November 12, 2016

DM Chapter 3-1: To Daily Life

 

 

Satou di sini. Satou tak ingin kembali merasakan petualangan penjara bawah tanah lagi.

Aku memikirkan hilangnya lengan iblis yang terjadi bersamaan dengan munculnya labirin.

Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin menikmati kehidupan damaiku.

Kami sampai pada tanah kosong sebesar halaman sekolah saat keluar dari labirin.

Tanah tersebut dikelilingi pagar setinggi 2 meter yang pembuatannya terkesan terburu-buru.

Karena dinding luar dapat terlihat dari sini, tampaknya tempat ini adalah lapangan di mana keributan terjadi.

Saat kulihat kembali pintu masuk labirin, terdapat sebuah batu hitam tajam setinggi 3 meter dengan sebuah lubang. Apakah terbuat dari obsidian?

Terdapat 3 kubah yang jaraknya 50 meter mengelilingi pintu masuknya.

Barikade batu dengan ujung lancip berderet pada tempat yang tidak menghalangi barisan api kubah.

“Satou, kemarilah.”

Zena memanggilku dari seberang pagar.

Saat kami berkumpul kembali, Zena memelukku erat, tapi temannya, Lilio, kemudian menggodanya sampai ia terperanjat panik. …Dia sepertinya sangat cemas. Apakah dia begitu menyukaiku~?

Sementara Pochi dan Tama menggelantung di kedua tanganku, kami pergi menuju tenda. Liza mengikuti kami 3 langkah dari belakang. Apakah kami adalah tuan dan muridnya.

Kuberikan tasku pada perempuan yang berjaga di depan, lalu aku masuk ke dalam tenda. Liza tidak mau menyerahkan tombaknya, tapi dia dengan berat hati menyerahkannya setelah kuperintah.

Tak kukira bagian dalam tenda itu luas. Luasnya hampir sama seperti ruangan kelas.

Pendeta tampan paruh baya yang tadi di luar sudah berada di dalam, diinterogasi oleh petugas seraya ia mendapat perawatan.

Sang bangsawan dan putrinya tidak berada di sini. Apakah mereka di tenda lain?

Kuhampiri Zena setelah dia memberiku isyarat.

Pendeta Garleon tampan paruh baya, Nebinen dan pedagang budak, Nidoren juga ada di sana.

Orang terakhir adalah ksatria berambut abu-abu dengan tonjolan otot dan perisai besi. Dia melihat kami, dan tertawa. Ekspresinya seperti bocah nakal meskipun usianya paruh baya.

“Jadi kau penyihir yang disukai Zena.”

“T, tidak.”

Zena mencoba untuk menyangkal pernyataan si ksatria, tapi ia malah mengabaikan dan melanjutkan perkataannya.

“Dia kurang tidur sampai mendengar kepastian keselamatanmu. Jika pasukannya lengah, dia pasti akan masuk ke labirin sendirian, sangat berbahaya.”

“Jadi, untuk semua masalah yang aku sebabkan, aku minta maaf.”

Sedikit aneh bagiku untuk minta maaf, tapi itu lebih baik daripada aku diam saja.

“Hahaha. Kau tak perlu minta maaf. Aku hanya ingin melihat orang yang tidak tertarik dengan pelatihan sihir terjatuh.”

“S, seperti yang kukatakan aku tidak…”

Zena mencoba menyela kembali, tapi belum sampai selesai, dia mulai bergumam dan menundukkan kepalanya terlihat sangat malu. Mengalami kisah komedi romantis di waktu sekarang sungguh menyakitkan …Tidak tunggu, tubuhku benar-benar berusia 15 tahun.

Si ksatria terhibur melihat Zena, menggosok-gosok dagunya, dan memalingkan kepalanya kepadaku dengan tatapan seolah-olah sedang menilaiku.

“Namun, meskipun dia terlihat gesit, untuk berhasil keluar dari labirin dengan jumlah orang yang begitu sedikit, pria tangguhpun tak bisa melakukannya.”

