November 23, 2016

Child of Light – Volume 3 / Chapter 4

 

First Encounter With Magic Race

Belum selesai bicara, dia terjatuh.

Itu tidak mungkin. Holy Light milikku adalah jenis defense spell, tidak memiliki kekuatan serangan apapun. Bagaimana ini bisa terjadi? Saat aku benar-benar kebingungan, perempuan muda yang berjaga di sana mengulurkan tangannya.

Dia merapalkan banyak sekali mantra. Di tangan perempuan itu muncul sebuah sphere berwarna violet gelap. Dengan sekali ayunan, dia tidak menyerangku namun mengarahkan tangannya pada Ling Zi. Ling Zi tampak jauh lebih baik. Dia tidak lagi gemetaran dan mulai menarik nafas dalam-dalam.

Magic apa itu? Aku belum pernah melihatnya. “Nona, magic apa yang kau gunakan? Aku belum pernah melihat yang seperti itu.” Aku bertanya dengan penasaran.

Suara dari perempuan muda bersuara indah itu muncul, “Jangan biarkan dia lari. Bunuh dia.”

“Berhenti. Aku hanya bicara beberapa kata dan kalian semua ingin membunuhku. Kalian semua terlalu kejam.” Saat aku selesai bicara, mereka semua sudah mengepungku. Aku terus-menerus memperkuat pertahananku, menunggu untuk melihat bagaimana mereka akan menghadapiku.

Pemimpin mereka belum bergerak, hanya delapan orang yang mengepungku dibawah perintahnya. Mereka mulai membentuk lingkaran, aku yakin mereka akan menggunakan kemampuan beladiri. Kemudian, aku menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak bergerak. Ini buruk. Mereka mulai merapalkan mantra.

Sebuah kabut hitam pekat muncul dari tubuh mereka dan menyelimutiku. Aku melindungi tubuhku dengan Holy Light dan saat kabut hitam itu menyentuh Holy Lightku, terdengar suara mendesis. Tampaknya itu adalah asam yang bersifat korosif. Aku mendadak merasakan tekanan yang meningkat drastis. Itu sangat hebat tapi Holy Light terus bertahan.

“Wahai light element yang dahsyat, aku memintamu untuk mengizinkanku meminjam kekuatanmu. Ijinkan seluruh cahaya yang ada di bumi ini bersinar!” Brilliant Empire yang sekarang sudah tidak seperti yang dulu, aku sudah bisa mengendalikan kekuatan dan posisi sihir ini. Jadi, aku mengelilingi mereka menggunakan sebuah area release spell. Dengan merapalkan mantra, aku perlahan-lahan melayang dari tanah, diliputi cahaya putih yang membutakan. Aku mengangkat kepalaku dan gold dan yang ada di upper dantian milikku meliputi tubuhku dengan sepertiga dari magic powerku. Cahaya yang ada di sekitarku menyusut untuk sesaat dan dengan cepat meledak keluar. Cahaya putih dengan cepat menelan kabut hitam tersebut dan balik menyerang delapan wanita itu. Aku menahan diri dengan tidak menggunakan seluruh kekuatannku. Aku tidak ingin membunuh. Aku masih memiliki sedikit ketakutan yang tersisa saat aku mengingat kejadian ketika aku pertama kali membunuh.

Di depan delapan perempuan yang kondisinya kritis ini, pemimpin mereka dengan cepat membuat sebuah cincin energi berwarna ungu, membungkus mereka dan melindungi mereka dari serangan Brilliant Empire milikku. Defensive spell mereka terlihat terburu-buru. Meskipun bereaksi terhadap seranganku, mereka tetap terluka.

Kedelapan jubah mereka sudah dihancurkan oleh benang dari light element, memperlihatkan magic armor mereka. Beberapa retakan mulai terlihat pada baju armor mereka. Ah, perempuan-perempuan yang cantik. Bukan hanya penampilan luarnya saja yang cantik tapi juga tubuh mereka sangat sempurna. Bahkan aku, yang tidak terlalu tertarik pada wanita, jantungku berdegup kencang karenanya.

Tapi saat aku mengangkat kepalaku, aku kembali terkagum. Sangat mustahil untuk mendeskripsikan dengan kata-kata pemandangan yang indah di hadapanku. Kecantikan ini tidak seperti danau Serene Dream. Untuk membandingkan keduanya sama seperti membandingkan bara api yang berkilau dan bulan yang bercahaya terang.

Kondisi pemimpinnya tidak seperti delapan bawahannya. Tapi jubah yang menyembunyikan wajahnya sudah terlepas, memperlihatkan wajah cantiknya yang tidak bisa dideskripsikan itu. Inilah pemandangan indah yang membuatku terpesona.

