November 10, 2016

DM Chapter 2-8: Labyrinth of Demon (Part 1)

 

 

Satou di sini. Sementara memikirkan bahwa hal ini akan menjadi petualangan, tiba-tiba serangan muncul, aku tak bisa mengikuti keadaannya, Satou.

Labirin itu terbentuk dengan mudah tapi aku berpikir apakah jalan keluarnya berada di pusat kota?

Kelompok petualang mungkin akan terbentuk beberapa tahun ke depan.

Saat aku memastikan kebenaran petanya, muncul [Labirin Setan, Lapisan Bawah], tetapi lorongnya tidak muncul.

…Akan sulit, bukan?

Para beastkin terlihat cemas.

Pertama-tama, mari kita selesaikan hal ini.

“Aku Satou. Aku pedagang keliling.”

“Kucing nyasu”

“Anjing nanodesu”

“Kadal”

Gadis kucing dan anjing itu tak bisa berkata-kata. Sementara suara goresan terdengar samar keluar dari kata-kata gadis kadal itu.

Bukan hanya Uusu yang melakukannya, bahkan majikan sebelumnya memanggil mereka seperti itu. Gadis kucing dan anjing itu telah diperbudak sejak lahir, tetapi tidak dengan si kadal yang sepertinya sudah punya nama sebelum menjadi seorang budak. Namun, namanya panjang dan susah diucapkan.

Akhirnya, karena mereka memintaku untuk memberi mereka nama yang mudah diucapkan, maka aku memberi nama mereka “Pochi”, “Tama”, dan “Liza”. Jangan memperlakukan mereka sebagai hewan peliharaan! Kau bisa saja marah, tapi aku tak berani untuk mengingat mereka dengan jelas dengan nama biasa. Jadi maafkan aku, paling tidak sampai kami keluar dari labirin ini.

Nama Liza bukan dari “Lizard”, tetapi dua kata yang dipotong dari nama aslinya.

Sekarang, sebelum keluar dari labirin ini, kuobati dulu para beastkin ini. Kuambil kain, botol air, dan obat salep dari dalam tas. Obat salep adalah contoh produk dari perlengkapan alkimia. Karena sebatas contoh, aku tak punya banyak tetapi kupikir akan cukup.

“Bersihkan lukamu dengan kain yang dicelupkan air dari botol ini. Lalu oleskan salepnya ke lukanya dan balut dengan kain. Jangan gunakan kain yang kau gunakan untuk membersihkan lukamu, oke?”

Para beastkin kebingungan saat aku memberi mereka baju baru.

Mereka mungkin tak tahu apa yang harus dikatakan, ya. Aku merasa kembali ke masa lalu saat aku merawat teman kecilku,

“Ada apa? Aku akan membalikkan badan sementara kalian mengobati luka, jadi jangan khawatir.”

Sepertinya bukan karena mereka malu, tetapi karena mereka jarang mendapatkan baju bagus dan obat salep sebagai budak.

“Terima kasih, nanodesu. Anda tak perlu membalikkan badan, nanodesu.”

“Baju nya bagus. Saya senang~.”

“Sejak majikan meninggal, kami tidak bisa membalas budi Anda. Lebih baik simpanlah air dan obat-obatan sampai setelah kami keluar dari labirin… um, baiklah… bukankah…”

 

Kata-kata yang tak bisa dipahami berubah menjadi kalimat yang layak di dalam otak. Bukankah itu bagus?

Pochi dan Tama melepas tali yang mengikat baju sederhana yang mereka pakai dan melucutinya tanpa ragu dan mulai mengobati luka mereka.

Liza tampaknya lebih bertipe pemikir dan sedikit ragu, tetapi aku menyuruhnya untuk tidak memikirkannya lalu ia mulai memperbaiki lukanya.

Kuberi mereka roti setelah mereka memngobati luka-lukanya. Kuberi masing-masing 3 roti seukuran telapak tangan. Jumlah itu harusnya cukup untuk sekarang. Roti itu adalah roti sisa saat aku pergi ke beberapa kios bersama Zena dan bukanlah roti bekas gigitan orang lain.

Pochi menjilati seluruh wajahnya, semuanya melihat roti itu tetapi tak ada satu pun yang makan.

“Tidak ada racun di dalamnya, jadi makanlah.”

Apakah mereka tidak diperbolehkan makan sebelum diperintah? Tentu saja budak ditindas~ Aku memberi minum Pochi saat ia tersedak makanannya.

“Aku takkan mengambilnya, makanlah pelan-pelan.”

Aku merasa menjadi seorang pengasuh bayi….

Aku memastikan petanya sekali lagi. Masih menunjukkan ruangan ini.

