December 5, 2016

DKWSS – Chapter 13 : A Silent Funeral Song

 

A Silent Song for the Dead

Part 1

18 April. Malam.

Saat Ingot duduk di ruang makan Big Boss Tang yang mewah dengan makanan lezat dan alkohol, Xiao Jun juga sedang makan. Dia duduk di sebuah kedai pinggir jalan, diterangi sebuah lampu, memakan hidangan telur dan bawang goreng lemak babi.

Setiap orang harus makan, terlepas dari apakah mereka ingin atau tidak, Jika kau tidak makan, kau mati.

Ada banyak hal di dunia seperti ini, hal-hal yang harus kau lakukan, entah kau ingin atau tidak.

***

Xiao Jun bukan pemilih dalam hal makanan. Selama sesuatu itu bisa dimakan, dia akan memakannya. Seringnya, dia tidak memperhatikan rasa makanan itu, dan seringkali, dia bahkan tidak tahu apa yang dimakannya.

Ini karena dia tidak seperti kebanyakan orang di dunia. Biasanya, ketika mulut seseorang bergerak, otaknya tidak.

Tapi Xiao Jun berbeda.

Saat dia makan, dia akan memikirkan banyak hal, banyak pertanyaan.

Saat ini, dia sedang memikirkan sebuah pertanyaan aneh.

Dia tidak bisa berhenti memikirkan, “Kenapa aku tidak mati?”

Dari malam sebelumnya hingga saat ini, dia telah memikirkan pertanyaan ini berulang-ulang, karena sesungguhnya, dia seharusnya sudah mati.

***

Saat lentera untuk kedua kalinya dipadamkan bersamaan di As You Wish Gambling Hall, dia telah menggenggam pedang pendek baja halus buatan ahli pedang dengan model “Fish Intestines”, sepanjang satu kaki tiga inci.

Dalam sekejap, tubuhnya telah terbang ke depan, kira-kira tiga setengah meter. Tenggorokan Wu Tao seharusnya berada di sana. Dalam posisi yang sama dengan pedangnya. Dia telah memperhitungkan jarak dan posisinya yang tepat.

Perhitungannya selalu sangat tepat.

Kecepatan gerakan dan pedangnya tidak bisa ditandingi siapapun.

Tentu saja, serangan pedang itu mengandung elemen sekunder. Saat dia menusuk, kekuatan pedang itu menahan gerakan setiap orang dalam radius enam meter.

Dia mengerahkan semua kekuatan, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan seumur hidupnya dalam serangan ini.

Tapi pedang itu kosong.

Semua dalam jangkauan serangan itu kosong, benar-benar kosong. Tidak ada apapun. Tidak ada cahaya, kemampuan, reaksi, hasil, benar-benar kosong.

Saat itu, Xiao Jun merasa seperti sedang jatuh dari gedung setinggi ratusan meter, langsung menuju keadaan putus asa, keadaan tak berdaya.
Hal yang paling menakutan adalah…

Kekuatannya sendiri seperti telah dikuras. Seolah ada suatu kekuatan yang tidak bisa dipahami, dan mustahil untuk ditolak yang telah menyedotnya sampai habis.

Pada saat itu, bahkan seorang anak kecil pun bisa menjatuhkannya.

Dia belum pernah mengalami perasaaan seperti itu sebelumnya.

Sekarang dia tahu bahwa dia telah berhadapan dengan seorang lawan menakutkan yang tak pernah diketahui sebelumnya, orang yang lebih menakutkan dari apapun yang bisa muncul dalam mimpi terburuk seseorang.

Bahkan yang lebih mengerikan, dia bisa merasakan bahwa orang ini telah melayangkan serangan fatal terhadapnya.

Dia tidak bisa menahan atau menghindar.

Dia telah mengembangkan kekuatan dan keterampilan selama bertahun-tahun, mencapai kebijaksanaan dan pengalaman melalui pertarungan hidup dan mati yang tak terhitung. Tapi tiba-tiba, dia kosong, benar-benar tidak bergerak.

Saat itu, hanya satu hal yang bisa dilakukannya. Menunggu untuk mati.

***

Tapi dia tidak mati.

Saat serangan fatal itu mendekat, aura kematiannya benar-benar menahan gerakan dan napasnya, dan dia tahu tanpa keraguan bahwa dia akan mati. Dan kemudian, tiba-tiba, seseorang menyelamatkannya. Sebuah tangan menyelamatkannya.

