December 7, 2016

DM Chapter 3-2: Master of the Beastkin Girls

 

Setelah beberapa waktu menjawab beberapa pertanyaan, kami akhirnya dilepaskan. Kakak petugas perempuan itu mengembalikan barang-barang kami.

“Barang-barang yang ada disini boleh dibawa pergi. Tapi, semua magic core yang disana akan dijual kepada Earl.”

Apakah aku bisa menolaknya?  Aku sudah coba menanyakannya, tapi dia menjawabnya [Tidak] dengan tersenyum.

“Karena kita tidak bisa memastikan keamanan dari daging-daging monster ini, kami akan menyitanya. Dan karena tombak ini terbuat dari bagian tubuh monster, kami tidak dapat memperbolehkan tombak ini dibawa-bawa didalam kota.”

Liza bereaksi keras akan hal itu dan segera kembali bergabung. Liza yang jarang marah, sedang marah? Karena dia sepertinya benar-benar menyukai tombak itu, mari kita menegosiasikan hal ini untuknya.

“Karena tombak itu cukup kuat, apakah kamu dapat mencari orang dengan skill appraissal untuk melihat potensi bahaya yang ada? Tentu saja, ongkos untuk hal ini akan kutanggung, tapi bisakah kamu kembalikan tombak itu kalau sudah selesai di appraise?

Liza, kamu begitu menakutkan. Menakutkan. Lihat, bahkan senyum kakak perempuan itu terlihat menjadi kaku.

“Aku…, aku mengerti. Aku akan mengaturnya. Kuitansi baru dari penahanan barang ini akan segera diproses dan akan siap besok sore. Silahkan bawa kuitansi sementara ini ke pos militer.

“Baik, aku mengandalkanmu”

oh iya, sekalian menanyakan mengenai perawatan untuk para gadis beastkin ini.

“Umm , aku ada pertanyaan kalau boleh…”

ini mengenai para gadis beastkin

“…oh begitu, majikan dari budak-budak ini sudah meninggal , jadi kau yang mengurus mereka, dan membawa mereka keluar dari labirin ini, benar kah?”

“Ya, betul.”

Liza juga mengangguk. Pochi dan Tama bersandar di kaki Liza karena merasa sangat bosan. “Kalau memang seperti ini kejadiannya, maka budak-budak demi human ini adalah milikmu.”

benar begitu? Aku berpikir untuk membeli dan melepaskan mereka, kalau mereka sampai dibawa ke pedagang budak lagi.

“Kalau majikannya meninggal didalam labirin, terkecuali untuk pembunuhnya, siapapun yang menemukan budak-budak ini akan mengambil alih kepemilikannya, seperti barang hilang saja. Karena itu, secara umum dan sah, sekarang kau adalah majikan baru dari mereka.”

Kakak perempuan itu tampak menulis sesuatu pada sebuah sertifikat dan memberikannya kepada ku.

“Ini adalah sertifikat yang menyatakan kalau kau adalah majikan dari para budak ini. Karena ini hanya berlaku di dalam kota, lebih baik untuk segera membuat dokumen resminya di pedagang-pedagang budak yang berada di plaza istana secepat mungkin. Memang, ucapan terima kasih tidak cukup atas magic core sebanyak ini, tapi memang betul tidak ada upah untuk hal ini.”

Aku menerima sertifikat itu dan mengucapkan terima kasih kepadanya, dan para gadis-gadis dari suku beast itu juga ikut berterima kasih, lalu kami segera keluar dari tenda itu. Oh iya, karena magic core itu digunakan sebagai bahan untuk mengisolasi dan melapisi pelindung labirin, maka kami berkewajiban untuk menjualnya.

Diluar sana, Zena-san dan ketiga gadis cerewet yang waktu itu, nampak sedang mendiakusikan sesuatu. Tidak baik kalau mengganggu pekerjaan mereka, tapi mereka hanya mengangguk untuk menjawab sapaanku, sikap mereka nampak dingin… Sambil memikirkan ulang kejadian yang baru terjadi, Lilio tersenyum dan mencolek Zena-san sambil tertawa, lalu dia menunjuk ke arah saya. “Sukses yah~”, menerima dukungan semangat dari Lilio, Zena-san berjalan mendekatinya.

