October 6, 2016

DM Chapter 1-4: Abandoned Village, Skill and Lost Child

 

“Halo, Suzuki disini. Sangat kesepian disini, aku mungkin akan mati dalam kesunyian.”

Sungguh, aku sangat menginginkan seorang teman saat ini.
Setelah mencapai jalan raya, aku tidak tahu arah mana yang harus dituju; sudah 7 hari aku berjalan dan masih belum menemukan peradaban manusia.

Malah aku mendapatkan beberapa kemampuan baru: [Sprint], [3 Dimensional Maneuver], [Jump], [Sing], [Camping], dan [Washing].
Meskipun, kemampuan itu masih berwarna abu – abu karena aku belum menambahkan skill poin sama sekali.

Sepertinya aku harusnya mempelajari [Sprint] [3D Maneuver], dan [Jump] setelah kejadian hujan meteor yang kedua, tapi memikirkannya saja sudah membuatku jadi kebingungan.

Saat aku bermain – main dengan senapan, peta sangat mengganggu pandanganku jadi kuubah peta dan log menjadi icon view, sampai akhirnya aku menyadari sesuatu. Dari log, tertulis sebuah tempat dengan kasur dan kanopi..
Bukankah itu daerah peristirahatan? Aku memaki diriku sendiri.

**

Dihari ke-delapan, akhirnya aku menemukan tempat seperti sebuah pedesaan yang luas di peta.
Aku berlari menuju desa itu. Masih belum tampak kehadiran satu orang pun di dalam peta. Kupikir mungkin tempat ini ditinggalkan atau sudah hancur. Mereka harusnya sudah kembali bila mereka sebelumnya mengungsi ke tempat lain, karena sudah seminggu lebih berlalu.

Sebelum aku sampai di persimpangan jalan menuju desa itu.

Terdapat pos penjagaan di pinggir jalan. Sebuah pos setinggi satu setengah meter dibangun diatas tanah. Sebuah papan penunjuk arah ditulis menggunakan semacam tinta.

“Tidak bisa dibaca..”

Sesuatu tertulis disana, tapi aku tidak dapat membacanya. Sepertinya ini bukan salah satu bahasa yang berasal dari dunia nyata. Nyatanya tulisan itu seperti tulisan fiksi yan dibuat untuk game.

Tampilan peta tetap dalam keadaan pembesaran maksimum, menampilkan area secara luas.
Aku sangat penasaran karena tidak dapat membaca petunjuk yang sudah lama ku cari, sampai akhirnya aku sampai dipersimpangan jalan. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang aku lakukan, tapi sepertinya memang tindakanku tepat saat ini.

“’Selamat datang di desa Enikei’, ‘Kota Seryu 32 KM’, ‘Kerajaan Kazo 105 KM’; Aku bisa membacanya!… Atau mungkin, ini adalah bahasa Jepang!”

Sebuah pesan muncul diatas peta, tertulis dengan bahasa Jepang. Mungkin ini efek dari All Map Exploration? Aku sangat bahagia mendapatkan keberuntungan ini.

Untuk sementara waktu, Kota Seryuu adalah tempat yang paling dekat dari ini, tapi terlalu membosankan.

Mungkin lebih baik ke desa terlebih dulu. Aku tahu tidak ada orang disana, tapi lebih baik daripada aku kehilangan kesadaranku jika aku meneruskan perjalanan ini!
Mungkin ada beberapa misi tersembunyi disana! Jika ini hanya sebuah mimpi, pasti ada hal seperti itu!!!

Letak desanya ada di seberang jalan ini hanya 5 menit menuju kesana. Jalan setapak yang ada  tampak seperti sudah ditinggalkan selama setahun. Jalan itu dipenuhi oleh rumput.

Bahkan dari kejauhan, aku bisa melihat banyak rumah yang terbakar habis. Setiap rumah memiliki kesamaan; atap mereka hangus.

Menilai dari sisi ini sepertinya “Desa ini ditinggalkan akibat serangan dari para Naga”.

Tidak ada tulang – belulang dijalanan, tetapi banyak alat – alat bercocok tanam yang berserakan, seperti ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

Saat aku melihat barang barang itu, mungkin sedikit berlebihan jika menyebut ini sebuah hikmah, tapi aku punya sebuah ide.

