October 5, 2016

Child of Light – Volume 1 / Chapter 4

 

Basic Knowledge

“Zhang Gong Wei! Kau kira jam berapa sekarang ini?” Hardik Guru Xiu, matanya penuh amarah.

“Ah! Guru, kenapa ada di sini? Maaf, Guru, aku ketiduran pagi ini.”

Sebenarnya, aku takut sekali untuk menghadap guruku hari ini. Jadi aku hanya berjalan berputar-putar di depan sekolah, tidak berani masuk. Celakalah aku. Aku tidak mengira dia akan keluar.

Reaksi Guru Xiu tepat seperti dugaanku. “Kau ketiduran? Berarti tekadmu kurang bagus. Hal paling penting bagi seorang mage saat belajar adalah tekad. Kau harus dipancing dulu rupanya supaya tekadmu muncul. Ayo, larilah lima putaran mengelilingi sekolah sampai kau benar-benar waspada.”

Tanpa membantah lagi, aku mulai berlari kecil.

“Namaku Xi Lu Xiu. Patuhi panggilanku, datanglah pelayanku, Light Tiger.”

Light Tiger adalah hewan magis level lima. (Setiap orang yang belajar magic mempunyai magical beast masing-masing. Tiap orang bisa saja mempunyai lebih dari satu magical beast, tapi hanya satu yang bisa dipanggil dalam satu waktu. Memanggil lebih dari satu magical beast sekaligus akan membutuhkan tekad yang jauh lebih besar.)

“Zhang Gong, kau harus lari lebih cepat. Kau tahu kan apa yang akan terjadi kalau sampai kau tertangkap hewan itu.”

Melihat tubuh Light Tiger yang besarnya lima kali tubuhku membuatku termotivasi. Rasa takut akan dimakan oleh magical beast itu telah memberiku kekuatan untuk berlari kencang. Light Tiger Guru Xiu mengikuti di belakangku, tidak begitu pelan, juga tidak begitu cepat. Saat kulambatkan lariku, ada panah cahaya yang melesat dan membuatku takut. Seketika aku berlari kencang lagi. (Light spell kelas dasar dan menengah hanya memiliki satu attack spell, yaitu pada tingkat dua.)

Ah, benar-benar menyedihkan diriku ini.
Akhirnya putaran lariku selesai. Rasanya seperti perjalanan yang jauh sekali. Tak kusangka, Guru Xiu membolehkanku beristirahat selama lima belas menit.

Ah, kenapa hidupku jadi penuh derita begini?

“Waktu istirahat sudah habis. Sekarang, mari kita lihat sejauh apa kau belajar selama ini. Mantra apa yang kau tau, Zhang Gong?”

“Ilumination spell.”

“Selain itu?”

“Tidak ada lagi.”

“Selama dua tahun kau hanya belajar illumination spell?”

Jelas saja, Guru Xiu langsung menanyaiku berbagai pertanyaan seputar pengetahuanku tentang teori dasar dan beberapa pertanyaan masalah. Pengetahuanku tentang teori dasar ternyata parah sekali karena aku hampir selalu tidur di kelas. Tapi untuk pertanyaan masalah, jawabanku sangat bagus. Sudah kubilang kan, aku ini sebenarnya sangat pintar.

Guru Xiu menatapku selama dua menit lalu mengembuskan nafas dengan berat.

“Bagaimana bisa aku punya murid semalas kau? Ah, tidak heran Guru Lin memintaku mengajarmu. Yah, aku tahu nilai-nilaimu sangat buruk, tapi tidak kusangka akan seburuk ini. Baiklah, sampai di sini saja kelas hari ini. Jangan sampai terlambat lagi besok.” Rupanya aku benar-benar murid yang menyedihkan, hingga guruku pun mati kutu.

Apa? Ini masih pagi, dan aku sudah boleh pulang. Dia sungguh baik!

“Aku akan memberimu pekerjaan rumah,” dia berujar sambil menyerahkan dua buku tebal kepadaku.

Setelah kuterima, kulihat sekilas buku-buku itu. Yang satu berjudul “Basic Magic Theory”, sedangkan satunya berjudul “Major Light Element Spells and Explanations”. Apa yang dia harapkan dariku dengan buku-buku ini? Aku jadi penasaran apa tujuannya memberikan buku-buku ini.

“Untuk besok, kau harus menghafal semua basic magic theory karena pengetahuanmu ternyata sangat buruk. Aku tidak mau muridku tertinggal dari murid-murid lainnya. Buku yang satunya untuk yang selanjutnya, tapi kau boleh melihat-lihat dulu isinya. Kau boleh pulang sekarang.”

“Guru, apakah aku harus menghafal seluruh isi buku basic magic theory ini?” Aku masih berharap Guru Xiu tidak serius soal ini.

“Tentu saja. Besok aku akan mengetes pengetahuanmu. Kecuali kalau kau masih ingin bermain dengan Light Tiger, maka kau boleh tidak menghafalkannya.”

Setelah berkata begitu, Guru Xiu kembali ke kantor guru, meninggalkan aku yang kebingungan.

Guru macam apa dia ini? Dia betul-betul seperti iblis. Buku berisi 300 sampai 400 halaman ini harus dihafalkan dalam sehari.

Cuaca hari ini cukup bagus, cerah, tidak ada angin. Kontras sekali dengan suasana hatiku.

