December 8, 2016

Child of Light – Volume 3 / Chapter 29

 

A Journey’s Preparation

Kata-kata Xing Ao menghangatkanku. Sambil tersenyum, aku berkata, “Tenanglah. Kita semua adalah bagian dari battle squad yang sama, jadi aku tidak akan pernah melupakan kalian semua. Dong Ri dan Xiu Si, bagaimana keadaan mereka?”

“Meskipun luka yang dideritanya sangat parah, nyawa mereka tidak terancam. Jadi kita semua akan baik-baik saja setelah beristirahat sebentar. Sudah cukup bicaranya. Kau harus pergi beristirahat sekarang dan aku akan memanggilmu saat waktu makan sudah tiba.”

“Baiklah, aku sangat kesulitan menjaga mataku tetap terbuka, jadi aku akan tidur dulu.” Semua masalah sudah diselesaikan. Meski tidak sempurna, itu tetap memuaskan. Merasa nyaman dan tenang, aku masuk ke dunia mimpi dengan cepat.

Setelah entah berapa lamanya waktu berlalu, aku mencium aroma yang sangat lezat. Aroma yang memikat itulah yang membangunkan aku dari mimpiku. Aku membuka mataku dalam keadaan linglung. Wa! Semua orang sudah mulai makan sekarang. Dengan lemah aku bertanya, “Ah, apa masih ada bagian untukku? Aku sangat lapar.”

Guru Wen juga ada di ruangan itu. Setelah melihat bahwa aku sudah bangun, beliau tersenyum dan berkata, “Kau bangun tepat di saat aku akan memanggilmu. Kau benar-benar terlalu rakus. Ayo bangun dan makanlah.” Seorang pelayan membantuku untuk berada pada posisi setengah duduk dan setengah berbaring sebelum menyiapkan sebuah meja kecil di atas tempat tidur. Dia kemudian membawakan semangkuk sup pekat dan beberapa kue kering.

Dengan penuh rasa malu aku berkata, “Maafkan aku Guru Wen, aku tidak berhasil menyelesaikan misinya.”

Guru Wen menggelengkan kepalanya dengan perlahan kemudian berkata, “Nak, kau sudah berjuang dengan sangat baik. Bagaimanapun juga, di masa depan kau tidak boleh dengan gegabah menggunakan Life Magic, atau aku tidak akan bisa menghadap Lao Yun. Bi Qi juga tidak keterlaluan seperti itu. Jika itu adalah pertarungan yang adil, kita pasti sudah akan menang. Sebenarnya, kekalahan mungkin juga bukan hal yang buruk untukmu. Kekalahan kalian telah membuat kalian mempelajari kekurangan kalian. Jadi di masa depan kalian harus rajin-rajin berlatih. Ayo makanlah sekarang.” Beberapa kata terakhirnya ditujukan untuk semua orang.

Aku sudah tidak sanggup lagi berbicara karena jumlah air liur yang ada di mulutku. Aroma sup berwarna kuning itu menyerbu hidungku saat aku menyantapnya. Wa! Lezat sekali! Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Sup apa ini? Ini lezat sekali!”

Xiu Si menjawab, “Ini adalah resep rahasia dari Istana Kerajaan yang bernama Immortal Soup. Ini dibuat dari berbagai macam hewan liar, jamur, ginseng gunung yang sudah tua, jamur reishi, tanduk rusa muda, akar dari bunga fleece, dan masih banyak lagi bahan obat-obatan tingkat tinggi dan direbus dalam waktu yang lama. Itu sangat mahal! Tapi untuk kali ini itu untukmu. Haha.”

Wajahku berubah merah saat aku bergumam kepada diriku sendiri, “Bagaimana bisa kau mengatakan kalau ini hanya untukku? Bukankah kalian semua menikmatinya juga?” Semua langsung tertawa dari kesenangan barusan. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa juga, dan mulai berhenti setelah terasa sakit. Seperti sup yang pekat ini, rasa persahabatan kami memenuhi ruangan. Setelah melewati masa hidup dan mati bersama-sama, rasa persahabatan kami bertambah dekat.

Seperti sebuah tornado, aku dengan cepat menghabiskan makananku saat yang lain masih menikmati makanan mereka. Aku menatap sekitar dan melihat Dong Ri adalah yang paling lambat dari semuanya. Aku bertanya padanya, “Apakah kue keringmu enak?”

Dong Ri tertawa ketika dia melihat wajahku yang rakus dan berkata, “Ini.” Dengan akurat aku menangkap kue kering yang dilempar olehnya padaku menggunakan mulutku. Aku menengok ke arah Xiu Si, “Wow! Xiu Si supmu sangat berbeda dari punyaku. Rasa apa itu?” Tidak ada yang tahan setelah mendengar kata-kataku. Gao De menjatuhkan remah-remah roti kering dari mulutnya. Dengan sedih, aku berkata, “Jangan membuat makananmu sia-sia jika kau tidak memakannya.”

Akhirnya, Guru Wen harus memecah kesenangan kami. “Ah, Zhang Gong. Kalau kau memang ingin membunuh mereka kau boleh terus bicara. Luka mereka akan terbuka lagi kalau seperti ini. Kau juga harus makan lebih sedikit karena tubuhmu masih sangat lemah. Makan terlalu banyak sebenarnya tidak bagus untukmu.

