October 10, 2016

DM Chapter 1-8: The Demon, the Knight, and the Magician

 

Di sini Satou. Aku tercengang karena jalan yang sudah lama ditunggu, tiba – tiba terpaksa ditutup.

**

Penampilan yang tampak seperti iblis.

Memiliki tanduk seperti domba, bermata merah menyala, dan bertubuh hitam legam yang mengkilat. Dengan empat tangan, sayap bagaikan kelelawar, dan ekor tajam yang bercabang. Benar benar seperti iblis.

Iblis itu menghabisi para ksatria dengan mudah.

Keadaan pasar menjadi kacau, kereta kuda berserakan dan mayat – mayat yang bergeletakan…

Makhluk itu datang tiba tiba disore yang tenang.

**

Bagian dalam dinding sebagian besar dipenuhi oleh kediaman para bangsawan dan orang – orang kaya, sedangkan toko – toko hanya berada di pinggir jalan utama menuju kastil.

Saat kami sampai di tembok bagian dalam, kami turun dari kereta dan berjalan kaki berkeliling menuju toko – toko mewah dipandu oleh Nona Nadi.

“Di toko ini banyak armor dengan kelas tinggi yang disediakan untuk para ksatria. Toko ini tak hanya memiliki armor dari logam. Kadang mereka juga menjual magic armor. Barang disini mahal mahal~”

“Ini adalah toko perhiasan terbesar disini. Batu rubi dan safir disini adalah yang paling bagus diseluruh kerajaan. Untuk orang biasa, aku sarankan ke Liz jewelry di seberang jalan.”

“Jika kau ingin menjahit jubah, maka toko ini yang paling cocok. Meskipun sempat bangkrut di tahun lalu, setelah anaknya kembali dari royal capital tokonya sukses lagi, dan menjadi sangat terkenal. Karena satu barang disini berharga sekitar 2 hingga 3 koin emas, orang biasa jarang datang kemari, tapi bagus untuk para pedagang yang baru saja mendapat uang banyak dan memesan barang disini untuk meningkatkan martabat mereka.”

Nona Nadi ini tampak seperti orang berwawasan tinggi “tahu segalanya”. Apakah semua jack-of-all-trades seperti itu?
Walaupun banyak kereta kuda mewah yang keluar masuk kastil dan pasar, lalu lalang di jalan ini tidak begitu padat sehingga tidak masalah kereta kami berhenti dijalan.

Aku pikir sepertinya nona Nadi kehausan setelah berbicara sangat banyak?

“Ini adalah toko dengan teras terbuka yang terkenal untuk makanan ringan dan teahnya diantara para wanita di kota Seryuu.”

Mata nona Nadi berkaca – kaca. Memang tidak tampak seperti mengharap, tapi hanya bengong.

“Nona nadi, tenggorokanku kering, karena kita sudah sampai di sini bagaimana kalau kita beristirahat sejenak.”
“Baiklah, aku mengerti. Silahkan, aku akan menunggu disini.”

…hmm?

Tiba- tiba memilih untuk sendiri?!

“Kau tidak ingin masuk, nona Nadi?”

“Maafkan aku, toko itu berkelas tinggi sekali…”

“Tolong beritahu aku cerita tentang kastil dan pasar di sekitarnya sambil minum teh. Tentu saja, aku yang akan membayar teh dan makanan ringannya.”

“Mata nona Nadi yang bersinar… tiba tiba murung. Apakah sebegitu mahalnya?
Aku paksa saja kalau begitu!

“Ayo masuk.”

Aku menarik tangannya dengan lembut menuju kedalam toko.

**

Aku sudah bersiap-siap sebenarnya, tapi hidangan teh dan kue manis hanya satu koin perak. Bukankah itu murah? Itu yang aku pikirkan awalnya, tapi setelah mengingat satu koin itu seharga penginapan selam 5 hari di penginapan berkelas tinggi, mungkin ini sedikit mahal untuk masyarakat umum.

Walaupun ini adalah kafe dengan teras terbuka, mereka meletakkan meja marmer disini. Cangkir teh dan pocinya juga tampak mahal.
Rasa tehnya seperti teh Assam. Sepertinya juga tidak ditambahkan gula maupun susu.
Sebagai gantinya, mereka menghidangkan kue panggang yang manis. Sepertinya kau bisa memakan ini dengan keju lembut atau selai yang diratakan diatasnya.

Apakah ini sangat diidam-idamkan? Saat aku melihat para gadis disekeliling, semuanya memakan roti yang disiram dengan cream madu.

Jadi aku memanggil pelayan dan memesan 2 porsi roti itu. Harganya 3 koin perak.

“Lezat sekali~~~”

Benar benar lezat… terpancar kebahagiaan dari wajah nona Nadi!

Walaupun sedang menikmati kue manis, nona Nadi tidak melupakan pekerjaannya, dia berbicara tentang perbaikan dari kastil kota Seryuu dan berbagai hal.

Sore hari yang sangat tenang setelah sekian lama tidak menikmati waktu minum teh….

Secara jelas, ada bayangan besar melewati pasar.

Diikuti oleh raungan yang berat.

Menghantam pasar, sebuah bola api raksasa meluncur ke arah kastil. Satu menara runtuh.

Setelah awan debu muncul dan bunyi dari menara yang jatuh berhenti orang-orang yang sempat terdiam di pasar menjadi panik. Teriakan bersahut – sahutan, para prajurit memerintahkan mereka untuk mencari perlindungan dengan nada geram.