“Jika aku mendapatkan kemampuan washing dari mencuci bajuku. Mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu jika menggali sebuah ladang.

Aku mengambil cangkul dan mulai menggali lagi.

>[Mendapatkan Cultivation Skill]
>[Mendapatkan Farming Skill]

Muncul seperti yang kuduga. Tetapi aku tidak mengira kemampuan bercocoktanam akan muncul. Agar kemampuanku semakin meningkat, mungkin aku akan mencoba hal lain.

Tiba tiba, aku memetik sebuah sayuran yang muncul di antara rerumputan.

>[Mendapatkan Harvest Skill]

Sedikit menyenangkan.
Kemungkinan ini adalah easy mode.
Sayuran apa ini? Apakah ini bayam?
Kulihat pada pesan AR mengatakan “Rumput Hisaya, daun sayuran. Tidak bisa dimakan mentah, digunakan sebagai bumbu atau acar.” Muncul diatasnya.

Baiklah, kebetulan sekali. Sepertinya ini kegunaan lain dari peta.

Secara tidak sengaja aku mencabut rumput.

>[Mendapatkan Weeding Skill]

Aku tidak memotongnya, hanya menariknya saja.

Aku menuju suatu tempat yang tampaknya seperti sebuah kincir angin, mengambil sebuah kapak dan memotong sebuah kayu kecil.

>[Mendapatkan Lumbering Skill]

Aku penasaran apalagi yang bisa kudapatkan? Mungkin aku kan mencoba ide ini.
Aku menulis rumus matematika diatas tanah menggunakan cangkul.
『1+1=2』

>[Mendapatkan Arithmetic Skill]

Bagaimana kalau ini 『E=mc²』

>[Mendapatkan Lost Knowledge Skill]

Teori relativitas disini menjadi pengetahuan yang hilang?
Aku lebih baik mendapatkan kemampuan terbang atau semacamnya…

Kali ini aku akan menggambar karakter aneh dari Jepang.

>[Mendapatkan Painting Skill]

Tuan Painter mungkin akan marah.
Selanjutnya aku meggambar O dan X secara berurutan agar tampak seperti permainan anak anak

>[Mendapatkan Game Skill]

Apakah semua baik – baik saja?

Aku mencoba satu hal ke hal yang lain.
Aku mencoba membentuk kayu yang terbakar dibelakang rumah menggunakan pisau hingga membentuk seperti tongkat.

>[Mendapatkan Carpenter Skill]
>[Mendapatkan Weapon Creation Skill]

Sebagai tambahan aku bungkus tongkat itu dengan kain yang ada di kotak penyimpanan.

>[Mendapatkan Leather Craft Skill]

Menjadikannya sebuah sapu.

>[Mendapatkan Cleaning Skill]

Aku kehabisan material. Saat aku mencari bahan lain, aku menemukan kuburan dengan tanda dewa dari daerah setempat.
Karena aku lahir dan besar di pinggiran kota, aku berdoa untuk nenekku.
Aku mempersembahkan kue dan remah remah sebagai sesaji.

>[Mendapatkan Prayer Skill]
>[Mendapatkan Title: Devout Believer]

Aku tidak bermaksud untuk mendapatkan kemampuan ini tapi…..

Aku benar – benar kehabisan material, aku juga sudah lelah mencari skill, waktunya pergi dari desa ini.
Matahari sudah terbenam tepat setelah aku sampai di jalan raya.
Aku memulai perjalananku menuju Kota Seryuu, mengikuti arah yang ditulis di pos penjagaan. Setelah membiasakan mataku dibawah sinar rembulan, dikegelapan, aku berlari melintasi jalan raya.

Saat hari mulai petang, sebuah area yang luas muncul di peta Kota Seryuu. Tentu saja tidak seperti desa Enikei, disana terdapat banyak orang.

“Akhirnyaaa…. Akhirnya peradaban manusia~~~”

Tubuhku bergetar dan menangis saat mendapatkan kesempatan berbicara dengan manusia lagi.

…. Mimpi ini sangat panjang. Tidakkah kau berpikir demikian?

Translator / Creator: GeuRae