October 5, 2016

Child of Light – Volume 1 / Chapter 3

 

My Teacher

Aku pulang dengan perasaan bangga karena telah memilih. Kulihat ibu telah menyiapkan makan malam.

“Kau sudah pulang! Apa kau baik-baik saja di kelas hari ini?”

“Sangat baik! Jadi, Bu. Hari ini aku memilih magic element utama dan tambahan untuk kupelajari.”

“Ah! Cepat kemari, suamiku. Anak kita telah memilih magic element utama dan tambahannya!”

“Benarkah? Nak, apa kau memilih wind magic?”

Saat kujelaskan, ayah seketika berlalu.

“Tentu saja tidak, anak kita tentu memilih untuk belajar water magic. Betul kan, Nak?”

Ibu memandangku, matanya penuh harap.

Ibuku adalah intermediate water element dan ayah adalah intermediate wind mage. Sejak aku lahir, mereka terus berdebat tentang magic element utama apa yang harus kupilih.

Kulihat mata mereka dipenuhi harap. Ah, apa yang harus kulakukan? Tiba-tiba aku lupa semuanya. Otakku yang kecil cepat-cepat berpikir bagaimana caranya menjawab pertanyaan mereka.

“Tidak, tidak sama sekali. Aku tidak memilih wind maupun water untuk magic element utamaku.”

“Apa?” Mereka berdua menatapku dengan mata terbelalak.

“Lalu apa yang kau pilih? Apa kau memilih earth element atau fire element? Keduanya tidak cocok untuk putraku. Kau bahkan tidak berunding denganku maupun ibumu tentang magic element mu. Kau tidak dapat uang saku bulan ini!”

“Kau ini ingin dihukum ya!?” Kata ayah dengan pandangan mengancam.

“Tidak, tidak. Bukan begitu. Ibu, Ayah, kumohon jangan marah. Aku tidak memilih fire element maupun earth element. Aku memilih light element. Aku melakukannya demi kalian!”

“Apa? Demi kami?”

“Ya, tentu saja ini untuk kalian berdua. Ini juga untuk keharmonisan keluarga kita. Jadi begini, jika aku memilih water element, ayah akan marah. Jika aku memilih wind element, ibu tentu akan membunuhku. Jadi, aku tidak memilih keduanya. Fire magic dan water magic Ibu akan saling melawan. Maka, demi ibuku yang lembut, cantik, dan baik hati, aku tidak mungkin memilihnya. Earth magic dan wind magic ayah juga akan saling melawan, jadi demi ayahku yang tampan, berkarisma, dan kuat, aku juga tidak mungkin memilihnya. Jadi, aku memilih light magic yang tidak melawan magic siapapun di keluarga ini. Karena aku memikirkan kebahagiaan keluarga kita. Inilah pilihanku!”
itu semua sambil menatap ibu dan ayah dengan mata berkaca-kaca.

Melihat aku yang hampir menangis, ibu lalu menghampiriku dan menenangkanku.

“Zhang Gong kita sungguh anak yang baik, dia lakukan ini demi orang tuanya.”

Ayah pun datang dan memeluk kami. Aku sangat menikmati atmosfer yang penuh kasih dan harmonis ini, tapi sesungguhnya aku tidak menyangka semua omong kosong dan sandiwara ini bisa mengelabui dan menjadikan mereka rukun lagi. Ha ha.

“Zhang Gong, di waktu mendatang kau harus belajar dengan benar. Setidaknya, kau harus menjadi seorang penyihir tingkat lanjut!”

“Ya, Ayah. Aku tidak akan mengecewakan kalian berdua.”

Ibu tiba-tiba nampak seperti teringat akan sesuatu. “Zhang Gong, bukankah light spell di tingkat dasar tidak punya magic attack karena jarang ada yang mempelajarinya?”

“Jangan khawatir. Kalian berdua yakinlah bahwa aku akan menjadi seorang advanced magic.”

Aku semakin pintar saja. Jika aku mau bekerja keras, aku tidak akan memilih light magic. Haha, kuperdayai dulu saja mereka. Akan kukhawatirkan itu nanti.

“Baiklah, mari kita makan dan rayakan pilihan Zhang Gong kita.”

Malam pun berlalu dengan tenang.

Hari berikutnya, lagi-lagi aku terbangun karena sinar matahari dan suara ibuku. Ao De sudah datang menjemput saat aku sedang sarapan.

“Zhang Gong, ayo berangkat. Hari ini kelas kita akan dibagi.”

“Ayo berangkat.”

Sama seperti kemarin, kami masuk kelas.

Si penyihir tua juga masuk.

