajahnya.

Wajahnya tidak mengandung ketakutan seseorang yang menghadapi kematian, atau kemarahan karena telah dikhianati. Itu hanya berisi penyesalan dan kesedihan.

Xiao Jun memandang wajahnya.

Dia tidak akan pernah melupakan ekspresi yang dilihatnya.

***

Pada saat tetesan darah jatuh di atas dek, General Li sudah turun ke air danau.

Air bercipratan kemana-mana, dan dia pun tenggelam.

Riak air menyebar, dan setiap riak berisi darah General Li.

Sebelum riak itu mereda, Xiao Jun mendengar tawa Gao Tianjue.

Dia semestinya tertawa.

General Li akhirnya mati, tepat sesuai rencananya. Dia semestinya cukup senang dengan dirinya sendiri.

Namun tawanya tidak mengandung setetespun sukacita, melainkan penuh dengan rasa sakit dan kesedihan.

Mengapa begini?

***

Xiao Jun tidak akan pernah bisa melupakan tawa melengking yang penuh kesedihan itu.

Translator / Creator: Jade77