October 13, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 9

 

Magical Beast’s Magic

Aku dan Ma Ke tiba di perpustakaan yang ternyata benar-benar luas. Gedungnya terdiri dari enam lantai. Setiap lantai luasnya 3000 meter persegi. Perpustakaan ini dibagi menjadi 3 bagian. Lantai 1 dan 2 adalah area untuk teori magic dasar dan elementary spells (magic tingkat 1-3). Lantai 3, 4, dan 5 adalah area untuk intermediate spells (magic tingkat 4 dan 5). Sedangkan lantai 6 khusus untuk advanced spells. Melihat tingkat kemampuan kami sekarang, kami sudah bisa masuk ke sektor kedua. (Sektor ini memiliki akses terbatas. Hanya murid dengan kemampuan level tertentu yang bisa memasukinya.) Jumlah pengunjung yang paling banyak ada di lantai 3,4 dan 5.

Aku dan Ma ke masuk ke lantai 4 dan mencari buku magic yang sesuai dengan minat kami. Hanya ada sedikit buku light magic; aku hanya menemukan satu buku comprehensive intermediate light magic dan dua buku intermediate spatial magic. Ma Ke menemukan beberapa buku mengenai fire magic dan wind magic. Dia lalu pergi ke area membaca dan mulai membaca dengan antusias.

Tidak ada hal yang istimewa di buku tentang intermediate light magic. Aku kecewa jadinya. Lalu kubuka buku berjudul “Spatial Combat Magic: 100 Examples”. Buku ini benar-benar menarik perhatianku. Di dalamnya ada tulisan tentang pengalaman para spatial mage dalam menghadapi pertarungan. Tanpa terasa, waktu pun berlalu dengan cepat.
“Zhang Gong, hari sudah petang. Ayo kembali. Kita masih ada kelas besok.”

“Baiklah.” Betul juga. Sore ini, aku harus mencari tempat sepi untuk memeriksa Xiao Jin, magical beastku.

Setelah makan malam di aula makan, kami kembali ke kamar masing-masing. Si Rambut Hijau tidak berani berkata apa-apa saat melihatku. Kedua teman sekamarku yang lain sedang sibuk bermeditasi. Aku masih belum kenal mereka dan belum tahu nama mereka.

Diam-diam, aku mengendap menuju lapangan belakang akademi. “Dengarkan namaku, magical beastku Xiao Jin. Patuhi panggilanku dan keluarlah.” Lalu muncullah seberkas cahaya dan figure Xiao Jin yang indah itu mulai terlihat di depanku. Kuraih dia dengan tanganku, dan kuamati dengan saksama. Sepertinya dia telah tumbuh sedikit lebih besar dari saat menetas kemarin. Cepat sekali dia tumbuh. Baru satu hari dan dia sudah sebesar ini.

“Xiao Jin, apakah ada magic yang kau tahu?” Aku bertanya dengan hati-hati.

Xiao Jin nampaknya tidak paham apa yang kukatakan, jadi kuusapkan kepalanya dengan kepalaku. “Xiao Jin, light arrow.” Dia menggelengkan kepala. Tidak ada yang terjadi. Mana mungkin? Dia ini magical beast tipe growth. Harusnya dia sudah bisa melakukan apapun yang aku perintahkan.

“Anak bodoh. Untuk berkomunikasi dengan magical beast, gunakanlah pikiranmu. Kalau kau bicara seperti itu, dia tidak akan mengerti sama sekali.” Terdengar suara berat mendekatiku.

“Siapa itu?” Aku segera menoleh. Seorang pria tua datang dari arah belakangku. Dia memakai jubah penyihir biasa (yang tidak ada tanda tingkatan penyihirnya) berwarna putih.

“Anda siapa? Apakah anda salah satu guru?”

“Benar. Kau dan aku memilih elemen major yang sama. Aku juga light mage.” Pria tua itu mendekat dan menepuk kepalaku.

“Cobalah ajak bicara magical beastmu dengan pikiranmu. Pasti akan berhasil.”

“Baiklah.” Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menurut, jadi kucoba saja sarannya. Kufokuskan pikiranku. Dengan kekuatan spiritualku, aku memerintahkannya untuk menembakkan light arrow. Kujelaskan padanya bagaimana caranya membuat ligh arrow dan apa efeknya. Xiao Jin memandangku sesaat, lalu badannya mulai memancarkan cahaya putih. Sebuah light arrow melesat dari mulutnya dan mengenai pohon di dekat kami.