Tangan itu seperti angin, angin yang entah dari mana, tangan yang entah dari mana.

Tangan itu terulur dari arah yang misterius dan tak bisa dipahami, untuk meraih bahunya, mengisinya dengan kekuatan yang mustahil.

Tubuhnya terbang ke udara, menghindari serangan mematikan itu.

Saat dia turun, dia tidak tahu di mana posisinya. Satu-satunya yang dia dengar adalah angin yang bergerak cepat dari semua arah.

–Suara gemerisik lengan pakaian, senjata tersembunyi beterbangan, tepi pisau menebas, dan teriakan serta jeritan yang memilukan, melengking dan mengerikan.

Tidak seorangpun yang mungkin bisa menggambarkan suara yang didengarnya.

Kecuali kau mendengarnya dengan telingamu sendiri, kau tidak akan bisa membayangkan seperti apa suara mereka.

Dan jika kau memang mendengarnya, kau tidak akan bisa melupakan mereka selama sisa hidupmu.

Xiao Jun merasakan bahwa dirinya sudah nyaris muntah.

Tapi dia tidak muntah. Karena suara tersebut tiba-tiba berhenti, dan kemudian suara tiga tawa terdengar.

Semuanya menjadi sangat sunyi. Aula yang ramai, terang dan gemilang itu tiba-tiba berubah jadi sebuah makam.

Untungnya, jantung Xiao Jun masih berdegup.

Dia bisa mendengarnya “dug, dug, dug.” Berdegup untuk waktu yang lama, dan kemudian tiba-tiba sebuah nyala api muncul dalam kegelapan, sebuah cahaya.

Cahaya api itu ada di tangan Frogboy.

Dia duduk di posisi yang sama seperti sebelumnya. Tampaknya dia tidak bergerak sama sekali, atau mungkin tidak bisa.

Ada seseorang yang baru di sampingnya.

Pada satu titik, Old Master Tian telah duduk di kursi di sampingnya. Dia duduk di sana memetik sebuah sanxian, sebuah sanxian yang tidak menghasilkan suara.

Sebuah sanxian tanpa suara, yang senarnya telah putus.

–Sebuah sanxian tanpa suara, dan seorang lelaki tua yang memudar; suara sanxian yang sunyi itu lebih sunyi dari suara lain di dunia.

Jemarinya memainkan suara lagu berkabung.

Tetapi melodi lagu berkabung itu tidak bisa terdengar, karena dia tidak bermaksud memperdengarkannya pada siapapun.

***

Frogboy menyalakan lentera, satu lentera yang beberapa saat lalu dibawa turun oleh Wu Tao.

Saat cahaya lentera itu menyebar, dia menangkap sosok Xiao Jun.

Tapi Xiao Jun tidak sedang melihatnya. Xiao Jun sedang melihat orang-orang di tanah.

Dai Tianchou, Tu Qu’e, dan Presiden Jin semua tergeletak di tanah, tidak bernapas, tubuh mereka menjadi dingin.

Virgin kung fu Thirteen Official Dai Tianchou, yang dilatih terus selama bertahun-tahun, telah dihancurkan. Meskipun, Golden Iron Bell mail tunicnya, yang kebal terhadap pisau dan tombak, belum dihancurkan.

Tapi dia berdarah. Darah mengalir dari sebuah titik di belakang telinga kirinya.

Bagian itu adalah titik kelemahannya, satu-satunya titik lemah dari seluruh tubuhnya, dan juga rahasianya yang terbesar.

Seseorang yang berlatih jenis kung fu itu tidak akan pernah mengungkapkan titik kelemahannya pada siapapun.

Bagaimana bisa rahasia itu diketahui orang yang membunuhnya?

***

Aula itu sebelumnya diterangi oleh seratus sembilanpuluh enam lentera, tapi sekarang, dia hanya diterangi satu lentera.

Cahaya suram itu menyinari wajah Xiao Jun, begitu juga delapan mayat di tanah.

Selain tiga orang yang telah disebutkan tadi, lima mayat lain bisa terlihat, empat dari mereka dikenali oleh Xiao Jun. Mereka semua ahli seni bela diri top dunia jianghu, termasuk pahlawan besar dan penjahat besar.

