October 10, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 5

 

Meeting A Formidable Opponent

Akhirnya tiba juga waktunya untuk “pertarungan yang menentukan”. Aku tidak tahu siapa lawanku nanti, tapi kuharap dia adalah peserta dari kelas menengah. Dengan begitu aku punya alasan untuk kalah dan terlihat lemah.

Semua peserta telah mengambil undian. Setelah itu diumumkan bahwa ujian pertarungan pertama akan dilakukan oleh Zhang Gong di peringkat satu melawan Ma Ke Wei di peringkat 12. Di pertarungan kedua ada Li Zha Lun, peringkat 2, melawan Lai Sai Heng Lan, peringkat 79.

Kebetulan yang sungguh mengejutkan. Ternyata lawanku adalah Ma Ke. Aku harus berani ambil risiko, kalau tidak, aku akan dapat peringkat 1 lagi. Tapi kuputuskan untuk memenangkan dulu pertarungan kali ini untuk balas dendam atas kejadian kemarin. Aku ingin balas dendam karena kemarin dia membuat semua orang tahu tentang peringkatku. Hehe. Lihat saja, Ma Ke. Akan kukacaukan pertarungan ini.

Urutan pertarungan diatur berdasarkan rangking, dari peringkat bawah ke atas. Peserta dengan peringkat bawah akan melawan peserta peringkat atas. Jadi, aku adalah peserta yang harus dilawan.

Di mana Ma Ke yang menyebalkan itu? Aku mencarinya di antara kerumunan orang, tapi aku tidak bisa menemukannya. Tidak mungkin, kan, dia takut aku akan mengalahkannya hari ini lalu dia kabur? Tentu saja tidak. Gurunya tidak akan mengizinkan. Sudahlah! Aku tidak akan mencarinya lagi. Aku pasti akan bertemu dengannya nanti saat pertarungan dimulai.

Pertarungannya terdiri dari 10 babak.

Sebetulnya, Ma Ke sedang bersembunyi di suatu sudut. Saat dia dengar bahwa lawannya adalah aku, dia hampir pingsan. Dia langsung menyesali perbuatannya kemarin. —- Habislah aku. Kakak Zhang Gong besok tidak akan memaafkanku. Kenapa aku bodoh sekali? Ini semua salahku. Oh, Tuhan, berkati dan lindungilah aku, semoga besok jasadku tetap utuh.

Wow! Demi masuk Royal Intermediate Magic Academy, semua peserta bertarung mati-matian, seakan hidup-mati mereka ditentukan di atas panggung itu. aku tidak tahu sekarang ini pertarungan nomor berapa. Yang sedang bertarung ini seorang water mage dan seorang wind mage. Mereka sama sekali tidak memakai defensive magic. Mereka mengerahkan segala kekuatan untuk menembakkan attack spell terkuat mereka. Di panggung, mereka memanggil angin dan mengundang hujan. Yang satu menggunakan hail spell, yang satu lagi menggunakan tornado spell. Sungguh mengerikan. Aku jadi berpikir akan menggunakan cara apa untuk bisa menang. Setelah setengah hari berpikir, akhirnya kuputuskan untuk menggunakan defensive magic dan fleeing magic untuk menghabiskan tenaga lawanku, barulah akan kuserang dia. Untungnya kekuatan magicku pasti lebih tinggi dari mereka. Akhirnya, pertarungan tadi berakhir karena si water mage melakukan keteledoran dan terkena wind blade dari wind mage.

Untuk ujian pertarungan hari ini, pihak akademi mengirimkan 10 great water mage dan 2 water magister untuk mengantisipasi jika ada yang cidera. Berkat adanya mereka, meskipun pertarungannya sangat intens, tidak ada peserta yang cidera parah.

Akhirnya giliranku tiba tiga jam kemudian. Kuregangkan otot-ototku sejenak lalu aku berjalan ke panggung.

“Inilah peringkat pertama dari ujian pertama, Zhang Gong Wei!”

“Penampilannya tidak ada hebat-hebatnya. Mana mungkin peserta yang belajar light magic dan tidak tahu attack spell apapun bisa ada di peringkat pertama. Dia pasti menyuap para penguji.”

“Kenapa lawannya tidak datang-datang?”

Aku berdiri di panggung dan melihat ke sekeliling. Ma Ke masih belum terlihat batang hidungnya. Tidak mungkin dia kabur sesaat sebelum mulai pertarungan. Aku sudah berencana untuk menghajarnya dengan sangat keras hingga penonton tidak akan kuat melihatnya. Dengan begini, aku sekaligus mengingatkan para penonton untuk tidak mencari perkara denganku, jadi tidak ada yang akan menyusahkanku nantinya.

“Ma Ke, peringkat 12 dari ujian pertama, belum muncul juga? Jika dalam 30 detik Ma Ke masih belum datang, kami akan putuskan bahwa dia menyerah.”

