December 24, 2016

Child of Light – Volume 4 / Chapter 22

 

Two Tender Encounters

Aku terbangun di pagi hari dan mulai menggerakan tubuhku untuk pemanasan sebelum melatih Ascending Dragon Battle Spirit yang diajarkan Zhan Hu kepadaku. Battle spiritku sudah meningkat pesat tanpa aku sadari. Setelah melakukan banyak usaha, aku berhasil melayang di atas tanah. Battle spirit dengan cepat keluar dari bawah kakiku. Aku sangat terkejut bahwa aku bisa melayang, meskipun aku hanya bisa mempertahankannya selama lima menit. Itu sangat luar biasa!

Suasana hatiku sudah sedikit lebih baik. Saat aku masuk ke kelas, itu adalah kelas mage tua itu. Aku duduk di tempat dudukku tanpa melihat sedikitpun ke arah Mu Zi.

Mage tua itu berkata, “Aku akan memulai kelasnya sekarang. Hasil ujian kemarin sudah keluar. Rata-rata, semua murid melakukan tesnya dengan baik dan lulus, tapi ada beberapa yang lulus dengan menggunakan cara yang tidak jujur. Aku harap kalian tahu kalau kemalasan tidak akan membawa kalian kepada masa depan yang baik. Baiklah! Hari ini aku akan mengajar…”

‘Sangat jelas kalau dia berbicara tentang diriku tapi aku hanya akan mengabaikannya karena ujian sudah selesai.’

Mu Zi menyikut sisi tubuhku dan berbisik, “Apakah kau masih marah?”

Aku menjawab dengan datar, “Aku tidak marah. Kenapa aku harus marah? Kau benar tentang aku bukan siapa-siapa untukmu jadi bagaimana aku bisa marah kepadamu?”

Mu Zi membalas, “Kau benar-benar picik!”

Aku membalas dengan marah, “Aku picik? Kau menghabiskan delapan puluh koin berlianku kemarin.”

Wajah Mu Zi memerah dan dengan malu-malu berkata, “Kalau begitu kau tidak licik, jadi apakah kita bisa makan di sana untuk makan siang lagi?” Makan di sana lagi? Aku akan bangkrut dalam waktu kurang dari satu bulan dalam kondisi ini.

Aku membalas dengan marah, “Aku tidak merasa aku ingin makan jadi aku tidak pergi.”

Mu Zi mengerut dan berkata, “Aku tahu kau tidak akan ingin ke sana lagi. Kau sama saja dengan para pria yang mencoba menaklukan aku.” Setelah dia mengatakan itu, dia menundukkan kepalanya dengan sedih.

Aku mengalah dan berkata, “Baiklah, kita akan pergi makan siang nanti.”

Mata Mu Zi tampak cerah setelah dia mendengarnya, tetapi kemudian dia menjadi sedih lagi. “Aku rasa sebaiknya kita tidak pergi karena kau jadi harus membayar sangat banyak. Aku tidak tahu kenapa aku memiliki kebiasaan buruk menyukai makan makanan yang sangat banyak.”

Aku tergerak oleh wajahnya yang tampak sedih, dan berkata, “Ini bukanlah kebiasaan buruk jika kau tidak mencuri atau merampok. Itu hanya makan makanan jadi berhentilah merasa sedih. Kita akan pergi ke sana siang hari.”

Mu Zi mulai meneteskan air mata. “Zhang Gong, kau sangat baik. Terima kasih banyak! Apa yang akan kita makan untuk makan siang?” Setelah menanyakan itu, matanya terlihat cerah.

Aku tertawa pahit di dalam hatiku karena aku tidak bisa terlihat pelit. “Itu terserah padamu. Kita akan makan apapun yang kau inginkan.”

Mu Zi tampak gembira, “Yay!” Meskipun aku akan mengeluarkan sejumlah besar koin berlian, suasana hatiku tanpa diduga sangat membaik.

Aku berbisik kepadanya. “Kalau kau setuju untuk menjadi pacarku, aku akan mengajakmu makan setiap hari!”

Mu Zi melihatku dan berkata, “Apakah kau benar-benar akan mengajakku makan diluar setiap hari?”

Aku menjawab, “Ya!”

Mu Zi berkata, “Baiklah! Aku akan menjadi pacarmu sementara waktu, tapi kau harus memegang kata-katamu!”

Aku menepuk dadaku. “Tentu saja! Sebagai seorang laki-laki, bagaimana mungkin aku bisa menarik kembali kata-kataku?” ‘Sepertinya mengajaknya keluar untuk makan lebih efektif dibandingkan dengan memberinya surat cinta.’ Saat aku memikirkan itu, Mu Zi berkata, “Aku memiliki satu syarat, sebelum aku setuju menjadi pacarmu. Kau masih harus menulis surat cinta kepadaku setiap hari.”

