December 7, 2016

DKWSS – Chapter 14 : A Silver Mask

 

A Silver Mask

Part 1

Bulan malam ini juga penuh, dan topeng perak itu berkilauan dengan cemerlang dalam cahayanya. Bulan terlihat persis seperti tigabelas tahun yang lalu.

Topeng tidak bertambah tua, ataupun berubah.

Tapi orangnya telah berubah.

Xiao Jun telah tumbuh dari seorang murid muda Beggar Sect menjadi Lord Torture Chambernya, dengan kekuasaan penuh atas hidup dan mati. Dia telah berubah dari seorang pemuda yang penuh semangat dan kekuatan, menjadi seorang lelaki pendiam yang dingin.

Jika lengannya belum putus, mungkin dia tidak akan menjadi begini.

Dia belum pernah melihat wajah orang ini, tapi orang ini telah mengubah seluruh hidupnya.

Apakah perubahan itu keberuntungan, atau kemalangannya?

Bahkan dia pun tidak tahu.

***

Orang seperti apa yang bersembunyi di balik topeng perak dan jubah hitam ini? Mengapa dia memotong lengannya?

Xiao Jun tidak tahu.

Dalam mimpi-mimpi buruknya, dia sering bertemu orang ini, di malam yang sama di bawah bulan purnama, tigabelas tahun yang lalu. Saat terbangun dengan keringat dingin, dia akan bertanya pada dirinya sendiri, “Mengapa? Mengapa? Mengapa…?”

Satu-satunya orang yang bisa memberikan jawaban, sekarang berdiri di depannya seperti sosok dari sebuah mimpi buruk.

Dalam beberapa saat, pakaiannya basah oleh keringat, menempel pada tubuhnya. Lidahnya kelu dalam mulutnya; dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Orang dalam topeng perak itu telah duduk di depannya di kedai makan itu. “Tentu saja kau tidak melupakanku,” katanya. “Tigabelas tahun yang lalu, aku memotong lenganmu di bawah cahaya bulan purnama.”

Suaranya tidak seseram penampilannya. Jika kau tidak melihatnya, tapi mendengar suaranya, kau akan berpikir bahwa dia adalah orang yang sangat lembut.

Ini adalah pertama kalinya Xiao Jun mendengar suaranya.

Suara itu lembut dan dalam, dan saat dia bicara pada Xiao Jun terdengar seperti seorang ibu yang lembut, duduk di samping anaknya di tempat tidur, menyanyikan lagu pengantar tidur.

Namun, setiap saat, dia bisa memotong lengan Xiao Jun yang satunya lagi.

“Tigabelas tahun yang lalu, kau belum pernah melihatku sebelumnya, aku juga belum pernah melihatmu.” Kata orang dengan topeng perak itu. “Namun, aku mengambil lenganmu dan meninggalkanmu hidup dalam kehidupan yang sengsara. Selama waktu ini, aku tidak pernah datang mencarimu. Namun sekarang, tigabels tahun kemudian, di sinilah aku. Apakah kau tahu sebabnya?”

Xiao Jun menggelengkan kepalanya.

“Apakah kau ingin tahu mengapa?” tanya orang bertopeng perak itu.

Xiao Jun mengangguk.

Perlahan dia menoleh, “Jika kau ingin tahu, ikutlah denganku. Jika kau tidak ingin ikut, aku tidak akan memaksamu.”

***

Tidak ada yang tahu darimana dia berasal, dan tidak seorang pun tahu kemana dia berencana untuk pergi.

Namun Xiao Jun pergi dengannya, seperti tersihir.

Meski jika orang ini membawanya ke neraka, dia mungkin akan mengikuti.

Sepertinya suaranya memiliki kekuatan yang dapat memikat Xiao Jun.

Ini adalah pertama kalinya dia mendengar suara orang ini, namun, tampak seolah dia telah mendengarnya berkali-kali sebelumnya.

Mengapa begitu? Xiao Jun tidak bisa menjelaskannya.

Part 2

Kabut memenuhi malam, kabut yang suram dan kabur. Jubah hitam berkibar dalam angin malam, membuat orang itu seperti hantu yang melayang dalam gelap.

Dia berjalan ke depan, dengan langkah pasti. Xiao Jun mengikuti, tidak jauh di belakang.