Sangat cantik, amat sangat cantik. Dari semua perempuan yang pernah aku temui, mereka semua tidak dapat dibandingkan dengannya. Dia memiliki keindahan yang tidak biasa tapi sangat lembut dan anggun. Jika seluruh wanita di dunia dibandingkan dengannya, hanya dia yang akan berdiri di atas semuanya. Aku yang belum pernah tergoyah karena wanita sebelumnya, aku mulai berliur.

Wanita cantik itu melihatku seperti orang jahat dan menyadari jubahnya yang telah terjatuh, dengan terburu-buru menutupi dirinya. “Guru, cepatlah, bantu aku membunuh orang genit ini.”

Suara yang mengerikan muncul, “Siapa yang berani membuat putri kecilku marah?” Angin dingin berhembus, suara yang dingin seperti es menghilangkan “semangat” di hatiku, tidak sedikitpun tersisa.

Dari suara yang mengerikan itu, sebuah asap hitam muncul. Kemudian di samping perempuan cantik itu muncul sebuah tongkat bambu. Untuk menyebutnya bambu mungkin sedikit berlebihan. Meskipun aku tidak dengan jelas melihat tingginya, tampaknya dari seluruh badannya, hanya telapak tangannya yang bisa disebut besar.

“Guru, itu dia. Dia sudah tahu rahasia kita dan sudah melihat wujud kita sebenarnya. Cepatlah, bantu aku membunuhnya.” Wanita cantik ini tidak bisa dicintai. Bagaimana mungkin suara semanis itu mengatakan kata-kata yang sekejam itu, dan sangat siap membunuh?

“Nona yang cantik, kau sangat kejam. Meski begitu, aku suka itu. Bagaimana jika kita berteman?” Aku dengan sembrono berusaha menghentikannya.

Tanpa menunggu perempuan itu bicara, tongkat bambu itu melayang ke atas. Sambil mendekatiku, dia melepaskan sebuah tekanan yang sangat kuat, membuatku kesulitan bernafas. Seorang master! Aku mencoba bertahan. Seorang master sejati. Selain Guru Di atau Guru Long, Aku belum pernah bertemu orang lain yang bisa membuatku merasakan tekanan seperti ini.

Aku langsung waspada, lalu melapisi tubuhku dengan light element dan sihir pertahanan.

Suara yang suram dan tidak menyenangkan itu terdengar lagi, “Jadi ini adalah seorang bocah penyihir light element. Bukankah mereka yang belajar tentang light magic hanya beberapa saja jumlahnya?”

“Siapa bilang hanya beberapa? Bagaimana kau tahu, tongkat bambu? Saat ini, light magic sangat populer di seluruh benua dan aku yang paling buruk!” Humph. Aku harus menghadapi dan memperdayanya. Tapi aku tidak menyangka bahwa kata-kata ini sangat tepat dan membuat manusia terhindar dari bencana.

“Apa katamu, benarkah begitu? Orang-orang di benua ini menggunakan light magic? Informasi yang aku terima tidak seperti itu.” Dia benar-benar terus terang dan blak-blakan, tidak mampu membedakan kenyataan atau kebohongan.

Aku memasang wajah serius dan berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Tentu saja ini benar, apa aku memiliki alasan untuk berbohong padamu?” Tentu saja aku punya, kau tidak bisa membedakan antara kebohongan dan kebenaran, bahkan dengan hidupmu sebagai taruhannya, hehe. Di dalam pikiranku aku tertawa jahat.

“Guru, jangan dengarkan omong kosongnya. Bunuh dia lebih dulu, kita tidak bisa membiarkannya membongkar rahasia kita.” Perempuan cantik itu berteriak dari samping. Perempuan ini sangat tidak menginginkanku. Tidak ada satu hal pun yang baik dari wanita cantik. Di masa mendatang, sebaiknya aku tidak memilih wanita cantik untuk menjadi istriku.

“Baiklah. Pertama akan aku selesaikan ini, kemudian kau keluar dan memastikannya.” Tongkat bambu itu mulai merapalkan mantra, “Dewa kegelapan yang agung, pelayanmu dengan rendah hati meminta kepadamu. Jadilah pelahap yang tidak pernah puas. Untuk ini, aku siap menyerahkan jiwaku.”

Meskipun aku sangat cuek, aku bisa merasakan bahwa mantra ini menggunakan dark magic. Aku berteriak dengan keras karena kaget, “Magic Race!”

Sebuah bayangan hitam keluar belakang dari tongkat bambu itu dan terbang ke arahku. Aku langsung menggunakan Brilliant Empire dan mencoba menghentikan serangannya. Tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi. Bayangan hitam itu tidak melawan Brilliant Empire namun berubah menjadi penutup yang sangat besar, mengumpulkan pilar cahaya Brilliant Empire dan menangkapnya. Aku kehilangan kendali atas sihirku dan dengan cepat light element yang terperangkap di dalam lapisan kegelapan perlahan memudar.

Translator / Creator: Veve