November 30, 2016

DKWSS – Chapter 12 : Ingot’s Seven Stars

 

Ingot’s Seven Stars

Part 1

18 Apil, senja.

Ingot tidak tahu jam berapa saat itu, atau di mana dia, tidak juga petunjuk tentang apa yang yang telah terjadi saat lampu padam di As You Wish Gambling Hall.

Dia ingin bertanya tentang semua hal ini, tapi tidak dilakukannya. Gadis yang telah memandikannya itu mulai mengajukan pertanyaan lebih dulu.

“Aku tahu orang memanggilmu Ingot, tapi apa margamu? Apa nama pemberianmu? Di mana keluargamu? Siapa saja anggota keluargamu… apa kau sudah menikah?”

Lima pertanyaanya yang berturut-turut itu membuatnya terlihat seperti sedang menilai dia sebagai calon pasangan.

“Aku dipanggil Ingot, dan aku hanyalah seorang pengemis,” katanya. “Bagaimana bisa seorang pengemis bau punya keluarga, apalagi istri?”

“Kau bohong,” jawab gadis itu. “Kau pasti bukan seorang pengemis. Aku bisa tahu saat memandikanmu barusan.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Kulitmu halus dan putih. Kakimu halus seperti kaki wanita. Bagaimana bisa kau jadi pengemis?” Dia tertawa. “Jika kau pikir seorang wanita tidak akan mau menikahimu, kau salah. Aku akan menikahimu kapanpun. Tadi saat kau berbaring tertidur di bathtub, aku menyadari bahwa aku sangat menyukaimu.”

Bagaimana bisa kata-kata itu keluar dari mulut gadis semuda ini? Ingot tertawa getir.

“Apa aku salah dengar? Apa yang baru kau katakan, kupikir bukan yang sebenarnya kau katakan. Telingaku pasti bermasalah.”

“Telingamu tidak bermasalah. Bahkan, aku bisa menjamin bahwa seluruh tubuhmu tanpa cacat. Kau sekuat banteng.” Gadis itu tertawa. “Aku juga bisa tahu bahwa kau seorang pemuda dan pasti bisa menikahi seorang istri. Bahkan jika kau menikahi tiga istri, atau lima, kau akan baik-baik saja.”

Dia tidak tersipu, atau tampak malu sedikitpun.

Dia duduk di sana di samping tempat tidur, terlihat seperti siap melompat masuk setiap saat.

Ingot bukan tipe pemuda yang mudah malu. Dia berani, dan berkulit badak. Tapi saat ini, satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah menciut makin dalam ke tempat tidur dan mengubah topik pembicaraan dengan si gadis yang tampaknya lebih berkulit badak dibandingkan dia. “Apakah di luar mulai terang?” Sedikit cahaya tampak menerobos jendela. Itu seperti cahaya fajar.

“Ya, akan segera terang,” jawab gadis itu. “Kira-kira, duabelas atau empatbelas jam dari sekarang.”

“Duabelas atau empatbelas jam?” teriak Ingot terkejut. “Jangan bilang bahwa ini baru mulai gelap? Apa aku tidur seharian?”

“Jangan bilang kau tidak tahu?” jawab gadis itu, tertawa lagi. “Aku harus memandikanmu selama dua jam sampai aku bisa benar-benar membersihkanmu.”

Dia membahas soal mandi itu lagi, tapi Ingot mengubah topik lagi secepatnya.

“Bagaimana aku bisa tiba di sini?” tanyanya kepadanya. “Siapa yang membawaku ke sini?”

“Seseorang yang sangat menakutkan. Bahkan aku takut padanya.” Dia benar-benar tampak ketakutan.

Saat menyebutkan tentang dia, tawanya langsung berhenti.

“Siapa namanya?”

“Aku tidak bisa mengatakannya, meskipun kau memukulku.”

“Mengapa?”