Dia membawa sebuah pedang yang dirancang untuk membunuh, sebuah pedang yang telah membunuh sepanjang periode Warring States.

Jika Xiao Jun menarik pedangnya, mungkin dia bisa menusukkannya langsung ke punggung orang di depannya itu, menusuk jantungnya.

Tapi dia tidak menarik pedangnya.

Meskipun dia belum pernah menikam orang dari belakang sebelumnya, untuk orang ini mungkin dia bisa membuat pengecualian.

Dia tahu bahwa jika dia melewatkan kesempatan ini, dia mungkin tidak akan mendapat yang lain. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.

Selama bertahun-tahun, dia telah menunggu kesempatan seperti ini. Sekarang kesempatan itu telah tiba. Mengapa dia tidak mengambil langkah?

***

Dari dalam kabut suram tiba-tiba muncul beberapa cahaya redup. Cahaya lampu berkerlip di atas air yang bergelombang, air bergelombang di bawah kerlipan cahaya lampu.

air yang seperti cermin itu beriak.

“Bunga teratai dan pohon willow berlimpah, setengah dari pemandangan dalam kota di danau ini.” Danau Tranquil Daming tiba-tiba muncul di hadapan Xiao Jun.

Cahaya tersebut muncul dari sebuah kapal yang mengapung di atas air kira-kira 25 sampai 30 meter dari pantai.

Ombaknya indah, kapalnya indah.

Orang bertopeng perak itu duduk di sana di pantai, di bawah pohon weeping willow. Dahan-dahan willow bergemerisik lembut tertiup angin.

Dia menoleh dan menatap Xiao Jun.

“Apakah kau akan naik?”

Xiao Jun tiba-tiba menarik pedangnya dan memotong tiga potongan kayu dari batang pohon willow. Pedang berkelebat, dan potongan kayu itu melayang ke atas air. Potongan pertama mendarat sejauh sembilan meter, yang kedua, limabelas, yang ketiga, duapuluh satu.

Saat kelebatan pisau itu hilang, Xiao Jun sudah mendarat di atas potongan kayu pertama.

Potongan willow itu mulai tenggelam, dan dia terbang. Kaki kirinya menapak pada potongan kayu kedua, kaki kanannya menapak pada yang ketiga.

Pada saat kayu itu tenggelam dan kemudian muncul lagi, dia sudah berada di atas kapal.

Ini adalah hasil dari bertahun-tahun pelatihan yang getir. Xiao Jun percaya bahwa seni meringankan tubuhnya di antara sepuluh tertinggi di seluruh Jianghu.

Namun, segera saat kakinya menyentuh papan dek, dia melihat orang bertopeng perak itu berjalan perlahan ke dalam kabin. Sebuah tirai mutiara bergantung di pintu masuk.

Tirai itu bergoyang tertiup angin, dan untaian mutaiaranya berdenting satu sama lain, menghasilkan suara yang mengingatkan pada lonceng angin di atap kuil.

Potongan willow itu masinh mengapung di permukaan air, tapi hati Xiao Jun sudah tenggelam.

Dalam hidupnya, dia sungguh-sungguh membenci hanya dua orang, dan hidup sendiri dengan tujuan untuk membalas dendam pada mereka.

Sekarang, dia telah menemukan mereka berdua.

Namun dia juga menemukan bahwa dia tidak punya kesempatan atau harapan apapun untuk melawan satu pun dari mereka.

***

Dua lelaki dalam jubah abu-abu berdiri di luar pintu, melihatnya. Wajah mereka, seperti dipahat dari batu kapur, tanpa jejak warna atau ekspresi.

Masing-masing menggunakan lengan kanannya untuk memisahkan tirai mutiara itu, menjaga lengan kirinya tersembunyi dalam lengan pakaian mereka. Tampak seolah mereka tidak ingin siapapun melihat lengan itu.

Tangan itu adalah senjata rahasia mereka, dan yang mematikan. Itu untuk membunuh, bukan untuk dipamerkan pada yang lain.

Xiao Jun pernah melihat orang seperti ini sebelumnya.

Mereka semua adalah penjepit baja yang mematikan, bersama dengan sembilanratus sembilanpuluh sembilan nyawa.

Dan nyawa mereka adalah milik orang menakutkan dengan topeng perak itu.

