December 20, 2016

Child of Light – Volume 4 / Chapter 9

 

A Duel of Words with the Teacher

Aku dengan malas berjalan menuju ke kelasku dan duduk di tempat dudukku. Aku tidak tahu apa yang terjadi selama pelajaran. Lupakan! Aku memutuskan untuk tidur sejenak.

Saat berbaring di atas meja dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan tatapan yang membara di belakangku. Bahkan jika indraku tidak terlalu sensitif, aku masih dengan mudah mengetahuinya. Aku berpikir kalau itu Mu Zi yang melihat ke arahku. Aku tetawa di dalam hatiku. Apakah dia benar-benar percaya kalau aku jatuh cinta padanya? Aku memutuskan untuk tidak menghiraukannya dan membuatnya menunggu dalam ketegangan.

Tanpa sadar, aku mulai tertidur.

Dalam kondisiku yang setengah sadar, aku merasa seseorang mendorongku dengan sangat kuat. Dengan sendirinya aku mendorong tangan orang itu menjauh dariku. Namun, orang itu terus mendorongku sementara aku terus menjauhkannya. Aku jengkel dan duduk, sambil berteriak, “Apa yang kau inginkan? Kenapa kau begitu menyebalkan? Berhenti mengganggu tidurku!”

Aku dikelilingi oleh suara hembusan nafas seperti terkejut. Saat itulah aku baru menyadari kalau aku masih di kelas. Saat itu aku terbangun dari perasaan mengantukku. Aku melihat ke arah orang yang sudah mendorongku dan melihat wajah Mu Zi yang menatapku dengan marah, aku bertanya kepadanya dengan tidak berperasaan, “Kenapa kau mendorongku?”

Wajah Mu Zi langsung memerah dan dia memonyongkan bibirnya ke satu arah. Murid-murid yang ada dekat meja tempat dudukku mendengar percakapan kami dan mulai tertawa terbahak-bahak. Aku melihat ke arah yang ditunjuk oleh bibirnya. Wah! Ada seorang guru berusia paruh baya dengan ekspresi pucat di wajahnya di atas panggung pengajar. Hmm. Kenapa bibirnya bergetar?

Guru laki-laki itu berkata dalam suara yang kecil dan bergetar, “Kau, berdiri!”

Aku menggunakan jariku untuk menunjuk ke arah hidungku dan bertanya dengan bingung, “Anda bicara padaku?”

“Ya, kau! Cepat, berdirilah sekarang!”

Aku dengan malas berdiri dari bangku. Rasanya otakku belum sepenuhnya bangun. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh guru itu. Aku bertanya, “Guru, anda tidak tampak baik. Apakah anda sakit? Saya pikir anda harus pergi ke rumah sakit untuk diperiksa. Jika sakit anda serius, itu akan sangat buruk.”

Sekelilingku mendadak menjadi hening. Para murid semuanya berpikir, murid ini benar-benar berani menantang wewenang guru? Pagi hari dia sudah mengganggu seorang guru, dan sekarang, di siang hari, dia mengganggu guru yang lain. Itu benar-benar mengagumkan. Mereka terlihat seolah mereka menantikan dengan sungguh-sungguh cara guru itu menghadapiku.

Pengajar itu menarik nafas dalam-dalam seolah ingin menenangkan perasaannya yang kuat. Dia menatap ke arahku dan berkata, “Kau kemari dan jawab pertanyaan ini. Aku ingin mendengar penjelasanmu.” Saat dia mengatakan itu, dia menunjuk ke papan tulis, yang memiliki pertanyaan utama untuk pelajaran itu. Yang diperkirakan oleh guru itu, jika Zhang Gong menjawab salah atau tidak tahu cara menjawabnya, aku akan mengirimnya keluar kelas dan membuatnya berdiri di koridor sebagai hukuman.

Aku melihat ke arah papan tulis dan melihat bahwa itu tentang hubungan antara magic elements.

Aku merengut dan berpikir sejenak. Guru itu berpikir kalau aku tidak tahu cara menjawabnya baru saja akan menegurku, saat aku mulai bicara.

“Aku percaya kalau bertanya hubungan antara semua magic itu terlalu umum. Semuanya harus tahu tentang perbedaan elemen dari magic. Enam elemen utama adalah light, dark, water, fire, earth, dan wind. Aku bilang aku merasa pertanyaan itu terlalu umum karena hubungan antara magic sangat rumit. Dalam arti yang singkat, aku merasa semua magic bisa secara bersamaan mendukung atau melawan saat mereka berinteraksi.”

Pengajar itu tersenyum dingin dan berkata, “Bisa mendukung dan melawan satu sama lain secara bersamaan? Semua orang tahu kalau magic bisa saling melawan, tapi mendukung belum pernah aku dengar. Jika demikian, water magic dan fire magic bisa menyatu bersama untuk membentuk sebuah api?”

Otakku akhirnya terbangun. Aku berpikir, bukankah kau mencoba membuatku menjadi perhatian? Aku khawatir kau tidak bisa. Level pengetahuanmu tidak bisa dibandingkan denganku karena Guru Di bahkan sadar kalau teoriku adalah baru. Tidak mungkin kau bisa mengalahkan teoriku.

