November 12, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 23

 

The Competition Begins

Saat aku kembali ke asrama, hanya ada si rambut hijau disana. “Zhang Gong, kemana saja kau akhir-akhir ini?”

Aku menatapnya dengan tatapan dingin dan dengan nada biasa aku menjawab, “Itu rahasia.”

“Ayolah, apa yang kau lakukan? Mereka bilang bahwa kau dan Hai Ri bertarung dan dia membunuh magical beast milikmu.”

Kau sebenarnya tidak mau membuka penutup periuk itu, Rambut hijau.

“Kau ingin menggangguku? Cobalah dan aku tidak akan bersikap sopan lagi.”

Si Rambut hijau menatapku marah dan kembali ke tempat tidur karena takut, tidak berani melanjutkan kata-katanya.

Di saat itu juga, dua teman sekamarku kembali. Mereka juga di tingkatan yang sama, hanya saja aku tidak tahu nama mereka.

Sejujurnya, meskipun aku sudah di akademi ini selama satu tahun, nama orang yang aku tahu dapat dihitung dengan jari. Semua orang sibuk sampai hampir tidak punya waktu untuk berbicara dengan yang lain.

“Namamu Zhang Gong? Apakah kamu punya rencana untuk kompetisi besok?” Mungkin karena kompetisinya besok jadi semua orang sedikit gugup, salah satu dari mereka berinisiatif untuk menyapaku.

“Hai, aku tidak punya rencana apapun. Tujuanku hanya ada satu, yaitu menjadi juara dari murid tahun kedua.” Saat aku mengatakannya, suaraku menjadi tegas.

“Ah! juara dari murid tahun kedua?” Kedua teman sekamarku saling menatap kaget. Si rambut hijau juga ikut.

“Zhang Gong, kau bercanda kan? Kau akan mencoba menjadi juara untuk tahun kedua? Bagimu mengalahkan bos adalah hal yang mustahil.”

Aku tidak nyaman melihat si rambut hijau, “Apa urusannya denganmu? Pergilah.”

“Semua orang punya tujuan. Meskipun kamu berjuang sangat keras, kamu mungkin tidak bisa mencapainya.” Ujarku tidak bersemangat.

“Zhang Gong benar. Namaku Long De An dan dia Shui Yan Ming. Ayo berteman.” Ujar teman sekamar yang lebih tinggi dengan nada kagum.

“Ya. Kalau begitu mari berteman.”

“Zhang Gong, kemarilah.” Aku mendengar suara Guru Di dalam kepalaku. Yang baru saja digunakannya adalah telepati. Saat ini, aku jarang menggunakannya.

“Kalian istirahatlah dulu. Aku mau keluar sebentar.” Aku memberitahu teman sekamarku. Aku keluar dari asrama dan menemui Guru Di yang berada di asrama guru di belakang sekolah.

Guru Di menungguku di luar di atas rerumputan.

“Guru, ada keadaan darurat apa sampai harus memanggilku?” Tanyaku sambil sedikit terengah-engah.

“Besok kompetisi. Apakah kamu percaya diri?”

“Tentu saja. Saat ini magic powerku sudah sangat kuat!”

“Besok kau akan mengambil undian. Kamu tidak bisa mengenakan baju itu terus. Ikutlah denganku.”

Mengikuti Guru Di, aku masuk ke asramanya. Dia mengeluarkan jubah sihir dari lemari dan memberikannya padaku. “Cobalah.”

“Anda memberikannya padaku?” Melihat jubah yang sangat indah itu, aku sedikit terkejut.

“Ya, mana mungkin aku membiarkan muridku tampil dengan kondisi tidak bagus? Mulai sekarang ini milikmu.” Guru Di berkata itu sambil tersenyum.

“Terima kasih, Guru Di.” Aku segera melipat jubahnya, in sangat indah. Kain yang putih bersih, disulam dengan emas. Jubah itu sangat besar, hamper seperti mantel. Jubah itu diikat diatas abdomenku. Setiap sisi terdapat magic stone putih murni yang bercahaya. Juga ada magic hexagram emas di bagian punggung.

“Ini benar-benar bagus. Tapi tidakkah ini sedikit kebesaran?”