***

Kabin kapal itu tidak besar, tapi dihias dengan menarik. Orang bertopeng perak itu telah duduk di sebuah kursi besar yang empuk, dan duduk menunggu dengan lesu.

Orang berjubah abu-abu lain menyeduh teh dalam tungku tanah liat. Air dalam teko tembaga telah mendidih.

“Air ini dari Mata Air Baotu , satu dari mata air paling terkenal di bawah surga,” kata lelaki bertopeng perak itu. “Dia telah mengalir tanpa henti selama ribuan tahun. Warna, aroma, dan rasa teh yang diseduh dengan air ini tidak berbeda dengan teh yang diseduh dengan mata air terbaik dari Jingshan.

Suaranya menjadi semakin lembut saat dia bicara tentang hal-hal halus seperti itu.

Kalau bukan karena topeng perak yang menakutkan itu, siapapun akan menganggap bahwa Xiao Jun telah datang kemari karena undangan untuk minum teh berkualitas baik.

“Aku tidak minum alkohol,” kata lelaki bertopeng perak itu, “hanya teh. Aku kebetulan sangat menyukainya. Orang yang minum teh selalu lebih bisa berpikir jernih dibandingkan orang yang minum alkohol.”

Xiao Jun berdiri dekat jendela, menatap ke bayangan jauh dari Gunung Thousand Buddha yang terkenal di jinan.  Dia tiba-tiba bertanya, “Apa yang terjadi pada lengan mereka?”

“Lengan siapa?”

“Orang-orang di sini.” jawabnya. “Orang-orang dengan sembilanratus sembilanpuluh sembilan nyawa.” Dia melanjutkan dengan pertanyaan lain: “Apakah mereka benar-benar orang bernyawa sembilanratus sembilanpuluh sembilan? Atau mereka adalah sembilanratus sembilanpuluh sembilan orang dengan masing-masing satu nyawa?”

“Apakah kau sungguh peduli dengan nyawa mereka?” tanya lelaki bertopeng perak itu dengan ekspresi dingin. Tampak seolah dia sedang tertawa. “Itu tidak masalah ada berapa jumlah mereka, atau berapa banyak nyawa yang mereka miliki. Itu sama saja.”

“Sama saja? Bagaimana bisa begitu?”

“Karena mereka adalah milikku, begitu juga nyawa mereka. Aku bisa membuat mereka melakukan apapun yang kuinginkan, bahkan mati.” Suaranya masih lembut dan ringan. “Lengan mereka seperti lenganmu, diputus olehku. Setiap dari mereka adalah sama.”

Sangat tidak terbayangkan bagi seseorang untuk menggunakan nada yang lembut untuk bicara hal-hal yang mengerikan seperti itu.

“Tapi mereka tidak seperti kau.” lanjut lelaki bertopeng perak itu. “Meskipun aku memotong lengan mereka, mereka tidak membenciku.”

“Oh?”

“Karena aku juga memberi mereka lengan, lengan yang jauh lebih baik daripada lengan asli.”

“Mengapa tak kau tunjukkan lenganmu pada Chamber Lord Xiao?” dia berkata pada orang yang sedang membuat teh.

Lelaki berjubah abu-abu itu berdiri, lalu menggulung lengan bajunya, hanya sedikit, untuk menunjukkan sebuah penjepit baja.

Konstruksi penjepit itu tepat dan rumit, meskipun Xiao Jun hanya bisa melihatnya sedikit.

“Ini bukan sebuah lengan,” kata Xiao Jun, “ini sebuah penjepit.”

“Itu adalah lengan.” kata lelaki bertopeng perak. “Apapun yang bisa dilakukan sebuah lengan, bisa juga dilakukan lengan ini. Airnya mendidih, cangkir teh ada di meja. Mengapa tak kau sajikan untuk Chamber Lord Xiao secangkir?”

Lelaki berjubah abu-abu itu dengan lembut mengangkat teko dengan penjepitnya, lalu menuangkan secangkir untuk Xiao Jun.

Sebuah tangkai daun teh mengapung dari dalam teh. Lelaki itu dengan lembut mengambilnya.

Gerakan dari penjepit itu sangat tangkas dan luar biasa gesit.