“Jika para gadis beastkin tidak ada di sana, aku mungkin saja sekarang sudah ada di perut monster.”

Aku berkata begitu untuk memberikan kesan baik pada Liza dan kawan-kawan. Pochi dan Tama yang diam-diam meringkuk di samping kakiku mendongak penasaran, kubelai kepala mereka untuk mengelabuinya.

“Mereka terlihat kuat. Aku ingin menjadikan mereka anak buahku jika saja mereka bukan makhluk setengah manusia.”

Si ksatria ini, meskipun dia terlihat seperti pria baik yang tak peduli dengan perbedaan ras, diskriminasi terhadap makhluk setengah manusia masih saja ada~

Aku membalasnya dengan senyuman kecut.

“Mereka anak buah yang luar biasa.”

“Kalau tidak, mustahil untuk kalian bisa keluar dari labirin itu. Maafkan aku, orang-orang di sini selalu tidak menyukai makhluk setengah manusia, mereka selalu bertentangan.”

Jadi itu bukanlah prasangka sepele melainkan pertentangan antara ras…

pantas saja masalah ini selalu ada.

“Komandan! Persiapannya sudah selesai.”

Panggil seorang wanita yang memakai jubah seperti penyihir.

Persiapan apa?

Ada sebuah gambar litograf yang berada di pedestal. Batu Yamato lagi setelah 3 hari? Bentuknya lebih besar dari apa yang kulihat di labirin.

Sang komandan memanggil orang-orang yang selamat dari labirin dengan suara lantang.

“Aku tahu mungkin ini tidak sopan, tapi semua orang yang selamat dari labirin harus diperiksa dengan batu Yamato. Ini adalah batu Yamato asli yang khusus dipinjamkan oleh pangeran. Status tak normal bahkan bisa ditampilkan. Hal ini untuk memastikan agar tak seorangpun kerasukan iblis.”

Semua orang secara spontan terlihat tidak senang, tetapi beberapa menjadi diam setelah diberitahu bahwa cara ini dilakukan untuk mencari apakah mereka dirasuki iblis atau tidak.

Karena semua orang di sini melihat lengan iblis yang muncul dari Uusu saat di lapangan tadi.

Tetapi aku masih saja sedih mengingat levelku yang masih 1 meskipun aku berhasil keluar dari labirin itu.

Sudah cukup lama aku mengotak-atik menu dengan pikiranku, kubuka exchange tab. Karena para beastkin berlevel 13, kubuat diriku memiliki level 10. Kubuat keahlian berdagang seperti [Arithmetic] dan [Estimation]. Apa tak aneh kalau aku tak punya keahlian bertarung? Oke, kumasukkan keahlian [Avoid].

Saat giliranku, kuletakkan tanganku di atas batu Yamato. Statusku telah diperbarui seperti informasi yang sudah kuatur sebelumnya.

“Bahkan, [Nimble Merchant].”

“…Kau mendengarnya dari Zena kan?”

“Betul. Tapi meskipun kau bukan seorang tentara atau penjelajah, memiliki tingkatan ini untuk seusiamu, kau pasti sudah melewati banyak hal.”

“Bukan hal yang luar biasa.”

Kerendahan hati, bukan?

Faktanya, orang ini mempunyai level 30 di usia 29 tahun. Mempunyai level 10 di usia 15 tahun bukanlah hal yang bisa disombongkan. Apakah karena sulitnya menaikkan level karena bukan profesi pertarung?

Terdengar teriakan di belakang,

Mereka tampaknya terkejut melihat budak yang memiliki level 13 dan bahkan mempunyai 4 keahlian.

Liza memasang ekspresi dingin seperti biasanya, tapi ekornya sedikit berkedut. Dia mungkin sedikit bangga.

Lalu Pochi. Karena tangannya tidak sampai menyentuh batu Yamato, Liza mengangkatnya dari belakang. Dia terlihat senang karena tangan dan kakinya berada bebas di udara.

