January 3, 2017

Child of Light – Volume 4 / Chapter 38

 

Displaying Heartfelt Love

Saat aku duduk di bangkuku, Mu Zi tampaknya sedang memikirkan sesuatu dengan sangat dalam. Aku diam-diam meraih dan memegang tangannya yang lembut, manis dan dingin itu. Aku kecanduan perasaan lembut dan seolah tanpa tulang yang dimilikinya saat aku menggenggam tangannya. Ini terasa seperti surga.

Mu Zi mengangkat kepalanya dan melihat ke arahku kemudian menghela nafas. Aku tampak keheranan. ‘Apa yang terjadi kepadanya? Dia terlihat tidak senang. Bukankah aku sudah menjelaskan hal ini kepadanya? Kenapa dia masih seperti ini? Mungkinkah ini karena Hai Shui?

Aku berbisik, “Mu Zi, apa ada yang salah?”

Dia menggelengkan kepalanya dengan lembut. “Tidak ada apa-apa. Hanya saja kau tidak menuliskan surat cinta untukku. Kenyataannya, sudah beberapa hari kau tidak menuliskan surat cinta untukku.”

Aku menjawab dengan tenang, “Oh! Aku akan menuliskan satu untukmu sekarang.” Sambil mengatakan itu, aku mengeluarkan selembar kertas dan menuliskan sebuah surat cinta.

“Mu Zi, kita sudah berpisah selama beberapa hari. Aku sering memikirkan tentang dirimu. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa kosong saat aku tidak melihatmu selama beberapa hari itu. Kau sudah bertanya tentang apa saja yang aku lakukan selama beberapa hari ini. Aku akan memberitahumu sekarang, karena aku tahu seharusnya tidak ada rahasia di antara kita. Aku mengambil izin pergi selama dua hari untuk mengikuti pertandingan rahasia antara Pangeran Ke Zha dan Duke Te Yi. Kau pasti sudah tahu hasilnya sekarang. Pangeran Ke Zha memenangkan kemenangan akhir di kompetisi itu.

Tidak peduli apakah kau percaya ini atau tidak, namun aku tidak mengikuti pertandingan ini untuk kekayaan dan kehormatan. Ini demi masa depan Kerajaan Aixia dan rakyat yang sangat banyak. Aku merasa kalau situasi terburuk dari masalah ini mungkin adalah peperangan. Sebuah peperangan yang hanya menguntungkan mereka yang menginginkan kekuatan, namun yang pastinya akan menderita adalah para rakyat. Aku tidak menyukai perang.

Pertandingan diselesaikan dengan yang terbaik dari lima pertandingan. Aku berpartisipasi di pertandingan ke empat.

Kau mungkin penasaran kenapa aku bisa mewakili pangeran di pertandingan, jadi aku akan memberitahumu sebuah rahasia lain. Aku adalah Magister ke sebelas yang ada di dunia sekarang. Apakah menurutmu sekarang aku cocok denganmu?

Lawanku saat itu adalah pemimpin keluarga Ri, Si Feng Ri. Dia adalah kakek dari Feng Liang. Itu adalah pertandingan yang paling sulit yang pernah aku alami. Kekuatannya sudah tidak bisa diukur dengan kemampuan standar seorang magician. Saat aku dipaksa untuk menghadapi kematian karenanya, yang muncul di dalam hatiku adalah dirimu. Saat itu aku berpikir, kalau aku selamat dari siksaan itu dan bisa melihatmu lagi, aku pasti akan menjagamu dengan baik dan tidak akan membiarkanmu pergi. Aku ingin memberitahumu bagaimana perasaan dalam hatiku yang sejujurnya kepadamu. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Hanya ada dirimu di hatiku.” (Setelah menulis sampai titik ini, aku menjadi emosional. Cintaku kepada Mu Zi bergejolak seperti lautan. Setetes air mataku jatuh ke atas kertas.)

Aku berhenti dan mengendalikan emosiku sebelum melanjutkan tulisanku.

“Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya seperti ada sebuah penghalang di antara kita. Itu seperti sebuah tembok. Aku tidak bisa melewati tembok yang kokoh itu. Itu membuatnya mustahil untuk mengetahui bagaimana perasaanmu yang sebenarnya kepadaku. Bisakah kau memberitahu perasaanmu kepadaku? Aku benar-benar ingin mendengar isi pikiranmu. Aku tidak akan memaksamu untuk memberitahuku, karena semua orang memiliki rahasia mereka masing-masing. Kau memiliki tempatmu sendiri. Itu karena aku mencintaimu, jadi aku tidak ingin memaksamu untuk menyatakan perasaanmu kepadaku.