Setelah mendengar kata-kata Guru Wen, aku hanya bisa berbaring dengan kecewa. Aku belum pernah makan makanan selezat ini sebelumnya. Aku pasti akan makan lebih banyak lagi saat tiba waktu untuk makan selanjutnya. Saat tidak ada yang memperhatikan, aku diam-diam mengatakan kepada pelayan untuk menyuruh koki menyiapkan makanan yang lebih banyak untukku lain kali.
Setiap hari kami mendapatkan makanan yang sangat bernutrisi dan dengan cepat sebagian besar luka kami sembuh. Setelah sekitar sepuluh hari, kami pada dasarnya sudah benar-benar pulih. Namun, aku tidak ingin pulih secepat ini. Aku merasa belum cukup menikmati makanan Kerajaan!

Hari ini Guru Wen membawa kami untuk menemui raja setelah melihat kami sudah hampir pulih. Aku sudah menduga ini akan menjadi seperti ini. Kami tidak mungkin menikmati makanan sebaik ini dengan gratis. Sudah jelas, kami harus memberikan hormat kami padanya.

Aku merasa bahwa istana kerajaan mirip seperti labirin. Hanya dalam beberapa menit saja aku sudah bingung. Yang lainnya bernasib tidak jauh berbeda.

Kami tiba di depan sebuah bangunan yang sangat megah dan besar. Aku mendengar dari Guru Wen bahwa ini adalah ruang resepsi Raja Xiuda. Setelah semuanya masuk, Guru Wen memberi kami instruksi untuk berlutut. Kami mengikutinya dan berseru dengan keras, “Hidup Sang Raja! Hidup Sang Raja! Hidup Sang Raja! Hidup Sang Raja!” Setelah menyerukan kata-kata ini, secara diam-diam aku mengangkat kepalaku untuk mencuri pandangan.

Inikah Raja dari Xiuda? Yang duduk di takhta kerajaan adalah seorang yang berpakaian sangat indah dan tampaknya berusia sekitar tuju puluh tahun. Dia duduk dengan tegap dengan cahaya berkilauan matanya.

“Tidak perlu menjadi sesopan itu. Kalian semua boleh berdiri.”

Raja Xiuda dengan jelas menyadari kelayakan kami saat dia bertanya apakah kami ingin mengambil posisi sebagai pejabat pemerintahan. Tidak seorangpun menjawab untuk waktu yang lama. Aku akhirnya menyadari kalau mereka semua melihat ke arahku. Ah, apa yang kalian lakukan dengan melihatku? Aku bahkan bukan penduduk Kerajaan Xiuda, tapi aku masih dipaksa mengenakan mahkota bos mereka di atas kepalaku! Kalian harus memutuskannya sendiri. Hanya karena kami masih muda dan turnamen itu sudah menunjukkan betapa kemampuan kami masih belum memadai. Masih banyak yang harus kami pelajari. Kemampuan bela diri mereka di masa depan pasti akan sangat membantu kerajaan ini. Melihat ini, Guru Wen diam-diam tertawa.

Syukurlah, Raja Xiuda memiliki pemikiran yang sangat terbuka. Beliau tidak memberikan kami kesulitan apapun. Dia hanya mengatakan beberapa kata untuk memberi semangat sebelum memperbolehkan kami pergi.

Akhirnya kami kembali ke ruangan kecil Guru Wen yang terbuat dari kayu. Meskipun tidak ada lagi makanan lezat yang tersisa, aku masih merasa nyaman di sini karena semua kebebasan ada di sini.

Setelah kembali, kami berlima seolah tidak terpisahkan. Setiap hari kami akan melatih keduanya yaitu tubuh dan kemampuan bela diri kami bersama-sama. Aku mengajarkan mereka beberapa dasar dari light magic saat aku juga juga belajar banyak dari mereka dan Guru Wen. Waktu dengan cepat berjalan dan tanpa terasa, tiga bulan sudah berlalu.

Meskipun aku tidak ingin berpisah dengan sahabat-sahabat karibku, Aku masih harus pergi menyelesaikan misiku. Aku menemui Guru Wen dan berkata kepadanya, “Guru, terima kasih sudah memberiku pelajaran dan merawatku beberapa hari terakhir ini. Ini saatnya aku untuk pergi dan menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepadaku oleh Guru Di.”

Guru Wen menepuk bahuku dan berkata sambil menghela nafas, “Sebenarnya, aku tidak ingin berpisah denganmu. Saat ini kau sudah seperti muridku sendiri.”

Sambil tersenyum, aku berkata, “Aku selalu menjadi murid anda. Aku masih akan kembali di masa depan dan mengunjungi kalian semua.”

Guru Wen menghela nafas dan berkata, “Baiklah kalau begitu. Pergilah untuk bicara dengan yang lain dan berkemaslah. Kau boleh pergi besok.” Aku mengangguk sebelum pergi ke arah lapangan. Diluar dugaan, mereka tidak tampak sedih sedikitpun saat aku mengatakan kepada mereka kalau aku harus pergi menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepadaku oleh Guru Di. Ini membuatku sedikit depresi. Aku kembali ke ruanganku untuk berkemas dan bersiap untuk berangkat melanjutkan petualanganku besok.

Translator / Creator: Veve