December 23, 2016

Child of Light – Volume 4 / Chapter 19

 

 For the Sake of the People

Guru Di mengusap janggutnya dan menganggukkan kepalanya dengan ekspresi setuju. Setelah mendengar apa yang aku katakan, dia mulai tertawa untuk waktu yang lama.

Aku terkejut dan bertanya dengan terburu-buru, “Guru, bagaimana perasaanmu? Apakah anda merasa sakit?”

Guru Di perlahan-lahan menjadi tenang dan berkata, “Bagus! Bagus! Bagus! Kau memang layak menjadi muridku. Zhang Gong, analisismu sangat mendetil. Aku akan melakukan apa yang kau minta. Aku akan pergi dan menemui Pangeran Ke Zha dan beberapa teman lama besok. Teman-teman lama ini tidak lain adalah kepala sekolah Advanced Magic Academy, spatial Magister, Chuan Song Zhen, dan wakil kepala sekolah Royal Advanced Magic Academy, fire Magister, Si Di Lie!”

Aku berdiri dan membungkuk dalam-dalam kepada Guru Di. “Guru, aku berterima kasih mewakili seluruh rakyat yang tinggal di Aixia. Dengan guru yang lain dan anda yang bergabung, kedua pihak masing-masing akan memiliki empat Magister. Ini akan menjadi kegiatan tawar-menawar selama negosiasi.”

Guru Di tersenyum. “Anak bodoh! Itu bukan empat Magister melawan empat Magister, tapi ini lima Magister melawan empat Magister. Jangan lupa kalau dirimu sendiri juga adalah seorang Magister. Namun, kau harus tetap menyimpan rahasia ini dan tidak memberitahu siapapun tentang itu. Kau mengerti? Benar juga! Aku mendengar kau memberikan luka serius kepada cucu dari keluarga Ri. Bagaimana itu bisa terjadi?”

Aku tersenyum malu dan berkata, “Benar.” Aku menceritakannya kepada Guru Di. Guru Di mengerut, “Kau benar-benar bodoh! Bahkan jika dia memiliki sihir spesial, kau tidak perlu menang dengan keras seperti itu! Kau seorang Magister. Pasti ada perbedaan di kualitas kekuatannya!”

Aku terkejut. “Apa yang seharusnya aku lakukan?”

Guru Di menjelaskan. “Sebenarnya itu sangat mudah. Apakah kau sudah melupakan teknik magic fusion yang kau ciptakan sendiri? Kau bisa menggunakan itu untuk meningkatkan kekuatan magic spell milikmu! Ditambah lagi, kau tidak menggunakan fishion spell itu, tapi memilih untuk menggunakan large area spell di pertarungan satu lawan satu? Apa kau masih ingat bola api yang Ma Ke gunakan padamu? Itu adalah metode yang bagus, tapi kau tidak menggunakannya! Kau benar-benar bodoh! Kau tidak akan bisa mengalahkan satu dari sepuluh Magister di kondisimu saat ini. Pertarungan dengan Feng Liang akan menjadi sebuah pengalaman untuk kau pelajari. Lain kali, berpikirlah sedikit sebelum kau bertindak. Kau bukan hanya harapanku, tapi juga harapan seluruh ras manusia! Apa kau mengerti?” Tampak jelas kepadaku kalau dia menginginkan aku menjadi seorang Grand Magister dari apa yang dia katakan!

‘Itu benar! Kenapa aku tidak memikirkannya?’ Aku menundukkan kepalaku dan berkata, “Terima kasih untuk bimbingannya. Aku pasti akan bekerja lebih keras untuk berlatih di tempat itu!”

Guru Di menjawab, “Kau tidak perlu kembali ke asrama hari ini, tinggalah malam ini di sini.”

Aku tersenyum. “Itu luar biasa! Aku juga ingin menemanimu.”

Malam yang sunyi berlalu dan pagi di keesokan harinya datang. Aku berangkat menuju Advanced Magic Academy. Sebelum kelas dimulai, aku pergi menemui Ma Ke dan memberitahu dirinya tentang berita baik tersebut. Ma Ke menjadi sangat kegirangan, dia bolos seluruh kelas untuk pulang ke rumah dan memberitahu ayahnya tentang kabar itu, yang juga membuat ayahnya bersiap untuk menyambut kedatangan Guru Di.

Setelah menyelesaikan masalah itu, aku sangat bahagia. Wajahku penuh dengan kegembiraan yang luar biasa!

Mu Zi melihatku dengan penarasan. “Apa yang terjadi sampai membuatmu sebahagia ini?”

Aku mendekat ke arahnya dan berhenti saat aku sudah sangat dekat ke wajahnya. “Karena kau tidak menganggapku hina seperti yang dulu lagi. Aku sangat bahagia dan bahkan bermimpi tentang dirimu.”