‘Ah! Sepertinya dia sama sombongnya seperti gadis-gadis yang lain.’ “Tidak masalah! Aku akan mulai menuliskan satu untukmu sekarang.” Aku mengambil satu lembar kertas dan dengan cepat menulis di atasnya. Hatiku terisi penuh dengan perasaan kepadanya dan aku selesai menuliskan sebuah surat cinta untuknya dengan sangat cepat. Mengenai isinya, mereka dibuat cukup dangkal sebisa mungkin.

Mu Zi dengan senang membaca surat cinta itu. Dia berulang kali memperlihatkan ekspresi malu-malu di wajah yang kecilnya yang memerah.

Setelah membaca surat itu, dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku terkejut dan berkata, “Apa yang kau inginkan?”

Mu Zi menjawab, “Tolong berikan aku surat cinta yang sudah kau tulis untukku dulu. Aku tahu kau menyimpannya.”

Aku memperbolehkannya, sambil berkata, “Mereka ada di asrama. Aku akan memberikan itu kepadamu di siang hari.”

Setelah kelas pagi, kami pergi ke Ascending Jade Tide lagi. Itu benar-benar menyakitkan! Bahkan meskipun Mu Zi sudah mengatur apa yang ingin dia pesan, harganya masih lima puluh koin setelah diskon. ‘Jika ini terus berlanjut, suatu hari aku akan datang ke sini untuk mencuci piringnya!’

Setelah Mu Zi setuju untuk menjadi kekasihku, sikapnya kepadaku berubah. Dia terkadang menunjukkan ekspresi malu-malu, dan tidak memarahiku seperti yang dilakukannya dulu. Aku merasa senang.

Saat kami kembali untuk kelas di siang hari, Mu Zi, untuk pertama kalinya, tidak fokus di kelas; karena dia membaca surat yang sudah aku tuliskan untuk dia sebelumnya. ‘Sepertinya hubunganku dengan dia mulai akhirnya sudah menjadi awal yang baik dan dia juga mulai menerima diriku.’

Saat akhir dari kelas sudah dekat, Mu Zi bertanya, “Ayo kita makan di kantin malam ini?”

Aku menjawab, “Bagus! Aku belum pernah makan di kantin bersama denganmu sebelumnya.”

Saat kelas sudah selesai, kami pergi ke kantin. Tidak banyak murid di sana karena mereka yang tidak tinggal di asrama biasanya kembali pulang untuk makan. Kami mencari tempat yang tenang dan memesan beberapa makanan dan menikmati semua makanan itu.

Sambil aku menikmati makanan, aku bertanya kepada Mu Zi, “Mu Zi, bagaimana kau tidak bertambah gemuk setelah makan sangat banyak setiap hari?”

Mu Zi menatapku dan berkata, “Bagaimana mungkin aku tidak semakin gemuk? Aku jauh lebih gemuk dari yang dulu.”

Aku menjawab, “Benarkah? Aku tidak bisa melihatnya. Aku rasa akan lebih baik jika kau sedikit lebih gemuk.”

Saat itulah, sebuah suara yang lembut berkata, “Jadi kau makan di sini, Zhang Gong.” Aku menoleh dan melihat Hai Shui.

Aku bertanya dengan heran, “Bukankah kau seharusnya menikmati makan malammu di rumah? Kenapa kau ada di kantin?”

Hai Shui berjalan ke sisiku, tapi tidak menjawab pertanyaanku. Dia tampak cemberut ke arah Mu Zi. “Zhang Gong, kenapa kau bersama Mu Zi? Mu Zi, bagaimana kabarmu?”

Mu Zi tersenyum dengan sopan dan menjawab, “Jadi itu Hai Shui! Ayo kita makan bersama!” ‘Aku penasaran kenapa dia tidak heran tentang bagaimana Hai Shui tahu tentang diriku.’

Hai Shui meletakkan tangannya di bahuku dan tersenyum kepada Mu Zi. “Apakah kau dan Zhang Gong sudah biasa satu sama lain untuk makan bersama?”

Mu Zi menjawab dengan malu, “Bagaimana mungkin aku bisa terbiasa dengannya? Kami hanya teman sekelas.”

Aku merengut dan berkata dengan marah, “Mu Zi, bagaimana kau bisa seperti itu? Bukankah kau setuju untuk menjadi kekasihku pagi ini?”

Mu Zi tersenyum. “Kenapa kau marah lagi? Aku hanya kekasihmu untuk sementara! Aku masih harus mengujimu.”

Translator / Creator: Veve