December 19, 2016

Child of Light – Volume 4 / Chapter 7

 

Vengeful Love Letter

Gadis di sebelahku berbisik, “Itu pantas kau terima.”

Apakah aku membuatnya tersinggung? Aku tidak melakukannya. Aku menatap ke arahnya dengan bingung, tapi dia berpura-pura tidak menyadarinya, dan hanya terus menatap papan tulis di depan. Aku mendadak ingin memainkan sebuah trik kepadanya. Secara diam-diam aku memadatkan light element menjadi sebuah light beam seukuran jari. Light beam itu melewati bagian bawah ketiakku dan menyentuh bagian dadanya.

Dia gemetar sesaat sebelum berdiri dan tanpa diduga berteriak di depan seluruh kelas, “Apa yang kau lakukan?! Guru, dia menggangguku!”

Aku terjatuh. Aku terjatuh dengan keras. Kenapa dia membuat reaksi yang sekuat itu? Kau tidak harus melakukannya!

Mage tua itu, yang amarahnya baru saja mereda beberapa saat lalu, sekali lagi meledak. Dia berteriak dengan marah, “Murid baru! Keluar dan berdirilah di koridor!”

Seluruh murid di kelas melemparkan tatapan menghina kepadaku seolah-olah aku tidak sesuai dengan wajah tampan yang aku miliki. Memikirkan tentang aku mengganggunya, dengan penampilannya yang biasa-biasa saja, tentu saja tidak sesuai standarku! Aku tersenyum pahit dan berdiri, kemudian berjalan keluar. Sebelum keluar, aku memlihat gadis itu dengan tatapan marah. Sebuah tatapan mengejek terlihat di matanya, dan dia menatap balik dengan keras kepala.

Aku bersandar di tembok koridor. Sial! Aku baru saja dipermainkan oleh seorang gadis kecil. Aku harus membalaskan dendamku. Aku harus melakukannya! Apa yang dilakukannya barusan itu penuh kebencian, tapi bagaimana aku membalaskan dendamku? Melempar seekor cacing ke dalam tas sekolahnya? Menggunakan magic untuk mempermalukannya? Tidak, tidak ada ide yang bagus. Mereka semua terlalu umum. Aku harus berpikir sebuah ide yang lebih baik untuk menghukumnya. Humph!

Setelah kelas usai, mage tua itu membawaku ke kantornya. “Kau datang ke sini untuk mengikuti kelas atau hanya untuk bermain?”

Orang tua ini benar-benar galak. Aku menundukkan kepalaku, “Maafkan aku, Guru. Aku tahu aku melakukan kesalahan.”

“Humph! Jaga sikapmu! Mulai dari sekarang, aku akan terus mengawasimu. Kau tidak masuk ke akademi melalui hubungan yang kau miliki? Bahkan jika kau datang ke sini untuk bergaul dengan mereka yang memiliki latar belakang itu, kau tidak boleh mengganggu yang lain. Katakan padaku, apa nama penjabat pemerintah yang memberikanmu rekomendasi untuk masuk kedalam akademi ini?” Nada bicaranya sangat mengejek. Sepertinya dia mengira aku adalah seorang bangsawan.

Aku berkata dengan jujur, “Itu adalah Guru Lao Lun Di yang baru-baru ini merekomendasikan aku.”

Orang tua itu merengut dan berkata, “Lao Lun Di, Lao Lun Di, jangan bilang kalau dia adalah kepala sekolah yang terhormat dari Intermediate Magic Academy?”

Aku mengangguk, “Itu benar, orang tua itu. Aku adalah muridnya.”

“Kau adalah murid Kepala Sekolah Di? Bahkan jika kau memang muridnya, kau tetap tidak boleh mengganggu di kelas. Tolong ingat ini baik-baik mulai dari sekarang. Kau boleh pergi.” Nada bicaranya melembut. Aku terkikik kepada diriku sendiri; nama Guru Di cukup berguna juga.

Setelah aku meninggalkan kantor itu, aku segera kembali ke ruang kelas. Murid-murid di kelas tampak terkejut melihatku kembali tanpa terluka. Aku hanya kembali ke tempat duduk di samping gadis itu.

Aku berbisik kepadanya, “Kau benar-benar galak dan berani membuatku berada dalam masalah.”

Dengan sebuah “Humph” yang dingin, dia berkata, “Aku membuatmu dalam masalah? Orang genit seperti dirimu seharusnya mati saja.” Dia berdeham lagi.

Siapa yang menyangka bahwa seorang Magister yang hebat sepertiku akan dipermainkan oleh seorang gadis kecil? Baiklah, aku harus melakukan balas dendam. Aku akan membuatnya sadar kalau aku bukan seseorang yang bisa diremehkan.

Aku akhirnya berpikir tentang sebuah ide yang menarik. Aku langsung mengeluarkan sebuah kertas dan mulai menulis dengan marah diatas kertas itu. Aku sebenarnya tidak tahu pelajaran apa yang kami pelajari saat ini. Itu tidak penting. Lagipula, apa yang diajarkan oleh guru itu tidak sesuai dengan metode pengembanganku. Setiap malam, aku hanya harus bermeditasi dan itu sudah cukup.

