November 10, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 21

 

Meeting Ma Ke Again

Aku membelai Xiao Jin dengan lembut, hm? Apa ini? Aku merasakan ada tonjolan besar di tubuhnya. Aku bertanya pada Xiao Jin (menggunakan telepati), apa ini? Xiao Jin mengatakan bahwa dia juga tidak tahu. Selain itu, jumlahnya ada lebih dari satu.

Aku menjauh dari pelukan Xiao Jin dan mulai mengamatinya.

Aku yakin, di bawah abdomennya ada sekitar lima tonjolan. Itu terlihat seperti tulang yang menonjol keluar. Pada punggung bagian atas, di antara tiga garis emasnya ada dua lembaran yang muncul. Ah, apa ini? Jangan bilang kalau Xiao Jin bukan seekor ular? Tidak, aku harus bertanya pada Guru Di.

Aku melanjutkan bermain dengan Xiao Jin sebentar. Melihat langit dengat cepat berubah menjadi terang, aku meminta Xiao Jin untuk kembali.

Perkembangan Xiao Jin sungguh luar biasa. Aku dapat merasakan kekuatan magic powernya. Bukan hanya itu, Xiao Jin juga sepertinya masih memiliki beberapa perubahan menarik yang tidak aku ketahui. Kemampuannya juga sudah banyak meningkat dan memiliki beberapa kemampuan unik baru. Namun apa saja itu, Xiao Jin sendiri masih belum tahu. Selain itu, dibandingkan dengan dirinya yang dulu, dia sekarang memberikan banyak perkembangan untukku dan akupun merasakan hubungan yang lebih kuat dengannya.

Saat langit mulai terang, Guru Di datang.

“Apakah kau merasa cukup istirahat kemarin, Zhang Gong?” Guru Di bertanya dengan lembut sambil meletakkan sesuatu yang ada di tangannya.

“Sangat cukup.” Enak, lezat, aku melanjutkan makanku. Tanpa memperhatikan Guru Di, aku terus makan.

Setelah menghabiskan semuanya, “Guru Di, anda membawakan makanan yang sangat enak, kenapa anda hanya diam saja?”

“Humph, kau adalah tipe anak nakal yang kalau sudah makan, baru menjadi kuat.” Guru Di menjawab dengan nada tidak senang.

“Jangan seperti itu. Apakah aku tidak berbakat dalam mempelajari magic?” Aku pun mulai menggunakan strategi anak manja. (Karena aku masih anak kecil.)

“Baiklah, terserah kau saja. Tentang berbakat atau tidak tergantung penampilanmu hari ini. Tidak ada banyak waktu, hanya tujuh hari saja. Aku harap kau mampu mempelajari sihir yang berguna dalam waktu itu. Kau harus serius.”

Melihat keseriusannya, aku tidak berani bercanda, “Baik, Guru.”

“Kau belum keluar selama beberapa hari ini. Ayo pergi keluar dan jalan-jalan sebentar di rumput.”

“Baik.”

Sangat menyegarkan. Sudah cukup lama aku tidak merasakan udara segar. Aku meregangkan tubuhku dan menarik nafas dalam-dalam. Bahkan meskipun cahaya matahari terasa menyilaukan, perasaan ini tetap sangat nyaman. Guru pun tidak menggangguku, membiarkanku memiliki sedikit waktu sebentar sampai aku tenang.

“Baiklah, aku akan mulai mengajarimu sekarang. Pertama-tama aku akan mengajarkanmu tentang advanced magic theory. Apa kau tau magic seperti apa yang aku gunakan pada tingkatku saat ini?”

“Apakah level yang berbeda memiliki metode yang berbeda dalam menggunakan magic? Untuk menggunakan magic, kita hanya perlu merapalkan mantra saja. Apakah ada hal lain untuk melakukannya?”

Guru Di menatapku, “Perhatikanlah, ini adalah magic yang sesungguhnya.” Beliau mengayunkan tangannya ke atas dan sinar cahaya putih muncul dari telapak tangannya. Seperti pedang yang sangat tajam, cahaya itu membelah batu besar dihadapan kami. Separuh bagian atas batu itu jatuh ke tanah.

“Apa? Apa itu benar-benar sebuah magic? Tidak ada mantra. Hanya mengayunkan telapak tangannya saja bisa menghasilkan hal seperti itu. Guru Di, bagaimana anda melakukannya?”

