October 12, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 8

 

First Class

“Anak-anak, mulai hari ini kelas kita punya 2 murid baru. Ini Zhang Gong Wei, yang meraih peringkat pertama di ujian masuk tahun ini dan ini adalah Ma Ke Sai. Ayo, beri sambutan untuk mereka.” Suara tepuk tangan langsung memenuhi ruang kelas.

Tadi pagi-pagi sekali, guru yang bertugas di departemen edukasi menempatkanku di kelas A tingkat 2. Aku tidak menyangka Ma Ke juga ditempatkan di tingkat 1, dan di kelas yang sama denganku. Aku mengenali rambut hijau si boss, teman sekamarku kemarin. Rupanya dia juga ada di kelas ini. Sepertinya aku akan mengalami kesulitan.

Aku sibuk merenungkan nasibku sehingga tidak begitu memperhatikan guruku sampai kelas selesai. Seusai kelas, guru itu menjelaskan tentang sistem pengajaran di akademi ini kepadaku dan Ma Ke. Siang hari adalah waktu bagi para murid untuk berlatih sendiri. Baik guru maupun muridnya ternyata sangat fleksibel dalam belajar. Murid-murid bisa berlatih dengan cara yang mereka suka. Jika mereka tidak paham tentang suatu hal, mereka bisa bertanya kepada guru mereka atau pergi ke perpustakaan dan mencari tahu jawabannya di buku. Ini sama sekali berbeda dengan yang kubayangkan. Kukira proses pembelajarannya akan sangat ketat dengan guru serta murid yang galak.

“Boss, di mana kamarmu? Kamarku nomor 209.” Setelah keluar dari kelas, Ma Ke langsung mengajakku mengobrol.
“Aku di ruang 208, jadi kita bersebelahan. Apa teman-teman sekamarmu ada yang mengganggumu?”

“Tidak. Mereka semua sibuk berlatih dan bermeditasi. Mereka sama sekali tidak memperhatikanku. Boss, apa kau masih marah soal kemarin?”

“Aku tidak sejahat itu, tahu. Aku sudah menghukummu waktu ujian kemarin. Tapi tetap saja, kau harus hati-hati jika bicara.”

“Baiklah, baiklah.”

Saat itu juga, muncullah seseorang yang tidak kuharapkan.

“Hei, adik. Kemarilah dan bantu aku mengerjakan tugas harianku,” kata si boss berambut hijau.

“Siapa kau? Berani-beraninya berbicara seperti itu pada bossku!” Tak kusangka, Ma Ke ini galak juga.

“Memangnya siapa kau ini? Kau cari mati ya? Mulai kemarin, dia sudah jadi adikku. Dia harus membantuku jika aku butuh. Mau apa kau?” Seraya berkata seperti itu, si rambut hijau ini meludah ke samping.”

“Apa? Kau berani memperlakukan bossku ini seperti adikmu? Kalau begitu aku ini adiknya adikmu? Aku tidak terima. Kutantang kau untuk duel!”

“Siapa yang takut? Jika kau memang hebat, majulah. Paling-paling kau hanya anak baru yang tidak bisa apa-apa.” Kuperhatikan mereka saling beradu mulut. Aku merasa si rambut hijau ini cukup kejam. Dia tidak akan……

“Fire element, dengarkan perintahku. Berubahlah menjadi fireball dan habisi musuhku!” Karena mereka tidak tahu kekuatan satu sama lain, Ma Ke menggunakan magic sederhana untuk mengetes kekuatan lawannya.

“Jangan! Baiklah, aku yang salah. Maafkan aku. Ayahku adalah seorang perdana menteri. Kau bisa baca tentangnya di surat kabar (Aku tidak akan menceritakan penjelasannya yang panjang lebar di sini.)” Tidak mungkin. Aku dan Ma Ke saling berpandangan. Ternyata dia Cuma anak pengecut. Teringat bagaimana si rambut hijau ini memperdayaiku kemarin, aku jadi lega. Cepat-cepat aku melirik penuh arti kepada Ma Ke dan berteriak “Habisi dia!” Kami tidak perlu menggunakan magic (bisa-bisa dia malah terbunuh nanti). Kami bersama-sama memberi pelajaran pada si rambut hijau.

