October 15, 2016

DM Chapter 2-3: The Chant, the Soldier and the Noisy Afternoon

 

Satou disini. Mengayun – ayunkan tongkat sihir, daripada seorang penyihir aku lebih mirip seorang conductor.

Tapi skill conductor tidak muncul. Aku jadi sedikit kecewa.

Tanda – tanda adanya harem juga masih sangat lama.

**

Setelah aku kembali dari hotel, aku mengeluarkan peralatan alchemy.

Aku ingin meletakkannya di dalam <<Thirty Holding Bag>>, tapi dari yang kudengar selama berkeliling bersama nona Nadi, item seperti ini sangat terkenal dikalangan orang kaya saat zaman raja Yamato, bahkan sampai sekarang pun, yang memiliki barang ini hanya para pasukan, pejabat tinggi, atau pedagang yang sangat kaya.

Jika seperti itu, mungkin aku tak bisa memakai sesukaku. Tidak masalah jika pencuri melihat barang ini, yang berbahaya adalah jika pejabat yang melihatnya aku bisa saja diusir dari kota ini.

Aku mengikuti arahan yang diberikan oleh nona Nadi kemarin, aku mengisi penuh ember dengan air dari Hell Water Jug. Aku merendam kain kedalam air itu dan memerasnya sedikit. Aku mengeluarkan periuk yang aku beli kemarin dan meletakkan kain basah itu disitu.

Baiklah, persiapan sudah selesai!

Waktunya untuk membaca mantera sihir Dry!

“Lu lula la li lu… la?”

Walaupun aku bisa membaca kata – katanya, tapi aku tidak mengerti pengucapannya! Apakah aku perlu membaca 100 karakter dalam satu menit?

Permainan macam apa ini?

Lalu, aku melanjutkan belajar mengucapkan mantera dengan tidak bersemangat bahkan aku tidak bisa mengucapkan sampai akhir kalimat. Kain itu akan tetap menjadi kering walaupun aku tidak mengcapkan manteranya tapi tetap saja aku merasa lesu.

“Okay! Mari kita minta bantuan!!”

Aku bangkit dan mengepalkan tanganku!
Saat ada masalah nona Nadi tujuanku! Mari kita bertanya kepada nona Nadi.

“Nona Nadiiii~, tolong bantu aku~.”

Walaupun aku masih ingin terus disini, aku tetap saja menuju ke Worker’s Guild.

Tapi sayangnya nona Nadi sedang tidak ada.

**

Karena nona Nadi tidak datang sampai sore, aku memilih untuk menuju toko buku di bagian tengah kota. Disana mungkin ada buku tentang Life magic selain yang aku beli kemarin.

Dalam perjalanan kesana, aku dipanggil menuju ke toko pakaian. Ternyata, pesananku sudah jadi lebih cepat.

Aku rasa sang penjaga toko ingat saat aku mengatakan aku tidak memiliki baju ganti lagi, jadi dia menyelesaikan pesananku lebih cepat.

Akan kuterima ini setelah banyak masalah yang kuhadapi.

“Ini sangat pas sekali dengan anda.”
“Ya, kau tampak seperti pemilik dari perusahaan besar atau seorang bangsawan

Sang penjaga toko dan istrinya memujiku berlebihan.

Untuk memastikan ukuran pakaian ini aku berdiri didepan kaca setinggi manusia.
Tidakah ini lebih bagus dari contoh pakaian yang diberikan kemarin? Tidak, aku tidak sedang memuji diriku sendiri.

“Benar sekali, ini jauh lebih bagus dari contoh yang dibuat.”
“Tepat sekali! Karena ini pesanan mendadak, aku meminta menjahitkan ke penjahit lain dari yang biasanya, tapi potongannya bagus dan jahitannya juga sangat rapi, sangat memuaskan! Aku sangat berterimakasih sekali~ Karena anda. Saya menemukan penjahit yang sangat bagus.”

Aku jadi merasa bersalah, aku ingin meminta maaf.
Setelah semua ini, mari dilipat saja pakaian yang aku pakai tadi, lebih baik aku pakai ini saja.

**

Saat aku sampai di gerbang aku dimintai untuk mengeluarkan ID card. Menurut para penjaga gerbang, nampaknya seorang pencuri berhasil masuk sesaat setelah kekacauan, jadi sekarang setiap orang dimintai menunjukkan kartu pengenal.

Di dalam pasa, hampir semua toko yang ada di jalan utama sekarang sudah buka. Karena sebagian besar pertempuran terjadi di depan gerbang kastil, di samping beberapa toko beruntung kebanyakan tanpa cedera.