Masing-masing dari mereka pasti telah datang untuk mengambil nyawa seseorang, tapi sekarang nyawa mereka sendiri yang telah diambil orang itu.

Setiap orang telah dibunuh oleh satu pukulan yang mematikan, dan wajah mereka semua menampakkan kengerian.

Tidak satupun dari mereka membayangkan bahwa mereka akan mati dengan cara yang sangat tragis.

Frogboy mendesah.

“Aku menghitungnya sepanjang waktu,” katanya. “Dari saat lampu padam hingga baru saja saat aku menyalakan apiku, aku hanya bisa menghitung dari ‘satu’ sampai ‘delapanpuluh delapan’.”

Sebuah kung fu yang bisa mengambil nyawa dari delapan ahli seni bela diri dalam waktu sesingkat itu, benar-benar menakutkan.

Pembunuhnya telah pergi.

Wu Tao telah pergi.

Sebuah pukulan fatal, delapan pahlawan mati, tiga tawa, lalu, pergi bersama angin. Jenis keterampilan apa ini? Roh apa?

Frogboy melihat Xiao Jun, lalu mendesah.

“Aku hidup hanya karena ayahku,” katanya. “Bagaimana denganmu? Aku telah mengira kau adalah yang pertama mati, bagaimana bisa kau tidak mati?”

***

Itu adalah pertanyaan yang Xiao Jun pun tidak bisa cari jawabannya.

–Mengapa dia tidak mati? Siapa yang telah menyelamatkannya? Mengapa orang itu menyelamatkannya?

Part 2

Bukan jumlah yang sedikit alkohol yang telah dikonsumsi. Pipi Big Boss Tang merona dengan warna merah pucat, dan matanya tampak lebih cerah dari sebelumnya.

Dia mendesah lembut, lalu berkata pada Ingot:

“Karena itu, kami telah bersiap untuk menghentikan bisnis selama setengah bulan, mulai hari ini. Kami akan mendekor ulang aula utama secara total. Para penjudi umumnya sangat percaya takhayul. Siapa yang akan berani berjudi di tempat di mana delapan orang mati dalam sepersekian detik?”

“Jadi, delapan orang mati. Selain Dai Tianchou, Tu Qu’e dan Presiden Jin, siapa lagi yang mati? Siapa lima orang lainnya?”

“Aku tidak terlalu yakin,” kata Big Boss Tang. “Kudengar bahwa salah satunya adalah tuan Su Zhong dari Wudang sword school, satu lagi adalah paman bela diri Qiu Budao dan yang lainnya adalah anggota-anggota peringkat tertinggi dari murid sekuler Shaolin.” Dia mendesah. “Siapapun yang membunuh delapan ahli pada level itu dalam waktu singkat, pasti memiliki seni bela diri yang sangat kuat dan keterampilan kejam. Itu sangat mengerikan.”

Ingot menggebrak meja dengan telapak tangannya.

“Aku tidak percaya,” teriaknya. “Pukuli aku sampai mati, dan aku masih tidak akan mempercayainya.”

“Apa yang tak kau percayai?”

“Aku tidak percaya kalau mereka semua dibunuh oleh Wu Tao.” katanya.

“Dia tidak sejahat dan sekejam itu.”

“Selain dia, siapa yang bisa?” kata Big Boss Tang. “Siapa lagi yang punya kung fu yang menakutkan seperti itu?”

“Jika aku bisa memeriksa delapan mayat itu, mungkin aku bisa melihat.”

“Melihat apa?”

“Melihat metode apa yang dipakai pembunuh. Apakah itu benar metode WuTao? Dalam hal apapun, tidak ada yang bisa melihat sesuatu. Siapapun yang memang membunuh mereka bisa dengan mudah melimpahkan kesalahan pada Wu Tao, mengubahnya menjadi kambing hitam.”

“Itu memang masuk akal,” jawab Big Boss Tang. “Sayangnya, kau tidak bisa memeriksa mayat itu.”

“Mengapa tidak?”

“Karena Old Master Tian telah membawa mereka pergi. Mereka telah ditempatkan dalam peti mati dan disegel. Tidak ada yang bisa memeriksa mereka.”

Mata Ingot tiba-tiba menyipit, seolah dia sedang merencanakan sesuatu.

