October 15, 2016

Child of Light – Volume 2 / Chapter 12

 

Meeting Hai Yue Xing

Waktu berjalan sangat cepat. Sekejap saja, 3 bulan telah berlalu. Aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di akademi. Dibandingkan saat aku belajar dengan si iblis, tempat ini jauh lebih bebas. Setiap harinya tidak begitu banyak yang harus kulakukan selain menghadiri kelas di pagi hari. Setelah itu aku bebas melakukan apapun. Benar-benar menyenangkan.

Selama 3 bulan ini, kemampuan magicku secara keseluruhan tidak meningkat, terutama mana ku. Namun kekuatan spiritual dan magic control ku menjadi semakin baik. aku benar-benar tidak tahu caranya meningkatkan mana ku. Ah, lupakan saja. Tidak masalah. Kupikirkan saja nanti. Di kelas light magic, aku baru belajar 1 light spell, Tribute of Light. (ini adalah intermediate light auxiliary spell. Seringnya digunakan untuk menghiangkan Invasive Toxic Gas, dark spell level rendah, secara massal. Selain itu juga digunakan di beberapa situasi khusus.) Aku juga meningkatkan kekuatan light prism shieldku. (sekarang light prism shieldku bisa melindungi seluruh tubuhku dan telah menjadi omnidirectional reflective defense spell. Haha.)

Untuk spatial magic, aku sudah hampir bisa menguasai short range teleportation. Tentu saja, sangat mungkin bagiku untuk mengembangkan kemampuanku lebih jauh lagi. Aku masih belum berani mencoba long distance teleportation. Jadi satu-satunya peningkatan yang kucapai adalah untuk small dimensional slash. Kini akhirnya aku sudah bisa mengendalikan spell itu. aku mencobanya dengan Ma Ke. Ternyata small dimensional slash yang kulakukan bisa mengalahkan spell level intermediate Ma Ke. Sungguh bagus.

Sejauh ini yang paling pesat pertumbuhannya adalah Xiao Jin. Sekarang, makhluk kecil itu telah tumbuh dengan mengagumkan. Panjangnya sudah 5 kaki. Garis emas di tubuhnya jadi semakin terlihat. Dan yang paling mengejutkan, di kepalanya kini tumbuh tanduk emas kecil. Tapi dia tetap tidak mau jauh dariku. Setiap kali aku mengajaknya bermain, paling jauh dia akan pergi 5 mater dariku. Kemampuannya juga meningkat jauh. Dia sudah tidak kalah bila dibandingkan dengan magical beast rank 4. Dia sudah bisa menggunakan hampir semua magic spell level intermediate yang aku bisa, tapi aku tidak tahu mengapa dia masih belum bisa menggunakan spatial magic. Melihatnya tumbuh seperti itu aku jadi bangga padanya. Aku merasa dia telah menjadi bagian dari hidupku. Aku jadi kesepian bila tidak memanggilnya keluar dan menengoknya. Saat-saat damai seperti ini terus berjalan dan perlahan aku mulai melupakan peringatan si Old Devil. Sampai sekarang akupun tidak ingin bertemu magical beast rank apapun yang berniat buruk pada Xiao Jin.

Yang paling membuatku terganggu adalah si penyihir berjubah putih itu selalu muncul di hidupku. Setiap kali aku bermain dengan Xiao Jin di malam hari, aku hampir selalu bertemu dengannya. Guru ini sangat mengganggu dan apapun yang kulakukan, aku tidak bisa sembunyi darinya. Karena itu, beberapa kali aku mencoba berpindah tempat, tapi guru ini tetap mengikutiku bagaikan bayanganku sendiri. Aku tidak akan mau menjadi muridnya. Coba saja. Hehe. Aku tidak ingin hidupku dibatasi!
Ma Ke memang bertekad kuat. Setiap hari dia selalu berusaha menggoda entah siapa itu namanya (sampai sekarang aku belum tahu nama gadis itu. aku bahkan belum pernah bertemu dengannya. Aku tidak ingin orang-orang menyangka aku sama saja dengan si kue beras berambut merah (catatan: kue beras berambut merah adalah julukan murid-murid lain untuk Ma Ke. Orang-orang kini mengenalnya dengan nama itu. haha.) Meskipun dia sering dihajar hingga hidungnya terluka dan wajahnya bengkak, dia tidak pernah menyerah. Memang seperti itulah orangnya. Menurut ceritanya, dia telah mengalami banyak peningkatan. Meskipun si gadis masih tidak peduli padanya, dia sekarang sudah tidak dipukuli lagi karena kakak si gadis itu adalah ketua tingkat 4 dan mungkin merasa tersentuh melihat usaha Ma Ke. Dia memberi Ma Ke sebuah misi. Jika level magic Ma Ke bisa melebihinya, maka dia mengizinkan Ma Ke mendekati adiknya. Sejak saat itu, Ma Ke berlatih mati-matian setiap hari.

