November 18, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 31

 

I Have Killed

Aku berlari ke asrama. Seluruh teman sekamarku tidak ada di sini, aku berasumsi mereka sudah pulang. Aku mengemasi barangku dengan cepat karena aku juga ingin cepat pulang ke rumah.

Setelah aku selesai mengemasi barang, aku pergi ke kamar sebelah. Ma Ke masih ada di sana dan hampir sembuh dari luka-lukanya.

Melihatku datang, Ma Ke bangun dari tempat tidurnya, “Bos, kau kembali. Bagaimana dengan pemulihanmu?”

“Cukup baik. Bagaimana denganmu? Aku akan segera pulang ke rumah.”

Ma Ke menjulurkan tangannya kepadaku, “Tidak masalah, aku juga baru pulih. Jangan mengunjungiku lagi, aku juga sudah mau pergi!”

“Kalau begitu kita ucapkan salam perpisahan akhir tahun kita. Aku sangat ingin pulang, aku sangat merindukan rumah.”

“Tunggu aku sebentar, aku masih harus mengemas ibeberapa barang lagi. Ayo pergi bersama-sama.”

Ma Ke mengemasi beberapa barang miliknya dan sesaat kemudian kami berjalan keluar asrama bersama-sama.

“Ma Ke, apakah Hai Ri datang berkunjung?” Setelah semua itu, aku tidak memenuhi janjiku untuk menantangnya sekali lagi.

“Dia datang. Dia bertanya tentang kondisi lukamu dan berkata bahwa kau sangat menakutkan. Aku merasa bahwa dia bahkan tidak sanggup mengalahkanmu. Akan ada banyak kesempatan di masa depan. Tidak ada yang harus disesalkan. Kau memberikan pertunjukan yang bagus di pertandingan itu.”

“Hehe. Kalau begitu aku akan menunggu di semester depan. Akan ada banyak kesempatan untuk menantang Hai Ri.”

Di pintu masuk akademi, saat kami akan berpisah menuju jalan kami masing-masing, “Jagalah dirimu.” Aku menepuk pundaknya. Mata Ma Ke tampak merah.

“Bos, hari-hari yang kita lalui bersama sangat menyenangkan. Jagalah dirimu baik-baik juga. Rumahku ada di ibukota. Sampai jumpa semester depan.”

“Kita akan bertemu lagi.” Aku berbalik dan segera berlari secepat yang aku bisa. Aku khawatir kalau aku akan merasa enggan untuk pergi.

Tidak jauh dari sana, aku mendengar suara orang memanggilku, “Zhang Gong!”

Aku menoleh dan langsung terharu. “Guru Xiu, Anda datang. Aku kira anda tidak akan menjemputku.”

Guru Xiu masih belum berubah, namun ada jejak terharu di wajah seriusnya. “Bagaimana mungkin aku tidak datang? Ayo, kita pulang.”

Bersama-sama, Guru Xiu dan aku menyamakan langkah menuju rumah.

“Guru Xiu. Apakah anda menjenguk ayah dan ibuku baru-baru ini?”

“Sebelum aku berangkat, aku mengunjungi mereka sebentar. Mereka baik-baik saja, tapi mereka sangat merindukanmu. Bagaimana denganmu di akademi?”

“Sangat baik. Bukankah aku di urutan pertama saat ujian masuk? Aku adalah murid terbaik dari murid tahun kedua di akademi.”

“Benarkah itu? Kau di urutan pertama dari seluruh murid tahun kedua?”

“Itu benar. Aku juga memiliki teman baik, namanya Ma Ke.” Aku bercerita banyak hal mengenai saat aku di akademi. Kami bicara dengan tenang di jalan. Hanya saja, aku menyembunyikan fakta bahwa aku menggunakan sihir “Sharing Life” untuk menyelamatkan Xiao Jin. Aku tidak ingin Guru Xiu cemas. Aku juga tidak akan membiarkan keluargaku tahu. Guru Xiu tahu aku menjadi murid Guru Di. Dengan perasaan kagum, beliau terus menerus memberi selamat atas keberuntunganku. Beliau juga berulang kali mengingatkanku bahwa aku harus belajar sihir dengan tekun dibawah bimbingan Guru Di. Beliau juga mengatakan Guru Di memang salah satu yang terhebat di seluruh benua ini. Aku tidak tahu seberuntung apa aku ini.

Kami beristirahat sejenak. Saat tidak ada orang di sekitar kami, kami menggunakan teleportation magic untuk melanjutkan perjalanan. Dengan cepat, kami sudah melakukan dua pertiga perjalanan. Saat itulah kami sampai di sebuah hutan yang tidak kami ketahui dan sebuah masalah kecil muncul.

Sekitar sepuluh orang muncul dari hutan, menghalangi jalan kami. Mereka semua tampak sangat gagah.

Guru Xiu melihatku dan berbisik kepadaku, “Zhang Gong, aku akan maju dan mencari tahu apa masalahnya. Tunggulah aku di sini, kalau aku sudah selesai bicara, kita pergi.”

“Tuan-tuan, apa ada masalah?”