“Hehe, inilah kekuatan seorang magister. Dengan pengetahuanku, sihir biasa bisa menjadi seperti ini. Jika ingin mengerti magic element, kamu harus sangat teliti. Dan lagi, jika kamu benar-benar mengerti sebuah elemen, ini sangat mungkin dilakukan. Apa yang baru saja aku lakukan tadi mirip dengan Dou Qi slash milik seorang warrior. Sebenarnya, magic dan Dou Qi pada level selanjutnya bisa dibilang mirip. Kedepannya, kamu harus rajin belajar, berlatih, dan berusaha keras untuk menguasai metode untuk menggunakan elemen secara langsung sebelum kau lulus dari akademi. Tapi bukan ini yang akan kita pelajari hari ini. Ini bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dengan mudah. Hanya setelah kau menempa dirimu cukup lama baru kamu bisa mencapai tahap ini. Sekarang kau hanya tahu beberapa mantra advanced light attack. Bila dibandingkan, defense spell sangat penting. Tunggu sampai kompetisinya selesai. Baru setelah itu kita akan berlatih metode mengendalikan elemen.”

“Guru Di, anda benar-benar kuat! Saya baru mengerti kalau magic bisa digunakan dengan cara itu.” Aku melihatnya dengan tatapan kagum.”

“Tidak heran, karena aku adalah seorang magister! Ayo kita hentikan pembicaraan tidak penting ini. Pertama, kita akan mulai dari spell ini…”

……..

Tujuh hari terasa sangat cepat berlalu. Dibawah bimbingan Guru Di, yang aku pelajari tidaklah sedikit, khususnya kemampuanku dalam mengontrol kekuatan sihir. Dengan dibantu oleh jumlah magic powerku yang hebat, aku membuat perkembangan yang pesat dalam mengendalikan sihirku. Golden Sphere dalam tubuhku juga sudah mulai stabil.

Aku sudah bertanya kepada Guru Di tentang perubahan tubuh Xiao Jin. Setelah berpikir cukup lama, beliau mengatakan kepadaku bahwa dia sendiri belum pernah melihat magic beast yang seperti itu. Mungkin saja perubahan itu terjadi karena aku telah merapalkan sihir “Sharing Life”. Bagaimanapun juga, tidak ada yang dapat dilakukan untuk itu.

Mengetahui hal itu, aku merasa lebih lega. Selama Xiao Jin masih hidup dan baik-baik saja, aku tidak peduli bentuk apa yang dia miliki.

Dalam tujuh hari itu, aku mendapat berita baik. Guru Di mengatakan bahwa dua puluh hari yang lalu, Ma Ke telah menjadi murid dari wakil kepala sekolah. Kali ini kami bisa lulus bersamaan. Kau harus tahu bahwa wakil kepala sekolah adalah seorang magister juga.

Besok, aku akan kembali ke tempat teman-temanku. Saat Guru Di pergi hari ini, dia mengingatkan ku sekali lagi untuk mengatakan apapun soal Xiao Jin yang berhasil selamat ataupun aku yang menjadi muridnya. Guru Di benar-benar orang tua yang menarik. Metode mengajarnya sederhana dan tidak biasa. Dia hanya memberimu penjelasan lalu membiarkanmu memikirkan hal itu sendiri. Atau dia hanya memberikanmu sebuah mantra dan membiarkanmu mencoba mantra itu sendiri. Dia memberikan sedikit kebebasan. Tanpa mengetahui usianya, dia bersikap seperti kakekku, namun terkadang dia seperti anak kecil yang berisik sepertiku. Aku menyadari bahwa aku benar-benar tertarik dengan orang tua ini.

………..

Saat aku masuk ke ruang kelas, semua orang menatapku dengan pandangan kagum. Aku tidak mengatakan apapun sambil berjalan menuju tempat dudukku.

“Bos!” Telingaku mendengar suara yang tidak asing bagiku.

“Ma Ke.” Aku berpaling dan menyapa teman baikku yang sudah lama tidak aku temui.

Kami saling menatap satu sama lain. Kemudian saling merangkul dengan erat.

Ma Ke berbisik ke telingaku, “Bos, Aku sudah mengerti tentang dirimu. Lakukan yang terbaik saat kompetisi!”

“Ya. Kau juga.”

Bel berbunyi, menandakan kelas sudah dimulai. Semua orang kembali ke tempat duduknya. Di kelas hari ini, peraturan dalam kompetisi akhir akan diumumkan.

Besok, pertandingan awal akan dimulai. Mengingat tugas yang diberikan Guru Di padaku, aku jadi sakit kepala.

Translator / Creator: Veve