November 18, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 32

 

Five Years of Learning

Perjalanan yang tersisa terasa sangat membosankan. Secara perlahan, aku melupakan rasa cemasku tentang membunuh seseorang. Meskipun aku tidak ingin membunuh orang, itu untuk keamananku sendiri juga dan aku tidak bisa hanya berdiam diri dan terbunuh. Aku memutuskan untuk bertahan dan menghindar sebisa mungkin di masa depan. Guru Di mengatakan bahwa semua orang, yang merupakan makhluk hidup, berhak untuk hidup. Tidak ada seorangpun yang memiliki hak untuk mencabut nyawa orang lain sesuka hatinya. Selama ada satu nyawa yang diselamatkan, itu sudah cukup. Jadi aku memilih untuk menghindar. Benar-benar ajaran Guru Di itu akan mempengaruhiku sepanjang hidupku.

Akhirnya, aku tiba di rumah. Saat aku memasuki desa tempat tinggalku, aku merasa sangat akrab dengan jalanannya. Aku sudah kembali ke kampung halamanku.

Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma tanah kampung halamanku. Rasa nyaman dan hangat menyelimuti tubuhku. Guru Xiu menemaniku sampai ke gerbang rumah. Sekali lagi, aku melihat pagar mengitari rumah yang juga sangat ku kenali.

“Ibu. Ibu! Aku pulang!” Aku berteriak dengan keras.

“Anak bodoh, kedua orangtuamu pasti masih bekerja.” Guru Xiu mengingatkanku. Ah, benar juga! Ini masih pagi dan mereka juga pasti masih bekerja. Aku menggunakan sihir teleportasi untuk masuk ke rumah. Tidak ada yang berubah. Kamarku rapi tidak seperti biasanya. Pasti karena ibu sering membersihkannya. Aku mengundang Guru Xiu masuk ke rumah.

“Akhirnya, aku pulang.” Aku sangat ingin bertemu dengan ayah dan ibu sekarang. “Guru Xiu, tolong tunggulah di sini. Aku akan mencari ayah dan ibu.” Setelah mengatakan ini, aku berlari keluar menuju ke tempat ibu bekerja.

Saat aku baru sampai ke pintu gerbang tempat ibu bekerja, aku melihat sosok yang sangat ku kenali. “IBU—-!” Aku berlari ke arahnya.

Ibu belum menoleh, jadi aku dapat memeluk ibuku. “Zhang Gong, kau sudah pulang.” Ibu memelukku erat. “Ayo, biarkan ibu melihatmu.” Sambil memegang wajahku, ibu memperhatikanku. “Zhang Gong, kau sudah tumbuh besar.” Air mata ibu mengalir menuruni wajahnya.

Akhirnya, aku berkumpul lagi dengan ibu. Aku bisa merasakan aliran emosi saat aku memeluk ibuku erat dan mulai menangis. “Ibu, aku benar-benar merindukanmu.”

Sambil memelukku, ibu berkata, “Aku juga merindukanmu, Zhang Gong.”

Para penduduk desa juga datang dan setelah waktu yang cukup lama barulah aku melepaskan ibu. Setelah bertemu ibu lagi, hubunganku dengan ibu semakin erat. Aku menggenggam erat lengan baju ibu, tidak ingin melonggarkan cengkramanku sedikitpun karena takut akan terpisah dari ibu lagi.

Kepala desa berjalan mendekat. “Murid berbakat ini sudah pulang untuk berlibur. Bagaimana sekolahmu di ibukota?”

“Paman kepala desa. Sekolahku cukup bagus. Bagaimana kabar Ao De? Kemana dia pergi?”

“Anak muda itu tidak memiliki masa depan secerah dirimu tapi dia juga sedang liburan. Jadi dia sedang keluar bermain.”

Seluruh penduduk desa sangat antusias sambil terus menanyaiku berbagai macam pertanyaan. Biasanya aku tidak terlalu menyukai ini, tapi hari ini aku tidak merasa begitu. Dengan maksud baik, kepala desa mengizinkan ibuku pergi jadi kami bisa pulang bersama-sama.

Setelah sampai ke rumah, kami melihat ayah sudah ada di rumah. Sepertinya ada yang memberitahunya untuk pulang ke rumah. Dia sedang berbincang dengan Guru Xiu. Sekali lagi rasa kasih sayang mengalir saat aku melihat ayahku.

Ayah dan ibu tanpa berhenti menanyaiku tentang kehidupanku di akademi. Aku mengeluarkan 80 koin berlian yang diberikan oleh Magic union dan memberikannya kepada mereka. (aku menyisakan 20 koin untukku sendiri. Hehe.) Ibu dan ayah sangat terkejut, tapi mereka tahu kalau aku mendapatkannya dengan usahaku sendiri, sehingga mereka sangat bahagia. Aku berpikir dengan uang ini, mereka tidak harus bekerja terlalu keras untuk membiayai sekolahku di akademi.