Pemimpin dari sepuluh orang itu menjawab, “Tidak ada masalah. Hanya saja kami sedang kehabisan uang saat kami ingin sedikit bermain dengan gadis-gadis cantik. Melihatmu berpakaian seperti ini, kalian pasti mage. Sebaiknya kau tidak melawan, saudara-saudaraku tidak akan bersikap ramah. Jadi serahkan uangmu dengan patuh.”

“Tuan-tuan yang sedang tidak punya uang, aku punya sepuluh koin emas. Mengapa tidak kalian ambil untuk beli minuman dan biarkan kami lewat?”

Pemimpin berbadan tegap itu mulai marah, “Kau pikir kami ini pengemis? Kau pikir jumlah segini cukup untuk membiarkanmu lewat? Ini tidak cukup. Serahkan semuanya!” Sepuluh pria kekar tersebut tampaknya bersiap untuk menyerang kami.

“Baiklah, baiklah. Kalau begitu tunggu disini, aku akan mengambilnya.”Guru Xiu mendekat kepadaku dan berbisik, “Zhang Gong, kemampuan sihir para bandit ini tidak kuat. Biarkan guru melihat hasil kerja kerasmu.”

“Apa? Anda ingin aku bertarung? Guru Xiu, aku tidak bisa. Mengapa tidak guru saja?” Ini pertama kalinya aku menghadapi situasi seperti ini. Aku benar-benar ketakutan.

“Lupakan pertanyaan itu. Magic saat digunakan dalam pertarungan yang sesungguhnya mampu membuatmu semakin kuat. Aku akan melindungimu. Bertarunglah tanpa rasa takut.” Guru Xiu berhenti tersenyum dan mulai mengangkat wajahnya.

Dia benar-benar cocok dengan julukan guru iblis, aku sadar aku tidak bisa menghindar. Aku hanya bisa memberanikan diri dan berjalan mendekat. “Tuan-tuan. Lihatlah kami, kami tidak punya uang. Tidak bisakah tuan membiarkan kami lewat?”

“Cukup omong kosongnya.” Perkataan ini seolah menamparnya dan menghasutnya untuk maju. Secara reflex, aku merasakan sihir teleportasi muncul dari jarak lima meter. Aku langsung memasang beberapa defense spell untuk melindungiku.

“Mage! Anak itu seorang mage. Semuanya menyerang bersama-sama!” Kelompok sepuluh orang kekar itu maju menyerang kami.

Apa yang harus aku lakukan? Aku belum pernah terlibat pertarungan yang sesungguhnya sebelum ini, aku sangat panik. Lupakan semuanya. Aku hanya akan bertarung! Aku akan menggunakan magic yang kuat dan semuanya akan berakhir. Aku menggunakan teleportasi dan mulai merapal mantra terkuatku. “Wahai light element yang dahsyat, kumohon ijinkan aku memakai kekuatanmu yang luar biasa, biarkan cahaya tidak terbatas di bumi bersinar.” Dengan posisiku yang berada di tengah, Brilliant Empire mengeluarkan cahaya yang membutakan, dan sangat terang.

“Wah, menggunakan sihir sekuat itu.” Dari jarak yang pendek, Guru Xiu langsung menggunakan teleportasi agar terhindar dari area berbahaya.

Karena tidak ada dinding pelindung, Brilliant Empire dapat menunjukkan kekuatannya dengan leluasa. Semua yang ada dalam radius dua ratus meter diliputi cahaya yang sangat terang. Sepuluh orang yang ada dalam jangkauan kekuatan magicku berubah menjadi abu. Aku hanya bisa melihat sihirku mengenai mereka, dan mereka sudah ditelan oleh magicku. Mereka sudah berubah menjadi beberapa titik kecil abu. Setelah itu, kau tidak akan dapat melihatnya lagi.

Dengan tatapan kosong, aku menarik kembali sihirku. Saat ini, Guru Xiu sudah kembali. “Zhang Gong, sihirmu luar biasa. Sihir apa yang baru saja kau pakai? Itu benar-benar membuatku takut. Mengapa kau memakai sihir sekuat itu untuk menangani hama kecil begitu? Menggunakan light arrow saja sudah cukup.”

“Aku sangat ketakutan tadi. Aku tidak bisa memikirkan apapun kecuali menggunakan Brilliant Empire. Itu adalah magic paling kuat yang bisa aku kendalikan. Guru Xiu, kemana mereka pergi?” Aku tidak menyadari bahwa aku telah membunuh mereka.

“Mereka… Mereka semua telah menjadi abu. Kau kira ini di akademi? Orang-orang itu hanya advance mage.”

“Apa? Aku membunuh mereka?” Aku memiliki tatapan kosong sekarang.

“Sudahlah. Lagipula mereka hanya penjahat.” Guru Xiu berusaha menenangkanku. Aku memang membunuh, tapi itu tidak penting. Pertama, mereka hanya bandit. Kedua, aku masih anak kecil. Yang terakhir yang paling penting, aku adalah murid yang hebat dari intermediate royal magic academy. Aku adalah pilar negara ini. Aku pasti punya hak istimewa. Lagipula, bagaimana mungkin ada yang tahu kalau aku sudah membunuh orang? Hehe.

Translator / Creator: Veve