“Satou-san, nampaknya semua prosedur sudah beres. Apakah kamu akan kembali ke penginapan setelah ini?”

“Ya, aku ingin agar para budak ini dapat beristirahat di penginapan juga.”

“Kamu benar-benar baik hati. Walaupun aku kira, tidur di lumbung masih lebih nyaman daripada di lantai labirin.”

…hah? Ada perkataan aneh yang terselip disana.

“Tidak, aku tidak akan membiarkan kawan seperjuangan dalam kesusahan untuk tidur di kandang. Aku bermaksud untuk menyewa kamar yang layak di penginapan untuk mereka.”

“Ummm. Satou-san, tidak ada penginapan yang memperbolehkan Demi-human untuk menginap ditempat mereka. Kalau majikannya tinggal di penginapan, maka biasanya budak-budaknya akan tinggal di lumbung…”

Apa kamu serius?? Aku pikir paling cuma akan ada sedikit penolakan, lalu mereka akan membiarkannya kalau aku bayar lebih. Karena Zena-san nampak begitu murung, nampaknya hal ini bukanlah lelucon.

“Zena-san, kamu tidak perlu murung seperti itu. Berkat kamu, aku tidak perlu ribut-ribut di penginapan.”

Dia masih terlihat murung, tapi aku tetap berusaha menghiburnya. Karena Zena-san dan regunya akan berjaga sampai tengah malam, aku berterima kasih atas petunjuk dari mereka dan melanjutkan perjalanan.

Walaupun begitu, kalau aku tidak mendapatkan info dari Zena-san sebelumnya, dan harus membiarkan gadis-gadis beastkin ini tidur di kandang, mungkin aku akan keluar dari Gate Inn.

Apakah aku harus membeli sebuah rumah? Atau pergi dari daerah kekuasaan Earl? Sekarang keadaanya berbeda dengan pertama kali aku datang, Aku bertemu dengan Zena-san dan banyak kenalan lainnya dikota ini, jadi aku sudah mulai terbiasa tinggal di sini. Walaupun aku tidak berniat untuk tinggal secara permanen…

Dalam perjalanan pulang, mari kita pergi ke Worker’s Guild dan bertanya kepada Nadi-san apakah dia dapat membantuku untuk membeli sebuah rumah.

“Tuan, sedikit lancang bagi saya untuk mengatakannya, tapi kami cukup puas untuk tidur di lumbung. Karena kami selalu tidur di lantai beranda luar biasanya…”

“Hal ini…  Bahkan untuk para budak, adalah perbuatan yang berlebihan”

“Maafkan saya.”

Kenapa Liza meminta maaf? Aku mau mendengar alasannya

“Bukan begitu.., aku tidak mau Tuan untuk cemberut seperti ini… Aku ingin Tuan agar tidak khawatir kalaupun kami tidur di lumbung, tapi sepertinya perkataanku kurang sempurna…”

“Jadi begintu, kalian memikirkan keadaan ku, terima kasih yah.”

Pochi dan Tama yang ada di sebelahku, menarik lengan bajuku. Aku melihat kearah jari mereka menunjuk, seorang gadis memakai baju sederhana nampak ingin berbicara. Sebuah tongkat pendek berada ditangannya. Seorang pengguna sihir kah..?

“Apa yang bisa saya bantu?”

“Iya, bagaimana dengan beberapa junction magic Tuan?”

Apakah ini seperti Healer Junction yang ada di MMO?

“Untuk mengobati luka?”

“Pengobatan penuh saya ga bisa~ bagaimana kalau hemostasis dan cleaning? Ini sangat menyegarkan dan kalau kamu tidak membersihkan lukamu, bukankah bisa menyebabkan infeksi? Ah, kalau kalian merasa letih, aku juga bisa menggunakan Invigoration Magic, walaupun sedikit agak mahal~?”

“Berapa untuk Hemostasis dan cleaning?”

“[Soft Wash] and [Dry] satu set harganya 12 koin tembaga. Satu kali penggunaan [Bandage] 3 koin tembaga.”

Hmmm, nampaknya tudak perlu henostasis. Karena semua luka segera diobati dengan ramuan.

