October 20, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 18

 

Magic Power Compression

Setelah beristirahat selama sebulan, kondisi tubuhku pun kembali seperti sediakala.

“Zhang Gong, kau sudah pulih total. Hari ini kita mulai belajar.”

“Baik. Guru Di, apa yang akan kau ajarkan kepadaku?”

“Pertama, aku ingin tahu saat ini kau berada di level mana. Aku ingin mengajarimu sesuai levelmu sekarang.”

“Aku tidak tahu sampai di mana levelku.”

“Saat bermeditasi, kekuatan magicmu bisa mencapai level apa?”

“Kekuatan magicku sudah lama sekali tidak mengalami peningkatan. Sekarang, aku merasa kekuatan magicku seperti ada di ujung botol. Bagaimanapun usahaku, aku tidak dapat meningkatkannya lebih jauh lagi.”

“Jadi kekuatan magicmu harusnya sudah sampai di level intermediate mage. Bagus juga. Apa kau tahu kenapa kekuatan magicmu tidak bisa meningkat lagi?” Guru Di bertanya seraya tersenyum.

Aku menggaruk kepalaku karena bingung. “Aku tidak tahu.”

“Akan kuberikan kau perumpamaan. Berapa banyak air dan udara yang bisa ditampung oleh sebuah botol?”

“Bergantung dari seberapa besar botol itu.” Pertanyaan Guru Di ini agak bodoh.

“Jadi, bisakah dua botol yang serupa menampung jumlah air dan udara yang sama?”

“Tentu saja. Kedua botol itu memiliki ruang yang sama besarnya. Isinya saja yang berbeda jenis.” Bahkan kejeniusanku tidak mampu memecahkan teka-teki sederhana ini.

Guru Di mengangguk tanda setuju. “Kau benar. Dua botol yang serupa masing-masing memang bisa menampung air dan udara dengan jumlah yang sama. Tapi jika kau ubah air itu menjadi uap, apakah jumlah yang ditampung botol-botol itu masih sama?”

“Saat itu aku mulai paham, tapi kata-kata Guru Di masih belum jelas.

Guru Di melihatku merenung, jadi dia membiarkanku.

“Bagus. Inilah pelajaran hari ini dan PRmu adalah mencari jawabannya. Pikirkan dengan sungguh-sungguh. Pertanyaanku ini terkait dengan masalah kemampuanmu yang sudah mencapai ujung botol itu tadi. Pengetahuan tentang magic memang harus dipahami oleh dirimu sendiri. Itulah sebabnya para guru sering berusaha meningkatkan kemampuannya dengan mengasingkan diri. Seberapa banyak yang bisa kau pelajari, itu bergantung padamu sendiri. Aku akan pergi dulu. Masih ada waktu 2 bulan hingga akhir semester. Kau akan berlatih selama sebulan di sini. Setelah itu, kau kembali menghadiri kelas bersama teman-temanmu yang lain. Tujuan dari latihan dariku adalah supaya kau bisa mengikuti turnamen akhir semester di magic academy ini.

“Ah, mengikuti turnamen? Guru Di, apa aku mampu?” Setelah merasakan kemampuan magic Hai Ri, aku jadi kehilangan kepercayaan diri.

“Mana mungkin tidak mampu? Kau ini muridku. Kau tidak boleh mempermalukanku. Kau harus rajin berlatih.” Guru Di berpaling hendak pergi.

“Apa ada kemungkinan aku tidak bisa mengikuti turnamen, guru?”

“Pertanyaan macam apa itu. Kompetisi ini adalah ujian akhir semester yang harus diikuti oleh setiap murid. Jika nilaimu terlalu rendah, maka kau harus mengulang tahun depan. Humph. Anak ini ingin bermalas-malasan rupanya. Jangan berani-berani bertanya seperti itu lagi. Jangan harap aku akan merubah aturan sekolah hanya untukmu.”

Melihat senyum Guru Di yang agak sinis, kurasa dia tahu rencanaku itu. Bagaimanapun, aku sudah berniat akan rajin belajar magic. Jika sudah saatnya, aku akan bertanya lagi.
Guru Di pergi saat aku mulai memikirkan jawaban untuk PRku.

Air… Uap… Udara… Botol… Apa hubungan semua benda itu?