“Wah, berhasil!” Aku gembira sekali karena sudah tahu caranya membuat Xiao Jin menghasilkan mantra. Setelah Xiao Jin merapal mantra, seluruh tubuhnya jadi lemas. Sepertinya tenaganya habis. Segera kupanggil dia untuk masuk ke tubuhku lagi.

“Terima kasih, guru.”

“Kau sangat berbakat dalam magic. Sebentar saja kau sudah bisa menguasai cara berkomunikasi dengan magical beastmu. Lumayan juga.” Dia tertawa, lalu menatapku dan bertanya.

“Kau mau menjadi muridku untuk belajar light magic?”
Ah! Aku tidak mau. Aku tidak ingin ada yang mengawasiku lagi.

“Ah, tidak usah, guru. Aku akan belajar sendiri saja. Sampai jumpa, guru. Aku harus segera kembali dan tidur. Besok aku harus masuk kelas.” Aku buru-buru kabur. Aku tidak ingin lagi bertemu guru yang seperti iblis.

Seraya memandang tubuhku yang makin menjauh, guru tua itu berkata pada dirinya sendiri. “Dasar anak itu! Orang lain memohon-mohon untuk kuterima sebagai murid, tapi aku menolak. Sekarang, aku mau menjadikan seseorang sebagai muridku, dia menolak. Hehe.” Dia hanya bisa menggelengkan kepala.

Saat kembali ke kamar, kulihat si Rambut Hijau sudah tertidur lelap. Dia sudah bermimpi bermain catur dengan “God of Dreams”. Kedua orang lainnya masih bermeditasi. Aku berbaring di kasur dan mulai berkomunikasi dengan paman dan bibi light element. Light element merasukiku di antara kedua alisku. Kukumpulkan sebagian elemen cahaya di tubuhku, dan sebagian lagi untuk Xiao Jin. Dia tampak puas. Dia mengeluarkan suara yang terdengar yang menunjukkan bahwa dia senang.

Akhir-akhir ini, saat bermeditasi aku merasa tenagaku sama sekali tidak meningkat. Andaikan tubuhku ini botol, rasanya sekarang sudah penuh. Mengapa tenagaku tidak bisa meningkat lagi? Kalau begitu, sebaiknya kukerahkan saja sisa tenagaku untuk Xiao Jin. Perlahan kukumpulkan lagi light element untuknya. Kurasakan energi light element murni milik Xiao Jin telah berdampak pada tubuhnya. Tubuhnya sepertinya pelan-pelan membesar. Pencapaian yang bagus. Rasanya seperti merawat seorang anak. Betul. (Hei, kau sendiri kan masih anak-anak.) Dengan menjaga kondisi ini, aku memasuki alam mimpiku.

…..

Esok paginya, Ma Ke datang ke kamarku dan mengajakku sarapan bersama. Hari ini kami sarapan bakpao, telur, bubur, susu sapi, dan lainnya. Sepertinya aku sudah makan 2 bakpao, tiga telur, semangkuk bubur, dan secangkir susu. Murid-murid di sekitarku menatapku keheranan. Bahkan guru-guru di aula makan pun berpikir bahwa aku sepertinya harus menambah biaya makanku. Aku tidak peduli. Aku makan saja. Lalu aku berkata “Aku sudah kenyang. Ayo pergi ke kelas, Ma Ke.”

Kami sangat terkejut begitu tiba di kelas. Semua orang sudah datang, termasuk si Rambut Hijau. Apa aku salah mengingat jadwal kelasnya? Tidak mungkin. Ini baru jam 8.30.

“Zhang Gong, Ma Ke. Cepat duduk. Lain kali, datanglah setengah jam lebih awal. Kelas A ini berbeda dari kelas lainnya.” Guru ini tampil rapi. Kemarin dia mengenalkan dirinya sebagai Xiu Lan Li.

“Baik, guru Xiu Lan.” Aku memotong Ma Ke yang hendak bicara, lalu kami duduk di kursi masing-masing.

“Baiklah, kita mulai kelas hari ini. Topik kita hari ini adalah long range delivery magic.” Guru Xiu Lian mulai menjelaskan panjang lebar tentang sihir ini. Tentang awal mulanya serta penerapannya. Aku sudah pernah merasakan diajar oleh guru yang kejam seperti ini. Aku jadi mengantuk. Lalu aku mendengar sesuatu yang menurutku sangat penting dalam long range delivery magic. Penjelasan berikutnya membuatku terjaga penuh. Lalu kelas berakhir.

Translator / Creator: Dila fd