November 15, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 26

 

Knocking Out Wo Ke

Sepertinya magic staff  itu memiliki efek yang membuatnya lebih kuat. Aku tahu bahwa dengan kemampuannya saat ini, dia tidak mungkin bisa melepaskan sebuah pure energy ball seperti itu. Bahkan bagiku itu cukup berat.

Sejak kemunculan magic ball milik Ma Ke, perlahan-lahan naga apinya memudar. Sepertinya untuk mempertahankan itu, membutuhkan banyak usaha dari Ma Ke. Aku mengambil keuntungan dari berkurangnya tekanan yang ada dan mulai merapal sebuah mantra. Sepertinya aku tidak punya pilihan selain menggunakan Brilliant Empire, namun aku sendiri tidak yakin ini dapat mengehentikannya. Sebenarnya, aku juga ingin menggunakan energy ball, tapi aku tahu kalau kemampuanku mengendalikan sihir tidak bisa dibandingkan dengan Ma Ke. Aku pasti bisa terkena serangannya, tapi aku tidak akan bisa menyerangnya. Hanya serangan area yang mampu melawannya.

“Oh light element yang dahsyat, izinkan aku meminjam kekuatanmu yang luar biasa, biarkan cahaya tidak terbatas yang ada di bumi bersinar.”

Dengan ditutupi cahaya yang menyilaukan dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, perlahan aku mulai melayang di atas tanah. Jubah sihirku berkibar di belakangku. Magic stone emas yang ada diatas abdomenku mengeluarkan cahaya emas, melengkapi cahaya putihku dan membuatnya semakin terang. Saat aku mengangkat kepalaku, gold Dan di upper dantian milikku menggunakan sepertiga magic power milikku untuk menyelimuti seluruh tubuhku. Bagaimanapun juga, perbedaannya kali ini adalah tambahan sepertiga magic power milikku untuk mengontrol magic ini karena aku tahu bahwa bola energi Ma Ke tidak lebih lemah dari Brilliant Empire milikku. Aku menghabiskan sisa magic powerku untuk membuat Brilliant Empire berkumpul di tengah dan membentuk sebuah pilar dengan diameter sebesar arena untuk bisa menyerang Ma Ke.

“Ah bos, kau sangat kejam. Kalau begitu aku juga.” Ma Ke mengayunkan tangannya, lalu bola energi yang ada di ujung magic staff sekarang meluncur kearah pillar cahaya milikku.

Berlawanan dari apa yang diharapkan, karena Brilliant Empire masih terurai, itu tidak mampu menghentikan bola energi itu selain memperlambatnya.

Dengan berani sambil menggunakan magic power yang tersisa di tubuhku untuk membuat Light Prism Shield. Fire energy ball mulai mendekat dan menghancurkan Light Prism Shield milikku. Untuk pertama kalinya Light Prism Shieldku bisa dihancurkan.

Aku merasakan panas yang luar biasa di seluruh tubuhku, aku tahu aku sudah kalah. Aku terkena bola energi itu. Kondisi ini seperti seribu pon yang bergantung pada seutas benang, sesuatu yang tidak pernah aku perkirakan terjadi. Magic stone yang ada di tengah jubah sihirku mengeluarkan cahaya emas yang menyilaukan. Cahaya emas itu menciptakan sebuah lapisan tidak terlihat yang meliputiku dan melindungiku dari energy ball itu.

Aku teringat kata-kata Guru Di dari dalam hatiku: ”Cepatlah berikan magic powermu untuk magic stone yang ada di atas abdomenmu.”

Secara tidak sadar aku melakukan sesuai yang dikatakan Guru Di.

Tabrakan antara bola energi itu dengan lapisan pelindung milikku membuat gesekan yang sangat keras, menciptakan gelombang dan tekanan untuk mendorongku. Sedikit demi sedikit, aku berjalan mundur. Aku sudah mencapai ujung arena.

Aku sudah tidak bisa mundur lagi.

Aku tidak boleh kalah. Tidak bisa kalah. Aku memegang magic staff ku secara horizontal sejajar dengan dadaku dan berteriak, “AH!—“

Secara bersamaan dengan teriakannku, sebuah energi hangat mengalir dari dalam tubuhku, mengalir ke tanganku dan masuk ke dalam tongkat sihirku. Rasanya seluruh tubuhku menjadi ringan. Akhirnya energy ball itu sudah dikalahkan oleh cahaya.

Aku terduduk di tanah, menarik nafas sedalam-dalamnya. Dari ujung bibirku, menetes sedikit darah. Baru saja, energy hangat itu meliputi tubuhku dan mengobati seluruh lukaku. Ah! Ini Xiao Jin. Ternyata dialah yang menolongku di saat-saat terakhir.

Dimana Ma Ke? Kemana Ma Ke pergi? Secara perlahan, aku mulai melihat sekitarku untuk menemukannya.

“Zhang Gong, jika kau tidak dapat bangun setelah lima detik, aku harus menganggapmu kalah.”

Sepertinya kondisi Ma Ke juga tidak baik. Aku segera berdiri.

