November 12, 2016

DM Chapter 2-12: Labyrinth of Demon (Part 5)

 

 

Satou di sini. Susah untuk meyakinkan seseorang akan satu hal yang juga tak kuyakini.

Sudah dekat dengan pintu keluar.

Kuingin segera kembali ke kehidupan normalku.

“Pintu keluarnya mungkin setelah ini. Aku punya dua alasan, pertama, terdapat satu monster yang sampai sekarang tak terlihat batang hidungnya. Kedua, jumlah musuhnya berbeda dengan ruangan-ruangan sebelumnya.”

Alasan yang benar-benar lemah~

“…Kenapa kau begitu yakin kalau pintu keluarnya di depan, aku tak mengerti.”

“Bagaimana kalau kita ambil jalan lain seperti yang dikatakan makhluk setengah manusia itu?

Kalian benar… tapi! Kini giliranku!

“Tuan bangsawan, apa Anda lupa? Labirin ini dibuat oleh iblis. Mereka akan menempatkan diri mereka di tempat-tempat di mana orang tidak bisa melewatinya.”

Seharusnya kugunakan alasan ini dari awal.

“Tapi kita kalah jumlah. Aku tak yakin kita bisa melawan sekumpulan monster itu sendirian.”

Aku tahu betul~

“Tentu kita punya kesempatan… Yaitu dengan sihir yang Anda miliki, Tuan.”

Aku belum melihat dia menggunakan sihirnya, tapi Fire Storm yang digunakan iblis di ruangan sebelumnya benar-benar keren dan seharusnya cukup sebagai perisai.

Ups, aku seharusnya tidak tahu tentang sihir yang dimiliki sang bangsawan.

“Sebagaimana Anda ketahui, zombie lemah terhadap api. Saya juga pernah mendengar kalau Anda adalah penyihir api terhebat.”

“Aku bahkan menjadi wakil kapten prajurit sihir.”

Sang bangsawan tampaknya tidak keberatan dengan ideku. Jadi dia lebih perkasa dari Zena, huh?

“Tuan bangsawan, saya punya pertanyaan demi kepentingan strategi, berapa banyak Anda bisa menggunakan Fire Storm?”

“Aku hanya bisa gunakan satu kali. Setelah memakai Fire Storm, kita bisa menghadang pintu masuk dengan pilar api lalu menunggu.”

Apakah ini sihir dengan menghabiskan banyak MP?

Syukurlah perbincangan kami segera berakhir dengan pertempuran.

Saat penglihatan tertutup oleh Fire Storm, kuberantas musuh dengan serangan koin.

>[Strategy Skill Acquired]

Fire Storm bangsawan Belton berkobar-kobar.

Monster berbentuk bola mata bersayap menyuarakan sesuatu di kejauhan tetapi pertempuran kami berlangsung tanpa seorangpun mendengarnya.

Serangan kejutan adalah keahlian dasar.

“Pochi, Tama, lempari musuh yang mendekat dengan batu. Liza, tikam musuh yang selamat dari lemparan batu.”

Kuperintahkan para gadis beastkin.

Sekarang, hancurkan mereka sebelum Fire Stormnya lenyap.

Kupukul bagian tengah bola mata dari monster itu dengan batu suci terakhirku. Aku tak tahu kalau bagian itu adalah titik kelemahannya. Batu suci menembus tubuh monster, meremukkan tulang belakang, lalu ia membentur dinding. Suara dentuman diredam oleh suara Fire Storm.

Beberapa koin tembaga digunakan untuk menghancurkan monster tengkorak berlevel 3. Tembakan koin.

Ayo kita serang habis-habisan.

“Yang Mulia. Dengan Fire Storm, para tengkorak menjadi arang dan satu per satu hancur dengan lemparan batu.”

“Si monster zombie menjijikkan itu juga berhasil dikalahkan dengan sihir kobaran apiku.”

“Benar, baru kali ini aku melihat sihir sehebat itu, kekuatan api yang luar biasa!”

Sang bangsawan dengan wajah kemenangannya bersama Nidoren dan sanjungannya. Kutinggalkan mereka, dan bergabung kembali setelah perlawanan dengan sekelompok kecil tengkorak bersama para gadis beastkin.

Liza menyerang kaki tengkorak zako untuk melemahkan keseimbangannya, lalu Pochi dan Tama bersama-sama menyerang untuk menghancurkannya. Bersembunyi di belakang api, kuhancurkan para tengkorak dengan koin tembaga. Karena keahlian melemparku, daya tahan tengkorak zako terkuras habis hanya dengan sekali jentikan koin tembaga… Apakah tidak ada keahlian tampikan (Shidan). Kupikir itu keren.

>Title [Undead Slayer] Acquired

>Title [Demon Slayer] Acquired

Setelah menumpas habis tengkorak zako, kami menuju pintu keluar. Kutinggalkan magic core mengingat kemungkinan adanya serangan monster.

Lorongnya berbeda dari lorong-lorong sebelumnya, lantainya berpaving batu seperti yang ada di dalam ruangan. Memiliki lebar 4 meter dan tinggi 3 meter. Warnanya pun terang. Lorongnya berlanjut lurus, dan berbelok sebelum ruangan terakhir.

