January 19, 2017

Child of Light – Volume 4 / Chapter 42

 

A Compassionate Breakfast

Ma Ke tertawa dan berkata, “Sekarang kau juga sudah merasakan magic milik Hai Ri. Kau tidak tahu seberapa besar penderitaanku dulu. Haha!”

Aku meninjunya sekali kemudian berkata, “Kau nakal sekali! Kau berani meledekku? Kalau kau mempunyai cukup energi untuk menggodaku, kenapa kau tidak mengejar Hai Yue sebelum kau kehilangan kesempatan untuk melakukannya?”

Ma Ke tertegun sejenak sebelum dia bertanya seperti orang bodoh, “Hai Yue? Kenapa aku harus mengejarnya?”

Saat aku melihat Ma Ke bicara seperti orang bodoh, aku berkata sambil tersenyum, “Bukankah biasanya kau ini pintar? Kenapa setiap kali sesuatu melibatkan Hai Yue, kau menjadi sangat bodoh? Kau harus memikirkannya baik-baik.”

Ma Ke merengut sambil melihat ke arahku. Setelah berpikir sejenak, matanya bersinar secara perlahan. Dia berseru, “Boss, apa yang kau maksud…”

Aku mengangguk, “Itu benar! Apa yang kau pikirkan itu benar. Feng Liang sudah melarikan diri bersama dengan kakeknya. Ini adalah kesempatan yang bagus. Kau harus menggunakan kesempatan ini. Jangan biarkan kesempatan ini lolos.”

Ma Ke tampak sedikit bersemangat sebelum dia berpaling dan lari.

Aku dengan terburu-buru berseru kepadanya, “Ma Ke, kau mau pergi kemana? Kau harus menghadiri kelas-kelasmu dulu.”

Ma Ke berteriak sambil terus berlari, “Aku tidak akan datang ke kelas. Aku akan pergi ke kelas Hai Yue untuk menunggu kelasnya selesai.”

Dia benar-benar memprioritaskan cinta daripada temannya. Aku harap dia akan berhasil. Saat aku sampai pintu masuk kelas, pelajaran yang sedang berlangsung adalah magic tactics. Gurunya adalah salah satu pengajar yang terkenal di akademi.

Aku berseru dari luar kelas, “Izin untuk masuk!”

“Masuklah!”

“Maafkan saya karena terlambat, guru.”

“Cepatlah ke tempat dudukmu dan ingatlah untuk datang tepat waktu lain kali.”

Aku menghela nafas panjang sebelum aku kembali ke tempat dudukku. Mu Zi tersenyum kepadaku dan berbisik, “Kenapa kau terlambat lagi?”

Aku menjawab, “Aku menghabiskan sepanjang malam untuk memikirkan dirimu dan terlambat bangun pagi ini.”

Wajah Mu Zi memerah dan dia menjawab, “Kau terlalu banyak bicara. Aku sudah menduga kau akan terlambat hari ini. Ambil ini!” Setelah mengatakan itu, dia memberikanku sebuah kotak bekal.

“Apa ini?” Aku bertanya dengan rasa penasaran.

Mu Zi menjawab, “Lihat saja sendiri.”

Aku membuka tutupnya dan melihat kotak bekal itu penuh dengan makanan-makanan lezat. Hebat! Mu Zi mengeluarkan sebuah gelas berisi jus buah dari bawah mejanya sebelum berkata, “Makan dengan hati-hati! Jangan sampai guru melihatmu makan. Sejak aku bertemu denganmu, aku jadi murid yang bandel.”

Aku menggenggam tangannya dan menciumnya. “Perasaan memiliki seorang istri sangat luar biasa. Terima kasih banyak, istriku.”

Mu Zi memukulku sebelum menarik tangannya. “Siapa istrimu? Kau sangat menyebalkan. Cepatlah makan makananmu!”

Sambil makan, aku berkata, “Sarapan yang dibuat dengan penuh cinta oleh istriku ini sangat lezat. Ini benar-benar lezat. Hmm, kenapa kau menatapku? Apa kau juga lapar? Kemari, ambillah!” Aku mengambil sepotong daging ayam dan memberikan itu padanya.

Mu Zi berkata dengan marah, “Kau hanya perlu makan! Kenapa ada banyak sekali yang harus kau bicarakan? Aku tidak akan membuatkannya lagi untukmu.” Meskipun dia mengatakan itu, dia mengambil potongan daging ayam dari tanganku dan diam-diam memakannya.

Aku menahan tawaku dan berkata, “Babi kecil!”

Mu Zi mendengus. “Kau babinya, bukan aku, dasar monyet!” Setelah mengatakan itu, dia terkekeh tanpa kendali.

Aku merasa bersalah dan berkata, “Apa aku sejelek itu?”

Guru yang berada di depan berkata, “Zhang Gong dan Mu Zi! Berdiri!” Wah! Ini buruk. Kami ketahuan oleh guru itu.

Dengan cepat aku meletakkan sarapanku itu di tempat dudukku, sebelum aku berdiri. Mu Zi juga berdiri.

Guru yang berusia empat puluh tahun itu menatap ke arah kami. “Ada apa dengan kalian berdua? Kalian tidak mendengarkan pelajaran dan terus berbisik-bisik di kelas.”

