December 8, 2016

Child of Light – Volume 3 / Chapter 27

 

The Winning Arrow

Dong Ri keluar. Saat ini aku hanya fokus untuk memulihkan magic power milikku sebanyak yang aku bisa, secepat mungkin. Aku menutup mataku dan memusatkan seluruh tenagaku kedalam Golden Sphere yang sudah menciut. Golden Sphere dalam tubuhku perlahan-lahan mulai berputar, menyerap dan memadatkan magic power. Ini terlalu lambat. Aku melemaskan tubuhku dan pikiranku, dan memanggil light element yang ada di udara.

Aku merasakan banyak titik cahaya dengan cepat berkumpul ke arahku. Aku pulih dalam kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya. Aku mengarahkan seluruh pikiranku untuk memulihkan magic power milikku.

Saat pertandingan akan dimulai, hanya ada tiga orang dari sisi kami: Dong Ri, Xiu Si, dan aku. Luka yang diderita Xing Ao dan Gao De terlalu serius dan tidak dapat melanjutkan pertandingan. Jika magic powerku sudah pulih sepenuhnya, mungkin situasi kami akan menjadi sedikit lebih baik. Tapi tidak ada gunanya membicarakan itu. Saat ini magic power milikku tidak berada pada kondisi optimal, karena hanya berada pada tujuh puluh persen dari kapasitas aslinya, tapi aku masih ingin bertanding.

Pagi-pagi sekali, saat aku menyadari bahwa magic powerku tidak bisa pulih sepenuhnya, aku berkata kepada Xiao Jin, berharap bisa bergantung kepada kekuatannya untuk menang. Tapi tidak peduli berapa kali aku memanggilnya, dia tidak bangun juga. Kemudian, aku menyadari bahwa ini terjadi karena aku menggunakan terlalu banyak magic power saat pertandingan sebelumnya. Xiao Jin khawatir kalau tubuhku tidak mampu menahan tekanannya dan memberikan magic power yang telah lama dikumpulkannya kepadaku. Setelah menghabiskan kekuatannya, dia kemudian tertidur. Jika dia tidak melakukannya, magic power milikku pasti tidak akan berhasil pulih sebanyak tiga puluh persen saat itu.

Ada banyak orang yang datang untuk menonton pertandingan hari ini. Tentu saja Duke Bi Qi dan Guru Wen juga hadir di sana.

Saat ini, sudah terlambat untuk mengatakan apapun. Kami hanya bisa bertanding dengan seluruh kemampuan kami. Seperti pertandingan sebelumnya, kami memilih untuk bertanding sebagai tim. Tapi kali ini, aku berdiri di garis depan. Tanganku menggenggam erat magic staff, aku melihat kepada Bi Er Zhu yang ada di sisi sebaliknya. Saat berdiri di sana, aku merasa bahwa meskipun mereka memiliki banyak keuntungan hari ini, mereka tidak membuat penampilan yang menyenangkan. Dia berdiri disana dengan tenang seperti sebuah gunung yang tinggi. Aku tidak bisa melihat melewatinya. Aku tahu bahwa kali ini aku sudah bertemu dengan seorang musuh yang sangat kuat. Kekuatan Bi Er sama sekali tidak lebih lemah dari milik Shan Yun.

Hari ini kami harus menang dengan menggunakan serangan kejutan. Tanpa mengatakan apapun, aku mengangkat magic staffku dan menutup mataku. Dengan hati-hati merasakan sekitarku, aku tidak merapalkan mantra namun aku mengumpulkan battle spirit dan mengisi separuh magic staffku dengan itu. Secara bersamaan, aku memisahkan sebagian magic power dari gold dan milikku dan mengumpulkannya dalam magic staff. Aku membiarkan dua kekuatan itu perlahan-lahan menyatu, sampai mereka akhirnya mencapai tahap resonansi. Tidak buruk. Ini adalah teknik penggabungan dari magic power dan battle spirit yang tanpa sengaja aku ciptakan saat aku bersama kakak Zhan Hu. Pada dasarnya itu adalah magic power yang dibantu oleh battle spirit, sampai menyatu dengan yang lain. Meskipun aku belum ahli dalam menggunakan teknik ini, aku tidak memiliki metode lain. Dengan magic powerku saat ini, aku tidak sanggup menggunakan beberapa sihir yang lebih besar. Dengan metode ini, aku akan bisa menghemat beberapa magic power.

Bi Er merasakan tekanan dari kekuatan yang dihasilkan oleh tubuhku, terutama dari kekuatan besar yang berkumpul pada magic staffku. Dia tidak mengetahui kalau ini adalah magic. Timnya membentuk sebuah formasi pertahanan yang kuat.

Aku menggunakan kekuatan spiritualku untuk mengatakan kepada Dong Ri untuk bersiap dengan panahnya. Ini adalah satu-satunya kesempatan kami. Kami pastinya tidak boleh kalah.

Aku mengulurkan tangan kiriku, dan memadatkan magic power milikku yang tersisa ke dalamnya. Tanganku mengeluarkan cahaya emas redup. Aku mulai merapal, “Light element, sahabatku. Aku memintamu, meledaklah sebagai api yang tidak ada habisnya, kalahkan musuh di hadapanmu.” Ini adalah sihir light element tingkat tujuh, Flames of Light Engulfing The Heavens.