Aku tersenyum dan berkata, “Tentu saja, water magic bisa menjadi fire magic, dan wind magic bisa menjadi earth magic. Contoh ini adalah yang paling mudah. Light dan dark magic memiliki banyak kesamaan. Biar aku bertanya pada semuanya. Jika tidak ada cahaya, darimana kegelapan datang, dan begitu juga sebaliknya? Bahkan jika mereka adalah magic yang saling berlawanan, apakah itu terjadi secara alami? Jika kita berani membuat sebuah asumsi yang berani, mungkin sebelum light dan dark magic menjadi dua magic yang berbeda, mereka sebenarnya adalah satu jenis magic.”

“Apa kau hanya mencoba menakut-nakuti kelas ini? Jika tidak, bagaimana kau akan membuktikan apa yang kau katakan adalah benar?”

Aku menggelengkan kepalaku dan berkata, “Aku belum menemukan bukti nyata dari itu, itulah mengapa aku mengatakan ini hanya sebuah asumsi yang berani. Meskipun aku belum memastikan hubungan yang tepat antara light dan dark magic, aku bisa menunjukkan contoh magic yang secara bersamaan membantu dan saling berinteraksi satu sama lain.”

Pengajar itu terpana, dan tampaknya lupa dia sedang membuat segala sesuatunya sulit untukku, sambil berkata, “Lanjutkan perkataanmu.”

Aku tersenyum dan berkata, “Itu cukup sulit dipercaya jika aku hanya mengatakannya, jadi lihatlah.” Aku mengangkat kedua tanganku dan membuat dua bola menggunakan water dan fire magic yang sama besarnya. (Aku bisa menggunakan semua magic elementary, kecuali dark magic.)

Aku terus menjelaskan, “Semuanya pasti sudah tahu kalau water dan fire magic berlawanan satu sama lain. Seharusnya jadi seperti ini.” Aku menggabungkan kedua magic itu bersamaan. “Pu Su~” Kedua bola magic itu benar-benar menghilang.

“Inilah yang terjadi jika jumlah elemennya sama. Tapi jika mereka memiliki jumlah yang berbeda, apa yang akan terjadi? Semuanya perhatikan saat water dan fire magic bergabung bersama.”

Seperti yang tadi, aku membuat sebuah bola api dan air di kedua tanganku, tapi kali ini bola api lebih besar dari bola air. Aku dengan perlahan meletakkan bola air itu di atas bola api. Bola air itu mulai menguap. Ini karena fire magic lebih kuat daripada water magic. Dibawah pengendalianku, bola air itu terbakar. (Untuk mereka yang mengerti ilmu alam, mereka seharusnya mengerti kalau air bisa diubah menjadi gas hidrogen dan oksigen. Satu dari banyak gas yang bisa digunakan untuk melakukan pembakaran.) Secara perlahan, kedua bola itu mulai menyatu dan menjadi satu.

Seluruh murid, termasuk sang guru, ternganga dalam kekaguman.

Guru itu bertanya dengan keheranan, “Bagaimana kau bisa melakukannya?”

“Sebenarnya itu sangat mudah. Pada titik tertentu, air bisa dibakar tapi tidak bisa dipadamkan.” Informasi baru ini sangat sulit dimengerti dan diterima secara penuh oleh yang lainnya.

“Aku akan melanjutkan peragaan bagaimana api menjadi air.”

Kali ini, aku menggunakan tangan kiriku untuk membuat sebuah light magic ball berdiameter kira-kira lima puluh centimeter dan membuat sebuah fireball kecil di tangan kananku, sebelum meletakkan fireball itu di tengah-tengah light ball itu.

Aku dengan mudah mengendalikan kedua magic itu dan berkata di waktu yang sama, “Semuanya! Tolong perhatikan light ball ini.” Sesuai dugaan, dalam waktu singkat, tetesan air mulai terbentuk di dalam light ball itu.

Aku menghentikan magic itu dan membuat sebuah kesimpulan. “Itu sudah semua. Keduanya adalah contoh dari magic yang saling berinteraksi. Aspek perlawanan dari magic hanya bagian dari kenyataan. Tidak ada kebenaran absolut karena dalam situasi yang berbeda, itu bisa berubah. Ini adalah sesuatu yang masih aku teliti. Guru, aku sudah selesai menjawab pertanyaan itu.”

Guru itu tampak seolah jiwanya telah meninggalkan tubuhnya. Bukan hanya dia; murid-murid yang lain juga berada dalam kondisi yang sama. Murid yang mampu masuk kedalam akademi ini tidak perlu diragukan lagi pasti seseorang yang jenius, tapi mereka semua dibatasi oleh traditional magic. Setelah peragaan dan penjelasan dariku, semua orang merasa kalau mereka telah mendapat pengetahuan baru mengenai magic, tapi tidak bisa mengatakan dengan tepat pengetahuan baru apa itu. Karena itulah, mereka terpeerangkap dalam dunia dan pikiran mereka sendiri.

Aku melihat Mu Zi yang ada di sampingku. Dia berada dalam kondisi yang sama dengan yang lainnya. Haha, sepertinya penjelasanku tidak buruk. Aku memutuskan untuk membiarkan mereka terus memikirkan itu, dan bermain catur dengan ‘Dewa Mimpi’ mereka.

Translator / Creator: Veve