Mu Zi dan aku melihat satu sama lain tapi tidak menjawab guru itu. Guru itu terus berbicara, “Sudah cukup! Duduklah kembali. Tolong perhatikan pelajaran di kelas, terutama kau, Zhang Gong! Jangan kira kau bisa bersantai hanya dengan sedikit pencapaian dalam magicmu. Sudah ada beberapa guru yang mengeluh tentang sikapmu di dalam kelas. Jika kau terus bersikap seperti ini, kau mungkin akan dikeluarkan dari akademi.”

Ah! Itu tidak akan seburuk itu. Hehe! Seharusnya itu tidak menjadi masalah karena aku memiliki hubungan yang baik dengan Guru Zhen. Dia tidak akan mengeluarkanku.

“Kepala Sekolah berkata kalau kau terus melanggar peraturan di kelas, kami harus langsung menulis catatan untuk tindakan kedisiplinan. Kau sudah terlambat hari ini dan sekarang kau tidak memperhatikan pelajaran di kelas.”

Bagaimana mungkin Guru Zhen melakukan ini kepadaku? Itu sangat melukai hatiku.

“Juga untuk Mu Zi. Kau adalah seorang murid yang istimewa. Kenapa kau tidak belajar dengan serius setelah Zhang gong pindah ke akademi ini? Aku akan membicarakan hal ini dengan guru wali kelas ini untuk membuat kalian berdua duduk terpisah.”

Ah! Dia ingin memisahkan Mu Zi dariku. Itu tidak boleh terjadi! Aku menegakkan tubuhku dan menatap ke arah guru itu. “Guru, itu adalah salahku karena terus mengobrol di dalam kelas, tapi Mu Zi tidak terlibat dalam hal ini. Dia terus mengabaikanku. Aku akan menjadikan ini sebuah peringatan untuk selanjutnya. Ini tidak cukup serius hingga kami harus pindah tempat duduk, benar bukan?

Guru ini pasti belum pernah bertemu dengan murid yang keras kepala seperti ini. Beliau tertegun sejenak kemudian berkata, “Zhang Gong, apakah itu nada bicara yang pantas untuk digunakan saat berbicara dengan seorang guru? Keluar dari kelas dan berdirilah di koridor sebagai hukumanmu!”

Dia ingin aku berdiri di luar sebagai hukuman? Bagaimana mungkin? Aku masih belum selesai menikmati sarapanku! Aku menjawab dengan dingin. “Aku tidak mau!” Aku duduk di tempat dudukku dan menyantap sarapanku.

Mu Zi, yang ada di sampingku, terus menarik tubuhku, memberi tanda untuk berhenti berdebat dengan guru itu.

Ekspresi guru itu berubah kelabu. “Zhang Gong, ini adalah kesempatan terakhirmu. Apakah kau akan keluar atau tidak?”

Sisi keras kepalaku muncul, dan aku menegur dengan marah, “Aku tidak akan keluar. Sebagai seorang guru, kenapa anda tidak mengajar di kelas dengan baik daripada membiarkan masalah kecil mempengaruhi proses mengajar anda?”

Guru itu mengucapkan ‘bagus’ sebanyak tiga kali kemudian melangkah keluar kelas. ‘Tidak mungkin beliau menganggapku sebagai seorang murid yang baik sampai memujiku tiga kali?

Seketika kelas menjadi gaduh, namun tidak seorangpun berani bertanya kepadaku.

Mu Zi duduk dan berkata, “Zhang Gong, kenapa kau melawan guru itu? Ini akan menjadi buruk untukmu.”

Aku merasa aku memang bersalah dan melihat ke arahnya. “Aku ingin menikmati sarapan yang kau berikan kepadaku. Bagaimana aku bisa memakannya di koridor?”

Mu Zi dengan pasrah berkata, “Kau! Kau berada dalam masalah besar. Guru itu pasti pergi menemui Kepala Sekolah. Dia mungkin akan mengeluarkanmu.”

Aku tersenyum dan berkata, “Itu tidak mungkin terjadi karena aku punya hubungan yang baik dengan Guru Zhen. Bagaimana mungkin beliau bisa mengeluarkanku?”

Setelah beberapa saat, guru itu kembali dengan tanda ejekan di ekspresi wajahnya saat dia masuk ke dalam ruang kelas dengan Guru Zhen. Guru Zhen merengut dan berkata, “Zhang Gong, keluar dari kelas!”

Setelah mendengar kata-kata Guru Zhen, aku dengan patuh berjalan keluar kelas. Dia berpaling kepada guru itu untuk mengatakan kepadanya agar melanjutkan mengajar di kelas. Setelah itu, dia membawaku ke koridor.

Guru Zhen berkata, “Kenapa ini bisa terjadi? Apa kau dengan sengaja menyebabkan masalah untukku? Kau tidak mendengarkan pelajaran di kelas dan bahkan membuat  guru yang mengajar di kelas itu mengeluh tentang dirimu kepadaku. Setelah semua yang dikatakan dan dilakukan, apa yang terjadi denganmu? Apa kau ingin aku pergi dan mengeluh kepada Guru Di?”

Translator / Creator: Veve