December 1, 2016

Child of Light – Volume 3 / Chapter 20

 

A Battle of Honor

Aku langsung mendekat dan bertanya, “Bagaimana? Apakah Yang Mulia menyetujui pihak Duke?” Dengan tatapan gelisah, Dong Ri melihat ke arah Guru wen.

Guru Wen menghela nafas dan berkata, “Itu tidak akan terjadi. Yang Mulia adalah raja yang sangat bijak dan juga cerdik. Bahkan meski beliau di ancam, keputusannya tidak akan berubah.”

“Kalau begitu mengapa anda tampak sangat tidak senang?” Tanyaku.

Guru Wen menjawab, “Meskipun Yang Mulia tidak mendiskriminasi siapapun, beliau memberikanku sebuah tugas yang sulit. Beliau membuatku harus mengirimkan satu pasukan murid dari cabang akademi untuk ikut berkompetisi dalam kompetisi bela diri nasional Xiuda yang diadakan lima tahun sekali. Bi Qi juga harus mengirimkan pasukan rank satu. Sebagai tambahannya, Masalah ini akan diselesaikan berdasarkan pasukan mana yang dikirim yang memiliki rank paling tinggi. Kelompok yang menang akan membuat kelompok yang kalah meminta maaf di hadapan publik.”

“Ah? Jadi itu sudah diputuskan seperti itu.” Itu sedikit tidak masuk akal. Kami adalah kelompok yang benar.

“Zhang Gong, kau tidak mengerti. Bi Qi memiliki pengaruh yang besar di Xiuda. Yang Mulia tidak punya pilihan lain selain mengizinkannya untuk beberapa alasan. Selain itu, karena tradisi bela diri Xiuda yang umum, banyak masalah yang ditentukan berdasarkan hasil dari kompetisi bela diri.” Guru Wen mengatakan ini dengan penuh arti.

Dong Ri menginterupsi dengan mengatakan, “Kalau begitu kita tidak perlu cemas. Akademi ini memiliki banyak murid yang kuat. Bagaimana mungkin kita takut pada Bi Qi?” Benar, karena kekuatan kami, kami mampu menjadi rival untuk para bangsawan.

Guru Wen mengerutkan alisnya dan berkata, “Justru itulah yang aku takutkan. Bi Qi ingin agar kalian ikut berpartisipasi. Dia juga akan menyertakan anaknya yang sulung untuk berpartisipasi dalam turnamen ini. Setiap tim dalam kompetisi berjumlah lima orang. Meskipun kekuatan murid di akademi ini tidak lemah, usia mereka relatif muda. Mustahil bagi mereka untuk sudah menanamkan kekuatan mereka dengan baik, tapi Bi Qi tidak memiliki masalah ini. Anak pertamanya sangat sulit untuk dihadapi.”

Aku merengut, “Hal baik apa yang bisa dihasilkan oleh orang gemuk rakus itu? Ambil contoh dari anaknya yang masih muda dan idiot itu.”

Guru Wen menegurku dengan galak, “Zhang Gong, kau tidak boleh meremehkan lawanmu. Kau harus tahu tentang Earth Dragon Corps milik Xiuda yang mengerikan. Anaknya adalah pemimpin corps kedua dari tiga corps yang ada. Ini bukan posisi yang bisa didapat dari suap dan pengaruh. Anaknya yang sulung tahun ini berusia tiga puluh lima tahun dan sudah menjadi knight jenius di Xiuda. Pada usia tiga puluh tahun dia sudah menjadi heaven knight. Hanya di urutan kedua dari pemimpin Earth Dragon Corps ketiga sebelumnya yaitu Pangeran Kerajaan Qi Lu Xiuda, dikenal sebagai Zhan Hu (War Tiger), anak dari Jing Yun Xiuda.”

Ah? Bukankah itu kakak? Kalau begitu katanya, anak sulung Duke tidak lebih lemah dari kakak.

Guru Wen melanjutkan, “Dalam waktu delapan tahun terakhir, tidak ada yang tahu apakah dia sudah berhasil menjadi seorang radiant knight atau tidak. Meskipun kemampuan Zhang Gong setara dengan seorang magister, pada akhirnya pengalaman yang dimilikinya relatif sedikit. Ditambah lagi, kita tidak tahu ahli seperti apa yang akan dikirim oleh Bi Qi. Dengan begitulah, aku sangat khawatir dengan kompetisi ini.”

Dalam pikiranku, aku merasa gugup. Meskipun menjadi seorang radiant knight bukanlah hal yang mudah, namun tidak ada yang pasti. Tapi jika lima orang yang ada di tim lawan semuanya memiliki tingkat kekuatan seperti kakak, maka kami sudah pasti kalah.

Saat aku sedang berpikir keras di kepalaku, Dong Ri mulai bicara. Dia berkata dengan semangat, “Guru, tenanglah. Apapun yang terjadi, Kami pasti akan mencapai kemenangan di babak final. Kami adalah pihak yang benar. Ini tidak perlu syarat: Kita tidak boleh membiarkan mereka menang.”

Kata-kata Dong Ri mempengaruhiku, “Benar, kami pasti menang.”

