November 21, 2016

Child of Light – Volume 3 / Chapter 2

 

Departure from The Academy

Aku harus meninggalkan sekolah tempat aku tinggal dan belajar, rumah keduaku. Aku sangat tidak ingin berpisah dengan tempat ini. Aku melihat setiap pohon dan semak belukar yang ada. Kenapa waktu bergerak cepat, membuatku datang dan pergi dengan sangat cepat?

Di sampingku, Guru Di melihat perasaan engganku untuk pergi, dan dengan sedikit menghela nafas dia berkata, “Kalau kau harus pergi, maka kau harus pergi. Kau bisa kembali kapan saja. Saat kau kembali, aku yakin kau akan membawa banyak kebanggan untuk akademi ini, dan tentu saja untukku juga. Kau sudah tumbuh besar, jangan bersikap seperti anak kecil. Pergilah.”

Kami berjalan perlahan menuju gerbang akademi. Aku memalingkan wajahku, melihat tulisan besar yang terpahat di atas granit yang keras, “Royal Intermediate Magic Academy.” Sekali lagi mataku berkaca-kaca.

“Bos, tunggu! Aku datang untuk mengantarmu.” Ma Ke berlari ke arahku, terengah-engah kelelahan. Sebenarnya aku tidak memberitahunya kalau aku pergi hari ini karena aku tidak ingin merasakan situasi yang membuat depresi.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan pergi hari ini? Aku saudaramu satu-satunya.” Wajah Ma Ke memiliki ekspresi yang tidak dapat dibedakan sedang tertawa atau menangis. “Ini untukmu. Kau harus segera kembali. Aku akan menunggumu di Advanced Magic Academy. Kita akan tetap belajar bersama.” Ma Ke memberikan sebuah pisau belati yang ada di dadanya. Pisau belati itu memiliki tampilan luar yang bagus. Pada sarung pisau belati itu terdapat berbagai permata. Aku menerima pisau belati itu. Aku tidak memperhatikannya terlalu banyak. Lagipula, hatiku penuh dengan perasaan saat berpisah, aku tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Disebelahku, mata Guru Di memancarkan kekuatan aneh.

Aku tidak bisa berhenti sekarang, atau akan menjadi semakin sulit untuk pergi. Aku menggertakkan gigiku dan berangkat dalam perjalanan panjang menuju rumahku dengan Guru Di. Dengan kesulitan yang amat besar, aku menahan diri untuk tidak melihat ke belakang. Namun aku tidak dapat menahan air mataku, semuanya mengalir dengan deras.

“Jangan terlalu banyak merindukan Ma Ke. Kau ingin pergi ke langit dan melihat-lihat?”

Kata-kata Guru Di mengalihkan perhatianku, “Langit? Bagaimana caranya aku pergi ke langit?”

“Jangan bilang padaku kalau kau lupa. Minor Magic milikku adalah angin. Kita bisa terbang.” Guru Di menggunakan mantra Wind Soaring kepada dirinya sendiri dan perlahan mulai melayang dari tanah.

“Ini pertama kalinya aku melihat anda terbang. Jadi bagaimana aku terbang?” Aku tidak bisa menggunakan wind magic.

“Aku akan membawamu. Pegangan yang kuat pada pinggangku.”

Hanya seperti itu, Guru Di dan aku terbang naik ke langit. Ini tidak terasa buruk juga. Hutan dan pedesaan yang ada di bawah kami tampak seperti semut. Angin yang lembut menerpa wajahku. Rasanya kami seperti makhluk abadi. Dengan iri aku bertanya, “Kapan aku bisa terbang?”

“Itu tidak mustahil. Meskipun kau tidak bisa menggunakan sihir angin, nanti kau akan memiliki kesempatan untuk belajar Duo Qi tingkat tinggi yang memiliki efek yang sama. Kemudian kau akan bisa memiliki kemampuan terbang.”

“Kau bisa menggunakan Duo Qi untuk terbang?” Aku bertanya dengan ragu.

“Itu benar. Sebagai tambahan, terbang menggunakan Duo Qi jauh lebih cepat daripada menggunakan magic. Hanya saja tidak bisa bertahan terlalu lama seperti sihir.”

Kata-kata Guru Di menaikkan hasratku untuk belajar Duo Qi, memiliki kemampuan terbang benar-benar sesuatu yang bagus. Di masa depan saat aku punya kesempatan aku harus belajar Duo Qi dengan rajin. Selama aku bisa menggunakannya untuk terbang, itu sudah cukup.

