October 19, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 16

 

Sharing Life

Si penyihir tua berjubah putih berjalan di depanku dan membelai kepalaku.

“Anak bodoh, jangan terlalu sedih begitu. Biar kuperiksa magic beastmu. Mungkin aku masih bisa menyelamatkannya.”

“Benarkah? Ini dia.” Aku kembali melihat harapan. Akhirnya kau datang. Segera kuserahkan Xiao Jin kepadanya.

“Apapun yang terjadi, kau harus menghidupkannya kembali. Yang kuinginkan hanya Xiao Jin hidup kembali. Aku tidak ingin yang lainnya. Aku mohon padamu.” Kuraih tangan si penyihir tua itu dan memohon dengan sangat.

Si penyihir tua itu tidak menjawab. Dia meletakkan tangannya di atas tubuh Xiao Jin dan perlahan memancarkan cahaya putih. Cahayanya sangat lembut dan tidak menyilaukan. Sesaat kemudian, tubuh Xiao Jin diselimuti cahaya putih itu. Mantra yang digunakannya itu tampak seperti spiritual recovery spell yang biasa kupakai, tapi sepertinya ada yang berbeda.

Setelah beberapa saat, aku menunggu dengan gelisah. Si penyihir tua itu mengangkat tangannya dari tubuh Xiao Jin dan mengeluh.

Segera saja harapanku yang tadi muncul kembali, kini jatuh bebas. “Apa tidak bisa? Apakah tidak ada harapan untuk Xiao Jin hidup kembali?” Aku bertanya dengan tidak sabar.

“Nak. Jangan khawatir. Dengarkan aku. Magical beastmu ini adalah magical beast tipe growth terbaik yang pernah kulihat. Jika kau pikir dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri, apa kau akan mengeluarkannya? Apakah gurumu sebelumnya tidak memberitahumu soal ini?”

Aku mendundukkan kepala karena malu. “Dia sudah memberitahuku. Tapi aku… Aku terlalu bersemangat saat itu sampai-sampai aku lupa.”

“Jangan salahkan dirimu sendiri. Kau memang harus bertanggung jawab atas musibah yang kau sebabkan untuk dirimu sendiri ini.”

“Lalu apakah kita masih bisa menyelamatkan Xiao Jin?”
“Mungkin ya, mungkin tidak. Semua bergantung padamu.” Si penyihir tua menatapku penuh arti.

“Aku? Kalau begitu cepat katakan apa yang harus kulakukan.”

“Jadi sekarang begini situasinya. Beberapa saat lalu aku memeriksa magic beastmu. Luka-lukanya sudah sembuh berkat spirit recovery spell yang kau gunakan. Namun, life energynya sudah habis karena serangan terakhir magical beast milik Hai Ri. Persoalan utamanya adalah bagaimana caranya kita memberikan life energy dengan jumlah yang cukup untuk bisa menopangnya dan menyadarkannya.”

Begitu kulihat si penyihir tua selesai bicara, aku segera menyela, “Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Sebelum kukatakan padamu, aku harus menanyakan satu hal padamu.”

“Silakan.”

“Apa kau menyayangi magical beastmu?”

“Tentu saja aku menyayanginya. Dia sudah seperti keluargaku sendiri.” Saat aku mengatakannya mataku sudah memerah karena ingin menangis.

“Bagus. Jadi kau bersedia memberikan apapun untuknya, bahkan hidupmu sendiri?”

Tanpa sedikitpun keraguan, aku menjawab, “Aku bersedia. Asalkan dia bisa hidup, aku mau melakukan apapun.”

Melihatku yang bersikukuh, si penyihir tua tersenyum tanda setuju. “Bagus, bagus sekali. Untuk menghidupkannya kembali, kau harus memberinya life energy. Artinya, kau harus bersedia membagi life energymu dengannya. Dengan kata lain, dia akan menjadi bagian tubuhmu. Lalu dengan life energymu, kau akan menyadarkannya kembali. Hanya itu yang dapat kau lakukan.”

“Membagi life energyku denganya? Bagaimana caranya? Apakah akan ada konsekuensi untuk waktu mendatang?”

“Jika kau berhasil, ada beberapa hal yang bisa kupastikan. Pertama, di waktu mendatang, kau tidak bisa memiliki magical beast lain. Kedua, nyawanya akan terhubung denganmu. Jika kau mati, dia juga pasti akan mati. Dan ketiga,” Si penyihir tua berhenti sejenak. “Life energymu akan diparuh.”