Aku membeli teh daun dari specialist shop yang menghadap ke pasar yang ditunjukkan oleh nona Nadi kemarin, aku juga membeli beberapa bahan rempah dari toko rempah – rempah.

Di dalam toko makanan yang tampak mewah, aku membeli beras, miso,  kecap asin. Seperti yang kubilang, kenapa ini fantasi?

Didepan kedai minuman di pasar, ada seorang penyair menyanyikan sebuah puisi tentang iblis dan kesatria yang terjadi kemarin dengan penuh realitas.

… Tidakkah orang bertopeng silver itu anak haram dari sang pangeran? Seperti itulah syair yang dilagukan. Topeng itu sebenarnya hanya terbuat dari logam tipis tetapi diartikan menjadi perak.

Karena aku menikmati syairnya, aku memberikan koin silver… aku sedikit malu sebenarnya!

Berapa banyak jalan memutar yang harus aku lalui hanya untuk sampai di toko buku.

**

“Tuan Satou, terimakasih untuk yang kemarin!”

Nona Semone menyapaku dengan senyum dari dalam toko buku. Kebetulan, hari ini adalah giliran dia untuk menjaga tokonya.

“Halo nona Semone. Bagaimana kondisi kakekmu?

“ya, dia sudah disembuhkan dengan sihir, tapi karena dia sudah tua, nenekku menjaganya untuk beristirahat selama 2 sampai 3 hari.”

Kakek itu, dia mendapatkan cucu yang baik, aku sedikit iri.

Aku mengobrol mengenai beberapa hal lain – lain mulai dari dudukan bantal hingga sesuatu yang serius.

“Anda mencari buku yang berhubungan dengan cara mempelajari mantera life magic?”

“Ya, aku bisa memahami dari penjelasan buku yang aku beli kemarin, tapi aku kesusahan untuk mengucapkannya…”

“Hmm, tuan Satou, skill life magic sebernarnya gampang – gampang susah, tapi Anda mungkin memerlukan 3 hingga 5 tahun untuk menguasainya. Lebih lagi, dengan berlatih sebegitu sering, 80% orang berakhir dengan kegagalan.”

Tapi aku mendapatkan skillnya setelah diberi life magic sekali? Itu mungkin sebuah kecurangan…

“Umm, walaupun anda sudah memiliki life magic skill dari awal, orang yang dapat mengingat manteranya adalah…”

Tidak ada salahnya mendengarkan.

“Orang yang memiliki bakat? Benar juga. Ada orang yang keluarganya memang berketurunan peniyihir dan memiliki sihir dari lahir, tapi orang seperti itu biasanya memiliki anggota keluarga yang bisa melakukan sihir…”

Tidak perlu belajar dari buku.. itu yang dia ingin katakana sebenarnya.

Tidak membantu, aku hanya akan membeli buku latihan vokal dan berperan saja yang berhubungan dengan buku.
Mari kita perbaiki cara berbicara.

**

Toko sihir yang menghadap ke jalan utama tertutup oleh sesuatu seperti terpal. Sepertinya mereka tutup.

“Halo, kakak yang gesit.”

Aku menoleh, ternyata, ada gadis menggunakan pakaian biasa tapi sangat elegan mencondongkan tubuhnya kedepan sembari menatapku dengan mendongak keatas. Dengan tubuh langsing dan rambut panjang bob, dia tampak sangat cantik.

“Halo nona prajurit, kau memakai pakaian yang sangat cantik hari ini.”

>[Lip Service Skill Acquired]

Tolong jangan ganggu saat aku sedang bicara…

“Ehehe~, karena aku jarang mengambil istirahat, jadi aku tidak memiliki banyak waktu menggunakan pakaian seperti ini~”

“Tentang yang kemarin, apakah patah tulangmu sudah disembuhkan?”

“Ya! Aku ingin mengatakannya padamu, tapi bagian yang patah kemarin masih lumayan terasa sakit jadi aku berpikir akan menuju ke kuil sekarang.”

Hanya untuk memastikan, dia prajurit wanita yang kuselamatkan kemarin.

“Tidakkah kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri?”

“Tidak ada metode penyembuhan di sihir berdasar elemen angin.”

Aku mengeti, tiap elemen memiliki kemampuan masing – masing.

“Ah~ Zena sedang cari pacar~~!!”
“Oh, benar juga, tanpa menilai wajahnya, dia berpakaian bagus, sepertinya, dia juga lebih muda! Kau pintar, Zena.”

“Hei kalian, jangan ganggu dia. Walaupun dia terlambat tumbuh, gadis ini bekerja sangat keras, hanya awasi dia dari jauh saja.”

