December 21, 2016

DM Chapter 3-8: Masked Hero

 

 

Di sini Satou. Aku dulu sering bermain menirukan pahlawan yang dapat berubah bentuk saat kecil, tidak menyangka aku akan menjadi seorang pahlawan pada akhirnya.

Aku kembali ke labirin. Menyamar dengan gaya rambut pirang dan topeng perak(LoL). Aku meninggalkan para gadis beastkin di penginapan, jadi aku sendirian saja. Karena Pochi dan Tama tidak ada disini, maka menyalakan skill [Trap Release].

Membuka peta, aku menandai jalur dimana lengan Demon itu seharusnya berada. Baiklah, dengan begini aku tidak perlu membuka peta saat bertemu persimpangan.

Aku melanjutkan perjalanan, sambil membiarkan skill Trap discovery menemukan seluruh posisi jebakan yang ada. Nampaknya aku bisa mengetahui letak jebakan-jebakan itu sebelum AR menampilkan posisi mereka.

Aku mengarahkan tenagaku untuk melompat, menyeberangi jebakan yang ada.

Sepertinya ada 5 prajurit tengkorak pada ruangan di depan. Karena menarik pedang agak merepotkan, aku tendang saja mereka semua. Para prajurit tengkorak itu segera terpental ke tembok terdekat dan berantakan, tapi mereka segera kembali bersatu.

“Oh sial, skill itu belum aku aktifkan.”

Aku membuka layar skill pada menu dan memilih [Fighting]. Bukan pada levelnya, tapi pada ikon namanya, [Fighting Lv 10] Ikon itu segera berubah warna dari abu-abu menjadi putih. Aku menonaktifkan skill itu, agar tidak sembarangan memukul orang sampai mati ketika di kota, setelah aku mendapatkan skill Abduction.Sepertinya skill Abduction tidak memiliki efek yang mematikan, hal ini melegakan.

Aku kembali menendang tengkorak yang maju menyerang, tendangan yang mengarah pada tubuhnya ini segera memporak-porandakan tulang-tulangnya ke tembok, bagaikan sebuah tembakan. Prajurit tengkorak yang badannya baru saja dihancurkan tersebut, terdiam sejenak lalu ikut mental kedepan bagaikan ikut tertarik. Para prajurit tengkorak yang lainnya terkena pecahan tulang tengkorak yang pertama dan langsung hancur.

Aku menendang dengan perlahan prajurit tengkorak yang tersisa, Dia tidak langsung hancur seperti tengkorak yang pertama, tapi tengkorak itu tetap melayang ke tembok sambil terpecah juga.

“Aku tidak boleh lupa untuk menonaktifkan skill ini sebelum kembali ke kota…”

Karena akan memakan banyak waktu, kalau aku mengahajar semua musuh yang ada, aku memutuskan hanya melawan musuh yang menghadang jalanku saja.

Melompati jebakan-jebakan yang ada, menendang musuh disekitar, sambil menyusuri labirin. Aku kena jebakan Life Drain sekali, tapi hanya bisa mengurangi sedikit saja dari stamina aku.

Tapi, ada tempat di mana aku terpaksa mberhentikan kedua kakiku.

『 Engkau harus menjawab pertanyaanku, jikalau engkau ingin melanjutkan』

Hal ini tertulis pada pintu gerbang. Teka-teki yah, ini juga merupakan hal klasik pada labirin.

『Shonimu sedang berada dipohon, Dareson sedang memakan buah, Yurato sedang menanam Bibit. Betulkan posisi ini.』

Yup, Aku ga mengerti pertanyaan macam apa ini

Karena itu aku memutuskan untuk menggunakan kekuatan untuk mendobrak.

Aku mengeluarkan Palu besar dari penyimpanan, dan mulai memukul gerbang itu. Hajar, hajar, hajarrrrr.

“Owh, tidak berguna? Tunggu dulu, aku belum mengaktifkan skill Palu.

“Aku memasukkan poin ke [Two-Handed Hammer] dan mulai menyalakannya.