Empat iblis bersenjata melayang di tengah pasar sembari merentangkan sayap hitamnya.

“Apakah di kota ini ada kebiasan iblis datang dan bermain dengan kalian di sore hari?”

“Tidak ada hal seperti itu! Lari, cepat!

>[Mendapatkan Nonchalant Skill]

Aku mengatakan hal yang konyol. Nona Nadi menarik tanganku dan mengingatkanku untuk kabur tapi mungkin pingganggnya kehilangan kekuatannya, dia tak bisa bangun.

Sangat memalukan, aku melihat situasi di sekitarku dan memancingku untuk bertindak. Tapi aku seperti tidak dapat mencerna informasi yang cukup. Seperti tubuhku bergerak berlawanan dengan otakku.

Saat bola api kedua menuju reruntuhan tembok kastil, sebuah pelindung berwarna biru turun dari langit dan menghentikan bola api itu.

Sesaat sebelum pelindung turun, sekelmpok ksatria dan penyihir keluar dari tembok kastil.

Kepung dia! Kenapa kalian tidak memanfaatkan pertahanan kastil?Mereka seperti orang menyedihkan yang tidak dapat bangun dari kursinya, aku mengumpat pada para ksatria itu. Walaupun aku memiliki pengetahuan bertempur hanya dari manga dan game..

Iblis itu mendarat di atas kebun Bunga yang terletak ditengah pasar. Mereka memilih bertarung di daratan ketimbang bertarung sambil terbang meskipun itu keuntungan mereka.

Pasukan bersenjata berat dibelakang melepaskan hujan anak panah. Suaranya seperti hujan badai, seluruh pasar menjadi target. Sayang sekali setiap panah yang mengenai tubuh hitam iblis itu terpental.

Tiga pasukan berkuda mengarahkan tombak mereka, memegang dengan tangan kiri dan membentuk barisan untuk menyerang iblis itu bersamaan. Sang iblis menyemburkan nafas berwarna ungu dari mulutnya kearah para ksatria. Apakah nafas itu beracun? Wajah para ksatria berkuda yang terkena serangan langsung tampak terluka parah. Para ksatria yang kehilangan kekuatan mereka jatuh dari tunggangan mereka dan ditendang oleh iblis itu, melayang menuju teman-temannya yang ada di belakang.

Dari arah berlawanan dari para ksatria itu, ada 3 orang ksatria berkuda yang lain menyerang!
Walaupun 2 ksatria pertama tersungkur karena serangan dari ekor iblis itu, ksatria yang tersisa berhasil menyerang tubuh iblis itu dengan tombaknya.
Kedua ksatria yang jatuh tadi bangkit dan menyerang iblis itu dengan pedang mereka.

Iblis itu menangkis serangan ksatria dengan cakarnya dan meraung!
Puing puing dan kerikil berputar disekitar tubuh iblis itu, kecepatan berputarnya semakin tinggi…

Firasat yang mengerikan merambat diseluruh tubuhku!
Aku mengangkat tubuhku dari kursi. Aku berpikir untuk kabur tapi nona Nadi pingganggnya masih lemah dan tidak bisa berdiri, membuatku khawatir.

Tidak ada waktu. Tidak mungkin untuk kabur.

Aku menarik nona Nadi kebawah kursi, dan menjadikan meja tebal yang terbuat dari marmer pelindung terhadap iblis itu.
Aku tidak bisa melihat kemanapun dari posisi ini, tapi saat ini, sang iblis melepaskan gelombang hampa yang tajam kesegala arah.

Hampir saja, tapi aku bisa menahan nona Nadi untuk tetap berada di belakang meja marmer itu. Gelombang yang sangat berat menghantam meja. Sebagian dari marmer hancur karena serangan itu. Pemandangan dari area terbuka menjadi tragis.

Toko-toko di sekitarnya semuanya hancur entah hanya sebagian maupun seluruhnya. Bahkan ada satu yang terhantam kereta kuda kecil.

Aku melihat iblis itu yang mulai berjalan menuju para prajurit yang tadi terserang gelombang itu, dan membawa nona Nadi yang pingsan meninggalkan area pasar.

Aku berlari bagaikan angin menuju jalan utama sambil menggendong nona Nadi. Orang orang yang berusaha melarikan diri berhamburan menuju tembok dalam, ini adalah situasi yang berbahaya.

Aku menuju ke pinggir jalan sebelum sampai di daerah penuh kerumunan. Karena tanganku saat ini penuh, aku mengoperasikan menu dengan pikiran dan meningkatkan skill [3D Maneuver] dan [Jump] ke level 10.

Mendekati dinding dalam, aku menemukan bangunan besar. Melompat melalui lubang yang ada di antara tembok terdalam dan dinding gedung seperti ninja di dalam manga, menuju ke dalam tembok.

.>[Mendapatkan Retreat Skill]

Saat aku melihat peta, Sepertinya ini adalah perbatasan paling luar dari timur kota.
Aku menghentikan kereta kuda yang melewatiku dan meminta pengendara untuk membawa nona Nadi ke markas pekerja. Kusir kuda itu seperti keberatan, setelah kutawari koin emas dia melakukannya dengan senang hati.

>[Mendapatkan Persuasion Skill]
>[Mendapatkan Bribing Skill]

Ini bukan waktunya hitung hitungan dengan uang.

Aku bergantung pada ingatanku kemarin, aku mengeluarkan beberapa item sambil berlari.

Translator / Creator: GeuRae