“Mengapa Old Master Tian buru-buru membawa mayatnya pergi? Mungkinkah dia takut seseorang akan mengetahui bahwa tidak semua luka fatal itu disebabkan Wu Tao? Mungkin dia sengaja memberitahu teman dan keluarga para korban itu, dengan tujuan mengirim mereka pada Wu Tao untuk balas dendam?”

Big Boss Tang tertawa, menatap Ingot dengan mata sejernih mata air. Dia mengangkat gelasnya ke arahnya lalu minum.

“Mungkin kau tidak terlalu tua, tapi kau sangat pintar. Bagaimana mungkin kau memikirkan ide seperti itu? Lebih jauh lagi, dengan reputasinya, bagaimana bisa Old Master Tian melakukan hal seperti itu?”

“Mengapa tidak bisa?” tanya Ingot, “Siapa yang tahu ada atau tidak musuhnya sendiri di antara delapan yang terbunuh itu. Mungkin dia mengambil keuntungan dari situasi ini untuk membunuh mereka.” Dia berpikir sesaat. “Aku dibawa kesini oleh Gao Tianjue, jadi dia juga berada di sana saat itu.. Siapa yang tahu apakah dia pembunuhnya atau bukan? Dengan seni bela dirinya, tidak akan sulit membunuh delapan orang. Mungkin Old Master Tian dan dia adalah teman, namun Old Master Tian takut padanya. Dan karena itu dia melakukannya.”

Big Boss Tang menatap Ingot lama, lalu tiba-tiba bertanya padanya, “Apa kau benar-benar baru berusia tujuhbelas atau delapanbelas?”

“Kurang lebih.”

“Melihatmu, kau memang terlihat berusia tujuhbelas atau delapanbelas, tapi terkadang aku merasa bahwa kau sebenarnya seorang lelaki tua berusia tujuhpuluh atau delapanpuluh tahun.”

“Mengapa begitu?”

“Karena hanya lelaki tua yang punya kerangka pikiran curiga seperti itu.”
Ingot balas menatapnya lama, merendahkan suaranya, lalu berkata pelan,

“Bisakah aku mengatakan sebuah rahasia?”

“Rahasia apa?”

“Sebenarnya, aku sudah berusia tujuhpuluh tujuh.” Ekspresinya cukup serius. “Aku hanya benar-benar merawat diriku sendiri dengan baik, sehingga aku terlihat lebih muda.”

Big Boss Tang tertawa, dan dengan sebuah lengkungan senyuman berkata, “Jika begitu, nenek tua ini harus bersulang untukmu beberapa kali lagi.”

Part 3

Mayat-mayat tersebut telah ditempatkan dalam peti mati dan disegel. Sekarang gudang kayu di belakang halaman kayu “Forest Memory” memiliki tambahan delapan peti mati lagi.

Old Master Tian telah menempatkan penjaga di sana dari pagi hingga langit gelap. Dia tidak makan sebutir pun nasi atau setetes air atau alkohol. Tidak pula dia bicara.

Frogboy belum pernah melihat ayahnya dalam suasana hati yang begitu serius.

Akhirnya, saat malam telah sangat gelap, orang-orang datang untuk menyalakan lentera. Old Master Tian bertanya pada Frogboy, “Bisakah kau melihat bagaimana mereka mati?”

“Sedikit,” jawab Frogboy. “Masing-masing terbunuh oleh sebuah pukulan fatal. Teknik yang digunakan aneh. Dia dengan cepat mengeraskan lalu meledakkan arteri dan saluran Qi mereka, cara yang sama dengan orang yang menghancurkan sepotong arang di antara jari mereka.”

“Bisakah kau sebutkan teknik apa yang dipakai orang ini?”

“Aku tidak bisa. Aku telah melihat banyak orang mati dengan arteri dan saluran Qi hancur, tapi aku tidak pernah melihat teknik seperti ini sebelumnya.”

“Tentu saja kau belum pernah.” Old Master Tian mendesah. “Karena hanya satu orang di bawah langit yang menggunakan teknik mematikan seperti ini.”

“Apakah itu General Li?”

“Bukan.”

“Jika bukan dia, lalu siapa?”

“Seseorang yang lebih menyeramkan daripada dia,” kata Old Master Tian.

“Lebih ganas, lebih kejam, lebih ekstrim dalam bertindak.”