Mu Zi mendorongku menjauh. “Kau sangat menyebalkan. Jaga jarakmu! Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kalau itu mustahil untuk kita bisa bersama? Lupakanlah aku!”

Aku kembali mendekat ke arahnya. “Kenapa mustahil? Masalah ini tergantung kepada individualnya. Selama kau menyukaiku, itu sudah cukup. Jadi? Apakah kau sudah terpikat oleh ketampananku, bakatku dan kekuatanku yang hebat?”

Wajah Mu Zi memerah. “Siapa yang terpikat olehmu? Jaga jarakmu! Kita ada di kelas. Tidak baik kalau ada orang lain yang melihat ini!”

Aku tertawa. “Kalau begitu, jika ini bukan di ruang kelas, bolehkah aku dekat denganmu?”

Wajah Mu Zi menjadi lebih memerah lagi. “Kau menyedihkan! Menggunakan kata-kataku sendiri untuk melawanku! Aku tidak bermaksud begitu. Kau harus duduk sekarang – kelas sudah dimulai. Jangan bilang kalau kau lupa bahwa guru akan menguji kita hari ini?” Ini adalah pertama kalinya Mu Zi menunjukkan sisi kekanakannya padaku.

‘Ah! Aku benar-benar lupa tentang itu. Apa yang harus aku lakukan?’ Aku menggenggam tangannya dan mengguncangnya. “Kau harus menolongku! Aku tidak ingin ditegur oleh orang tua keras kepala itu lagi!” Aku merasakan kelembutan kulitnya dan menjadi bersemangat, meskipun hanya melalui bajunya.

Mu Zi mengibaskan tanganku dan tidak melihat ke arahku. “Hmph! Kau menuai apa yang kau tabur! Itu salahmu tidak mendengarkan pelajaran di kelas. Aku tidak akan membantumu!”

“Mu Zi, kau adalah orang yang sangat baik! Kumohon tolong aku! Jika bukan karena kau, orang tua itu tidak akan pernah memilihku!”

Mu Zi hanya melihatku dengan matanya yang indah, yang mengatakan: Beraninya kau berkata seperti itu? Dia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan memberikannya padaku. “Sisanya terserah padamu. Poin utamanya ada di sini.”

Aku menerimanya dengan gembira dan melihat di kata-kata yang padat dan tidak rapi tersebut. ‘Aku memiliki cara untuk berbuat curang!’ Aku memberi tanda isyarat kepada Mu Zi, bermaksud untuk memeluknya, tapi dia langsung menghindar. “Apa yang kau lakukan? Jika kau terus bersikap tidak jelas seperti ini, aku akan mengabaikanmu selamanya!”

Aku merasa disalah-artikan. “Aku hanya ingin mengungkapkan rasa terima kasihku padamu. Aku tidak akan melakukannya lagi jadi tolong berhentilah marah.”

Mu Zi menghela nafas. “Aku benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana denganmu! Guru sudah datang! Cepat ke tempat dudukmu!”

Orang tua itu mengeluarkan setumpuk kertas dan masuk ke dalam kelas. Dia memeriksa kelas sebelum berkata, “Ini adalah ujian untuk pengetahuan magic kalian. Aku harap semua orang sudah siap untuk ujian ini!” Setelah berkata demikian, dia melihat kepadaku dengan sengaja.

Ujiannya sudah diserahkan, dan semua pertanyaannya adalah tentang advanced spell. Sebenarnya, ini tidak terlalu sulit untukku. Namun, sudah dua tahun berlalu sejak terakhir kali aku mendengarkan pelajaran di kelas. Aku hanya mengingat magic advanced itu samar-samar. Aku akan lebih baik dengan ujian tentang penggunaan sihir. Untungnya aku masih memiliki catatan kecil yang Mu Zi berikan kepadaku.

Aku menempelkan kertas itu ke bangku seorang murid yang ada di hadapanku. Mu Zi langsung berbisik, “Kau terlihat sangat mencolok!”

Aku menbalasnya, “Kita tidak boleh berbisik-bisik selama ujian. Kedua telingamu dan hidungmu tidak boleh terganggu oleh peristiwa yang lain, cukup fokus kepada ujian ini dengan hati dan jiwamu!” Mu Zi tampak terkejut dengan bakat sastraku. ‘Melihat ekspresi terpesona miliknya, aku diam-diam merasa senang. Ini adalah sesuatu yang aku baca di buku Three Hundred Poems dari mansion milik Pangeran dan hanya satu-satunya kata-kata ungkapan yang aku ingat. Aku berhasil menggunakannya hari ini! Haha!’

Aku menulis sebanyak yang aku bisa. Setelah beberapa saat, aku tampak tidak puas dan hanya menempatkan kertas berisi jawaban itu tepat di sebelah kertas ujian dan menulis isinya.

Translator / Creator: Veve