November 10, 2016

DM Chapter 2-9: Labyrinth of Demon (Part 2)

 

 

Satou di sini. Aku menyerah pada ide bahwa ini adalah mimpi, tapi sekarang kupikir bahwa hal ini tidaklah nyata melainkan seperti di dalam sebuah permainan. Keraguanku muncul setelah kebingungan. Tampaknya lebih baik aku hidup di dunia eroge saja, Satou.

Untung saja musuh pertamaku hanyalah seekor jangkrik di labirin, meskipun aku berharap bisa keluar dari labirin dengan selamat dan lebih mudah.

Tanpa menarik perhatian.

“Apa Magic Core itu?”

“Magic Core dapat menjadi uang. Jika kau memberikan sesuatu yang kau dapat dari monster ke pedagang keliling, kau akan mendapat beberapa benda.”

Jawaban Liza tak sepenuhnya salah, tapi bukan itu yang ingin kudengar. Aku mengharapkan jawaban seperti nona Nadi dari jack-of-all trade adalah mustahil.

Liza mengambil bola yang tertutupi darah hijau sang monster. Sebuah bola berwarna merah sebesar setengah kepalan tangan. Karena warnanya merah kusam, bola itu tak mungkin bisa digunakan untuk perhiasan.

Kuberikan kantong pada Liza saat dia kembali. Kuberikan juga kain untuk mengelap lumuran darah.

“Masukkan Magic Core-nya ke dalam kantong ini. Gunakan juga tombak ini.”

Kuberikan kantongnya pada Pochi, dan tongkat jangkrik pada Liza. Pisau yang dipegang Liza ia berikan pada Tama. Bertukar perlengkapan benar-benar seperti permainan RPG saja.

“Liza, untuk pencarian magic core selanjutnya, kau akan dibantu Tama dan Pochi, jadi kau ajari mereka.”

“Ya, mengerti.”

“Oke, nano desu.”

“Ay~”

“Oh ya, Pochi.”

“Ya, nano desu.”

“Jangan terpaksa memanggilku nanodesu, oke?”

“Kalau aku tidak memanggil anda nanodesu, aku akan ditampar, nanodesu.”

Aku paham, dia diajarkan untuk melakukan itu. Mengingat aku hanyalah majikan sementara mereka, aku tak perlu meluruskannya,

“Baiklah, tapi aku takkan marah kalau kau tak memanggilku begitu. Jadi jangan paksakan dirimu.”

“Ya… nano desu.”

Kami berdoa untuk siapapun yang menjadi korban monster jangkrik, lalu kami keluar dari ruangan itu. Kutulis nama mayat di dalam memo.

Kubandingkan status para beastkin sebelum dan sesudah pertempuran. Tidak ada yang berubah selain stamina mereka.

Jadi mereka tidak akan mendapat pengalaman hanya dengan bersama?

Lalu, bagaimana para prajurit atau priest menaikan level mereka?

Jika aku bisa menaikkan level ketiga gadis beastkin itu, maka meskipun kami bertemu lebih banyak orang di jalan, tidak akan menjadi masalah. Namun itu bukanlah hal yang mudah.

Mengingat dunia ini layaknya sebuah permainan, haruskah kucoba cara seperti di dalam permainan?

“Tama, jika kau melihat sebuah batu sebesar magic core di atas tanah, ambillah.”

“Baik!”

Kami bergerak maju dengan mulus sampai lorongnya bercabang.

Cabang-cabang itu mengarah pada ruangan yang sama, tetapi salah satu cabang memiliki ruang lain yang berada di tengah jalan. Terdapat monster pada kedua cabang tetapi ada dua monster ulat level 10 di ruang tengah. Dan, ada manusia di sana…. Ayo bantu mereka.

“Jalannya bercabang~, nyan.”

Tama memberikan laporan saat kami mendekati persimpangan. Kalian tak perlu menambahkan kata-kata aneh untuk membangun karakter kalian, kubilang…

Kupuji Tama sambal kubelai kepalanya. Dia terlihat geli. Kubelai juga kepala Pochi saat ia cemburu melihat kami. Karena tinggi mereka berdua setinggi dadaku, mereka gampang untuk kubelai. Sekitar 120cm? Liza sedikit lebih tinggi dari aku… sekitar 165cm.

“Ayo ke jalan yang benar.”

Kami terus berjalan. Ada yang muncul di radar tapi apakah itu?

“Ada serangga di sana~ nano desu.”

Tama mengingatkan. Kali ini dia meniru Pochi huh?

Lalu bagaimana kita mengalahkan musuh yang tak terlihat?

Karena aku bisa melihat posisi samar mereka, aku melihat ke arah sana.

Aku tetap melihat ke arah sana.

Tampilan AR muncul dengan nama monster dan levelnya.

Aku terus menembak ke arah tempat munculnya AR.

Phew phew phew. Bota.

Tampaknya satu tembakan tepat mengenai monster ulat. Dia pun jatuh ke tanah.

“Tama, lempar dengan batu.”

Tama melemparinya sebanyak 3 kali. Setelah lemparan kedua, tubuh monster ulat itu mengeluarkan batu. Tampaknya satu lemparan saja bisa melumpuhkannya.

Monster ulat itu lalu mendekat.

“Pochi, Tama, mundur. Liza, kemarilah. Serang dia satu kali dari belakangku.”