Setelah kira-kira satu jam terbang di langit, aku melihat wajah Guru Di berubah menjadi sedikit pucat. Lagipula, untuk terbang dalam waktu satu jam tentu menggunakan magic energy yang sangat banyak. Sebagai tambahan, Guru Di juga membawa satu orang. Meskipun Guru Di adalah seorang magister, tapi beban yang dibawa terlalu banyak.

“Guru Di, ayo turun dan beristirahat sejenak.” Ujarku khawatir.

“Baiklah. Ah… Aku sudah tua, rasanya tubuhku bisa mati. Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi menggunakan sihir dalam jangka waktu yang lama.”

Kami mendarat di kaki bukit dan beristirahat sebentar. Kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Dengan terbang, kami akhirnya sampai di kampung halamanku. Saat ini, aku adalah kebanggaan dari desa ini. Saat semua orang tahu aku mampu menjadi Grand Magister, pujian dan sanjungan yang aku terima bisa membuat perasaanku terbang. Saat ayah dan ibuku melihat aku pulang, mereka sangat bahagia, mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak berani berkata kepada siapapun bahwa aku kembali dengan seorang magister dari sepuluh magister yang ada di seluruh benua, atau beritanya pasti akan meledak.

Setelah beristirahat selama satu hari, Guru Di bicara kepada ayah dan ibuku agar memperbolehkan aku pergi belajar dari petualanganku. Mereka berdua terdiam. Dalam pikiran mereka, Royal Advanced Magic Academy adalah jalan yang paling orthodox dan terbukti. Ditambah lagi, mereka khawatir akan keselamatanku. Tapi mereka menghormati Guru Di dan tidak mengatakan apa-apa.

Bagaimana mungkin Guru Di yang sangat berpengalaman tidak melihat hal ini? Dengan sabar Guru Di menjelaskan tujuan mengapa aku diijinkan untuk belajar dari pengalamanku dan harapannya padaku, dan juga beberapa jalan yang dia gunakan untuk memastikan keselamatanku. Akhirnya, ayah dan ibuku setuju dan memperbolehkanku berkelana.

Saat malam, Guru Di dan aku berjalan-jalan di luar desa. Aku tenggelam dalam keindahan langit malam. Guru Di mendadak menghentikanku dan dengan serius berbicara kepadaku, “Zhang Gong, tugas untuk perjalananmu ini sangat sulit. Untuk keselamatanmu, aku akan memberikanmu banyak benda dan juga beragam.” Guru Di mengeluarkan tiga magic scroll dari dadanya.

“Kemampuan tiga magic scroll ini sama. Singkatnya, ini adalah escape scroll. Mereka bisa langsung memindahkanmu sejauh lima puluh kilometer. Simpanlah baik-baik.”

Sambil mengambil semua magic scroll itu aku berkata, “Terima kasih, Guru.”

“Sebagai tambahan, aku meminta magister nomor satu untuk memasangkan sebuah magic array dia akademi. Saat kau mendapat masalah dalam tugasmu yang tidak bisa kau selesaikan, kau bisa menggunakan magic array ini untuk kembali ke akademi. Metode untuk menarik dan mengaktifkannya tertulis di buku kecil ini. Kau harus bisa mengingatnya secepat mungkin dan berhasil melakukan teleportasi dengan akurasi mencapai Sembilan puluh persen atau lebih.” Setelah selesai bicara, Guru Di memberikanku sebuah buku kecil yang rapuh.

Setelah mengambil bukunya, Guru Di juga berkata, ”Hati-hati. Saat kau menggunakan magic array, magic powermu harus berada pada kondisi yang paling bagus, atau akan terjadi kesalahan.”

“Aku mengerti, aku akan melatihnya dengan baik.”

“Dan juga, aku menyimpan seribu koin berlian ke dalam amethyst card milikmu, itu seharusnya cukup untukmu. Jangan terlalu pelit. Untuk tugasmu, lokasi pastinya divine artifact terletak di provinsi Kerajaan Dalu di dalam sebuah lembah. Kau akan pergi kesana untuk mencarinya. Itu saja. Hanya itu semua yang ingin aku sampaikan kepadamu.”

Dengan penuh perhatian aku mengingat apa yang Guru Di katakan. Mendadak dia teringat sesuatu yang lain untuk dikatakan, “Ah, benar! Waktu itu sebelum kau pergi, Ma Ke memberimu sebuah pisau belati. Itu bukanlah pisau belati biasa. Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan divine artifact itu tetap saja memiliki beberapa kemampuan. Pisau belati itu mampu menembus perisai magic dan perisai Duo Qi. Gunakan dengan hati-hati.”

Translator / Creator: Veve