March 27, 2017

Child of Light – Volume 5 / Chapter 11

 

A Man’s Sorrows

Suasana tim sangat nyaman. Aku merasakan kehangatan yang mendalam di hati saya karena saya melihat semua orang bergaul dengan satu sama lain. “Kakak Si Wa, berhenti menggodaku! Kau begitu kuat. Bagaimana bisa aku melawanmu? “

Si Wa tertegun. “Zhang Gong, ini adalah pertama kalinya kau memanggilku kakak.”

Aku mendesah. “Kakak Si Wa, jujur, ketika aku pertama kali melihatmu, aku telah merasa terlidungi. Hal ini karena hubungan setelah pertarungan antara gurumu, Guru Du Yu Xi, dan kita. Namun, setelah berbincang denganmu beberapa hari terakhir ini, aku menyadari bahwa kamu bukan orang jahat. Selain itu, kita memiliki kesamaan dibanyak hal. Kita harusnya bisa berteman. Kamu juga lebih tua dariku, jadi tentu saja aku akan memanggilmu kakak. Hehe.”

Si Wa mengangguk dan matanya penuh dengan ekspresi yang dalam. “Baik! Aku akan menganggapmu sebagai saudaraku. Sebenarnya, Guru Xi telah kesulitan sembari memberi dukungan  Te Yi. Aku tidak dapat memberi tahumu ada apa dengan mereka, di masa mendatang kau akan mengetahuinya. Namun, aku bisa meyakinkanmu bahwa Guru Xi adalah seorang penyihir yang terhormat. “

Aku tertawa. “Aku percaya apa yang kamu katakan. Kita benar-benar menjadi saudara sekarang” Aku berjalan dan memegang erat tangan Si Wa.

Ketika semua orang membicarakan child of light dalam generasi yang akan datang, sebagian besar dari mereka akan berpikir bahwa child of light berhasil karena ia memiliki kekuatan, pertemanan yang sejati dan persaudaraan.

Tidak sampai malam sebelum mereka terbangun dari mimpi mereka. Mu Zi menyarankan, “Mari kita pergi jalan-jalan. Bukan hal mudah untuk sampai di sini. Kita tidak bisa kembali dengan tangan kosong. “

Aku segera memberikan isyarat setuju karena yang paling penting adalah memberikan dukungan pada istriku. Setelah semua orang setuju, kami berganti pakaian, makan malam, dan berjalan keluar dari penginapan bersama-sama.

Martial Return City tidak begitu makmur, tapi masih sebuah kota yang sedang-sedang saja. Berbagai toko-toko besar dan kecil menarik perhatian. Mu Zi dan Hai Yue adalah wanita. Mereka berdua bekerja sama memilih dan membeli apa pun yang mereka suka. Kami bertiga yang laki-laki menjadi tempat membawa barang-barang mereka saat kami berjalan di belakang mereka. Dalam waktu singkat, tubuhku telah dipenuhi dengan abrang bawaan yang digantungkan padaku, termasuk beberapa tas dari Hai Yue. Aku bisa melemparkan mereka ke luar angkasa, tapi Mu Zi takut bahwa ia mungkin membeli seseuatu yang saama, jadi aku harus membawanya.

Aku menatap Ma Ke dan Si Wa yang terkikik. Aku punya pikiran tiba-tiba dan memberi Ma Ke segala sesuatu yang Hai Yue beli. Hehe. Dia pasti tidak akan menolakku. Bahkan jika ia melakukannya, itu tidak akan berhasil. Hal lain yang membuatku merasa lega adalah setelah Hai Yue menemukan tas nya berada di Ma Ke, dia tidak mengomentarinya. Dia terus menyodorkan hal-hal yang ia beli, dan aku memberikannya pada Ma Ke.

Tapi aku tahu Ma Ke tidak pernah mengungkapkan kegembiraan apapun .. Ketika gadis-gadis itu sibuk memilih toko, aku bertanya pada Ma Ke, “Hai Yue mengijinkanmu untuk membawa barang-barangnya. Mengapa kamu tidak merasa senang? “

Ma Ke tersenyum pahit. “Bos, bukan aku tidak bahagia, tetapi hanya tidak berani untuk mengekspresikan senang. Menjadi tertekan setelah bertahun-tahun kebahagiaan … Yang bisa aku rasakan adalah harapanku yang semakin besar, semakin aku menjadi khawatir. Aku tidak mampu jika merasa tertekan lagi.​​” “Apa yang dia katakan benar. Tidak mudah baginya untuk melepaskan Hai Yue dalam pikirannya dan melepaskan perasaannya. Jika ia mencoba untuk memulai hubungan itu lagi, aku ragu bahwa ia bisa bangkit” Aku menepuk bahunya. “Saudaraku, frase yang sama lagi. Kamu hanya harus menunggu takdirmu yang akan terjadi.”