Sementara aku mundur sejauh mungkin, kutendang monster ulat itu saat dia menghantam kembali. Liza menyerangnya dengan tombak! HP monster ulat itu berkurang sekitar 10%. Kutembak dia dua kali sampai mati.

“Liza, Tama, kalian urus magic core. Pochi, ikut aku, ada monster lainnya di sana.”

Tama memberikan beberapa batu pada Pochi. Berapa banyak batu yang telah ia ambil?

Terdapat monster ulat yang sama di dalam ruangan. Terdapat juga mayat wanita dan bocah laki-laki yang terlihat seperti budak tergeletak di tanah. Tidak seperti monster jangkrik sebelumnya, tubuh mereka tidak dimakan.

“Pochi, saat kita masuk ke dalam ruangan itu, lempar batunya ke monster dari arahku. Saat kau kehabisan batu, kembalilah ke tempat Liza.”

Aku memasuki ruangan dan menembaki dengan Magic Gun. Seperti yang diperintah, Pochi melempar 2 batu dari jarak dekat. Monster ulat yang terkena lemparan batu beralih ke arah Pochi, meludahkan racun. Di saat yang tepat, kutendang kepala monster ulat itu. Dia mati hanya dengan satu tendangan.

Pochi kembali ke lorong setelah tugasnya melempari batu selesai.

Dia menuju arah yang salah. Apa dia bingung dan mengambil jalan yang salah?

“Pochi, berhenti!”

Aku segera mengejarnya. Memutari bangkai monster ulat, aku sedikit terlambat.

“Uwa~~~ jangan kemari, jangan kemari~~~!”

Hah? Siapa itu? Itu bukan suara Pochi. Itu pria yang di lorong! Aku melihat radar. Posisinya berbahaya.

“Pochi, berhenti!”

Oke, sekarang dia bisa mendengar suaraku dengan jelas. Pochi mendekatiku.

Pria yang sebelumnya tertangkap radar kini menghilang.

Tapi, kenapa dia kabur?

Apa dia mengira Pochi itu monster?

Atau apa dia merasa bersalah sudah meninggalkan dua orang sebelumnya untuk dikorbankan…

“Tuan! Kau baik-baik saja?”

“Kau baik-baik saja?”

Liza dan Tama berlari mendekatiku.

“Ya, aku baik-baik saja. Ayo kembali ke ruangan itu untuk mengambil magic core.”

“Maafkan aku, nano desu.”

Pochi meminta maaf seraya kupingnya turun. Ekornya melingkari kakinya.

“Pochi, tak mengapa kau kabur. Tapi kau tak boleh panik. Mengerti?”

“…Ya.”

Kubelai kepala Pochi seperti anjing pom-pom.

Saat kami masuk ruangan, Liza dan Tama memeriksa monster ulat.

Kutulis nama kedua mayat di dalam memo, berpikir mungkin saja berguna… Kuminta Pochi memeriksa mereka.

…Sejak saat itu, kau tak lagi mau menyentuh mayat, kan?

“Haruskah aku robek bajunya?”

Tanya Pochi, tapi kami tak butuh baju mereka. Aku baru saja sadar sekarang, melihat para gadis beastkin tidak memakai sepatu.

“Ambil sepatunya. Biarkan saja bajunya.”

Pochi menyerahkan barang yang dikumpulkannya. Bocah budak itu tak punya apa-apa, tetapi mayat perempuan mempunyai dompet dan perhiasan seperti cincin dan kalung. Kubuat folder di dalam tas dan kuberi judul memento, lalu kumasukkan memento ke dalamnya yang nantinya akan kuberikan ke keluarga yang ditinggalkan. Aku punya ide untuk memotong rambut keduanya dan meletakkanya di folder memento.

Sandal keduanya dipakai oleh Pochi dan Tama.

Liza, anak terbesar, harus menunggu gilirannya. Di ruang selanjutnya dengan ulat raksasa, seharusnya ada sepatu yang ditinggalkan pria muda sebelumnya. Jadi Liza tak perlu menunggu lama.

Percobaan serangan, dan kerusakannya, tampaknya berhasil. Tama dan Liza naiks atu level, sementara Pochi dua level.

Seseorangakan secara otomatis mempelajari keahlian tertentu jika mereka naik level. Pochi mendapat keahlian melempar, Tama mendapat keahlian mengumpulkan, sementara Liza mendapat keahlian melucuti.

Tapi aku tak punya keahlian melucuti… Aku harus mencoba memotong ikan nanti.

Tunggu, ada yang aneh dengan keahlian Liza.

Keahlian melucutinya masih abu-abu meskipun keahlian tombaknya berwarna putih. Keahlian Pochi dan Tama-pun juga masih abu-abu.

Kukira keahlian mereka belum diaktifkan. Keahlian mereka bisa diperkuat jika aku mengaktifkannya tapi…

Nilai atribut mereka juga meningkat, tapi ada yang aneh. Misalnya nilai STR tertulis sebesar 15(18), jadi sepertinya nilai mereka tidak secara langsung meningkat.

Masih ada sekitar 100 ruangan sebelum sampai pada jalan keluar, ayo kita selesaikan!

Kupimpin para gadis beastkin (Tama-Pochi-Liza) ke luar ruangan.

>Title [Trainer (Tamer)] Acquired

Translator / Creator: RBP