…Sepertinya aku menyadari kalau yang aku lakukan ini sia-sia. Apakah ini efek dari skill juga?

Aku berhenti memikirkannya dan mengayunkan palu godam ini dengan sepenuh tenaga!

Gagang pintunya hancur, dan serpihannya melayang ke ujung ruangan. Gerbang ini nampak mulai melemah, tapi itu saja.

“Pintu gerbang semacam ini akan laris manis kalau aku bawa pulang.”

Aku mulai meninggalkan pintu gerbang itu dan mencoba menghancurkan tembok sekelilingnya, tapi berdasarkan peta, sepertinya hal ini juga akan memakan waktu yang lama.

“Apakah aku harus menggunakan Magic Item dengan efek yang tidak jelas?”

Total frekuensi aku bicara sendiri mulai meningkat.

Sayangnya tidak ada jalan lain lagi, aku sudah memeriksa selokan yang ada, tapi tidak ada yang mengarah kebalik gerbang ini.

Tidak ada jalan lain selain menghadapi teka-teki ini, tapi teka-teli ini adalah tipe yang mengharuskan kamu mengetahui maksud tersembunyinya.

“Pohon, Buah, dan bibit yah…”

Ada beberapa gambar hewan yang mencurigakan, tapi tidak ada hubungannya dengan pohon.

“Aku pusing…”

『 Makhluk apakah yang berjalan dengan empat kaki pada pagi hari, dua kaki pada siang hari dan tiga kaki pada malam hari?』, Andai saja pertanyaannya seperti ini~.

Oh iya….!!!

Aku mengambil pahat pada penyimpanan, dan menggunakannya untuk mengukir tembok.

『Makhluk apakah yang berjalan dengan empat kaki pada pagi hari, dua kaki pada siang hari dan tiga kaki pada malam hari?』

『Adalah Seorang pria』

>[DeRiddle Skill Acquired]

Terima kasih Spinx! Aku tidak tahu siapa yang berhasil menjawabnya, tapi terima kasih banyak untuk kamu juga!

Aku menaruh poin pada skill Deriddle sampai batas maksimum, dan menyalakannya.

Shonimu, Dareson, Yurato, Aku masih tidak tahu apa itu. Tapi aku tahu gambar hewan mencurigakan yang berhubungan dengan nama itu. Dan aku mendadak tahu pohon, buah dan biji yang dimaksudkan meski tidak ada di ruangan ini

“Dapat skill, menang dengan mudah~ Aku pikir akan seperti ini~”

Walaupun kecewa, apakah sensasi ini akibat skill Deriddle? Aku tahu kalau masih banyak hal yang harus dilakukan untuk menyelsaikan teka-teki ini. Aku tidak tahu pasti bagaimana, tapi…

Dalam permainan, sudah umum untuk benda-benda yang merupakan kunci terletak di ruangan yang berbeda, aku mencari ruangan dengan musuh yang terlihat kuat pada peta.

Ada 3 ruangan yang mencurigakan, dan juga musuh yang tersedia jauh lebih kuat dari musuh biasanya.

“Benar-benar seperti game yah..~”

Aku mencoba ke ruangan terdekat. Lantai pada ruangan itu nampak seperti bekas tertekan kecuali pada tengah ruangan. Pada bekas tekanan itu, ada makhluk seperti akar nampak sedang bergelantungan. Ada sebuah altar pada tengah ruangan, dan sebuah pating diatasnya. Sepertinya itu adalah item kunci untuk teka-teki ini.

Sepertinya tidak mungkin untuk pergi ke altar itu dengan satu kali melompat saja. Karena aku tidak mau mendarat pada benda-benda yang bergelantungan itu.

Tampilan AR memberitahukan kalau benda itu disebut Akar Gantung, karena itu adalah makhluk yang hidup berkelompok, walaupun aku menembaknya dengan pistol sihir, dan menghancurkan bagian luarnya, tetap tidak akan mati, dan tidak ada habisnya.

