May 3, 2017

Child of Light – Volume 6 / Chapter 1

 

A Love Faithful to the End

Waktu telah berlalu secepat kedipan mata, dua bulan telah berlalu, dan dua gold dan ditubuhku telah meningkat secara signifikan. Meskipun mereka belum sepenuhnya transparan tapi hampir berhasil, karena aku benar-benar merasa bahwa kekuatan sihirku telah membuat terobosan. Semester saat ini juga cepat berakhir. Ma Ke dan Hai Yue telah bersama; mereka selalu bersama sehari-hari. Mu Zi dan aku berada dalam perbedaan yang sangat drastic jika dibandingkan dengan mereka. Meskipun aku dapat dengan jelas merasakan perasaannya terhadaku, dia masih terasa jauh dariku. Sepertinya ada tembok yang tak bisa dihancurkan di antara kita.

Seharusnya aku memberinya surat keseratus hari ini. Apa yang harus ku tulis? Haruskah aku menulis tentang sekelumit cerita tentang perasaanku padanya sampai sekarang atau tentang rencana masa depan kita? Tidak, keduanya kurang baik. Setelah berpikir keras, tiba-tiba aku teringat sebuah cerita dari sebuah desa yang sebelumnya pernah ku kunjungi. Ya, aku akan menggunakan cerita ini sebagai surat keseratus yang akan ku berikan pada Mu Zi.

Kelas berikutnya dimulai. Aku menatap wajah datar Mu Zi, namun aku masih tersihir oleh penampilannya yang menyenangkan. Saat hatiku bergejolak dengan perasaan yang kuat padanya, aku mengambil beberapa lembar kertas, dan mulai menulis surat yang keseratus itu.

Mu Zi, ini surat keseratus. Aku tidak akan melanjutkan kata-kata manis padamu. Tapi aku ingin menceritakan sebuah cerita dalam surat ini.

Ceritanya adalah tentang seorang anak laki-laki dari masa lalu yang akan melihat seorang gadis yang selalu membuatnya kagum setiap hari. Akhirnya suatu hari, anak laki-laki itu mengambil keberanian dan menulis surat cinta pertamanya kepada gadis itu, mengajaknya pergi ke pantai bersamanya. Anak laki-laki itu sangat pemalu, dan akan berbalik lalu berlari dari gadis itu sesaat setelah menyerahkan surat cintanya.

Ketika hari yang ditentukan tiba, anak laki-laki tersebut menunggu dengan cemas gadis di tempat yang telah ditentukan. Gadis itu muncul, dan mereka bermain sepenuh hati sepanjang hari.

Ketika malam tiba, saat anak laki-laki itu mengawal gadis itu pulang, dia bertanya apakah dia bersedia menjalin hubungan serius. Gadis itu memberinya sebuah surat sebelum berbalik dan lari, berkata, “Jika kita ditakdirkan ….”

Anak laki-laki itu membuka surat itu hanya untuk menemukan selembar kertas kosong. Dia tertegun dan memikirkan kata-katanya, tapi tidak tahu apa maksudnya.

Setelah beberapa hari, anak laki-laki itu mengajak gadis itu keluar lagi dengan menggunakan cara yang sama. Ketika waktu yang ditentukan tiba, gadis itu muncul dan menghabiskan hari dengan bahagia bersamanya seperti sebelumnya. Ketika mereka berpisah lagi, gadis itu mengucapkan kata-kata yang sama, “Jika kita ditakdirkan ….” Setelah dia mengatakan itu, anak laki-laki itu menerima surat kosong kedua yang sama.

Hanya seperti itu, anak laki-laki itu telah menggunakan surat cintanya untuk membuat janji dengan gadis itu.

Setelah beberapa tahun, anak laki-laki dan perempuan itu telah melakukan 99 kali pertemuan dan dia telah memberi gadis itu surat cinta. Namun, setiap setelah berjalan bersama, gadis itu tetap memberi jawaban yang sama, “Jika kita ditakdirkan …” dan memberinya sebuah surat kosong sebagai jawabannya. Akhirnya, anak laki-laki itu perlahan menjadi kesal sehingga ia berhenti membaca balasan yang diberikannya kepadanya. Dia merasa bahwa dia tidak bisa memenangkan hatinya. Setelah menerima surat ke-99 gadis itu, dia memutuskan untuk menikahi gadis lain yang telah mengejarnya selama beberapa waktu.

Pada malam pernikahannya, untuk mengungkapkan ketulusannya pada istrinya, dia mengeluarkan semua surat yang sebelumnya dia tulis untuk gadis itu dan memberi tahu istrinya tentang ceritanya.

Istrinya mengambil surat dari gadis itu dan melewatinya satu per satu; Surat itu benar-benar kosong, persis seperti yang dikatakan anak laki-laki itu. Ketika sampai pada beberapa surat terakhir, dia menyadari bahwa ada beberapa surat masih belum dibuka dan bertanya kepada anak laki-laki mengapa hal itu terjadi.

Anak laki-laki itu menjawab bahwa karena surat-surat itu masih kosong, apa gunanya membukanya?