Guru Wen tersenyum dan berkata kepada Dong Ri, “Anak bodoh, apa yang kau tahu tentang kebenaran. Hanya yang kuat yang adil. Untuk mengalahkan bangsawan artinya mengalahkan kejahatan. Selain itu, dari sisi yang mendasar, Bi Qi bukanlah orang jahat. Hanya karena dia memiliki banyak kesalahan, tidak lebih.”

Dong Ri dan aku saling melihat dalam kecemasan, aku berkata, “Dia tidak dianggap penjahat meskipun dia bersikap seperti itu?”

Guru Wen tertawa dan berkata, “Kalian berdua masih sangat muda dan naif. Dalam dunia ini tidak ada kejahatan absolut. Begitu juga tidak ada kebaikan yang absolut. Yang ada hanya mereka dengan ide yang berbeda. Karena itu tidak peduli seberapa kecil kebaikannya, jangan ditinggalkan dan seberapa kecilpun kesalahannya, jangan dilakukan. Mengenai Bi Qi, itu hanya karena dia keras kepala. Dia memiliki pendapat yang keras mengenai klannya dan bisa dibilang protektif. Tapi saat menghadapi masalah tentang salah atau benar, dia masih dapat memilih jawaban yang benar. Masih bisakah kau menyebutnya buruk?”

Kata-kata Guru Wen memberikanku dorongan, membangun filosofi di masa depan yang akan dilakukan.

“Semua sudah pernah di katakan sebelumnya. Kalau kau merasa puas maka berpartisipasilah dalam kompetisi ini. Bahkan jika kau ingin berlatih itu akan terlambat. Aku akan memilih tiga murid akademi yang paling kuat untuk berpartisipasi denganmu. Kedepannya aku akan membuat kalian berlima terbiasa satu sama lain. Aku ingin agar kalian memastikan kalian ada pada kondisi puncak. Bertarung untuk mendapatkan peringkat tertinggi. Sebenarnya jika kau kalah itu tidak masalah. Situasi terburuknya aku akan tebal muka dan membuat Bi Qi berpikir bahwa aku memang salah. Dia tidak akan menggangguku terlalu banyak.”

Setelah selesai berbicara, Guru Wen tertawa kepada dirinya sendiri. Saat aku mendengar sedikit kepahitan dalam kata-katanya, dia jelas tidak begitu optimis kepada kami. Dong Ri dan aku dengan diam-diam mengambil sebuah kesimpulan bahwa kami harus mengalahkan pasukan yang dikirim oleh Bi Qi. Guru Wen sudah berada pada usia yang cukup tua, dan sebagai tambahannya dia benar-benar menghargai pandangan orang seperti kebanyakan orang-orang di Xiuda. Kami tidak boleh membiarkan orang tua ini menderita karena hinaan.

“Semua sudah selesai. Hari ini sangat melelahkan. Istirahatlah lebih awal. Besok pagi, aku akan mencari teman satu tim untuk kalian, dan membuat kalian berlatih bersama sampai kalian terbiasa satu sama lain. Dong Ri, kaulah yang paling membuatku khawatir. Kemampuanmu masih relative lemah dibandingkan musuh. Berlatihlah dengan giat.” Dengan perkataan ini, Guru Wen pergi menuju ruangannya.

Setelah makan malam, Dong Ri dan aku berlatih di halaman. Aku bergumam kepadanya, “Dong Ri, kompetisi ini pasti akan jadi sangat sulit. Aku yakin kau harus benar-benar menunjukan keuntunganmu.”

Dong Ri bertanya dengan penasaran, “Aku punya keuntungan?”

Aku tersenyum dan berkata, “Tentu saja kau punya. Keuntunganmu bahkan sangat mengerikan. Itu adalah busur dan anak panah milikmu.”

Mendengar kata-kataku, dia tampak putus asa, dan berkata, “Busur dan anak panah? Aku hanya akurat, kekuatanku tidak kuat sama sekali. Itu tidak berguna untuk melawan seseorang yang ahli.”

Aku berkata dengan dalam, “Bagaimana mungkin itu tidak berguna? Apa yang aku inginkan memang keakuratanmu. Kita bisa menggunakan magic arrow.” Sambil mengatakan ini, aku perlahan membisikkan rencana manisku ketelinganya. Alisnya yang mengernyit perlahan terangkat.

Dong Ri tersenyum dan menepukku dengan tinjunya, “Kau beruntung memikirkan itu. Sekarang kita bisa mengatasi mereka. Dalam dua hari ini kita harus rajin melatih koordinasi kita.”

Dengan gugup aku mengatakan, “Pelankan suaramu. Ini senjata rahasia kita.”

Dong Ri menutup mulutnya dengan tangannya. Aksinya yang lucu ini membuatku tertawa sambil memegang pinggangku. Setelah itulah dia tahu kalau aku hanya bercanda dengannya. Dia mendekatiku dan tertawa dengan keras bersamaku.

Guru Wen melihat kearah kami dari jendela depan sambil terdiam. Dan hanya bisa menggelengkan kepala sambil berkata kepada dirinya sendiri, “Anak muda benar-benar tidak tahu perasaan khawatir. Aku bahkan tidak tahu mereka punya kemampuan tersembunyi.”

Kira-kira, kemampuan tersembunyi macam apa yang mereka miliki itu? Ayo kita cari tahu saat kompetisi.

Translator / Creator: Veve