Kami bertiga sangat kelelahan, tapi Mu Zi dan Hai Yue masih penuh energi. Itu sudah menjadi sifat seorang gadis. Aku benar-benar tak tahan lagi. Aku berteriak pada Mu Zi, “Mu Zi, bisakah kita istirahat? Coba liat aku, tidak ada lagi tempat untuk membawa barang bawaan.”

Mu Zi menoleh ke belakang dan melihat pembawa barang yang menyedihkan tergantung banyak tas belanja, yang mana adalah aku. Aku dipenuhi barang bawaan yang ia beli. Mu Zi berkata heran, “Apa aku telah belanja segitu banyak? Aku hampir selesai. Mari kita kembali!”

Yea! Kita akhirnya bebas. Ma Ke dan aku menghela napas lega. Si Wa menertawakan kemalangan kami di samping. “Leganya tidak memiliki hubungan percintaan. Haha.” Kami tidak punya energi untuk membalasnya dan hanya ingin cepat kembali ke penginapan.

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya kami mencapai penginapan. Aku menaruhnya pada kamar Mu zi. Setelah itu, aku duduk di sofa dan tidak berkeinginan untuk bangun. Ma Ke juga begitu, ia menaruh barang-barang di depan pintu Hai Yue dan perlahan duduk di sofa.

Mu Zi bersandar ke arahku. “Zhang Gong, kamu pasti lelah.”

Aku mengambil nafas dan berkata, “Iya! Aku bahkan tidak bisa bergerak lagi. Jangan pernah memintaku untuk pergi berbelanja denganmu lagi. Aku benar-benar tidak tahan. “

Setelah mendengan apa yang kukatakan, Mu Zi mengangkat alis dan memprotes dengan genit, “Apa yang kamu katakan? Apakah aku menyebalkan? “

Ketika aku melihat bahwa dia marah, aku buru-buru memegang tangannya dan tersenyum. “Apa yang aku katakan sebelumnya tidak benar. Aku sedikit lelah jadi pikiranku sekarang campur aduk. Maksudku adalah aku pasti akan sering-sering pergi berbelanja denganmu. Aku juga bisa meningkatkan pengetahuaku. Hehe.”

Mu Zi berubah dari marah ke gembira dan berkata, “Itu lebih menyenangkan! Aku akan membantu memijat lenganmu.”

Aku tidak melakukan apapun hari ini. Mu Zi dengan lembut dan halus memijat lenganku dari depan kebelakang. Itu membuatku merasa nyaman dan membuatku lega. “Ini mengesankan. Aku benar-benar ingin membawanya keluar untuk belanja lebih banyak lagi. “

Ma Ke melihat pasangan yang bermesraan dan menggeleng. Dia kembali ke kamarnya. Ketika Hai Yue melihat tampilan sedih Ma Ke ini, tubuhnya tiba-tiba bergetar.

Aku menarik Mu Zi dan berbisik padanya, “Bisakah kita pergi ke kamarmu? Aku benar-benar ingin melihat apa yang kamu beli. “

Mu Zi menatapku dan berkata, “Kamu bisa datang ke kamarku, tapi kamu jangan berpikiran macam-macam.”

‘Sial! Aku ketahuan lagi olehnya.” Aku menjawab dengan sedih,” Baiklah. “

Aku membantunya merapikan segala sesuatu yang telah ia beli sambil duduk di lantai, dan Mu Zi terus-menerus memberitahuku di mana menaruh setiap barangnya.

Aku menggerakkan tanganku dengan linglung. Aku tidak tahu berapa lama sudah, aku merenggangkan tanganku dan tidak terlalu banyak barang lagi. Aku perlahan-lahan membuka mata dan melihat sekitar. Aku akhirnya selesai merapikan barang-barangnya. Mu Zi sedang berbaring di tempat tidurnya dan membaca buku mantra sihir. Aku duduk di tempat tidurnya dan memberi isyarat untuk memeluknya.

Mu Zi terkejut dan mengelak tanganku. “Apa yang sedang kamu lakukan? Apakah kamu sudah membereskannya? “

Translator / Creator: Kaho