“Karena dia bilang padaku untuk tidak melakukannya. Dia bilang, jika aku menyebutkan namanya, dia akan mengiris hidungku, mencampurnya dengan nasi, dan memberikannya pada kucing.”

Ingot bisa merasakan bahwa gadis ini mengatakan yang sejujurnya, melihat wajahnya yang jadi putih pucat.

Dia sendiri sudah mengalami perasaan takut pada orang itu.

Hanya memikirkan tangan sedingin es itu, dan bau kematian itu, dia merasa merinding di sekujur tubuhnya.

“Dia menyambarku dengan satu gerakan, melemparku melintasi ruangan, lalu menangkapku sendiri. Siapa yang tidak akan takut pada orang seperti itu.” Ingot mendesah. “Aku hanya tidak bisa mencari tahu mengapa dia membawaku ke sini. Mengapa tidak melemparku saja ke selokan?”

“Karena dia juga menyukaimu.” tawa gadis itu. “Dan setidaknya, tempat ini berbau lebih baik daripada selokan.”

“Tempat apa ini? Sejauh apa ini dengan As You Wish Gambling Hall?”

“Tidak jauh.”

“Seberapa ‘tidak jauh’ itu?”

“Mengapa kau ingin mendapat jawaban rinci?”

“Saat ini, aku bahkan tak bisa mengambil satu langkah pun,” jawab Ingot.

“Aku ingin kau pergi ke sana untukku dan mencari tahu.”

“Mencari tahu tentang apa?”

“Aku ingin tahu apa yang terjadi setelah lentera dipadamkan tadi malam.”

“Aku hanya tahu beberapa orang terbunuh,” jawab gadis itu. “Aku tidak ingin tahu lebih banyak lagi.”

Tiba-tiba dia tertawa senang lagi. “Lagipula, tempat ini tidak bisa dianggap terlalu jauh dari As You Wish Gambling Hall, karena tempat ini adalah As You Wish.”

Ingot ternganga.

“Ruangan ini ada di halaman di belakang ruang utama tempat kau berada tadi. Ini adalah rumah Big Boss Tang, dan aku adalah anak adopsi Big Boss Tang. Margaku Cai; orang-orang memanggilku Little Cai.”

Ingot tertawa.

“Little Cai? Sebuah makanan pembuka? Jenis makanan pembuka apa? Daging atau vegetarian? Ginjal domba goreng atau lobak parut dingin?”

Dia tertawa keras. “Mendengar namamu saja sudah membuatku lapar. Aku bisa makan makanan pembuka apapun. Aku sangat lapar aku bisa makan kuda.”

Little Cai tidak tertawa. Dia menatapnya beberapa saat, lalu tiba-tiba menempatkan wajahnya yang putih halus di depan mukanya dan berkata,

“Baiklah. Makanlah. Aku akan memberimu makan.”

Sekali lagi, Ingot tidak mampu tertawa. Tapi kali ini, alasan dia tidak tertawa bukan karena gadis yang berani ini.

Kali ini, dia tidak tertawa karena dia baru memikirkan sesuatu yang sangat serius.

“Kau baru saja memandikanku, bukan?” tanyanya. “Dan kau yang melepaskan pakaianku?”

“Tentu saja,” jawab Little Cai, dengan ekspresi centil yang disengaja. “Bagaimana mungkin aku membiarkan orang lain melepaskan pakaianmu?”

“Di mana mereka?”

“Dibakar,” jawabnya, “bersama dengan semua mainan dan sampah di dalamnya.”

“Apa?” teriak Ingot. “Bagaimana kau bisa membakar barang-barangku?”

“Mengapa tidak? Mereka membuat seluruh ruangan bau. Jangan bilang kau ingin aku menyimpan mereka seolah mereka harta karun atau sesuatu?”

Ingot tidak bisa berkata-kata, ekspresinya seperti orang yang baru menelan delapan atau sembilan telur itik bau. “Kau membunuhku.” katanya. “Kau benar-benar telah membunuhku.”