Karena itulah aku menggunakan bom molotov yang dulu aku buat. Karena aku mengaktifkan skill Fire resistant, maka aku akan baik-baik saja. Kalau Wig yang aku pakai sampai terbakar, maka penyamaranku akan terbongkar, maka aku nyiramkan sebotol air keatas kepalaku. Dengan ini, maka tidak akan terbakar dengan mudah.

Aku menyalakan Bom molotov dengan alat sihir (Tinder Rod). Aku segera melempar lima buah bom itu dengan santai, setelah melihat semuanya terbakar dengan baik, Aku melompat kedalam kobaran api itu!

“kaya aku berani saja…!”

Ga mungkin, ga mungkin, ga mungkin! Walaupun aku tahu kalau tubuhku tidak akan terbakar, tapi hal ini tetap mustahil.

Sambil melihat akar-akar yang terbakar dengan baik, aku melihat asapnya tidak menyebar kemari, apakah ada ventilasi udara disekitar sini?

Karena sangat membosankan untuk menunggu, aku memutuskan untuk memeriksa ruangan lainnya.

Ruangan kedua berbentuk kotak.

Pada lantai yang sedikit menurun pada tengah ruangan itu ada monster berukuran 3 meter yang seperti raksasa. Tampilan pada AR menunjukkan kalau itu adalah Stone Golem, level 40, dan memiliki skill unik [Physical Damage Halved],[SpiritDamage Invalid].

“Golem standar biasanya bisa diatasi dengan mencoret E dari EMETH jadi METH benar ga? Tidak ada hal seperti itu yang tertulis di sana , bahkan huruf yang ada juga berbeda~

Serangan fisik menjadi separuh yah… Berarti separuhnya masih kena dong.

Aku memaksimalkan skill Tombak dan menyalakannya.

Aku mengeluarkan Tombak Baja dari penyimpanan.

Setelah membidik dengan baik, aku melemparkan tombak itu!

Tombak itu segera terbang secara diagonal, menembus makhluk itu dan manancap dalam pada tembok batu dibaliknya. Sesaat kemudian, Golem batu itu mulai runtuh dari lubang yang berasal dari tombak itu, hancur dengan satu serangan.

“Ini adalah Overkill~”

Ada permata biru pada mulut golem itu. Sepertinya ini adalah 『Fruit』.

Ruangan ketiga dipenuhi dengan peti harta karun ditengahnya. Jebakan-jebakan ada disekeliling ruangan yang berisi harta karun itu, hanya ada satu jalan yang aman untuk menuju kesana.

Sudah cukuplah, walau hanya ada satu jalan saja.

Aku menggantung Rapier hitam pada pinggangku, melewati jebakan-jebakan yang ada dengan selamat lalu sampai didepan kotak harta karun itu.

“Whoo~aah, kotak harta karun ini adalah mimic!”

Ya, Monster pada ruangan ini adalah monster yang biasa terdapat pada dungeon, Mimic. Saat aku akan menggunakan rapier, Mimic ini segera menyerang dengan membuka mulutnya lebar-lebar, jadi aku terus menerus menusukkan rapier milkku ke arah monster itu. Rasanya lebih seperti sedang menghancurkan furnitur daripada menyerang monster.

>[Continuous Attack Skill Acquired]

Mimic itu akhirnya kalah dan menguap, dan mengeluarkan asap berwarna ungu. Aku segera melangkah mundur hampir saja kakiku terkena jebakan. Bahaya, bahaya…

Terletak dibawah asap dari Mimic itu, ada sebuah batu hitam. Sepertinya ini adalah 『Seed』.

Saat aku kembali keruangan pertama, api disana sudah mulai padam, nampak asap putih yang keluar dari bekas akar yang terbakar itu.

Akar Gantung itu nampaknya kabur, dan tidak terlihat lagi.

Hal ini bagus, Aku segera mengambil patung dari altar itu. Ini mungkin adalah 『Tree』.

Sepertinya tidak ada bongkahan batu besar yang akan terjatuh atau muncul tiba-tiba kalau aku mengambil patung ini.