“Hal-hal yang orang lain tidak bisa lakukan dengan lengan mereka, bisa dilakukan lengan ini. Jika Chamber Lord Xiao tidak percaya, mengapa kau tidak membiarkannya melihatnya?”

Ada sebuah bunyi saat penjepit baja itu mengiris pegangan teko tembaga itu jadi dua, semudah sepasang gunting memotong selembar kertas.

Api membakar dalam pemanggang. Lelaki berjubah abu-abu itu menggapai ke dalam dengan penjepit dan menarik sepotong arang yang membara.

“Bisakah yang lain menggunakan lengan mereka untuk melakukan itu?” tanya lelaki bertopeng perak itu.

Xiao Jun tidak mengatakan apapun.

Suaranya penuh kebanggaan, lelaki bertopeng perak itu berkata: “Lengan ini bisa melakukan lebih banyak dari itu. Dia bisa menghancurkan sendi seseorang dalam sekejap. Dia bisa menggenggam tepi pisau, merobek pintu, menghancurkan belenggu besi. Jika kau bergantung pada balok atap, kau bisa bergantung dalam waktu yang sangat lama tanpa jatuh, karena pergelangannya tidak akan lelah atau patah.”

Xiao Jun tidak bisa menyangkal bahwa lengan ini bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan lengan normal.

“Jika seseorang mencoba menggunakan teknik gulat Qinna untuk menangkap titik vital dari pergelangan lengan ini, orang tersebut akan melakukan kesalahan fatal, karena lengan ini bukan titik vital. Bahkan, lengan ini tidak memiliki titik akupuntur sama sekali. Jika kau punya lengan seperti ini, dan sedang menghunus pedang, tidak ada yang mungkin bisa mengambil pedang itu darimu.” Dia bertanya pada Xiao Jun, “Maukah kau lengan seperti ini?”

Xiao Jun menutup mulutnya, tapi dia tidak bisa menyangkal perasaan yang muncul dalam hatinya.

Lelaki bertopeng perak ini bisa melihatnya.

“Meskipun kau tidak tahu siapa aku, aku tahu semua tentangmu.”

“Oh?”

“Kau adalah seorang yatim piatu. Ibumu meninggal sebelum kau berumur enam tahun. Kau belum pernah bertemu ayahmu, tidak sekali pun.”

Xiao Jun merasakan tikaman kepedihan dalam hatinya, sama dengan seolah seseorang menusuknya dengan jarum.

Ini adalah rahasia yang dikuburnya dalam-dalam, dan dia tidak pernah membayangkan orang asing ini akan tiba-tiba mengucapkannya di tempat terbuka.

Lelaki bertopeng perak itu melanjutkan: “Sejak usia muda, kau dibesarkan oleh mantan Ketua Beggar Sect, Tuan Dabei, yang sekarang sudah wafat. Tapi bahkan dia pun tidak pernah memberitahumu tentang masa lalumu, dan selain itu, tidak memperlakukanmu dengan baik secara umum.”

Wajah Xiao Jun tiba-tiba berubah, dari putih pucat, menjadi merah padam.

“Bagaimana kau bisa tahu hal-hal ini?”

“Aku tahu saja.” Suaranya tiba-tiba mengandung nada yang sangat aneh.

“Aku juga tahu bahwa orang yang paling kau benci bukan aku, tapi Li Xiao.”

“Li Xiao?”

“Three Frightening Laughs, General Li, Li Xiao.”

***

Tidak seorang pun tahu nama asli Laughing General. Ini adalah pertama kalinya Xiao Jun mendengarnya.

“Aku tahu bahwa orang yang paling kau benci adalah dia,” kata lelaki bertopeng perak itu. “Meskipun Tuan Dabei tidak pernah memberitahumu tentang masa lalumu, setiap kali dia mendengar nama Laughing General disebut, dia akan sangat marah. Dia jelas-jelas membenci Laughing General, seperti juga kau. Dan itu juga karena Tuan Dabei pasti bilang padamu bahwa ibumu meninggal secara mengerikan di tangannya.”

“Bagaimana kau bisa tahu ini?”

“Aku tahu saja,” katanya dengan aneh. “Aku tahu banyak hal yang orang lain tidak tahu. Tapi, bahkan aku pun membuat kesalahan.”

Dia mendesah panjang, desah yang mengandung penyesalan.