…Apakah mantranya tidak berhasil, ataukah salah pengucapan…

Kubuka menu dan kugunakan sihir [All Map Exploration]. Meskipun sihir khusus ini bisa digunakan dengan mudah~.

<TLN: Dia berbicara kalau dia tidak bisa menggunakan sihir lainnya>

Keseluruhan gambar [Labirin Setan] muncul. Mode mudah terlalu baik!

Lebih terlihat seperti sarang semut daripada sebuah labirin.

Lorong dari sini menuju ruangan selanjutnya bercabang seperti akar pohon, lorong dari ruangan itu menuju ruangan lain pun bercabang. Seperti bentuk labirin lainnya, terdapat juga sambungan rahasia antar lorong rahasia yang menghubungkan ruang-ruang.

Terdapat 109 manusia di dalam labirin ini, yang mana 7 diantaranya berwujud setengah manusia. 102 sisanya berbentuk manusia dan seperempat dari mereka adalah budak.

Pendeta Garleon tampan berusia paruh baya berada di tempat yang terpencil. Jika kita bisa bertemu dengannya, kita sudah hampir mencapai pintu keluarnya kan? Aku sendiri tak menginginkan dia mati. Mengingat dia orang yang mahir, dia mungkin akan sulit untuk mati. Jadi kupikir kami akan beruntung jika bisa menemuinya.

Kucoba mencari lengan setan tapi aku tak bisa menemukannya. Terdapat ruangan khusus yang terletak di bagian paling dalam. Dia mungkin saja di sana…

Jika aku dengan sembrono mengalahkannya, labirin ini akan runtuh. Jadi lebih baik kutinggalkan dia sendirian.

Musuh-musuh dalam labirin ini adalah monster serangga berlevel sekitar 10-20. Terdapat sekitar 20 monster saat pertama kucari, tetapi sekarang jumlahnya sudah lebih dari 100. Selain itu, monster ular dan katak juga muncul.

Aku memberi para beastkin beberapa senjata mengingat bahwa ide yang buruk jika saja kami terhimpit di antara lorong.

Oke, mari mencari lokasi tersembunyi di lorong untuk mengeluarkan tombak dan pedang.

Setelah memutuskan apa yang harus dilakukan, aku pergi menuju lorong tapi para beastkin menghentikan langkahku.

“Tolong jangan buang aku! Aku akan lakukan apa pun!”

“Tolong jangan tinggalkan aku!”

“Tuan, aku rela dikorbankan tapi tolong bawa aku bersamamu. Tolong.”

Mereka mati-matian berusaha menghentikanku. Namun tak seorang pun menarik bajuku, apakah karena mereka budak atau latihan?

“Jangan khawatir. Aku hanya ingin melihat keadaan lorongnya. Aku takkan meninggalkan kalian, jangan khawatir.”

Aku bicara sehalus mungkin. Meskipun kuyakin hal itu tidak bisa menenangkan mereka, tapi lebih baik daripada tidak.

Setelah ketiga beastkin itu selesai makan, kuambil pisau dan pistol ajaib dari dalam tas dan membekali mereka (untuk diriku sendiri dan para gadis).

Hanya Liza yang mempunyai keahlian bela diri, [Spear]. Kuberikan dagger pada Liza karena aku tak bisa mengambil tombak dari dalam tas. Awalnya dia menolak tapi kupaksa dia untuk mengambilnya karena tak lazim bagi budak untuk memiliki senjata.

Kuambil posisi di depan, sementara Liza berada di belakang untuk serangan kejutan. Liza ingin bertarung sendiri tapi aku memintanya untuk berada di belakang.

Karena aku punya radar, tidak ada peluang untuk serangan kejutan, tapi kuberikan peran pada Liza untuk memudahkan para beastkin.

Urutannya adalah aku, Tama, Pochi, dan Liza. Kuminta mereka untuk tidak ikut dalam pertempuran. Mengingat tingkatan mereka sekitar 2-3, mereka bisa mati jika terkena serangan.

Sebuah misi pengawalan yang nyata.

Lantai sepanjang lorong menjadi berbatu. Terlihat gelap karena lorong di sana tak berubin dan tak memancarkan cahaya apapun. Suatu keberuntungan? Banyak batu-batu pancang setinggi pinggang pada jarak beberapa meter yang terlihat mengerikan, tapi setidaknya kami masih bisa berjalan melaluinya.Karena cahaya hanya menyentuh sekitar area dada kami, langit-langit gelap sekali dan tidak nyaman.

Ini yang sangat menggelisahkan.

Semacam melakukan hal yang buruk.

Ketika seseorang masuk ke dalam ruangan, lorong akan berubah gelap gulita, siap mengurung mereka di dalamnya. Banyak hal seperti itu yang mungkin sudah direncanakan.

