October 12, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 6

 

Still Number One

Di antara kelima penguji, ada salah satu penguji yang duduk di tengah. Dia memakai jubah putih. Usianya sekitar 80 tahun. Dia menarik nafas dan berkata, “Dunia sekarang telah berbeda. Anak-anak jaman sekarang ada yang sudah bisa menggunakan advanced spell meskipun mereka belum masuk intermediate magic academy. Sungguh lain dibanding waktu aku seusia mereka dulu.”

Penyihir tua berjubah merah yang duduk di sampingnya berujar, “Betul. Dua anak ini kemampuannya cukup baik. Mereka akan berkembang pesat. Kau tahu, kan. Anak yang bernama Zhang Gong itu masih sangat muda, tapi sudah bisa menciptakan defensive spell. Dan Ma Ke juga cukup hebat. Dengan magic controlnya, dia tidak hanya bisa mengendalikan jalannya fireball dengan baik, tapi juga bisa mengendalikan energi sampai batas maksimalnya. Cukup bagus. Sepertinya api adalah elemen utamanya. Aku akan mencari tahu soal dirinya. Mungkin aku bisa mewariskan kemampuanku padanya.”

“Ma Ke memang hebat. Zhang Gong ini sepertinya elemen utamanya adalah cahaya. Saat ini tidak ada lagi selain Zhang Gong yang belajar light magic seperti aku. Bagaimanapun caranya, aku harus menjadikannya sebagai muridku.”

Wow. Dua mage dengan Magic crest (Magic crest terletak di bagian dada sebelah kiri di jubah seorang penyihir. Fungsinya sebagai bukti rank si penyihir.) yang sedang berdiskusi itu ternyata terbuat dari magic crystal ungu. Tandanya mereka adalah dua orang dari 10 magister yang tersisa di benua Tianwu.

Di panggung, aku dan Ma Ke bertarung habis-habisan, tanpa mengetahui rencana kedua magister itu. Saat itu, kami berdua berusaha mempertahankan mantra kami seolah hidup-mati kami tergantung pada kuatnya mantra kami.

Ini adalah kali pertamaku menggunakan Light Severing Sword, jadi aku tidak tahu seberapa efektif jadinya. Aku merasakan kekuatan magicku semakin berkurang. Serangan pertama light swordsku telah beradu dengan flaming meteor Ma Ke. Tapi sepertinya Light Severing Swordku lebih kuat. Beberapa flaming meteor yang berukuran kecil mulai terkoyak. Hanya meteor-meteor besar yang bisa melawan. Kulihat magicku sepertinya akan menang, jadi kukerahkan lebih banyak kekuatan magic.

Secara keseluruhan, kekuatan magic ku lebih besar dari pada Ma Ke. Kesalahan terbesarnya adalah menggunakan advanced magic untuk melawanku. Kalau saja dia menggunakan mantra sederhana dengan skill magic controllingnya, maka hasilnya mungkin akan lain. Flaming meteornya menghabiskan terlalu banyak kekuatan magic. Saat ini dia hanya bisa merapal mantra, sudah tidak kuat lagi untuk berkonsentrasi dan memusatkan pikirannya untuk mengontrol mantranya dengan baik.

Panggung mengalami beberapa kerusakan karena mantra kami. Flaming meteor membakarnya hingga hangus, sedangkan Light Severing Swords meninggalkan bekas-bekas potongan. Jubah penyihir Ma Ke telah terpotong di beberapa bagian, sedangkan bajuku mendapat bekas hangus di banyak tempat. (Aku tidak punya uang untuk membeli jubah penyihir. Harganya sangat mahal.) Sihir kami dua-duanya sudah mencapai batas kekuatannya. Sekarang semuanya tinggal bergantung pada seberapa keras kami bertahan.

“Boss, aku sudah hampir mati rasanya. Kumohon, lepaskan aku,” Ma Ke berkata lemah. Tepat setelah berkata begitu, flaming meteornya lenyap. Dia sudah tidak kuat menahannya, jadi sebagai gantinya hanya menggunakan fire shield untuk melindungi dirinya. Karena spiritual powernya telah habis terkuras, dia pun jatuh pingsan. Segera kuhentikan mantraku. Aku tidak ingin membuatnya terluka secara tidak sengaja. Andai saja dia bisa bertahan sedikit lagi, aku pun juga akan hampir mati. Anak ini memang sangat kuat.