Sampai di rumah, kedua orang tuaku ternyata belum pulang dari bekerja. (Ayahku adalah pencetak logam, sedangkan ibuku adalah penyembuh orang-orang desa.)

Aku mengambil buku Teori Dasar dan membolak-balik halamannya. Sebenarnya aku malas membacanya, tapi teringat akan hukuman siang tadi…. Otot betisku rasanya masih pegal. Tidak ada pilihan lain, aku harus menghafalnya.

Perlahan matahari tenggelam. Meski berusaha sekuat tenaga, aku baru bisa menghafal sepuluh halaman. Hanya sepuluh halaman. Ah, selesai sudah hidupku.

“Hai, siapa yang pulang lebih awal?” Biasanya ibukulah yang lebih dulu sampai rumah.

“Aku.”
Mendengar suara lemasku, ibu cepat-cepat menghampiriku.

“Anakku sayang, kenapa kau pulang lebih awal? Kenapa kau begitu lesu? Apa kau melakukan kesalahan lalu dihukum?

“Tidak, bu.” Lalu terpikir olehku tugas yang rasanya tak mungkin kuselesaikan itu. Aku menghambur ke pelukan ibuku dan menangis. Bagaimanapun, aku masih bocah 7 tahun. Sambil memelukku, ibu bertanya:

“Ada apa? Cepat ceritakan pada ibu. Apa ada yang mengganggumu?”

“Ya, bu! Guru baruku jahat sekali. Tugas yang diberikannya sungguh tidak masuk akal. Dia juga menghukumku!”

“Ah! Apa tugasnya? Mengapa gurumu menghukummu?”

Dengan enggan, kuceritakan apa yang terjadi di sekolah hari ini kepada ibuku.

“Zhang Gong, ini adalah kesalahanmu. Dari dulu ibu tahu nilai-nilaimu tidak begitu bagus, tapi ibu tidak menyangka ternyata seburuk ini. Sama sekali tidak kusangka, selama dua tahun ini kau bahkan tidak belajar ilmu-ilmu dasar. Gurumu sudah bertindak benar. Murid yang malas sepertimu memang seharusnya dibimbing oleh guru yang galak begitu. Ibu dan ayah ternyata terlalu memanjakanmu selama ini.”

“Apa yang dikatakan ibumu itu benar. Coba ayah lihat apa tugasmu.”

Rupanya ayah juga sudah pulang.

Setelah tahu apa tugasku, ayah tersenyum.

“Anakku yang bodoh, kau kan biasanya sangat pintar? Kenapa kau jadi begini sekarang? Buku ini memang tebal, tapi kau tidak perlu menghafal semuanya. Sudah, biarkan ibumu memasak untuk makan malam. Ayah akan mengajarimu.” Kemudian ayah mengajariku bagaimana menyelesaikan tugas yang tidak masuk akal ini.

“Dengar, Zhang Gong. Bagian yang ini intinya berisi tentang penerapan teori magic. Di dunia kita ada banyak elemen, yaitu enam elemen yang sudah kau ketahui betul itu. Supaya bisa menggunakan magic, kau harus berkomunikasi dengan elemenmu secara tepat. Buat elemen itu mengenali dirimu dan biarkan dia berkumpul di sekitarmu. Setelah itu, gunakan mantra untuk merubah inti magic element yang kau kumpulkan menjadi apa yang kamu mau. Perhatikan baik-baik, akan kucontohkan satu magic.

“Namaku Li Ao Wei, wind essence dengarkan panggilanku. Datanglah dan lindungi temanmu ini – Wind Shield!” Ayah menjelaskan isi buku sambil memberi contoh nyata untuk membuatku lebih tertarik. Dia membagi isi buku itu menjadi beberapa bagian, setiap bagian terdiri dari satu bahasan pokok. Dia lalu menjelaskan teori yang ada di setiap bagian. Dengan arahan ayah, aku yang sebenarnya pintar ini akhirnya menemukan cara belajarku dan perlahan-lahan ketertarikanku pada magic meningkat.

….. ….. …..

“Wah, sudah larut malam ternyata. Tinggal sedikit lagi. Kita bisa bangun pagi-pagi sekali besok untuk menyelesaikannya.”

“Baik, ayah. Aku tidak pernah menyangka ternyata seperti inilah magic.” Setelah mengetahui cukup banyak teori dasar, aku pun mulai menikmati betapa dalamnya ilmu magic. (Ilmu yang kudapat dalam satu malam ini jauh lebih banyak dibandingkan waktu dua tahun yang kuhabiskan hanya dengan bersenang-senang.).

“Zhang Gong, selama ini ibu dan ayah memang salah. Kami tidak begitu perhatian dengan sekolahmu. Mulai sekarang, ayah akan lebih sering mengajarimu. Zhang Gong putraku pasti akan menjadi mage hebat.”

Ayah menepuk lembut kepalaku sambil menatapku dengan sayang.

“Ayah, aku pasti akan belajar dengan sungguh-sungguh.”

Si Anak Cahaya belum tahu betul apakah dia sanggup menjalani ini semua. Namun, setelah kali pertama dia mempelajari magic malam itu, dia lalu benar-benar belajar magic dengan sungguh-sungguh. (Entah apakah dia benar-benar serius dengan janjinya atau tidak, Xi Yu Xiu selalu ada untuk memastikan dia tidak akan malas lagi.)

Translator / Creator: Dila fd