“Kalau begitu tolong 4 set Soft Wash and Dry.”

“Ehh, Budak-budak demi human ini juga?”

Gadis pengguna sihir itu nampak terkejut dengan mata yang terbelalak. Dia sedang menghitung memakai jarinya dengan paras yang bingung.

“Errr~40 koin tembaga dan 3?”

“Semuanya 48 koin tembaga….”

Walaupun kamu bisa menggunakan magic, tapi kamu tidak bisa matematika dasar?   Karena sepertinya harus bayar dimuka, aku memberinya 3 koin perak. Gadis penyihir itu mulai mengitung dan terlihat sedang mencoret coret tanah…. Ini serius nih?

“1 koin perak sama dengan 20 koin tembaga.”

“Uuuu~Aku tahu itu, aku sedang menghitung dengan benar karena aku tahuuu!”

Gadis ini menghitung-hitung dengan satu tangan di kepalanya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya selesai berhitung, dan memberikan 12 koin tembaga sebagai kembalian.

“Terima kasih sudah menunggu~ Kalau begitu, mari cepat kita mulai~!  Untuk menjaga agar anak-anak ini tetap diam, tolong pegang pundak mereka yah, okay.”

Aku bertanya tanya dalam hati apakah ada panduan untuk hal ini, karena walaupun dengan demi-human, dia nampak begitu sopan juga.

Pochi dan Tama yang terkejut akan Soft Wash, berusaha untuk kabur, tapi aku segera menahan mereka agar tidak bergerak.

Saat sihir Dry Spell dimulai, Pochi tampak merasa nyaman, terlihat lebih bahagia, menikmati sensasi pengeringan itu. Sebaliknya, Tama terlihat lebih tidak senang daripada saat proses Wash,dan berusaha kabur dari Liza yang memegangi pundaknya.

“Terima kasih, aku sekarang merasa benar-benar segar. Apakah kamu selalu ada disekitar sini?”

“Hari ini banyak orang yang kelihatan seperti habis bermain di lumpur jadi aku keluar dan mencari penghasilan tambahan. Tapi biasanya aku ada di sekitar tempat lokalisasi. Penghasilannya cukup bagus, karena banyak orang yang membutuhkan penyegaran.”

Begitu.., memang betul apa yang dia ucapkan. Dia cukup cerdik. Setelah aku katakan kalau kami adalah rombongan terakhir dari orang-orang yang bermain dilumpur, dia pergi kembali ke rute biasanya.

Siang hari akan segera berakhir, nampaknya lebih baik pergi ke pedagang budak resmi besok saja.

Sambil memikirkan hal itu, aku membeli 4 porsi sate daging yang nampak lezat. Apakah ini daging kambing? Rasanya agak unik, tapi bubuk hijau yang terasa seperti lada merangsang selera makanku. Para gadis itu juga makan dengan lahapnya, bahkan dapat terdengar suara Hap Hap. Kalau dipikir-pikir, saat memakan kodok panggang juga luar biasa.

Bahkan Liza yang biasanya tenang, nampak antusias saat melihat daging. Melihat dia menikmati dagingnya, benar-benar pemandangan yang unik. Bahkan rasa malu-malunya saat dia sadar sedang diperhatikan juga terlihat menarik.

Ketika hari semakin menggelap, lampu-lampu yang berada di jalan utama terlihat sedang dinyalakan oleh pengguna sihir yang menggenggam tongkat pendek. Apakah hanya bayanganku saja atau disini memang banyak orang?

Karena aku malas berteriak ketika ada pemabuk mencoba menyentuh Liza dan Pochi, aku membelikan mantel berkerudung kepada mereka bertiga. Anehnya, Tama dengan lihai berjalan tanpa sedikitpun menyentuh orang lain.

Kami melanjutkan perjalanan menembus kerumunan orang dan melihat panggung yang sudah dibangun di pusat kota. Berbagai macam kereta kuda tersebar disana, beberapa pedagang nampak sedang mempromosikan barang dagangannya dimana-mana…

oh iya, sejak kemarin, lelang Budak sudah dimulai.

Translator / Creator: penjudi cinta