Kekuatan magicku juga sudah hampir habis. Perlahan aku berdiri dan menghampiri Ma Ke. “Hei, Hei, anak menyebalkan. Kita belum selesai!”

Melihat aku masih bisa berdiri, penguji yang ada di panggung segera mengumumkan: “Kekuatan magic Ma Ke telah habis. Pemenangnya adalah Zhang Gong.” Mendengar bahwa aku telah menang, aku merasakan kegembiraan yang meluap. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk memikirkan nasibku selanjutnya.

Setelah pengumuman, para guru yang bertugas memberi pertolongan pertama segera naik ke panggung dan menggunakan recovery magic untuk memulihkan kami berdua. Lalu akupun pingsan, seperti Ma Ke.”

…..

Saat terbangun, ternyata aku sudah di penginapan. Guru Xiu sedang duduk di sampingku, menjagaku.

“Kau sudah bangun. Bagus sekali. Kau masih ada di peringkat 1. Guru lega sekali kau akhirnya bangun. Sekarang kau istirahat lagi saja.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Inilah adanya. Kupejamkan mataku dan mulai bermeditasi.

…..

Keesokan harinya aku terbangun saat matahari sudah terbenam. Guru Xiu tidak ada. Aku bangun dan meregangkan ototku. Baguslah. Aku turun dan melihat si pemilik penginapan.

“Paman, apakah ada makanan? Aku lapar sekali.”

“Ah, kau rupanya. Akan kuambilkan.” Sepertinya si pemilik penginapan ini tahu bahwa aku mendapat peringkat 1 di ujian kemarin, jadi dia memperlakukanku dengan sangat baik hari ini. Beberapa saat kemudian, dia membawakanku semangkuk daging sapi dan kentang rebus panas yang asapnya masih mengepul. Baunya enak sekali, aku hampir meneteskan air liur. “Terima kasih, paman. Aku akan makan sekarang.”

“Jangan makan cepat-cepat begitu! Nanti kau tersedak.” Melihatku langsung menyantap makananku dengan lahap, dia menepuk kepalaku.

Sebagai hasil kerja kerasku tadi, daging sapi pun tandas ditambah enam mangkok nasi, luar biasa. Setelah ini mungkin aku tidak perlu makan lagi selama dua hari.

“Guru Xiu, kau sudah kembali!” Tepat ketika aku selesai makan, kulihat Guru Xiu datang.

“Ya. Aku sudah mengambilkan surat penerimaanmu. Ayo kembali ke kamar.”

Di kamar, Guru Xiu memberikan padaku surat penerimaan yang berhiaskan ukiran emas.

“Zhang Gong, kau bisa mendaftar ulang besok. Satu minggu lagi kau akan mulai belajar di sana. Untuk sekarang, kau bisa melihat-lihat lingkungan sekolahnya. Guru akan pergi besok. Uang sekolahmu untuk semester ini sudah kubayarkan. Kau harus belajar dengan sungguh-sungguh. Jika ada waktu, guru akan datang lagi untuk menjengukmu. Guru akan kembali ke kota Senke dan memberitahukan orang tuamu tentang hasilmu yang luar biasa ini. Setelah itu aku akan berkelana, mungkin saja aku akan berkunjung ke kerajaan Xiuda.

“Guru, kau akan pergi besok? Aku tidak ingin berpisah denganmu.” Kata-kataku ini memang separuhnya benar. Sekian lama aku menghabiskan waktu dengan Guru Xiu, dia telah merawatku dengan sangat baik.

“Asal kau belajar dengan sungguh-sungguh, semua lelahku akan terbayar.” Guru Xiu menyunggingkan senyum bijaksana seraya membelai kepalaku. Dari dalam bajunya, Guru Xiu mengambil sebuah kantong kecil dan memberikannya kepadaku. Aku menggenggam kantong itu. Akademi ini tertutup dari lingkungan luar, jadi kau tidak akan bisa menghabiskan uangmu. Simpanlah 50 koin emas ini. Gunakan hanya untuk keadaan darurat. Jika semester ini selesai nanti, aku akan datang menjemputmu.”

Wow. Ini adalah jumlah uang terbanyak yang pernah kuterima sejak lahir. “Terima kasih.”

“Oh, iya. Waktu itu kita membeli telur magical beast. Ambillah. Guru ingin melihatmu menetaskannya hari ini.”

“Baiklah.” Aku sudah menantikan magical beastku sejak lama. Segera kuambil telur magical beast yang putih itu.

Translator / Creator: Dila fd