“Aku di sini.” Ma Ke akhirnya muncul, dia tampak tidak berdaya. Dengan storm spell, dia terbang menuju panggung. Pertama, dia memberi hormat kepada para penguji, lalu menghadapiku dan berkata pelan, “Aku tidak bermaksud melakukannya kemarin. Jangan marah. Kumohon jangan terlalu keras padaku.”

Ternyata dia tahu aku tidak akan memaafkannya. Dia cukup sadar diri.

“Hmph! Kau keterlaluan. Apa mungkin nasi yang sudah kau telan bisa kau muntahkan lagi? Biarkan aku menghajarmu sekali ini lalu aku akan memaafkanmu.”

“Jangan, boss. Aku benar-benar takut. Kumohon ampuni aku.”

“Sudahlah, lihat saja kekuatanku. Jangan harap aku akan mengasihanimu.”

“Baiklah kalau begitu boss. Hati-hatilah.” Setelah mengatakannya, dia membuat fire shield untuk melindungi dirinya.

Akupun segera membuat light prism shield. Aku tidak boleh ceroboh. Kekuatan anak ini juga cukup kuat. Akan mudah sekali baginya untuk mencapai peringkat pertama.

“Ayo, boss.” Ma Ke pun tahu aku tidak mungkin melunak padanya. Tak ada pilihan lain, dia terpaksa mengerahkan seluruh kekuatannya. Kami tidak saling tahu kekuatan satu sama lain, tapi melihat peringkat kami, kami sama-sama tahu bahwa lawan kami kuat. Jika salah satu di antara kami melemah sedikit saja, pasti dia akan langsung kalah.

Mantra dasar fireball melayang ke arahku. Kuangkat tangan kiriku dan kugunakan light prism shield untuk menghalau fireball. Dalam sekejap, fireball itu datang lalu mendadak berganti arah dari light prism shieldku menuju sisi belakangku. Benar-benar layak dia ada di peringkat satu untuk magic control. Seperti dugaanku, dia cukup sulit dikalahkan. Segera aku berteleportasi ke samping sambil menembakkan light arrow padanya. Light arrowku mengenai fire shieldnya, yang tentu saja tidak ada efeknya. Saat itu juga fireballnya mengejarku lagi.

“Fireballmu tidak meledak???”

“Hehe. Boss, ini bukan fireball biasa. Ini terbuat dari kumpulan fire element jadi aku bisa mengontrol 4 fireball sekaligus. Apa kau bisa menghindari semuanya?” Sambil berkata begitu, dia menembakkan 3 fireball lagi dari arah berbeda. Aku masih bisa menanganinya. Aku menghindar lagi.

Penonton mulai berteriak mencemooh. “Si peringkat paling atas hanya bisa kabur dari serangan beberapa fireball. Mana mungkin?”

Aku berpikir. Menghadapi fireball itu tanpa takut ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Kekuatan kami tidak beda jauh, dan sekarang kekuatan yang kugunakan malah lebih besar dari yang dia gunakan. Aku tidak bisa menghindar terus, aku bisa kalah. Sepertinya aku tidak punya cara lain. Aku akan sedikit curang.

Akupun berteleportasi ke arah Ma Ke. Lalu kugunakan light prism shield di tangan kiriku untuk mendorong tubuhnya. Fire shield Ma Ke rupanya kuat juga, hampir sekuat light prism shieldku. Ma Ke tampak bangga saat melihatku dikerjar fireballnya, tapi dia tidak menduga aku kan tiba-tiba muncul di dekatnya. Karena terkena dorongan light prism shieldku, dia jatuh. Konsentrasinya pun buyar sehinga fireballnya lepas dan meledak di sudut.

“Wow. Boss. Kau bisa melakukan itu juga ternyata.”

Aku tidak menjawabnya, sebaliknya aku berpindah ke samping dan menyerangnya. Ma Ke menghindar ke kiri, sambil merapal magic tingkat lanjut, Cruel Flame mengarah padaku. Aku mundur untuk menghindari serangannya.

“Baiklah boss. Kau memaksaku melakukan ini. Wahai fire spirit, dengarkan panggilanku. Jadilah hujan meteor dan habisi musuhku!”

Sial! Anak ini masih kejam juga rupanya. Advanced area flaming magic, flaming meteor. Aku menyadari kekuatanya yang besar. Panggung ini juga terlalu kecil. Hujan meteornya bisa mencakup 200 meter persegi. Jadi jelas, meteornya tidak akan bisa mengenaiku. Panggung ini luasnya hanya 15×15 meter.

Aku tahu light spirit shieldku tidak akan bisa melawannya. Jadi aku mengambil risiko: “Wahai light element yang hebat, kumohon dengan sangat, berubahlah kalian menjadi pisau tajam yang tak terhitung jumlahnya dan musnahkan segalanya!”

Light Severing vs. Flaming meteor. Kita akan segera tahu bagaimana hasilnya.

Translator / Creator: Dila fd