“Sayangnya, aku tidak membunuhmu.” jawab si gadis dengan senyum kecil. Dengan penuh gaya, dia mengeluarkan sebuah tas bersulam dari dalam pakaiannya. “Lihat? Apa ini?”

Ingot melompat penuh semangat, menyambar tas itu darinya. Gadis itu menyeringai dan tertawa dingin.

“Kau terlihat seperti orang yang santai. Mengapa kau memperlakukan kantong itu seperti harta karun yang besar?”

“Kau tidak tahu apa yang ada di dalamnya.”

“Bagaimana aku bisa tahu, aku tidak pernah melihat isinya,” jawabnya.

“Aku tidak punya kebiasaan diam-diam melihat barang orang lain.”

“Kau gadis yang baik,” jawab Ingot senang. “Tentu saja kau tidak punya kebiasaan seperti itu.”

“Meski, jika kau memutuskan untuk membiarkanku melihatnya, aku tidak akan menolak untuk melihat.”

“Aku mungkin tidak perlu membiarkanmu melihatnya.” jawab Ingot cepat. “Aku tidak yakin kau bahkan ingin melihatnya. Lagipula, mana mungkin seorang pengemis punya sesuatu yang cukup berharga untuk dilihat.”

“Bagaimana jika kubilang kau harus menunjukkannya padaku?”

“Kau tidak akan melakukannya,” jawab Ingot. “Kau bukan tipe orang seperti itu.”

“Bagaimana aku tahu tipe orang seperti apa aku?” jawabnya. “Aku hanya orang bodoh.” Dia sengaja mendesah. “Meskipun aku tidak bisa membuat diriku membakar kantongmu, aku bisa saja menyembunyikannya. Mengapa aku harus mengembalikannya padamu? Jika aku bukan orang bodoh, lalu aku apa?”

Ingot berpikir sejenak, lalu beberapa saat lagi. “Kau benar. Baiklah, aku akan menunjukkannya padamu.”

Kantong itu tidak berisi harta karun, hanya tujuh bintang.

Tidak ada yang menganggap tujuh bintang ini sebagai harta karun, tidak juga seorang anak berumur tiga tahun.

Mereka sama sekali tidak tampak menarik. Dari sisi manapun kau melihat mereka, tidak ada sesuatu pun yang membuat mereka tampak berharga. Jika seseorang menawarkannya padamu, kau tak akan membawanya. Jika kau tidak sengaja mengambilnya, kau akan segera membuangnya.

Tujuh bintang itu tidak terbuat dari bahan khusus. Meskipun salah satunya tampak dibuat dari giok, yang lainnya tidak. Mereka terbuat dari potongan tembaga, besi dan kayu. Salah satunya bahkan tampaknya dipotong dari kardus.

Namun masing-masing bintang mempunyai sebuah karakter yang tertulis di atasnya. Sebelum Little Cai bisa melihat karakter tersebut dari dekat, Ingot bertanya, “Jadi, kau sudah melihat, bukan?”

“Ya.”

“Apakah menurutmu mereka keren?”

“Tidak juga.”

Mendengar bahwa mereka tidak keren, Ingot mengumpulkan mereka kembali. Lesung pipitnya muncul. “Sudah kubilang, pengemis tidak membawa sesuatu pun yang menarik.”

Lesung pipit Little Cai juga muncul.

“Kalau begitu mengapa tak kau berikan satu untukku,” tanyanya dengan tawa manis. “Bagaimana kalau yang terbuat dari kayu tua?”

Sebuah bintang berkat dari surga, dengan satu ketukan, dia bisa mengubah besi menjadi emas. Gadis itu tahu tentang bintang ini, jadi apakah dia tahu tentang apa yang terjadi malam itu saat lampu padam?
Ingot ingin bertanya, tapi tidak dilakukannya.