Aku kira mungkin mereka teman satu kompinya, cewek – cewek berisik itu berdiri didepan pintu masuk toko berbisik satu sama lain.
Terdengar godaan yang dicampur dalam sapaan mereka.
Nama prajurit ini Zena ternyata, nama yang bagus dan enak untuk didengar.

Nona Zena seperti ingin berbicara tapi dia akhirnya menutup mulutnya lagi dan diam dengan muka yang merah.
Reaksi seperti ini sangat imut sekali~

“Ka, Kalian salah. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih kepadanya karena menyelamatkanku kemarin.”

Tiga cewek itu diam membisu setelah mendengarnya.

“Dengan menyelamatkanmu, jangan – jangan!!”
“Orang itu Tuan pahlawan bertopeng perak?!”
“Tidak mungkin! Dia membawa palu dan kapan besar bersamaan kau tahu? Bocah ini tidak mungkin bisa seperti itu.”

“Bukan… Bukan orang itu.”
Kata – kata Zena tidak terdengar oleh mereka.

“Tapi bukankah tinggi mereka sama?”
“Tapi warna rambutnya beda bukan? Orang itu berambut kemerahan.”
“Dia juga gak pakai topeng.”

“Tolong dengarkan aku!”
Nona Zena berteriak sekencang – kencangnya!
Ketiga wanita itu menoleh kepadanya.

“Orang ini membawaku yang tidak bisa bergerak karena terluka ke posko penyelamatan kemarin!”

“Oh, maksudmu pertolongan semacam itu.”
“Kalau begitu, kesempatan emas bagimu!”
“Jangan samakan dia denganmu, Zena tidak punya pikiran seperti itu.”

Ya, sangat menggangu. Mereka begitu mencampuri urusan nona Zena. Ketiga orang itu bersorak untuknya tanpa kebencian atau sindiran, mereka tampaknya menghormati dia.
Aku kira mungkin ini waktu yang tepat untuk bicara.

“Senang bertemu dengan kalian, aku Satou, seorang pengembara. Aku berencana untuk tinggal di kota ini sedikit lebih lama, mohon bantuannya.”

“Kakak, apakah benar kau pacar kak Zena?”

“Aku baru bertemu dengannya kemarin. Lebih lagi, aku baru tahu namanya setelah kalian memanggilnya.”

“Tapi, tapi, menurut Zena memakai rok dan sama dengan pergi berkencan!”
“Ini bukan berkencan.” Kata Zena.
“Tapi kau tak pernah memakai rok, bahkan saat liburan.”

Nona Zena dan tiga gadis yang terlihat seusia yang sama seperti dia seperti saling bertukar kata.

“Aku senang jika kau ingin berkencan dengan nona Zena. Gadis ini, diumurnya sampai sekarang ini , tidak pernah berbicara dengan lawan jenisnya, apalagi punya pacar.”
“Benar, walaupun dia bangsawan yang bangkrut yang tidak memiliki emas atau status, dia gadis yang baik. Meskipun berdada rata tapi dia pengguna sihir angin yang bermasa depan cerah sebagai prajurit.”

Kedua wanita yang lain juga merekomendasikan nona Zena.
Aku suka kepribadiannya. Dalam kurun waktu 5 tahun, setelah dia tampak cukup dewasa, aku akan senang untuk mendekatinya~
Nona Zena menghentikan kebisingan mereka dan kembali kepadaku.

“Kami tidak bangkrut!! Saudara laki – lakiku yang lebih muda mewarisi keluarga dengan baik. Walaupun benar juga kami tidak memiliki emas atau kedudukan di pemerintahan…”

Jadi nona Zena adalah bangsawan kelas rendah.

… Dia tidak mengkonfirmasi dada ratanya.

“Berhenti bercanda dengan nona Zena dan kembalilah ke kastil. Jika kita terlambat untuk pergantian jaga, komandan akan memberi kita latihan spesial.”

“Sampai~ Jumpa~, kakak Zena. Beri tahu kami tentang ini besok ya~”
“Zena, keluarkan daya tarikmu dan lemah lembutmu! Tunjukan kemampuanmu!”

Ketiga wanita itu kembali ke kastil.
Nona Zena tampak sedikit malu sekali.

Hmm? Satu gadis kembali lagi kemari dan memberi nona Zena sesuatu. Nona Zena tampak terkejut dan memiliki wajah kosong, tapi setelah tahu apa yang diberikan gadis itu, wajahnya tampak merah. Mungkin yang diucapkan gadis itu sebuah “Semoga sukses”.

Nona Zena dengan diam diam memasukan barang itu ke sakunya, dan aku juga tidak ini mengejar apa itu.
Karena aku sudah dewasa.

Translator / Creator: GeuRae