Petugas batu Yamato memerintahkan Pochi untuk meletakkan tangannya di batu. Teriakan sekali lagi bergemuruh, namun kali ini lebih keras dari Liza. Untuk usia 10 tahun dan memiliki level 13, mungkin saja ini adalah hal yang luar biasa. Keahliannya pun berjumlah 4.

Ekor Pochi bergerak-gerak dengan cepat. Dia melihat ke arahku dan membuat suara dengan hidungnya.

Yang terakhir adalah Tama. Seperti Pochi, Liza juga harus mengangkatnya. Apakah dia juga ingin tangan dan kakinya bebas di udara? Dia terlihat sangat senang seraya ekornya melingkari kaki Liza.

Saat statusnya tampil, gemuruh teriakan orang-orang sedikit berkurang. Status nya sama seperti Pochi, namun karena ini sudah ketiga kalinya, orang-orang sudah tidak lagi terkejut. Tama terlihat kecewa.

“Pasti sulit melatih budak setengah manusia mencapai level itu.”

“Tidak juga. Mereka sudah luar biasa.”

Aku memang kewalahan, tapi mereka benar-benar luar biasa.

Meskipun aku takkan mati bahkan tanpa mereka, aku benar-benar kesusahan dengan jebakan-jebakan labirin.

Pemeriksaan dengan batu Yamato berakhir tepat saat giliran Tama.

Tampaknya semua orang ingin pulang kecuali Nebinen yang sedang berbicara serius dengan petugas berambut putih.

“Setelah pemeriksaan selesai, apakah kita boleh pulang?”

“Maaf, tapi aku ingin kau menceritakan lebih lanjut tentang kemunculan iblis.”

Aku, Zena, dan Nebinen, kami bertiga menceritakan kepada komandan dan petugas berambut putih secara rinci kejadian yang membuat kami sampai ditelan labirin.

Aku malu saat Zena dengan berlebihan memujiku saat aku menangani Uusu. Bahkan Nebinen menyimpulkan bahwa akulah yang meredakan pemberontakan dan berurusan dengan agitator di dalam kerumunan itu…

Itulah kebenarannya.

Karena aku betul-betul mengingat perkataan iblis saat kami masuk ke labirin, Nibinen menyuruhku untuk menyampaikannya.

“Demi kebangkitan penuh…”

“Aku tak tahu seberapa banyak bubuk magis yang diperlukan untuk kebangkitan iblis, tapi di sini dekat dengan jalur naga.”

“Benar, karena tempat ini dekat dengan lapisan bumi… Meskipun begitu, masih perlu beberapa bulan kan? Sebelum itu terjadi, mari kita minta bantuan kelompok penjelajah tingkat tinggi dari kota labirin, Ceribila, dan kita hancurkan iblis itu sampai akhir.”

Ya, banyaknya kata-kata yang tak diketahui membuat cerita ini sulit dipahami. Di sisi lain, Zena yang sedang mengepalkan tinju, mengangguk-angguk dengan ekspresi serius.

Untuk sekarang, akan kuringkas kata-kata yang aku pahami, tak usah memikirkan para iblis untuk beberapa bulan ini, dan sebelum itu, kalahkan mereka dengan bantuan para penjelajah tingkat tinggi? Seperti itu, OK?

Setelah itu, monster apakah yang muncul di labirin? Berapa banyak tipe monster yang sama? Jebakan apa saja yang ada? Bermacam-macam pertanyaan ditanyakan.

Aku hanya melaporkan setengah dari pertempuran yang kami alami tetapi aku tak menyembunyikan jenis-jenis musuh yang kami hadapi.

Awalnya, hanya pengecekan fakta, tapi saat kami sampai pada cerita di mana kami bertemu dengan bangsawan Belton tepat sebelum ruangan penuh tulang, wajah petugas itu berubah.

“Ada apa?”