Ibu dan ayah tampak sedikit menua jika dibandingkan dengan saat sebelum aku berangkat. Aku tahu kalau semuanya dilakukan untukku. Karena aku mereka harus membayar sangat mahal. Aku berharap mereka tidak harus bekerja terlalu keras. Oleh karena itu, aku mengatakan kepada mereka bahwa kekuatanku sudah tidak lebih lemah dari seorang great mage. Jadi di masa depan, aku tidak perlu mengandalkan mereka untuk membayar uang sekolahku. Aku bisa dengan kemampuanku sendiri.

Seperti inilah, aku memulai liburanku. Selain menemani ayah dan ibu, aku menghabiskan waktuku bermain dengan Ao De dan anak-anak desa lainnya. Kemudian, waktu berlalu sangat cepat dan liburanku berakhir. Aku harus kembali ke ibukota dan melanjutkan sekolahku. Meskipun aku tidak ingin meninggalkan semuanya, tapi ini demi kehidupan mereka yang lebih baik dan juga meningkatkan kemampuanku untuk melindungi mereka, aku harus meningkatkan kemampuanku.

Guru Xiu tidak menemaniku kali ini karena aku sudah tau jalannya. Dengan mata yang berkaca-kaca, aku melambai selamat tinggal kepada orangtuaku dan pergi kembali ke akademi.

Lima tahun yang aku lalui di Royal Intermediate Magic Academy adalah lima tahun yang paling penting di dalam hidupku. (Sebenarnya hanya empat, tapi Guru Di ingin aku memiliki pondasi yang kuat jadi aku menghabiskan tahun kedua di tingkatan kedua.) Selama lima tahun ini aku memiliki pondasi yang kuat untuk magicku. Meskipun masih ada sedikit kelemahan, di tahun kelima, magicku hampir menyamai Guru Di. Namun Guru Di memberitahuku bahwa aku sudah menjadi seseorang yang dikenal dengan baik bahkan diantara para Magister. Bola emas milikku sudah hampir menjadi transparan seutuhnya. Yang lebih penting lagi yaitu ada banyak teknik sihir yang aku ciptakan yang sangat mengagumkan bahkan membuat Guru Di kagum. Di tahun kelima tidak ada seorangpun yang mampu mengalahkanku untuk merebut posisi wakil angkatan. Perbedaan kekuatan antara aku dan Ma Ke juga semakin lebar sampai pada titik dimana aku adalah paling kuat di akademi.

Sesuatu yang juga layak dibahas yaitu pertumbuhan Xiao Jin yang sangat cepat. Dia sudah mencapai tahap akhir masa pertumbuhannya sehingga wujud naganya mulai tampak. Panjang tubuhnya mencapai 15 meter dan kekuatannya sudah jauh diatas seluruh magical beast yang Guru Di ketahui. Terutama physical attack powernya yang amat sangat kuat dan dapat dengan mudahnya menghancurkan defense magic tingkat menengah. Kalau aku dan Xiao Jin harus bertarung, aku sangat tidak yakin aku bisa mengalahkannya. Mungkin karena kami berbagi kehidupan, sihir apapun yang bisa aku gunakan, dapat digunakan juga oleh Xiao Jin. Dragon magic apapun yang dapat dia gunakan, aku juga bisa menggunakannya. Ini membuat kekuatanku meningkat secara drastis. Guru Di mengatakan bahwa jika aku dan Xiao Jin bekerja sama, kami bisa menandingi seorang magister.

Aku sudah berusia enam belas tahun. Setiap tahun aku pulang satu kali dan saat ayah dan ibu melihat sudah seberapa banyak aku tumbuh, mereka tampak sangat bahagia. Dengan uang yang aku menangkan setiap tahun dari kompetisi, aku membuat ayah dan ibuku bisa hidup dengan lebih layak.
…..

“Zhang Gong, Kau akan segera lulus. Apa rencanamu selanjutnya?” Guru Di memanggilku ke ruangannya hari ini.

“Ah, rencana apa yang aku miliki? Aku berencana pergi ke advanced magic academy.” Dengan kekuatanku sebagai wakil dari murid, aku tidak perlu mengikuti ujian masuk dan dapat langsung direkomendasikan ke Royal Advanced Magic Academy.

“Tidak. Aku tidak berharap kau melakukan itu.” Guru Di bergumam kepada dirinya sendiri.

“Apa? Apa yang baru saja anda katakan? Anda tidak membiarkan saya masuk ke advanced magic academy?” Aku bertanya dengan terkejut.

“Benar sekali. Karena jika kau mengikuti jalan yang aku ambil, apakah kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Meskipun kau sekarang sangat kuat, tapi kau selamanya tidak akan bisa melewati kemampuanku.” Kata-kata Guru Di yang begitu dalam membuatku terkejut.

Translator / Creator: Veve