Istrinya memohon persetujuan anak laki-laki itu, dan setelah mendapatkannya, membuka beberapa lusin surat terakhir yang telah ditulis gadis itu untuk anak laki-laki itu. Ketika dia membuka surat ke-99, dia menemukan satu baris kata di atasnya, dan diam-diam memberikan surat itu pada bocah itu.

Setelah anak laki-laki itu mengambil surat itu, dia tercengang saat menemukan bahwa surat yang ke 99 itu adalah sebuah kalimat, “Aku sudah menyiapkan gaun pengantin itu. Setelah kamu memberiku surat ke-100, aku akan menjadi istrimu. ”

Anak laki-laki itu tertegun, linglung dan terpaku saat melihat surat itu. Dia tidak bisa mempercayai kenyataan itu. Dia mengambil surat ke-99 dan berjalan keluar sebelum membiarkan angin dingin yang menusuk tulang menyapu membawa pergi surat itu bersama perasaannya. Keduanya terbang ke tempat yang jauh.

Di sinilah cerita berakhir. Meskipun cara yang digunakan oleh gadis dalam cerita itu sedikit ekstrim, ini membuktikan bahwa perasaan anak laki-laki itu terhadapnya tidak setia sampai akhir.

Mu Zi, aku tidak tahu berapa banyak surat yang harus aku berikan kepadamu sebelum kamu benar-benar dapat membuka hati dan jiwamu, dan memberikan dirimu padaku. Ma Ke telah berhasil mendapatkan Hai Yue. Kapan aku mampu memenangkan hatimu ? Jika aku memiliki kesempatan untuk mempertaruhkan nyawaku untuk mendapatkan perasaanmu seperti yang dilakukan Ma Ke dengan Hai Yue, aku tidak akan ragu. Tak peduli apapun itu, cintaku padamu akan selalu teguh, dan tidak akan hancur.

Ditulis dengan cintaku yang abadi, Zhang Gong.

Setelah menyelesaikan surat yang merupakan luapan perasaanku, aku memberikannya pada Mu Zi.

Mu Zi biasanya mengambil surat itu dan membaca keseluruhan isinya dalam waktu singkat. Dia mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arahku. Matanya tidak mengungkapkan bahwa dia terbawa perasaan oleh kata-kataku seperti yang telah kuharapkan, namun malah dipenuhi dengan ekspresi yang sangat rumit. Dia menghela nafas kecil sebelum meletakkan surat itu, lalu menoleh dan melihat papan tulis di depan kelas, dan tidak menatapku lagi.

Aku merasa seolah-olah aku telah mengalami pukulan dan hatiku dipenuhi dengan perasaan pahit. ‘Mu Zi, mengapa kamu tidak bisa membuka diri terhadapku? Apakah aku benar-benar tidak layak untuk cintamu?’

Aku menggelengkan kepala, dan menertawakan diriku sendiri. Aku menjatuhkan diri ke mejaku dan dengan perasaan yang sedih menghitung dedaunan di pohon luar jendela sebagaimana aku mencoba yang terbaik untuk menghentikan pikiran-pikiranku yang galau.

Kelas akhirnya berakhir. Aku tidak pergi dengan Mu Zi seperti biasanya dan hanya berjalan keluar dan menuju ke sudut akademi dengan perasaan sedih.

Perlahan aku bersandar pada pohon besar yang batangnya membutuhkan dua orang untuk bergandengan tangan agar bisa melingkari lebarnya. Mataku menatap dengan rasa tak bersemangat saat aku menatap ke depan dengan pikiranku yang benar-benar kacau.

“Zhang Gong?” Seseorang menepuk pundakku. Aku terkejut dan dengan cepat menolehkan kepalaku hanya untuk melihat Hai Shui yang belum pernah kulihat akhir-akhir ini. Aku terus-menerus menghindarinya sejak kembali dari pertandingan. Melihatnya hari ini adalah pertama kalinya sejak saat itu.

Hai Shui tersenyum padaku dan berkata, “Sudah lama sejak kita terakhir bertemu. Zhang Gong, kenapa kamu keluar sendirian di sini? Kamu bahkan tidak mendengarkanku saat aku memanggilmu setelah lebih dari beberapa kali. ”

Hai Shui telah terlihat mengalami penurunan berat badannya. Wajahnya yang awalnya kemerahan sedikit pucat juga. Aku tersenyum padanya dengan canggung dan menjawab, “Itu benar. Kita tidak saling bertemu beberapa waktu ini. Bagaimana kabarmu baru-baru ini? ”

Hai Shui sepertinya tertawa mengejek dirinya sendiri saat dia berkata, “Jangan seperti ini. Kudengar dari kakak mengatakan bahwa kalian telah tersiksa selama pertandingan.”

Aku menjawab, “Ya. Siapa sangka kompetisi itu menjadi tidak biasa? Namun, setidaknya kita masih mendapatkan sesuatu, karena akhirnya berhasil membawa kakak perempuanmu dan Ma Ke bersama. ”

Hai Shui mengangguk dan menjawab, “Aku benar-benar iri pada mereka. Iya, bagaimana kabarmu dan kakak Mu Zi? “

Translator / Creator: Kaho