Mulutnya seperti terkunci rapat seolah mereka telah dijahit dengan benang. Dia tidak mengatakan sepatah katapun. Karena dia tiba-tiba menyadari bahwa seseorang sedang berdiri di ujung tempat tidur menatapnya.

Kapan orang ini tiba? Darimana mereka berasal? Dia tidak tahu.
Dia hanya tahu bahwa beberapa saat yang lalu, tidak ada orang lain di ruangan ini. Kemudian tiba-tiba ada seseorang berdiri di tepi tempat tidur.

Part 2

Dia adalah seorang wanita, tapi tipe wanita seperti apa, siapa yang tahu?
Tidak banyak wanita di dunia seperti dia.

Dia memiliki dahi yang lebar, tulang pipi tinggi, dan mulut yang lebar. Dia memiliki aura berwibawa, tipe yang membuatnya seperti tidak bisa didekati.

Namun, bibirnya, lembut dan anggun, dan sedikit melengkung, memberinya kesan selalu tersenyum lembut menawan, jenis yang membuatnya seperti sangat mudah didekati.

Matanya tidak besar, tapi sangat cerah, penuh dengan kedewasaan dan kebijaksanaan, jenis yang akan membuat orang merasa nyaman berbicara dengannya tentang apapun karena mereka tahu bahwa dia akan memahami.

Usianya tidak mungkin sangat muda, dan dia juga tidak sangat cantik.

Namun segera saat Ingot menatapnya, dia seperti mendadak linglung. Bahkan dia tidak memperhatikan saat Little Cai melompat dari tempat tidur.

Jantungnya mulai berdegup, lebih cepat dari biasanya.

Tidak di masa lalu, ataupun masa depan, akan ada wanita lain yang bisa membuat jantung Ingot berdegup begitu cepat.

***

Ingot tidak terlalu peduli. Apapun hal yang terjadi dalam hidup, itu tidak terlalu penting baginya.

Apa yang orang pikirkan atau lakukan atau katakan juga tidak penting baginya.

Tapi tampaknya melihat wanita ini untuk pertama kalinya adalah sesuatu yang sangat penting.

Dia tentu tidak bisa mengijinkan wanita itu memandangnya sebagai orang bodoh yang berpikiran sederhana dan terpanah cinta. Jadi dia menghela nafas.

“Seorang wanita lagi? Apakah semua lelaki di tempat ini bersembunyi di suatu tempat? Mereka tidak berani bertemu denganku?”

“Siapa yang kau inginkan untuk datang menemuimu?” tanya wanita itu, suaranya dalam dan indah, seperti seorang musisi mengungkapkan kenangan tentang kekasih masa lalu melalui dawai pada alat musiknya.

“Big Boss Tang.” Ingot batuk dua kali. “Aku sangat ingin bertemu dengan Big Boss Tang.”

Wanita itu tertawa. Saat dia tertawa, bibir indahnya naik, dan dalam kelembutan dan kegembiraan tampak ada bayang nuansa kesedihan yang tenang, meski bukan jenis kesedihan yang membangkitkan rasa iba.

“Kau sudah bertemu Big Boss Tang,” kata wanita itu. “Aku.” Dengan senyuman, dia bertanya pada Ingot, “Apakah kau berpikir bahwa semua Big Boss di dunia adalah lelaki?”

Ingot menggelengkan kepalanya. “Tidak, tapi kupikir kau harus membiarkanku berpakaian, lalu mentraktirku sedikit makanan dan alkohol.”

Terlihat bingung, Little Cai berkata, “Mengapa kami harus mentraktirmu makanan dan alkohol? Atas dasar apa kau menuntut kami untuk itu?”

“Tidak ada dasar!” jawab Ingot. “Tapi jika kau tak mentraktirku, berarti kau harus membayar hutangmu padaku.”

“Sejak kapan aku berhutang sesuatu padamu?”

“Kau berhutang mandi.”

“Aku berhutang mandi?” Little Cai tidak mengerti. “Apa artinya itu?