Aku membiarkan Skill Deriddle untuk bekerja dan meletakkan ketiga benda itu pada posisi yang benar Lalu, gerbang itu mulai terbuka secara perlahan.

Dari sana, tidak ada hal penting lainnya yang penting untuk dibicarakan, lalu aku berjalan melaluinya

“Tempat ini seharusnya adalah lokasi dimana Tangan Demon itu berada…”

Kalau dia belum terbangun, maka aku akan kembali berputar-putar dengan malas~

Sebuah tempat mirip altar ada di tengah ruangan.

Aku segera mendekatinya…

Lilin-lilin yang ada disekeliling altar tiba-tiba menyala dengan api biru.

“Fuhahahaha! Aku hadir!”

Lingkaran sihir dengan warna ungu muncul dari altar bersamaan dengan suara Tangan Demon. Pada pusat dari lingkaran sihir itu, tangan Demon perlahan muncul, tidak,  bahkan seluruh tubuhnya juga muncul.

“Muahaha~~! Sempurna, Aku sudah kembali!”

“Seperti biasa, cara bicara yang idiot.”

“Mumumunu! Bajingan kamu! Topeng perak!, Aku akan melawanmu!”

Demon itu meraung, dan aura hitam muncul dari tubuhnya. Sepertinya menggunakan sihir untuk support. Tampilan pada AR menunjukkan [Physical Damage 90% Cut].

“Ketidaksiapan adalah musuh besar makhluk hidup! Aku, akan melakukan yang terbaik!”

Demon itu kembali meraung. Cahaya ungu mulai terpancar dari kuku, tanduk dan ekornya. Tampilan AR menunjukkan [Physical Attack Power 300% Up].

“Apakah sekarang sudah oke?”

Aku menaruh sarung dari pedang holy pada pinggangku sambil mendengarkan ocehan Demon itu. Aku sedikit penasaran, apakah disebut sarung pedang juga pada pedang aliran barat?

Kesadaranku kembali setelah beberapa saat melayang karena melihat Demon itu.

“karena telah menunjukkan smuanya, sekarang giliran aku!, Aku bergegas kedepan!!”

Demon itu menyerang sambil melompat kedepan!

Sambil meninggalkan bayangan ungu, Demon itu mangayunkan cakar kananya yang beracun, tapi aku mengelak dari serangan itu dan membalas dengan serangan Iai Slash , gerakan memotong dari bawah keatas.

Sinar biru dari pedang ini memang selalu indah

Pedang Suci ini segera merobek kulitnya tanpa halangan, memotong tangan Demon itu.

“Gunununu! Aku, Tidak akan mundurr!!”

Demon yang tangannya terpotong itu, lalu menyerang menggunakan ekornya. Kalau diingat-ingat, aku terpental karena serangan semacam ini waktu itu.

Kalau aku tidak membiarkan pertahananku kendor, ini bukanlah masalah. Aku memotong ekor itu dengan sebuah serangan pedang saja.

“Tidak mungkin! Brengsek kamu! kamu pasti adalah Hero! Aku terkejut!”

Demon itu menunjukkan punggungnya setelah menghunakan ekornya untuk menyerang, aku segera memotong Demon itu menjadi 3 bagian… Yap, aku baik-baik saja, setelah banyak mengalahkan serangga-serangga kecil, aku mulai terbiasa.

“Ini tidak mungkin! Mao-sama…. Aku, menyesal…..”

Setelah memastikan HP dari Demon itu menjadi 0, aku mengumpulkan potongan ekor, tangan dan badannya yang terbelah-belah. Akan merepotkan kalau Demon ini bisa hidup kembali. Mari kita kremasi saja.

Aku menyalakan api dengan melempar sisa bom molotov ke arah mayat itu dari kejauhan.

aku terus memantau mayat itu sampai terbakar habis. Mungkin, karena keberadaanya sudah tipis, maka mayat itu segera terbakar habis dalam waktu 5 menit saja.

Setelah menyelesaikan urusanku dilabirin ini, aku pergi meninggalkannya.

>Title [Labyrinth Traveler] Acquired

Translator / Creator: penjudi cinta