Saat kau setuju untuk menjadi pacarku selama beberapa waktu, aku sangat bahagia. Namun, setelah itu aku menyadari kalau itu bukan karena kau mencintaiku, namun kau hanya tertarik kepadaku. Saat itu aku tidak merasakan apapun mengenai hal itu, tapi sekarang hatiku merasa gelisah memikirkan tentang itu.

Kalau kau khawatir tentang masalah yang menyangkut Hai Shui, itu tidak perlu, karena aku selalu menganggapnya sebagai saudariku sendiri. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke dalam hatiku, selain dirimu. Aku tidak tahu kapan kau akan membuka hatimu untukku. Aku juga tidak tahu apakah kau menyukaiku, tapi hatiku ini milikmu. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa disangkal lagi.

Mu Zi, bisakah kau menerimaku?”

Ditulis dengan cinta abadi untukmu, Zhang Gong.

Perasaanku bergejolak, seperti yang ada di dalam surat. Aku memegang surat itu dan menatapnya; tidak tahu apakah Mu Zi akan menerimanya atau tidak.

Saat aku melihat Mu Zi, dia sedang melihatku. Aku tidak tahu kalau air mata di surat itu sudah menggerakkan gadis yang ada di sebelahku.

Mu Zi mengambil surat itu dari tanganku dan membacanya.

Aku tidak berani melihat ke arahnya. Aku takut kalau dia akan menolakku. Surat itu tidak sama seperti surat-suratku yang sebelumnya. Kali ini, aku sudah menggunakan seluruh hatiku saat menulis surat ini. Kalau aku tidak bisa menempatkan hatiku, aku tidak tahu apakah aku bisa menerima penolakannya. Aku menundukkan kepalaku dan menunggu, seolah aku adalah seorang tahanan yang akan menghadapi pengadilan hidup atau mati. Aku sangat gugup saat aku menunggu.

Setelah waktu yang sangat lama, sebuah tangan yang lembut dan sedingin es menggenggam tanganku yang berkeringat karena aku gugup. Aku mengangkat kepalaku dan melihat kalau Mu Zi sedang melihatku. Ini adalah pertama kalinya aku melihat berbagai perasaan datang dari tatapan matanya.

Aku berbisik dengan gelisah, “Apakah kau menerimaku?”

Bibir Mu Zi melengkung, menunjukkan kebahagiaan dan menganggukkan kepalanya perlahan. “Orang bodoh!”

Aku merasa seolah duniaku langsung berubah sepenuhnya dengan cepat. Sekelilingku dipenuhi warna-warni. Aku menggenggam tangannya erat dan bergumam, “Apakah ini nyata? Benarkah?”

Wajah Mu Zi memerah dan berbisik. “Kita masih berada di kelas, jadi kendalikan dirimu sedikit.”

Aku mengangguk dengan mantap dan memberikan sebuah ciuman ke tangan Mu Ziyang sedang aku genggam. Wajah Mu Zi memerah dan tampak seperti sebuah apel merah. Dia berseru, “Apa yang kau lakukan? Aku baru saja mengatakan kepadamu untuk mengendalikan dirimu, tapi kau…”

Aku menjawab, “Maafkan aku, tapi aku… aku terlalu bahagia.”

Mood Mu Zi sedikit menghilang, “Aku tidak tahu apakah aku membuat pilihan yang tepat. Apakah kita memang bisa bersama untuk selamanya?”

Aku mengangguk dengan mantap dan menggenggam tangan Mu Zi yang mungil, lembut dan berkeringat dengan erat. “Tentu saja kita bisa! Aku tidak tahu apa yang terjadi di masa depan dan aku pasti akan menemui kesulitan dan masalah, namun aku akan terus menggenggammu erat  dan melindungimu selamanya.”

Mu Zi tersenyum dengan keindahan yang tidak biasanya. Dia menggenggam tanganku dan berkata, “Kau harus mengingat apa yang kau katakan hari ini!”

Aku berkata dalam kondisi melamun, “Mu Zi, senyummu sangat indah.”

Mu Zi menjawab, “Apanya yang indah? Kau sangat menyebalkan. Aku tidak tahu bagian apa dari diriku yang membuatmu jatuh cinta kepadaku.”

Aku berkata tanpa memikirkannya, “Aku menyukai seluruh bagian dari dirimu!”

Mu Zi menatapku, namun wajahnya penuh kegembiraan. “Aku masih punya banyak hal yang tidak bisa aku ungkapkan kepadamu. Kau akan mengetahuinya di masa depan. Aku benar-benar berharap kita bisa menyelesaikan semua masalah kita.” Dia menghela nafas dan berkata, “Sebenarnya, Hai Shui lebih cocok denganmu dibandingkan aku. Dia lebih cantik dan latar belakang keluarganya juga sangat istimewa. Aku bisa melihat dengan jelas kalau dia sangat mencintaimu. Kenapa kau tidak mencoba menerimanya saja?”

Translator / Creator: Veve