December 22, 2016

Child of Light – Volume 4 / Chapter 16

 

Audience With The Prince

Setelah pelajaran pertama di hari itu berakhir, Ma Ke datang mencariku. Melihat wajahnya yang serius, aku tahu kalau sesuatu terjadi.

Dia menarikku ke tempat terpisah. “Bos, sesuatu yang buruk terjadi. Saat aku kembali untuk memberitahu ayahku tentang kau bertemu dengan ras Magic, ayahku terkejut dan mengatakan padaku untuk membawamu menemuinya. Bagaimana menurutmu?”

Aku merengut. “Apakah benar-benar seserius itu? Bagaimana kondisi Kaisar? Apakah itu seburuk yang Hai Shui katakan kepada kita?”

Ma Ke menganggukkan kepalanya dengan serius, “Ayahku berkata kalau Kaisar hanya memiliki waktu sekitar tiga sampai lima bulan lagi untuk hidup. Kaisar juga tidak memiliki putra untuk diwariskan tahtanya. Saat dia meninggal, keadaan dalam kerajaan akan berubah dengan drastis. Kompetisi untuk merebut tahta akan sangat sengit.”

Aku berpikir sesaat. “Baiklah! Aku akan menemui ayahmu. Kapan kita akan berangkat?”

Ma Ke berkata, “Malam ini. Setelah sekolah usai, aku akan datang dan mencarimu.”

Aku mengangguk. “Baiklah!”

Setelah kembali ke kelas, suasana hati menjadi serius. ‘Jika kaisar meninggal, ada kemungkinan besar kalau kerajaan Aixia akan terpisah-pisah. Itu akan menjadi skenario paling buruk yang tidak ingin aku lihat. Sekarang ada tiga kubu kekuatan utama. Jika salah satunya jatuh, itu akan memberi pengaruh besar terhadap kerajaan Aixia. Sebenarnya, ayah Ma Ke, Ke Zha Ao Er, seharusnya menjadi kandidat teratas dalam mewarisi tahta karena dia adalah salah satu saudara dari yang memiliki hubungan darah dengan kaisar. Kekuatannya juga lebih besar dari yang dimiliki Kaisar. Tapi, keadaan saat ini, kedua kubu utama pasti memiliki keinginanan untuk bersatu. Akan sangat sulit bagi Pangeran Ke Zha Ao Er untuk bertanding melawan mereka, terutama Duke Te Yi yang memiliki Royal Magic Union sebagai kartu terbaiknya saat ini. Ini benar-benar membuat frustasi!’

Aku menggelengkan kepalaku. ‘Apa hubungannya denganku? Ini tidak seperti aku juga berkompetisi untuk mendapatkan tahta itu. Tapi tidak, jika perang benar-benar terjadi, bukankah itu berarti keadaan akan menjadi sangat buruk? Apakah ada jalan untuk menghindari ini? Sebagai seorang individual, apa yang bisa aku lakukan? Bahkan meski aku adalah seorang Magister, tidak ada harapan untuk menghentikan perang ini. Selama pertemuan dengan ayah Ma Ke malam ini, aku akan mencoba mencari tahu orang seperti apa dia itu.’

Mendadak, ada selembar kertas dihadapanku. Aku duduk, sedikit terkejut untuk sesaat, sebelum mengambil kertas itu dan membacanya. Inilah yang tertulis di atas kertas itu, “Apa yang kau pikirkan sampai sedalam itu?” Itu dari Mu Zi. Itu benar-benar dirinya! Aku melihat ke arahnya dengan semangat yang menggebu-gebu, tapi dia hanya terus melihat ke papan tulis seolah dia tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya.

Aku dengan cepat menulis, “Beberapa masalah penting, mengkhawatirkan beberapa hal terkait kerajaan. Ini pertama kalinya kau menulis sebuah surat untukku. Ini membuatku sangat bahagia. Mungkinkah kau sudah jatuh cinta padaku?”

Setelah aku menulisnya, aku memberikannya kepada Mu Zi. Dia membacanya dan melihat ke arahku, sebelum berbisik, “Kau hanya bercanda! Ada masalah penting apa mengenai kerajaan? Semua yang kau lakukan hanyalah bermain. Aku belum pernah melihatmu memperhatikan pelajaran di kelas dan sekarang kau khawatir dengan masalah besar yang terjadi di kerajaan ini? Aku hanya khawatir kalau guru akan memanggilmu jadi aku menulis sebuah catatan untuk mengingatkanmu untuk mendengarkan dengan baik. Jangan salah mengerti, aku tidak menyukaimu.” Setelah dia mengatakan itu, wajahnya memerah untuk sesaat.

Ekspresinya menjadi sebuah bukti kalau kesuksesan semakin mendekat.

Ma Ke dan aku meninggalkan akademi dan langsung pergi menuju mansion milik Pangeran malam hari itu.

“Rumahmu sangat besar!” Saat aku melihat mansion milik Pangeran yang mengagumkan, aku ternganga karena kagum.

Ma Ke tersenyum kecut. “Yah, ayahku adalah seorang pangeran jadi rumahnya memiliki standar yang lebih tinggi. Ayo cepat masuk ke dalam!” Di pintu masuk, saat penjaga yang bertugas melihat Ma Ke, mereka langsung membungkuk dengan hormat. “Selamat datang kembali, Tuan Muda Kedua!”