Kemampuannya sudah sama denganku. Dia belajar dengan cepat.

“Ma Ke, ayo makan.” Kelas baru saja selesai saat itu.

“Oh!” Aku baru akhir-akhir ini mengetahui tindakannya yang konyol itu. Baginya, seakan-akan tidak ada hal yang lebih penting selain berlatih.

“Si gadis cantik itu mencarimu.”

“Mana? Mana?” Mata Ma Ke langsung berbinar.

“Boss, aku ini adikmu satu-satunya tapi kau tega menipuku!” Ma Ke memprotesku begitu dia tidak melihat si gadis.

“Dasar. Kau ini seperti tersihir saja. Memangnya dia semenarik itu?”

“Kau tidak akan mengerti. Begitu melihatnya aku merasa bahagia.” Aku melihat matanya seakan-akan berubah menjadi bentuk hati. Aku tidak tahan melihatnya.

“Baiklah. Siapa namanya? Aku bahkan belum tahu sampai sekarang.”

“Mau apa kau??” Ma Ke langsung melihatku dengan curiga.

Kutendang dia dengan kakiku. “Bah! Sejak kapan kau jadi tergila-gila begini, sampai-sampai aku tidak boleh tahu nama si gadis cantik ini?”

“Oh, namanya Hai Yue Xing. Kakaknya bernama Hai Ri Xing.”

“Namanya bagus juga. Kau sudah mendapat kemajuan apa?”

“Aku masih mencari kesempatan yang bagus. Dia masih belum mau mempedulikanku. Dibanding dia, kakaknya lebih ramah. Oh, iya. Boss, dia beberapa kali bertanya siapa yang mengobati lukaku.”

“Kau beritahu dia?” Aku bertanya dengan gelisah.

“Tidak. Aku tidak akan mengkhianatimu.” Kata Ma Ke sambil tesenyum.

“Kau ini sudah begitu menderita. Kau biarkan mereka latihan Kung Fu dengan dirimu sepanjang waktu.”

“Aku masih punya kau untuk merawatku. Demi kebahagiaan hiduku, aku harus rajin berlatih.” Sepertinya memiliki target memang bagus. Aku pun punya target, yaitu menjadi bebas! Hehe.

“Cepat. Kalau kita terlambat makanannya akan habis.” Peringatan Ma Ke membuatku bersemangat dan aku pun bergegas. Makan adalah hal yang sangat penting dalam hidupku. Aku makan, makan, makan, dan makan, dan makan.

Seusai makan, Ma Ke kembali ke asrama untuk meditasi. Aku juga berniat begitu jadi aku mengikutinya. Tiba-tiba Ma Ke berhenti berjalan.

“Apa yang kau lakukan?” Aku mendorongnya.

“Boss, lihat. Itu dia.”

“Aku melihat ke arah yang ditunjuk Ma Ke, dan benar saja ada Hai Yue Xing. Dia bersama 3 atau empat murid lainnya. Ini adalah kali kedua kau bertemu dengannya.

“Boss, ayo ke sana dan menyapanya.”

“Pergi sendiri saja kalau kau mau. Aku tidak ingin orang berpikir aku sama saja sepertimu, dasar si kue beras rambut merah yang terkenal.”

“Baiklah, boss. Kau mau tahu siapa yang lebih tenar? Aku tidak akan kalah darimu dasar ember nasi putih.”

“Apa kau ingin kuhajar juga?” apa benar aku seterkenal itu? Kenapa aku tidak menyadarinya?

“Ayolah boss. Aku merasa lebih berani jika kau ikut.” Tidak ada pilihan lain. Ma Ke menyeretku bersamanya.

“Wah hari ini bukan hanya si kue beras rambut merah yang datang mendekatimu. Si ember nasi putih juga!” gadis di samping Hai Yue berkata seraya tersenyum.

Aku tidak memperhatikan mereka. Aku hanya melihat murid berusia 15 tahun yang mengenakan jubah fire magic. Wa! Dia tampak kuat sekali. Auranya yang garang membuatku berpikir dia sama seperti si Old Devil. Dia pun memperhatikanku dan mata kami bertemu. Dari matanya aku bisa melihat bahwa dia sangat cerdas.

Translator / Creator: Dila fd