“Artinya adalah, kau memandikanku satu kali. Jika kau tak mentraktirku, berarti kau harus membiarkanku memandikanmu satu kali.” Dengan wajah datar dan sungguh-sungguh, dia berkata, “Jika kau ingin memandikanku, berarti aku harus membiarkanmu. Tapi aku ini manusia. Kau tidak bisa memandikanku kapan saja kau ingin. Dan jika kau memandikanku, tentu aku juga diperbolehkan memandikanmu.”

Little Cai, bengong, menatapnya kaget.

“Bisakah kau berbicara seperti manusia? Atau apakah kau sengaja berbicara omong kosong?” Dia menoleh pada Big Boss Tang, “Ma, apakah bajingan kecil ini kurang ajar, atau apa? Bagaimana bisa dia bicara hal-hal konyol seperti itu?”

Big Boss Tang tersenyum. “Dia memang terdengar sedikit tidak masuk akal, tapi lagi pula, kau juga begitu.”

Little Cai cemberut dan memutar bola matanya, tampak hampir menangis.
Tapi dia tidak menangis. Sepertinya dia baru saja memikirkan sesuatu. “Aku adalah seorang wanita. Wanita secara bawaan punya hak untuk bersikap tidak masuk akal. Tapi atas dasar apa dia bersikap tidak masuk akal?”

Ingot mendesah. Dengan senyum getir, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku membungkuk hormat padamu. Bagaimana bisa aku tidak membungkuk pada seseorang yang yang mengatakan kebenaran seperti itu.”

Big Boss Sun tertawa. “Dia tidak akan mentraktirmu, aku yang akan mentraktirmu.”

Ingot tampak sangat gembira. “Kau cukup tanggap. Tidak sering kau punya kesempatan untuk mentraktir orang sepertiku.”

Part 3

Makanan yang lezat dan mewah, dan juga alkohol memenuhi meja, dan semuanya adalah tipe yang disukai Ingot.

Dia sangat lapar dia pasti bisa makan setiap jenis yang ada di meja, tapi dia bahkan belum menyentuh sumpitnya.

Dia juga tidak menyentuh makanan itu dengaan tangannya. Dia hanya duduk di sana dengan semangat, mulutnya berair.

Gadis penyaji yang duduk di belakangnya akhirnya berkata, “Makanannya semakin dingin. Mengapa kau tidak makan?”

“Aku adalah tamu hari ini!” teriak Ingot. “Bagaimana aku bisa makan jika tuan rumahnya tidak menemaniku?” Dia tampak tegas. “Aku tidak akan makan bahkan meski aku mati kelaparan.”

Meskipun tubuhnya tak bertenaga, dia bicara dengan sangat keras, cukup keras hingga siapapun di dekatnya bisa mendengar.

Dan akhirnya, Big Boss Tang masuk beberapa saat kemudian, wajahnya telah dibasuh, sepertinya dia baru saja membasuh wajahnya dengan air panas. Rambutnya yang panjang dan hitam disanggul sederhana. Tanpa alas kaki, dia memakai gaun sutera lembut yang kadang menyembunyikan kakinya, dan kadang menampakkannya.

Kakinya halus dan indah, dan mereka terlihat seolah telah diukir dari sepotong giok putih yang sempurna.

Ingot lagi-lagi merasakan jantungnya berdegup cepat.

“Aku di sini untuk menemanimu,” katanya. “Tapi, aku tidak akan makan apapun. Aku hanya akan minum sedikit denganmu.”

“Berapa sedikit itu?”

Big Boss Tang menatap lelaki muda ini, lalu tiba-tiba tertawa. Saat dia tertawa, dia tiba-tiba tampak lebih muda.

“Apa kau benar-benar bisa minum?”

“Mengapa kau tidak memeriksa dan melihatnya sendiri?”

“Baiklah.” Dia duduk. “Berapapun banyaknya yang kau minum, aku akan minum juga.”

“Benarkah?”