Aku bertanya dengan penasaran, “Kenapa mereka tidak memanggilmu Pangeran Muda?”

Wajah Ma Ke memerah. “Bos, berhentilah meledekku! Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seorang pangeran muda? Aku akan tetap menjadi saudaramu. Cepatlah pergi dan beritahu ayahku dan katakan kalau aku sudah membawa seorang magic scholar Zhang Gong.” Kalimat yang kedua ditujukan kepada penjaga. Ma Ke berkata aku hanya seorang magic scholar sehingga dia tidak menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya.

Penjaga itu melihatku dengan hormat. ‘Anak muda jaman sekarang sangat luar biasa. Dia bisa menjadi seorang magic scholar di usianya yang masih muda.’ Kemudian dia berbalik dan berlari ke dalam mansion untuk menyampaikan pesannya.

Ma Ke memimpin jalan di depanku. Sambil kami berjalan, dia berkata, “Pertama aku akan membawamu ke ruang belajar ayahku karena dia biasanya bertemu dengan tamu-tamunya di sana.”

Aku tersenyum dan membalasnya. “Di rumahmu, aku pasti akan mendengarkanmu. Ayo kita pergi!”

Tinggi interior dalam mansion itu sangat tinggi. Itu sangat menarik dan memikat. Ada sebuah taman batu dan sebuah hutan di dalam mansion yang bergetar di bawah cahaya bulan. Setiap dua puluh meter terdapat seorang penjaga yang berdiri. Setelah berjalan beberapa saat, kami akhirnya sampai ke ruang belajar yang tadi dibicarakan Ma Ke. ‘Bagaimana ini bisa disebut ruang belajar? Sebaliknya, Ini seperti sebuah perpustakaan kecil. Ukuran diameternya lima ratus meter dan banyak rak buku tinggi mengelilingi ruangan itu. Banyak buku yang berbaris rapi di atas rak.’

Ma Ke berkata padaku, “Bos, kau bisa duduk dulu. Aku akan memeriksa apakah ayahku sudah datang atau belum.” Sambil mengatakan itu, dia membimbingku ke sofa yang ada di tengah untuk tamu.

Setelah Ma Ke keluar aku bosan karena aku tidak bisa melakukan apapun. Aku berdiri dan secara acak memilih sebuah buku dari rak buku. Judulnya adalah Three Hundred Poems. Buku itu terlihat tua karena hanya diikat dengan seutas benang. Halamannya juga sudah berwarna kuning.

‘Aku membuka buku itu dan menyadari kalau itu hanyalah berisi puisi-puisi lama yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku membaca dengan cepat di setiap halaman buku itu dan menemukan kalau buku itu cukup menarik.’ Saat aku ingin membaca lebih banyak dari buku itu, seorang penjaga mengumumkan dari luar ruangan. “Yang Mulia tiba!”

Aku dengan tergesa-gesa mengembalikan buku itu ke tempatnya dan kembali ke sofa. Saat pintu dibuka, Ma Ke yang pertama memasuki ruangan, namun berjalan ke pinggir. Di belakangnya, seorang pria paruh baya dengan sabuk yang disulam dengan batu jade berjalan dengan tegap ke dalam ruang belajar. ‘Dia tampaknya memiliki penampilan dan sikap yang sangat baik. Dia terlihat mirip dengan Ma Ke, tapi memiliki aura kerajaan.’

Saat dia masuk ke dalam ruangan dan melihatku, matanya tampak bersinar, aku dengan sopan juga menatap ke arahnya. Tampak jelas kalau magic level milik seorang Pangeran tidak rendah. Dia tertawa. “Kau pasti Zhang Gong! Kau sangat muda! Silahkan duduk. Tidak perlu terlalu sopan!”

Aku membungkuk dan berkata, “Yang Mulia, suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda.”

Pangeran itu berkata, “Kau bisa menganggap rumahku sebagai rumahmu sendiri. Tidak perlu terlalu beretika. Silahkan duduk. Ma Ke, kemarilah dan bergabunglah bersama kami.” Sambil mengatakan itu, dia yang pertama duduk.

Saat aku dan Ma Ke duduk berhadapan dengan Pangeran, pelayan menyajikan teh pada kami. “Kalian semua bisa beristirahat malam ini. Tanpa perintahku, tidak ada yang boleh berada dalam jarak tiga puluh meter dari ruang belajar ini.”

“Dimengerti!” Para pelayan dan penjaga semua pergi.

….

Pangeran menyeruput sedikit tehnya sebelum mengangkat kepalanya dan berkata, “Aku mendengar dari putraku, Ma Ke, bahwa kau sudah mencapai level seorang magister. Ini benar-benar patut untuk dirayakan!” ‘Kata-kata pangeran memberiku perasaan yang baik. Sejak masuk ke dalam ruangan, dia sangat sopan, dan dia tidak langsung bertanya tentang ras magic, tapi memberiku selamat lebih dahulu karena sudah menjadi seorang Magister. Tampak jelas kalau dia sangat menghargai orang-orang yang berbakat.’

Translator / Creator: Veve