“Tidak~ Apa kau benar-benar bertempur sebanyak itu tanpa perapal mantra? Lalu, mengingat waktu saat labirin itu muncul sampai kau bisa keluar, kupikir waktu tiap pertempuran berlangsung cepat?

Apa istirahatmu cukup?”

“Tentu. Karena kami bukan mesin.”

“Ya, tentu.” (kemungkinan besar Zena)

“Ya, kami beristirahat 3 kali, masing-masing selama 3 jam.”

“Kau tampak tidak sedang menyombongkan diri.”

Apa ada yang salah denganku?

“Pasti kau punya kerjasama yang bagus. Kerja bagus sehingga kau tak menelan kekalahan dengan kecepatan pertempuran yang begitu tinggi.”

“Benar~ Bahkan jika satu orang mengalami luka parah, kau pasti sudah musnah… Jika aku bersamamu, maka aku akan menjadi pendukung atau penyembuh.”

Ah, mata Zena mulai berkaca-kaca.

“Saat di jalan, kami menemukan persembunyian seorang alkemis, dan kami menemukan banyak obat sihir. Secara tidak langsung, aku berterima kasih kepadanya~.”

Aku akan mengusap air mata seorang gadis. Ayolah keahlian tipuan~.

“Seperti yang kuduga. Jika tidak ada sarana pemulihan seperti itu, mustahil bagimu untuk selamat dari pertempuran sebanyak itu.”

Ya, kami sudah melalui banyak kesulitan.

Kapanpun para gadis beastkin akan terkena serangan, dengan segera kutangkis serangan itu. Jika mereka akan terkepung, kuporak-porandakan musuhnya.

Aku sangat menginginkan keahlian pancingan. Lihat saja apa aku bisa mendapatkannya atau tidak.

Benar, aku harus memastikannya sebelum aku lupa.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Apa yang ingin kau tanyakan? Aku tak keberatan asal bukan rahasia militer. Ngomong-omong, putriku juga berusia 15 tahun dengan bokong yang bagus dan sangat terkenal.”

Apa yang dikatakan orang ini? Lupakan saja!

“Tentang labirin, kupikir penyebarannya cepat. Apa tidak mengapa kalau membiarkan penyebaran labirin seperti ini?”

“Oh, aku belum menjelaskannya?”

Belum.

“Labirin tidak akan menyebar selain ke dinding luar lapangan ini. Bisa kupastikan tidak ada bahaya runtuhnya kota.”

“Aku ingin mendengar alasannya jika kau mengijinkan…”

“Benar. Tentara, bekerja sama dengan penyihir dan alkemis kota telah membangun pembatas. Sebuah upacara penyucian yang melibatkan semua kuil di kota telah dilakukan. Dengan adanya perisai ganda ini, labirin telah dibatasi untuk merambah bawah tanah kota.”

Aku mengerti.

Tapi masih saja, kupikir kuil dan penyihir terlihat seperti mereka memiliki pencitraan yang buruk.

“Aku mengerti apa yang kau pikirkan. Untuk alasan kenapa kuil dan penyihir dengan cepat mereka bekerja sama, itu karena perintah pangeran. Bagaimanapun juga, isolasi cepat labirin ini adalah berkat dari laporan penyihir Zena.”

“Aku berterima kasih pada Satou yang memberiku hak untuk melaporkan.”

Lalu, pujian pada aku dan Zena terus bergulir, tapi petugas berambut putih dan sang komandan  cukup mahir berurusan dengan itu. Jika tidak dihentikan, aku tak tahu sampai kapan ini akan berlangsung… Kerja bagus petugas berambut putih.

“Itu alasannya, selama pembatas dijaga dengan sungguh-sungguh, labirin itu tidak akan membahayakan kota. Kau mengerti?”

“Ya, aku lega.”

Aku lega. Karena aku takut kalau penginapanku akan runtuh saat aku tidur!

-RBP-

Translator / Creator: doroboneko88