“Aku seharusnya tidak memotong lenganmu,” katanya. “Alasan aku melakukannya adalah karena aku membawamu untuk orang lain.” Dia tidak memberi Xiao Jun kesempatan untuk bicara. Dia melanjutkan, “Sekarang, aku tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Karenanya, aku ingin menawarkan kompensasi padamu. Aku ingin memberimu sebuah lengan, dan juga sebuah kesempatan.”

“Kesempatan apa?”

“Kesempatan untuk balas dendam,” kata lelaki bertopeng perak itu. “Aku bisa membiarkan kau sendiri yang membunuh General Li.”

Dia bicara dengan kepercayaan diri penuh dan keyakinan. “Selain itu, aku bisa menjamin bahwa kau akan berhasil.”

Xiao Jun tidak mengatakan apapun, tapi dia tidak bisa mempertahankan ketenangan dinginnya seperti biasa.

Dia berdiri. Lalu dia duduk lagi. Lalu berdiri lagi. Lalu dia mulai berjalan mondar-mandir di atas karpet Persia yang menutup lantai kabin.

Dia tidak ingin menerima bantuan apapun dari orang bertopeng perak ini, namun, dia tidak ingin kehilangan kesempatan ini.

Dia tidak akan pernah melupakan kemarahan, kebencian dan permusuhan yang ayah adopsinya katakan tentang General Li.

Bagi orang-orang di Jianghu, jenis permusuhan ini, di mana kau tidak bisa hidup di bawah langit yang sama dengan seseorang, hanya bisa dihapus dengan darah.

–Bukan dengan darah musuh itu, tapi dengan darah orang itu sendiri.

***

Xiao Jun akhirnya berhenti mondar-mandir dan menghadap lelaki bertopeng perak itu.

“Mengapa kau ingin memberiku kesempatan ini?”

“Karena Li Xiao adalah musuhku. Aku juga punya seorang anggota keluarga yang terbunuh olehnya.”

Suaranya tiba-tiba berubah. Sekarang itu terdengar persis seperti suara Tuan Dabei, penuh kesedihan, kebencian, dan permusuhan.

“Karena kau sangat membencinya,” kata Xiao Jun, “Mengapa kau tidak membunuhnya sendiri?”

“Aku ingin dia mati, terlepas dari siapa yang membunuhnya. Aku tidak peduli jika dia digigit sampai mati oleh anjing liar.”

Topeng perak itu berkilauan dalam cahaya lentera. Xiao Jun tidak bisa melihat wajahnya, tapi dia bisa tahu bahwa permusuhan yang ada antara dia dan Li Xiao lebih dalam daripada yang lainnya di dunia.

“Aku memberimu kesempatan, karena peluangmu lebih besar daripada aku.”

“Mengapa?”

“Karena dia tidak peduli tentangmu, dan tidak akan mengambil tindakan pencegahan terhadapmu. Karena itu, kau punya peluang. Aku khawatir bahwa bahkan jika Ketua Chu bangkit dari kematian, dia tidak akan bisa menyentuh sehelai rambut pun di kepala General Li.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku tidak cukup bagus.” Lelaki bertopeng perak itu mendesah. “Dalam limapuluh jurus, dia akan mendapatkan kepalaku. Dia bahkan tidak akan memerlukan sebuah pedang. Dia bisa mematahkan leherku dengan tangan kosong.”

Dia bukanlah orang yang rendah hati. Jika dia mengatakan hal seperti itu, itu pasti sebuah kebenaran.

“Karena itu, kau harus membunuhnya dalam satu langkah. Jika tidak, kau tidak diragukan lagi akan mati.” Dia bicara dengan penuh kesungguhan.”Kau harus mengingat ini. Saat kau punya kesempatan, serang. Seranganmu harus mengenai titik vital, dan titik vital itu haruslah titik vital yang mematikan.”

–Seberapa banyak peluang yang akan kumiliki?

Xiao Jun ingin menanyakan ini, tapi tidak dilakukannya. Meskipun dia hanya punya satu kesempatan, dia harus mencobanya.

“Kau akan punya peluang yang bagus,” kata lelaki bertopeng itu. “Kecerobohan dan keacuhannya padamu akan memastikan itu. Selain itu, dia tidak akan pernah membayangkan bahwa kau punya lengan lain.”