“Siapa yang lebih ekstrim daripada General Li?”

“Gao Tianjue.”

Part 4

Sebuah jalur terpencil, sebuah kedai makanan yang bobrok, lampu minyak yang berkelip. Seorang lelaki tua, wajahnya menjadi gelap karena asap lampu minyak, melihat Xiao Jun, yang baru menyelesaikan semangkuk telur gorengnya. Dengan nada yang agak bersimpati, dia bertanya, “Apa kau mau semangkuk kaldu? Gratis.”

Xiao Jun menggelengkan kepalanya dan perlahan berdiri. Wajahnya yang tanpa ekspresi dan tanpa warna tiba-tiba bersinar dengan ekspresi ketakutan dan takjub.

Jika kau tidak melihatnya sendiri, kau mungkin tidak akan pernah berpikir bahwa wajah orang itu bisa berubah begitu.

Tapi lelaki tua itu melihatnya.

Dia tidak bisa membayangkan apa yang menyebabkan wajah lelaki berlengan satu itu berubah, lelaki yang berbicara dengan aneh dan makan dengan sangat perlahan ini.

Tapi tidak butuh waktu lama baginya untuk tahu penyebabnya. Dia menoleh dan melihat hal yang sama yang Xiao Jun lihat, sesuatu yang akan menakutkan bagi siapapun.

***

Beberapa saat yang lalu, di daerah sekitar kedai makanan itu tidak ada bayangan hantu. Tapi sekarang, ada seseorang di sana.

Orang itu mengenakan warna hitam. Sebuah jubah hitam, syal hitam, sepatu bot hitam, dan mata hitam.

Hitam ini bukan hitam yang normal.

Bersinar seperti pernis, lebih pekat daripada tinta, hitam ini adalah hitam muram pada langit sesaat sebelum fajar terbit.

Jubah hitam panjangnya menjuntai ke tanah, persis seperti jubah gelap yang sering disebut setan penghisap darah.

Tapi wajahnya putih.

Bukan putih yang normal, dan bukan putih pucat seperti wajah Xiao Jun.
Wajahnya lebih menyeramkan daripada wajah mayat.

Itu adalah warna pucat keperakan, seolah dia mengenakan topeng yang ditempa dalam api neraka. dan bersinar.

Tapi bukan sinar yang normal.

Itu adalah sinar yang berkelip redup, seperti sinar di mata seseorang saat mereka mendekati kematian. Meskipun cerah, itu membawa perasaan sakit, tersiksa, takut dan putus asa.

***

Mustahil untuk mengatakan kapan orang ini tiba, atau darimana dia berasal.

Mungkin hanya Xiao Jun yang tahu.

Tampak seolah dia mengenali orang ini. Dia terlihat seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba bertemu setan yang terus-menerus mengganggu dalam mimpi-mimpi buruknya. Terlihat seolah tenggorokannya sedang dicengkeram oleh tangan setan. Butuh waktu lama baginya untuk bicara.

“Itu kau?”

“Ini aku.” Tampak seolah orang itu sedang tertawa. “Aku terkejut bahwa kau mengingatku.”

Xiao Jun pasti mengenali orang itu. Meskipun dia hanya melihatnya sekali, dia tidak akan pernah bisa melupakannya.

Siapapun akan mengingat orang ini setelah melihatnya hanya sekali, tetapi bagi Xiao Jun, kenangannya lebih dalam dan lebih menyakitkan dibandingkan orang lain.

Itu adalah sesuatu yang yang telah terjadi belasan tahun yang lalu, mungkin lebih.

Xiao Jun mengingatnya lebih jelas daripada siapapun. Itu adalah malam bulan purnama, tiga belas tahun dan tiga hari yang lalu.

Malam itu, cahaya bulan bersinar seperti cermin, dan udara malam dingin mengiris seperti pisau.

Dia melihat pisau yang belum pernah dia lihat sebelumnya, atau lebih tepatnya, kelebatan pisau.

Segera saat pisau itu berkelebat, lengan kirinya terpotong.

***

Xiao Jun tidak pernah tahu siapa orang itu, dan mengapa dia memutuskan lengannya.

Dia belum pernah bertemu orang itu sebelum malam itu, dan tidak pernah melihatnya lagi. Dan dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan melihatnya berdiri di depannya sekarang.

Translator / Creator: Jade77