“Diparuh? Aku mengerti tentang hal pertama dan kedua. Tapi apa maksudnya diparuh? Apa memang itu yang harus kukorbankan?”

“Dengan kata lain, jika masa hidupmu aslinya adalah 120 tahun (rata-rata masa hidup manusia pada umumnya), dan kau mau membagi life energymu dengannya, maka masa hidupmu akan dibagi dua dengannya menjadi 60 tahun. Apa kau bersedia merelakan 60 tahun hidupmu demi menghidupkannya kembali?”

Aku memandang sekilas ke arah Xiao Jin. Tubuhnya masih begitu putih, tapi garis keemasannya mulai kehilangan kilaunya. Aku membelai kepalanya.

Dengan keyakinan penuh, aku menjawab, “Aku bersedia.” Mulai sekarang, si anak cahaya dan teman seumur hidup sekaligus kawan seperjuangannya itu akan mengikat kontrak abadi.

“Kau anak yang baik. Kau tidak akan mengecewakan.” Si penyihir tua berseru. “Tenanglah, nanti aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari cara mengembalikan life energymu. Tapi untuk sekarang, mari mulai yang ini dulu.”
Aku mengangguk.

Kami pergi ke sebuah ruang kelas kecil yang tidak terpakai di akademi. Lalu si penyihir tua membuat batasan yang kuat dan kokoh di luarnya.

“Kita mulai.” Aku mengangguk padanya.

Kubawa Xiao Jin ke dalam hexagram di tengah ruangan. Dengan hati-hati, kuletakkan Xiao Jin di tengah hexagram. Aku memandangnya dengan penuh sayang. Lalu kuangkat tanganku dari kedua sisi tubuhku hingga setinggi kepalaku, kemudian aku mulai merapal mantra yang hanya akan kugunakan sekali seumur hidup, Sharing Life.

Si penyihir tua berkata bahwa ini adalah spell kuno yang ditemukannya di suatu reruntuhan bangunan, diukir di atas kepingan batu. Dia tidak pernah menggunakannya sebelumnya dan dia tidak tahu hasilnya nanti akan seperti apa. Namun, dia juga tidak mengerti saat itu bahwa penggunaan spell ini nantinya akan sangat membantuku saat aku menjadi Grand Magister di masa depan. Itu dikarenakan penggunaan spell ini membuatku memahami sifat asli dari light element, yaitu cinta dan pegorbanan diri.

“Wahai, Dewa Maha Pencipta! Aku dengan segala kerendahan hati memohon pertolonganmu. Gunakanlah kekuatanmu yang tiada habisnya itu untuk membuka asal kehidupanku. Aku bersedia mengikat kontrak kekal abadi dengan makhluk di depanmu. Kontrak untuk membagi hidupku!”

Setelah aku menyelesaikan mantraku, tubuhku mulai memancarkan cahaya putih, awalnya lembut dan lama kelamaan menjadi semakin terang, sampai akhirnya cahaya putih itu menyelimuti badanku. Perlahan, cahaya yang putih itu berubah menjadi keemasan. Saat ini, aku terlihat seperti bintang kecil. Saat cahaya emas itu sedang kuat-kuatnya memancar, Upper Dantianku mengalirkan cahaya emas kearah Xiao Jin. Di bawah cahaya keemasan itu, tubuh Xiao Jin perlahan memudar. Setelah itu cahaya emas itu menjelma menjadi bola dan melayang di atas tanah. Setelah terdengar suara desingan, bola itu menuju Upper Dantianku dan masuk ke tubuhku.

Cahaya yang menyelimuti badanku pun perlahan menghilang. Aku merasa luar biasa lemas, tapi di waktu yang sama aku juga merasakan keberadaan Xiao Jin. Dengan lembut, aku memanggilnya dalam pikiranku. “Xiao Jin, kau kembali.” Bola keemasan yang memaski tubuhku bergetar sesaat. Setelah itu, dari tengah cahaya emas itu timbullah sentakan dalam kepalaku. Aku tahu pasti, aku telah berhasil. Xiao Jinku — dia telah kembali. Dengan hati yang damai, aku memejamkan mata lalu pingsan.

Translator / Creator: Dila fd