Saat gadis disebelahku melihat aku sedang menulis sesuatu dengan rajin, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatku dengan kebingungan. Aku menggunakan tubuhku untuk menghalangi pandangannya, membuat dia tidak bisa melihat apa yang sedang aku tulis.

Setelah menulis tidak kurang dari separuh kelas, aku akhirnya selesai. Aku menghela nafas panjang dan memegang kertas itu dan membacanya dari awal hingga selesai. Aku mengangguk dengan puas.

Aku dengan pelan menepuk punggung teman sekelasku yang duduk di depanku. Dia menoleh ke arahku dan merengut, sebelum berkata dengan tidak sabar, “Apa yang kau inginkan?” Aku mendadak mengeluarkan sebuah koin berlian di udara, Dia tidak merengut dan bertanya dengan sopan, “Ada masalah apa?”

“Aku tertawa dan berbisik, “Kau hanya perlu memberitahuku nama dari gadis kasar yang duduk di sebelahku, dan koin ini akan menjadi milikmu.”

Dia diam-diam melihat ke arah gadis di sebelahku dan berkata ke telingaku, “Namanya adalah Mu Zi Mo.” Aku terkekeh. Sepertinya daya tarik kepada uang masih cukup besar. Setelah itu aku dengan cepat menulis beberapa kata di bagian atas kertas.

Mu Zi melihatku bertingkah dengan rahasia dan tampak penasaran. Dia ingin mengintip ke atas kertas yang ada di tanganku. Aku melihatnya dengan tatapan dingin, “Kau mau melihatnya?”

Dia tampak terkejut dan langsung bergerak menjauh, sambil berkata, “Apa yang kau inginkan?”

Aku menyerahkan kertas putih itu kepadanya dan berkata, “Ini. Bukankah tadi kau ingin melihatnya?” Rasa penasarannya membuatnya mengambil kertas putih yang ada di tanganku itu. Hanya dengan membacanya, wajahnya berubah merah. Meskipun dia tidak terlalu cantik, wajah cerahnya yang memerah sama merahnya seperti sebuah apel. Setelah kau melihatnya, kau akan merasa ingin menggigitnya.

Ini adalah apa yang aku tulis di atas kertas putih itu: Halo, Nona Mu Zi. Saat pertama aku melihatmu, aku merasa kita sudah ditakdirkan bersama. Matamu yang besar memikatku dengan cara yang membuatku tanpa sadar jatuh cinta kepadamu. Meskipun kau selalu bersikap dingin padaku, sangat dingin sampai kau menjebakku, aku tidak marah sedikitpun. Ini benar. Tidak marah sedikitpun. (… Menghilangkan dua ribu kata … ) Aku terus-menerus mengganggumu, karena aku ingin menarik perhatianmu, membuatmu sadar akan keberadaanku. Aku terlalu malu untuk mengatakan ini di depanmu karena aku takut kalau kau menolakku. Aku hanya bisa menggunakan surat cinta ini untuk menyatakan perasaanku padamu. Apakah kau setuju untuk berkencan denganku?

Ditulis dengan cinta yang tulus kepadamu, Zhang Gong.

Ini adalah rencana terbaik yang aku miliki. Bukankah dia bilang aku berbuat genit padanya? Pertama, aku akan membuatnya jatuh cinta kepadaku, sebelum aku memulai balas dendamku. Hehe. Ide ini cukup bagus.

Setelah Mu Zi selesai membaca surat cinta yang aku berikan kepadanya, dia ternyata tidak berani menoleh kepadaku. Setelah beberapa saat dalam damai, rona di pipinya menghilang. Dia menoleh kepadaku dan berkata, “Membosankan. Berhentilah menggunakan trik murahan untuk mempermainkanku.” Dia meremas surat dariku dan melemparnya kembali kepadaku. Ini adalah hasil yang sudah aku duga sebelumnya. Dengan kesan jelek tentangku, akankah dia tertipu? Tidak usah cemas, ambilah waktumu. Cepat atau lambat aku akan mendapatkanmu di dalam perangkapku.

Aku menundukkan kepalaku, membuat penampilan seolah-olah aku patah hati dan mencoba untuk memperbaiki surat cintanya. Aku melipatnya dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam sakuku. Setelah itu, aku tidak mengatakan apapun dan hanya menatap papan tulis, tapi pikiranku masih merencanakan cara untuk membangunkan rasa cinta Mu Zi dan membalaskan dendamku.

Mu Zi melihatku, matanya penuh dengan berbagai macam emosi.

Bell tanda kelas berakhir sudah berbunyi, tapi aku tidak menggerakkan kepalaku. Aku tidak tahu apakah sikapku yang keren ini membuatnya tergerak atau tidak. Lupakan itu. Aku harus menemui Ma Ke dulu. Orang itu masih belum memberitahuku identitasnya.

Translator / Creator: Veve