“Anak bodoh. Cobalah dulu, Kemarilah, akan aku bantu.” Guru Di mendekatiku dan memegang jubahnya berdasarkan ukuran tubuhku. Kemudian mengambil dua magic stone di dadaku dan mengikatnya bersama. Setelah berkeletak, kedua batu itu menyatu dan berubah jadi berwarna emas.

Ajaib sekali. “Bagaimana bisa?”

“Nak. Jubah sihir ini diwariskan oleh guruku. Sekarang, aku mewariskannya padamu. penggunaannya sangat misterius. Di musim dingin dia menghangatkanmu. Di musim panas dia mendinginkanmu. Sebagai tambahannya, magic stone diatas abdomenmu mempercepat pemadatan magic powermu. Tidak kalah dengan magic stone ungu. Dan juga, jubah ini dapat berubah sesuai ukuran pemakainya. Kau boleh menganggapnya sebagai harta karun. Aku harap kau akan memakainya dan berjuang untuk kesuksesan besar.” Guru Di menatap mataku dalam-dalam.

“……… Pasti.” Jawabku dengan keinginan yang teguh.

Aku membelai lembut jubah itu. Ini pertama kalinya aku menerima pakaian yang begitu bagus. Sangat mempesona. Untuk memenuhi harapan guruku dan tidak membuat pemberian ini sia-sia, aku harus menang. Harus!

…….

“Baiklah, di bawah sana, semuanya bersiap untuk memulai upacara pengundian, murid tahun kedua yang berada di lapangan depan. Mereka akan mulai mengambil undian berdasarkan tingkatan kalian.”

Pengambilan undian berjalan denga cepat. Aku mendapat angka 11-4, dengan kata lain aku ada di grup 11 dengan nomor urut 4. Jadi beginilah kompetisi di grup; nomor urut 1 melawan nomor urut 2, nomor urut 3 melawan nomor urut 4, dan seterusnya. Itulah ronde pertama. Pada ronde kedua nomor urut 1 akan bertanding dengan nomor urut 6, nomor urut 2 dengan nomor urut 7, nomor urut 3 dengan nomor urut 8 dan seterusnya. Beginilah cara kami melanjutkan kompetisi. Untuk sembilan orang, menang satu kali mendapatkan 3 poin, kalah mendapatkan nol. Jika tidak ada yang menang sampai waktu habis, masing-masing mendapatkan satu poin.

Semuanya sudah mendapatkan undian. Sesuai dengan instruksi guru, semuanya berbaris berdasarkan undian yang didapat. Ma Ke berada di grup 5. Wo Ke di grup 9. Aku berdiri di grup 11 dengan nomor urut 4. Berdiri di depanku adalah lawan tanding pertamaku di kompetisi. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Sepertinya dia dari kelas lain. (Setiap tingkatan memiliki empat kelas dan satu kelas terdiri dari lima puluh siswa.) Dia berbalik dan menyapaku.

“Kamu adalah lawanku besok. Namaku Tian Feng Yang, wind magic major, dari kelas B.”

“Halo, namaku Zhang Gong Wei, light magic major.” Aku membalasnya dengan senyuman.

Dia sepertinya tidak tahu siapa aku. Kami berbicara sedikit. Aku merasakan kekuatan sihirnya berubah-ubah dengan cepat. Sepertinya dia hanya berlatih sihir semacam itu, sangat tidak beruntung baginya berhadapan denganku.

“Bos. Pakaianmu hari ini sangat keren., Bagaimana mungkin aku tidak pernah melihatmu memakai ini sebelumnya?” Setelah kami dibubarkan, Ma Ke berlari menemuiku.

Aku berbisik padanya bahwa Guru Di memberikannya padaku. Dia sedikit melompat, sambil berharap gurunya juga akan memberikan hal sama untuknya. Dia meninggalkanku dan berlari untuk menemui gurunya. Aku hanya menggelengkan kepala.

Besok kompetisi akan dimulai. Aku memperhatikan golden stone yang ada di atas abdomenku, memberikanku kepercayaan diri yang luar biasa. Aku harus menjadi juara tahun kedua. Aku juga akan menantang Hai Ri. Meskipun aku tidak menyimpan dendam, aku ingin bertanding secara adil dengannya.

Translator / Creator: Veve