“Mengapa aku harus berbohong padamu?”

“Kau tidak akan berbohong padaku tentang apapun?”

Dengan tawa yang indah, Big Boss Tang berkata, “Orang dewasa tidak seharusnya berbohong pada anak-anak. Orang dewasa yang melakukannya, bukanlah orang baik. Apakah aku terlihat seperti bajingan bagimu?”

Ingot menggelengkan kepalanya. Dengaan sangat serius, dia berkata,

“Kau bukan bajingan. Dan aku bukan anak-anak.”
Dia tiba-tiba mengganti topiknya.

“Siapa bajingan itu?”

“Bajingan yang mana?”

“Bajingan yang membawaku ke sini dan menguras semua energiku?”

Big Boss Tang melambaikan tangan mengisyaratkan gadis penyaji untuk pergi, lalu menuangkan secangkir alkohol untuk dirinya sendiri dan Ingot.

Dia menghabiskan isi cangkir itu dalam sekali minum.

Metode minumnya halus dan apa adanya, seperti kepribadiannya.

“Dua puluh tahun yang lalu di Jianghu, ada sebuah organisasi bernama ‘End the Heavens, Destroy the Earth.’ Disebut begitu karena nama-nama dari dua orang pendirinya. Satu bernama Gao Tianjue, dan yang lainnya bernama Guo Mie. Mereka mendirikan organisaasi itu hanya untuk satu tujuan.”

“Tujuan apa?”

“Untuk memburu para penjahat besar yang masih bebas berkeliaran di dunia. Mereka tidak akan menyerah sampai menangkap mereka semua.”

“Sepertinya sebuah organisasi yang bagus.” kata Ingot. “Bagaimana bisa aku tidak pernah mendengarnya?”

“Sembilan tahun yang lalu, Guo Mie tiba-tiba menghilang. Diduga, dia dibunuh oleh Laughing General Li. Sekitar waktu yang sama, Gao Tianjue kehilangan sebuah lengannya. Setelahnya, organisasi itu menguap seperti awan. Siapa yang akan mengira bahwa mereka tiba-tiba muncul di Jinan, sekarang. Dan tampaknya mereka lebih kuat dari sebelumnya.”

Ingot tidak bisa menahan untuk bertanya, “Apakah mereka di sini untuk General Li?”

“Tentu saja,” kata Big Boss Tang. “Tigabelas lelaki dengan lengan terputus yang digantikan dengan penjepit itu adalah orang-orang mereka.”

“Dan Gao Tianjue di sini juga.”

Big Boss Tang mengangguk. “Dialah yang membawamu ke sini. Dia tidak ingin kau terseret dalam pembunuhan balas dendam itu. Di sini, tidak hanya kamu aman, tapi orang tidak akan mencarimu.”

“Gao Tianjue ini sungguh langka!” kata Ingot dengan keras. “Mengapa dia peduli dengan keselamatanku? Jika aku mati, seharusnya dia tidak peduli.”

Big Boss Tang tampaknya setuju. “Dia memang langka. Kepribadiannya, kekejamannya, dan terutama seni bela dirinya. Bahkan jika Guo Mie kembali hidup, dia mungkin bukan tandingannya.”

“Jadi ketika dia membawaku ke sini, kau tidak punya pilihan selain menerimaku.” Ingot sengaja tertawa dingin. “Dan aku bertaruh kau tidak bermaksud membiarkanku pergi.”

“Aku tidak berani,” kata Big Boss Tang terus terang. “Aku tidak ingin mati.”

Ingot mendesah. “Sebenarnya, aku juga tidak ingin mati. Pengemis tidak punya keinginan mati lebih dari para bos besar.”

Dia minum secangkir alkohol lagi, lalu mengajukan pertanyaan yang paling ingin dia ketahui jawabannya.

“Tadi malam saat lentera dipadamkan di arena judi, siapa membunuh siapa?”

Translator / Creator: Jade77