“Hei berandal rambut hijau. Lagi-lagi kau. Kau ini sungguh mempermalukan akademi ini. Kalian berdua, kenapa kalian mau merendahkan diri kalian dengan si berandal ini?” kalimat terakhir ini diarahkan kepada kami. Ternyata yang berbicara adalah seorang murid tingkat dua berambut hitam tebal (Di seragam kami, ada tanda untuk membedakan tingkat). Usianya mungkin baru sekitar 10 tahun, tapi wajahnya tegas sekali. Rasanya aku pernah melihat wajahnya hari ini. Mungkin dia salah satu teman sekelasku.

“Uh, sebenarnya begini…” Setelah mendengar penjelasanku tentang kejadian itu, si anak berambut hitam ini cuma bisa tertawa terbahak-bahak.

“Jadi kalian ya si anak baru itu. Si bedebah rambut hijau itu memang jadi sorotan di akademi kita. Dia itu cuma sampah yang tidak tahu apa-apa.” Dia bisa diterima di sini hanya karena reputasi ayahnya sehingga mendapat rekomendasi dari raja.”

“Kenalkan. Namaku Zhang Gong Wei. Omong-omong, ayah si rambut hijau itu kan perdana menteri. Tapi kalian berani mengganggunya. Kalian tidak takut dia akan mengadu dan balas dendam?”

“Kenalkan juga, namaku Wo Ke Nuo Shi, perwakilan dari tingkat dua. Aku belajar wind magic. Jadi, hanya orang-orang yang sangat berbakat yang bisa masuk ke Royal Intermediate Magic Academy. Jadi di sini hanya kekuatan kita yang berpengaruh. Anak manja seperti dia, tidak akan bisa bertahan di sini. Lagipula, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah kita adalah dua dari 10 magister di seluruh benua timur. Di kerajaan ini, status mereka sangat tinggi. Untuk urusan akademi, hanya mereka dengan status tinggi yang berwenang.” Wo Ke menjelaskan dengan bangga.

Jadi itu alasannya. “Bolehkah aku tanya, perwakilan tingkat itu apa?” Ma Ke bertanya. Rupanya dia masih bingung.

“Kau bahkan tidak tau soal ini? Perwakilan tingkat adalah anak yang paling kuat di suatu tingkat.” Si rambut hijau segera menjawab.

“Oh, jadi, boss, bukankah berarti kau bisa jadi perwakilan dari tingkat dua?” Ma Ke berkata kepadaku.

Mata Wo Ke langsung memandang sengit. Andai saja aku bisa membuhuh Ma Ke hanya dengan pandangan mata, aku pasti sudah membunuhnya berkali-kali. Melihat tatapan tajamku, Ma Ke langsung mengerti bahwa dia telah mengatakan hal yang salah.

“Kalian berdua memang sangat kuat. Mungkin jika ada waktu kita bisa berduel.” Seperti dugaanku, saat-saat sulit telah datang. Sebaiknya aku tidak usah dekat-dekat dulu dengan Ma Ke demi keamananku sendiri.

“Kami ini murid baru, mana mungkin bisa menandingi senior? Tunggulah kami belajar selama dua tahun lagi, baru kita bisa bertarung.” Sekali lagi, aku merendahkan diri. Aku juga mengatakan kepada Wo Ke bahwa dia terlalu kuat untuk kami, dan pasti mudah sekali untuknya mengalahkan kami.”

“Baiklah. Kalian berdua harus bekerja keras. Jangan sampai memalukan kelas A. Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Hei, Rambut Hijau! Ingat. Kau masih belum mengerjakan tugas harianmu.”

Aku dan Ma Ke berjalanan mengelilingi akademi. Kami melihat banyak murid di sana-sini. Tapi yang ramai adalah murid-murid baru. Murid-murid dari kelas tinggi berlatih magic dengan tenang. Atmosfer belajar di tempat ini sangat kuat.

“Boss, sepertinya kita benar-benar harus bekerja keras. Lihat murid-murid itu, mereka semua rajin sekali berlatih. Kurasa mereka yang berpakaian bagus-bagus itu dari keluarga bangsawan. Tapi mereka juga tidak henti-hentinya berlatih. Memang layak menjadi murid Royal Magic Academy.”

Aku menarik nafas dalam-dalam. “Kau benar. Ayo kita ke perpustakaan dan mencari buku-buku yang kita butuhkan, supaya kita bisa berlatih dengan benar. Aku yang sebelumnya pemalas, sekarang merasa tidak punya pilihan lain selain belajar karena menyaksikan suasana yang menyenangkan ini.

Translator / Creator: Dila fd