Uap dapat berubah menjadi air. Sebuah botol hanya dapat menampung air dengan jumlah tertentu. (Aku membayangkan sedang memegang sebuah botol.) Botol lain yang serupa hanya dapat menampung uap dengan jumlah yang sama. Jika uapnya berubah menjadi air…

Ah! Aku paham sekarang. Begitu rupanya. Jadi aku akan menerangkan seperti ini. Katakanlah aku adalah sebuah botol dan uap adalah magic powerku sekarang. Magic powerku sudah tidak bisa berkembang lagi dalam botol itu. Tapi jika magic power diumpamakan sebagai uap, maka aku bisa merubahnya menjadi air sehingga aku bisa menampung lebih banyak magic power. Yeah!!! Aku memang sungguh pintar.

Setelah kupahami, aku seolah menemukan jalan keluar. Baguslah, akan kucoba sekarang.

Aku mulai bermeditasi. Tapi kali ini aku tidak tidur. Aku terus memikirkan tentang magic power dalam diriku. Tiba-tiba aku berpikir tentang pertanyaan itu. bagaimana caraku mengompres magic powerku? Tak masalah, pasti akan kutemukan caranya.

Kugunakan spiritual powerku untuk menangkap magic power dalam tubuhku dan menyisihkannya sebanyak seperlima bagian. Sisanya kubiarkan tersebar ke seluruh tubuhku. Untuk seperlima bagian ini, kualirkan ke Upper Dantianku (dan juga ke tempat di antara kedua alisku.) Aku mulai menggunakan spiritual powerku untuk mengompresnya.

Sulit sekali. Seakan-akan magic powerku yang ini tidak mau dikompres, dia melawan sekuat tenaga. Mengapa ukurannya tidak berkurang? Apa yang terjadi? Aku berkata kepada light element di dalam tubuhku. “Para leluhur, paman dan bibi. Kalian saling terpisah jauh, tapi semuanya tampak hidup bersamaan. Ayolah, apa kalian tidak ingin membantuku? Apakah kalian mau saling mendekat satu sama lain?

Light element dalam tubuhku tampaknya memahami perkataanku. Mereka mulai memampatkan diri, perlahan membentuk bola cahaya kecil. Ukurannya lebih seperlima kali lebih kecil dari aslinya. Berhasil! Aku berhasil. Setelah sukses mengompres ukuran light elemen, aku senang bukan main. Kemudian aku mulai memasuki alam mimpi. (Pengompresan magic element menghabiskan spiritual energy dalam jumlah yang luar biasa besar. Spiritual energyku telah mencapai batasnya. Aku tidak kuat lagi dan jatuh tertidur.)

Pagi kedua, aku pergi ke tempat yang sama. Aku merasakan light element dalam tubuhku terasa semakin kaya. Bola cahaya yang sangat murni yang sudah kukompres kemarin masih bertahan di upper dantianku dan ruang kosong yang kuciptakan kemarin sudah terisi lagi. (Kemampuan meditasi tidurku sudah mencapai titik sempurna. Hehe.) Ya, ini perasaan yang sama sekali tidak buruk.

Guru Di mendorong pintu dan masuk. Dia tidak berkata apapun, hanya menatap wajahku dan ternganga. Setelah beberapa saat, aku melihat tatapannya itu.

“Guru Di, ada apa? Mengapa kau menatapku begitu lama?”Aku bertanya dengan ragu.

“Zhang Gong, kau benar-benar tidak mengecewakan. Dari semua orang yang kukenal, kaulah yang paling cepat memahami metode mengompres magic power. Bahkan di usiamu yang masih sangat muda ini. Potensimu di masa depan nanti sungguuh luar biasa. Hahahah! Aku telah memilih seorang jenius. Ya!!!” Tidak kusangka Guru Di bisa bertingkah seperti bocah. Dia melonjak kegirangan.

“Huh? Apa? Bagaimana anda tahu aku sudah paham metode mengompres magic powerku?” Aku bertanya bingung.

“Bodoh. Bercerminlah, dan kau akan mengerti.”

“Benarkah? Akan kulihat.”

Aku berjalan menuju sebuah cermin dan agak terpukau saat melihat diriku sendiri. Apa benar ini aku? Meskpiun sebelum ini kulitku memang sudah bagus, kali ini berbeda. Wajahku tampak seperti memiliki lapisan berkilau. Kulit wajahku tampak cemerlang, seperti batu permata yang telah dipoles. Mengagumkan sekali…

“Guru Di, bagaimana ini bisa terjadi?”

Translator / Creator: Dila fd