“Bau udara luar, nano desu~”

Pochi melaporkan dengan senang hati seraya dia memutariku.

Aku mulai terbiasa dengan perilakunya dibandingkan dengan pertama kali kami bertemu.

“Ayo kita makan makanan enak setelah kita keluar.”

“Daging~”

“Daging daging~”

Karena Liza berada di paling belakang, dia tidak mendengar percakapan kami. Tetapi Pochi dan Tama terlihat senang.

Terpancar dari radar, beberapa cahaya muncul di ruangan terakhir.

Namun, bukan cahaya merah yang menunjukkan musuh, tetapi cahaya putih yang menunjukkan posisi netral.

Mungkin wilayah tentara.

Pendeta tampan paruh baya juga telah mencapai ruang tengkorak sebelum aku mengetahuinya. Trik apa yang ia gunakan?

Rasanya sekarang aku ingin minum bir dingin dan mandi. Meskipun hal itu tak mungkin terjadi.

“Terdengar suara manusia~”

Kata Pochi seraya ia menunjuk ke depan.

Belokan lorong sudah terlihat. Jalan keluarnya setelah 3 belokan dari sini.

“Dinding di depan~ aneh?”

Lapor Tama. Setelah kuperiksa dengan peta, ternyata ada lubang di balik dinding itu. Mungkin seperti jalan pintas labirin seperti di suatu permainan.

“Terdapat pintu tersembunyi juga di sini. Jangan sentuh.”

“Ay!”

“Ya! Nano desu~”

Saat kami melewati pintu tersembunyi itu…

Tangan monster menyeruak melalui pintu tersembunyi!

Kutendang potongan-potongan pintu itu saat terlihat tubuh besar sang monster!

Kudorong Pochi dan Tama ke tepi lorong.

Aku juga ingin melompat keluar tapi jika aku menghindar dengan ceroboh, ketiga beastkin di belakangku akan celaka. Kutangkap sang monster, aku tidak memberinya kesempatan lalu kutendang dia ke lantai. Kekuatan loncatan sang monster benar-benar kuat, dia dengan cepat melewati ketiga beastkin.

Terdengar teriakan, geraman.

Penampilan monster itu hampir sama dengan monster zombie yang pernah kulawan sebelumnya.

Tidak, dia punya dua tanduk, monster yang berbeda.

Apa yang harus kulakukan?

Dia memanjat jauh ke atas lubang, mustahil untuk mengalahkannya.

Karena levelnya berbeda, jika kuminta bantuan para gadis beastkin, mereka bisa mati.

Aku ingin meminta bantuan sihir sang bangsawan seperti waktu di ruangan tengkorak, tapi kekuatan sihirnya tidak cukup…

Pikiranku berkecamuk seraya aku menghindar dari serangan gigitan sang monster zombie.

….

“Air Hammer”

Kekuatan tekanan udara datang dari arah pintu keluar yang memukul mundur monster zombie.

Aku sempat tergulung oleh kekuatan itu.

Monster zombie, tampaknya sedang berusaha untuk mengurangi kekuatan sihir, melompat kembali dekat pintu masuk ruangan di belakang.

Pintu di sana terbuka, dan pendeta tampan paruh baya muncul.

Waktu yang tidak tepat.

“Kembali ke ruangan, itu monster zombie!”

Berkat keahlian pengeras suara dan gema di lorong, suara yang kuhasilkan lebih keras dari apa yang kupikirkan.

Pendeta tampan paruh baya mulai membaca mantra tanpa panik sedikitpun.

Bodoh!

Kau akan mati sekejap bahkan sebelum kau selesai membaca mantranya.

Monster zombie memutar balik setelah mendengar bacaan mantra.

Tak dapat tertolong, mari alihkan target monster itu kepadaku dan hindari peperangan.

Lalu mari kalahkan dia dengan serangan kuat diantara sihir sang pendeta.

“Purification (Turn Undead!)”

Pendek. Apa itu.

Monster zombie tak bisa bergerak, dan kembali menjadi boneka binatang.

Dia bahkan tak bisa berdiri, ancanamannya hilang.

Usaha yang bagus, pendeta tampan paruh baya.

“Satou~~~~”

Sebelum aku menoleh ke arah suara itu, aku terdorong. Oleh Zena yang dilengkapi dengan perisai kulit.
“Senang melihatmu baik-baik saja~~~ aku senang~~~~”

Dia senang bertemu denganku sambil kubelai kepalanya.

Sihir tadi ternyata berasal dari Zena. Dari sisi lainnya, muncul para tentara, membantu menyelamatkan sang bangsawan.

Para gadis beastkin menghampiriku, tetapi mereka berdiri menjaga jarak. Liza menjaga Pochi dan Tama untuk tidak mendekatiku.

“Aku pulang, Zena.”

Zena mengusap air matanya dan mengangkat wajahnya.

“Selamat datang kembali, Satou.”

Senyum haru Zena terlihat sangat menarik.

-RBP-

Translator / Creator: RBP