“Tama, jika kau melihat sesuatu pada lorong di depan, beritahu aku dengan suara pelan. Pochi, jika kau mencium bau atau mendengar sesuatu yang aneh, katakan padaku. Liza, tolong waspada di belakang. Tapi tolong jangan fokuskan perhatian kalian ke belakang dan terlambat mengikutiku.”

“””Ya”””

Aku masih sedikit khawatir, tapi aku lega mendengar jawaban mereka.

>[Leadership Skill Acquired]

>[Formation skill acquired]

Tanda dari para musuh tertangkap radar. Tampaknya agak jauh di depan.

“Aku dapat mencium darah dari sisi lain lorong, nanodesu” Kata Pochi.

Lurus dari sini, tapi jauhnya masih 500 meter lagi.

Aku memuji Pochi dengan membelai rambutnya, Perlakuan ini seperti yang biasa kau lakukan pada peliharaanmu.Ekornya bergerak-gerak cepat, mungkin dia senang dengan hal itu.

Aku berjalan mendekat untuk memeriksa musuh. Level 20, tidak ada keahlian khusus. Metode penyerangan menabrak dan menggigit. Sepertinya hanya ada satu monster di ruangan sebelah.

Aku hanya mengingat sesuatu dan mencatat data dan kepampuan ketiganya, karena mereka berpengalaman menilai kolom pula, aku mengatur rencana…Benar-benar seperti permainan.

Karena nilai keahlianditampilkan dengan prosentase, aku tak tahu angka konkritnya, tapi masih sangat mudah digunakan saat menaikkan level. Aku tidak bisa melihat nilai keahlian orang lain dipeta, lalu aku bertanya-tanya apakah terbatas untuk anggota kelompok? Atau adakah kondisi lainnya untuk diikuti?

Aku melihat rembesan cahaya dari ruangan,

Aku menginstruksikan mereka bertiga untuk menunggu dan mengintip ke dalam ruangan. Musuh berbentuk serangga sedang makan sendiri [sesuatu] dan acuh tak acuh. Seperti yang kukatakan… aku lemah melawan sesuatu yang menakutkan.

Aku menunggu hingga suara kunyahan berhenti, lalu menembaknya dengan Magic Gun.

Satu tembakanmengenai sendi kaki belakang. Bagian yang terpisah melayang.

Aku tak memberi kesempatan monster jangkrik itu untuk menyerangku balik, membunuhnya dengan tembakan cepat.

Aku terkejut, kenapa monster jangkrik ini tidak muncul di gurun saja…

“Menakjubkan, nanodesu”

“Menakjubkan”

“Tuan, apakah anda seorang penyihir”

Pochi dan Tama sedang bersemangat tinggi, tetapi Liza bertanya-tanya.

“Kau tahu, ini adalah senjata sihir. Jangan katakan hal ini pada siapapun!”

Aku memberi peringatan seraya berseringai mengerikan. Aku tak lupa mengambil ancang-ancang dengan Magic Gun.

Pochi dan Liza mengangguk serius, tetapi Tama mengatakan “Ay, terlihat sangat senang. Aku ingin memberikan peringatan lain saat kami keluar labirin.

Rantai lehernya menghalangi. Tangan Tama penuh meski hanya menggenggam rantai itu.

Betul, aku bisa memotongnya dengan ini.

Kupanggil Liza dan memintanya untuk menarik rantai secara horizontal, lalu aku menembak rantai itu dengan Magic Gun.

Kulakukan hal yang sama pada Tama dan Pochi, tapi mungkin mereka takut, kedua telinga mereka mengempis.

Kumasukkan rantai ke dalam tasku dan menyerahkannya untuk dibawa Pochi.

Karena kaki dari jangkrik raksasa itu sepanjang 2 meter, kubuat tombak seadanya untuk darinya. Kutingkatkan dulu kemampuanku menciptakan senjata menjadi level 1.

Bagian kuku kaki terlepas, jadi aku memperbaikinya dengan sebatang kayu dan tali kulit. Karena cairan hijau merembes pada bagian yang terpotong, aku membalutnya dengan baju yang sudah terpakai dari perawatan tadi.

Ketika aku akan menyerahkan tombak jangkrik pada Liza … Dia sedang memotong bagian sendi kepala jangkrik, dan sedang melakukan sesuatu.

Apa Liza lapar?

“Liza, jika kau makan sesuatu seperti ini, kau akan sakit perut.”

“K, kau keliru. Semenjak dia menjadi monster, dia pasti punya Magic Core, jadi aku ingin mengambilnya…”

Magic Core?

>Title [Insect Slayer] Acquired

Translator / Creator: RBP