Ternyata saat energy ball milik Ma Ke bertabrakan denganku, Brilliant Empire milikku juga telah mengenainya. Dia sudah tidak memiliki sedikitpun tenaga setelah menahan Brilliant Empire milikku yang saat itu sudah memadat. Saat ini dia telah dirawat oleh Guru Di. (Luka yang aku sebabkan tidaklah ringan.)

Aku sangat tidak mengira bahwa kemenangan akan jadi sesuatu yang sangat sulit. Di saat-saat terakhir, energi Xiao Jin digunakan untuk mencapai kemenangan. (Hehe. Aku melanggar satu peraturan, tapi tidak ada yang tahu karena magical beast sebenarnya tidak bisa memproduksi energi saat ada di dalam tubuh tuannya. Mereka harus dipanggil terlebih dahulu sebelum bisa melakukan sesuatu.)

Karena tubuhku masih lemah, kedua teman sekamarku membantuku kembali ke asrama. Saat aku ingin tidur, aku mendengar suara Guru Di.

“Anak muda, ada apa? Menang melawan Ma Ke yang levelnya jauh di bawahmu saja sampai harus berusaha sekeras itu. Kau benar-benar bodoh.”

Karena aku tidak mengerti maksud Guru Di, aku tidak bisa menjawab apapun. (Meski begitu, walaupun aku mengerti, kondisiku saat ini…) Sepertinya Guru Di tahu kalau aku juga tidak sanggup menjawab, jadi beliau langsung membombardir diriku dengan berbagai macam pelajarannya.

Inti yang beliau katakan adalah jika aku mengambil inisiatif untuk menyerang terlebih dahulu, kemenanganku tidak akan sesulit ini. Beliau juga mengatakan bahwa aku sangat ceroboh dan sihirku masih banyak kekurangan dan lain sebagainya.

Aku benar-benar tidak tahan, jadi aku menggunakan sedikit kekuatanku yang sudah mulai pulih untuk menyegel pikiranku. Perlahan aku mulai masuk ke dunia mimpi.

Karena penggunaan kekuatan sihir yang berlebihan, aku tidak melihat pertandingan Wo Ke dan gadis kelas D keesokan harinya. Lagipula siapa yang peduli, Wo Ke pasti menang. Meskipun Wo Ke sangat kuat, dia pasti tidak memiliki magic ball seperti Ma Ke. Jadi aku pasti bisa mengalahkannya besok.

Setelah makan siang, aku pergi ke kamar Ma Ke untuk menjenguknya. Kondisi kesehatannya masih sangat buruk. Dibandingkan denganku, aku sudah jauh lebih baik, meski bangun dari kasur untuk menjenguknya masih butuh sedikit usaha.

“Bos, kau benar-benar kejam. Aku kalah telak darimu.”

“Kau bilang aku kejam, padahal kau tidak mau dibilang kejam. Sialan. Aku juga banyak menerima luka karenamu. Kau benar-benar sudah berkembang jauh. Sebelum pertandingan, aku tidak menduga bahwa kekuatanmu dan kekuatanku tidak jauh berbeda. Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi. Jika tidak aku akan kalah darimu dan harus memanggilmu boss.”

Kami saling melihat dan secara bersamaan dan mulai tertawa. Kemudian kami melanjutkan mengobrol sebentar sebelum aku kembali ke kamarku. Aku harus mengendalikan suasana dan memadatkan kekuatan sihirku dengan baik sebelum pertandingan besok.

Saat aku bangun, hari telah sore. Si rambut hijau dan kedua teman sekamarku sudah kembali.

“Zhang Gong, kau benar-benar idolaku. Kekagumanku padamu seperti air sungai yang mengalir deras tanpa henti.”

“Oh, kau melihatku begitu kuat jadi kau ingin aku membantumu! Pergilah, jangan menggangguku.”

“Zhang Gong, aku punya berita mengejutkan. Mau dengar?”

“Kau! Berita apa yang kau punya?” Aku bertanya penuh keraguan.

“Ini sangat berguna untukmu. Tahukah kamu? Bos Wo Ke tanpa diduga telah kalah. Bahkan, dia kalah dengan sangat cepat.” Ujar si rambut hijau secara misterius.

“Apa! Apa yang baru saja kau bilang? Wo Ke kalah?” Mustahil. Ini sangat mengejutkan, Wo Ke kalah dari anak perempuan kelas D. Meskipun aku belum berhadapan dengannya, kekuatan Wo Ke jelas sangat kuat karena aku tahu menjadi wakil dari tahun kedua tidak semudah itu.

“Apakah kau berbohong padaku? Jika kau berbohong, kau akan mati.” Aku mulai memadatkan magic power di tanganku untuk menakut-nakuti si rambut hijau.

“Bos Zhang Gong, kumohon jangan. Apa yang aku katakan adalah benar. Jika kamu tidak percaya tanyalah mereka.”

Aku memandang mereka berdua dengan ragu-ragu.

Long De An menjawab, “Zhang Gong, si rambut hijau itu tidak bohong. Wo Ke benar-benar kalah dengan menyedihkan. Sepertinya selain dia, tidak ada yang mengerti bagaimana dia kalah.”

Translator / Creator: Veve