“Aku punya lengan lain?”

“Aku berjanji bahwa aku akan mengganti lenganmu. Dan kau harus berjanji padaku bahwa kau akan menggunakan lengan itu untuk membunuhnya.”

***

Apa yang diberikannya pada Xiao Jun bukan sebuah lengan asli, tetapi sebuah penjepit baja. Penjepit baja itu dilekatkan pada sebuah lengan logam dengan dua sendi, yang akan berputar dan bergerak dengan alami. Konstruksinya halus dan rumit.

“Menggunakannya mudah,” kata lelaki itu, sambil menempatkan lengan itu pada bagian yang terpenggal. “Ototmu tidak mati. Cukup kirim Qi dan tenaga dalammu di dalam sini. Itu akan menggerakkan mekanisme dalam lengan logam, dan kau bisa menggunakan pedang pendek pembunuhmu. Mengingat kecerdasan dan tenaga dalammu, dan juga keterampilanmu,” dia menjamin, “kau semestinya bisa menguasainya dalam dua jam.”

Dua sendi lengan logam itu terbuat dari enam tulang baja. Tulang-tulang itu tidak tebal, jadi saat lengan itu tersembunyi dalam lengan baju, lengan baju itu akan melambai lembut seolah tidak ada apapun di dalamnya.

“Jika kau hati-hati, Li Xiao tidak akan menyadarinya,” kata lelaki itu bersemangat. “Saat lenganmu muncul menikam keluar dari lengan bajumu, itu adalah waktu kematiannya.”

Xiao Jun tidak ingin menggunakan metode seperti itu untuk membunuh seseorang, tapi orang yang hendak dia bunuh itu tidak bisa dibunuh. Dia hanya akan punya satu kesempatan seperti ini.

Dia tidak punya pilihan lain. Tapi ada satu hal lagi yang ingin diketahuinya.

“Siapa kau?” Xiao Jun bertanya pada lelaki bertopeng perak itu. “Bukankah kau berjanji akan memberitahuku? Siapa kau?”

“Sebenarnya, kemungkinan besar kau pernah mendengar tentangku dulu sekali. Aku adalah Gao Tianjue.”

 Part 3

Kepala Ingot sudah kacau, lidahnya bengkak. Matanya, tidak kecil sejak awal, jadi lebih besar daripada normal. Saat dia menggerakkannya, mereka bergerak tak menentu.

Untungnya, dia tidak ingin menggerakkannya, karena dia sedang menatap seseorang.

Di matanya, tidak seorangpun di dunia lebih baik untuk dipandang.

Big Boss Tang sudah pernah dipandangi oleh orang lain sejak usia tigabelas atau empatbelas. Bahkan di usia tigapuluh empat, orang masih memandangnya, segala tipe orang. Dia telah menjadi terbiasa dengan hal itu. Tapi dipandangi oleh bajingan muda ini, dia merasa sedikit malu.

“Apa yang kau lihat?”

“Kau.”

“Aku seorang wanita tua, untuk apa kau memandangiku?”

Ingot sengaja mendesah. “Aku adalah lelaki yang sudah tua. Siapa lagi yang harus kulihat selain seorang wanita tua?”

Big Boss Tang tidak ingin tertawa, tapi dia melakukannya. Dia tiba-tiba menyadari bahwa bajingan kecil ini sebenarnya cukup menawan.

***

Ini adalah hal yang berbahaya.

Seorang wanita berusia tigapuluh empat tahun, kesepian, tiba-tiba menganggap seorang lelaki menawan. Tidak masalah tipe lelaki seperti apa, atau berapa usianya, ini hal yang berbahaya. Bukan hanya berbahaya, tapi juga menakutkan.

Jika dia seperti Gao Tianjue, dia pasti akan bersembunyi di balik topeng perak.

Dia menyadari bahwa bajingan menawan ini berbahaya, dan dia tidak ingin bajingan itu tahu bahwa dia mengetahuinya.

Sayangnya, dia tidak punya topeng perak. Dia tidak punya topeng apapun.

Jadi Ingot mengajukan sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan berbahaya yang menakutkan. Pertanyaan yang akan mengejutkan siapapun.

Dan tentu saja, Big Boss Tang terkejut.

**

Translator / Creator: Jade77