Mengikuti rapalan mantraku, light element memenuhi area yang besar di langit sebagai api cahaya, seolah api cahaya itu mengepung kami. Sebelum serangan ini, Bi Er mengetahui kalau pertahanan murni terlalu pasif, dan tanpa menyembunyikan kekuatannya, dia mengeluarkan cahaya emas redup dari tubuhnya. Dia membuat anggota timnya membentuk barisan pertahanan. Sambil memegang knight swordnya, dia berteriak dengan keras, “Spatial Ten Tear Slash!” Dia tidak menebas ke arahku, tapi menebas ke arah magicku yang ada di langit. Bahkan udara itupun tampak seperti terkoyak, membuat sepuluh retakan di udara. Light element yang aku kirimkan sudah terserap habis ke dalam retakan tersebut. Sepertinya dia juga adalah seorang Radiant Knight. Xiuda benar-benar menghasilkan banyak orang berbakat.

Di bangku penonton, raut wajah Guru Wen berubah drastis. Dia mengerti apa artinya tanda ini.

Ini membuatku takut. Tebasan misterius miliknya dan Dimensional Decapitator tampak sangat mirip hanya saja miliknya jauh lebih kuat. Aku tidak boleh ragu-ragu lagi. Dengan cepat aku mengayunkan kekuatan yang meledak-ledak dalam magic staffku dan mengubahnya menjadi pedang yang terbuat dari cahaya sebelum menebas ke arah musuh. Ini adalah serangan terakhirku. Sihir terakhir tadi hanya digunakan untuk membuat musuh bingung. Aku juga tidak tahu akan sekuat apa itu tadi. Aku menggunakan teknik tidak bernama ini dengan seluruh kekuatanku, memakan hampir semua magic power dan kekuatan fisikku. Sambil setengah berlutut, aku berpikir pada diriku sendiri, ‘Sekarang semuanya tergantung kepada Dong Ri.’

Bi Er berseru, “Ini tidak bagus. Waspadalah semuanya.” Pada saat yang bersamaan,dia maju ke depan timnya sambil memegang pedang ksatrianya secara horizontal saat itu mengeluarkan cahaya emas. “Friction Sword Slash.” Jika dia memiliki waktu untuk bersiap-siap, maka hasilnya akan menjadi seri. Tapi dia baru saja menerima sihir tingkat tujuh dariku jadi dia tidak memiliki waktu untuk bereaksi. Dia tidak mungkin menyaingi kengerian attack spell tingkat delapan gabungan milikku. Dia pasti akan merasakan akibat yang paling buruk dari itu.

Sebuah ledakan terjadi di atas arena, memenuhi udara dengan asap. Sebagian dari arena sudah hancur. Kekuatan getaran yang hebat melemparku kearah belakang. Xiu Si menahanku, menjagaku tetap di tempat. Saat itu aku sudah melepaskan serangan pembunuh milikku. Itu juga serangan kemenangan terakhirku.

Lima cahaya redup dan bayangan muncul dari belakangku dan Xiu Si melesat ke dalam asap itu. Tak lama, suara erangan datang dari dalam asap. Aku merasa sangat bahagia. Kami telah menang.

Tidak buruk. Cahaya dan bayangan tadi merupakan sesuatu yang aku minta. Sebenarnya, itu adalah Dong Ri yang selalu menunggu kesempatan. Dia sudah mengumpulkan seluruh battle spirit dan magic power miliknya dalam lima anak panah ini. Dengan ketajaman penglihatan elf miliknya dalam situasi dimana tidak seorangpun mampu melihat dengan jelas, anak panah ini sudah menjadi serangan terakhir kami.

Duke Bi Qi dan Guru Wen keduanya berdiri di anjungan penonton. Perlahan asap yang ada di arena menghilang. Rekan satu tim Bi Er terbaring di tanah dengan kesakitan. Bahu kiri mereka sudah tertikam oleh sebuah anak panah pendek. Bi Er menggunakan pedangnya untuk menyangga tubuhya. Sama halnya dengan Bi Er, bahu kirinya sudah tertikam oleh sebuah anak panah pendek.

Dong Ri berteriak, “Zhang Gong, kita sudah menang!” Saat kami baru saja akan merayakan kemenangan ini, suara Bi Er terdengar, “Meskipun aku mengagumi strategi dan kekuatan kalian, kalian tetap tidak bisa menang.”

Bi Er perlahan-lahan bangkit, para penonton berseru dengan nada terkejut. Dia menggunakan tangan kanannya untuk menarik keluar batang anak panah itu, tidak meneteskan darah sedikitpun. Tampak jelas bahwa dia menggunakan battle spirit untuk melindungi titik vitalnya.

Dia berkata dengan pelan, “Sebenarnya, jika ini hanyalah pertandingan biasa, aku pasti sudah mengaku kalah. Karena kau mulai melunak, selain aku, tidak ada seorangpun yang mampu menahan magic arrow itu.” Dia menekankan kedua kata terakhir itu.

Translator / Creator: Veve