“Diamlah, Anak-anak. Kita akan mulai membagi kelas. Di sini ada 5 kelompok kelas dan kalian semua sudah memilih elemen utama dan tambahan kalian. 5 kelas ini akan diatur ulang menjadi kelas baru sesuai elemen yang kalian pilih. Tiga kelas untuk elemen api, dua kelas untuk air, dua kelas untuk angin, dan satu kelas untuk tanah. Sekarang, Ibu akan umumkan di kelas mana kalian ditempatkan. Jika nama kalian disebut, masuklah ke kelas kalian masing-masing.”

Jelas sekali bahwa elemen api akan memiliki serangan terkuat.

Tidak mungkin, bagaimana bisa tidak ada kelas untuk elemen cahaya? Tanda Tanya besar muncul di kepalaku.

“Tang Di, kelas satu fire element. Li Cha, kelas satu fire element ….. Ao De, kelas dua water element …..”

Semua murid satu persatu pergi menuju kelas mereka masing-masing, kecuali aku. Baru setelah murid terakhir pergi, guruku memanggilku.

“Zhang Gong, ayo. Kita harus menemui gurumu. Karena hanya ada 10 light element mage di dunia. Jadi, akademi kita telah meminta seorang guru untuk mengajarimu secara khusus.”

Oh, tidak! Pelajaran khusus? Gurunya pasti pemarah. Matilah aku. (Aku tidak tahan lagi dengan si penyihir tua ini!) Selagi berpikir, aku mengikuti guruku ke luar kelas.

Kami tiba di kantor guru di lantai tiga. Tapi… bukankah ini kantor kepala sekolah?

“Ayo, Zhang Gong. Masuklah denganku.” Melihatku yang ragu-ragu, si penyihir tua menarikku.

“Oh, baguslah. Anda rupanya, ibu guru.”

Aku masuk ke kantor itu dan melihat kepala sekolah di balik meja kantor besar, sedang tersenyum padaku.

“Guru Lin, inikah Zhang Gong, murid dari kelasmu yang memilih untuk belajar light element? Bolehkan aku memperkenalkan diri. Aku Great Mage. Elemen utamaku adalah spasial, dan elemen tambahanku adalah cahaya. Namaku Xi Yu Xiu. Panggil saja aku guru Xiu.

Mataku mengarah kepada tangan kepala sekolah. Ah, jadi dia yang akan jadi guruku? Seorang pria 50 tahun? Kuperhatikan dia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia Nampak seperti penyihir jujur berjubah ungu yang gemetar saking terlalu berenergi. Di dadanya terpasang lencana mage dengan empat bintang. (Tingkatan seorang mage dapat dilihat dari jumlah bintang di lencananya. Kenaikan tingkat ditandai dengan bertambahnya satu bintang. Untuk penyihir pemula, mereka belum mendapat tanda bintang. Raut wajahnya yang serius nampak agak menakutkan.

“Guru Xiu, tolong bimbinglah Zhang Gong.”

“Guru Lin, tidak perlu terlalu kaku begitu.”

“Jadi, kau yang bernama Zhang Gong itu ya. Di bawah pengawasanku, kau sebaiknya belajar magic dengan sungguh-sungguh. Yang harus kau tahu, aku orang yang sangat disiplin. Kuharap kau akan belajar dengan keras karena aku akan berusaha sebaik mungkin untuk memberikan ilmuku padamu.”

Apa yang harus kukatakan? Mataku rasanya langsung kosong, tanpa harapan. Bagaimana bisa aku tidak memikirkan hal ini? Aku pasti jadi murid yang tidak bisa apa-apa nanti. Menyedihkan sekali! Oh, Dewa Pencipta. Mengapa Kau tidak adil padaku?

“Terima kasih, guru. Aku akan berusaha keras.”

Sepertinya mulai saat ini aku tidak akan bisa bersenang-senang.

Saat berjalan pulang, Ao De bertanya siapa guruku. Untuk menutupi rasa malu ku, aku membual bahwa guruku sangat baik. Ao De iri sekali mendengarnya. Dia bercerita bahwa guru kelasnya sangat galak. Mana mungkin ada yang lebih galak dari Guru Xiu? Aku hanya berharap Guru Xiu terkena serangan jantung nanti malam dan akhirnya tidak bisa mengajarku.

Tepat saat Guru Xiu tengah makan malam, dia bersin dan seketika berpikir, ”Siapa yang mengutukku?”

Di masa mendatang, catatan sejarah Xi Yu Xiu (Guru Xiu) menunjukkan betapa penting perannya dalam membimbing Si Anak Cahaya semasa kecil. Tanpa bimbingannya, Si Anak Cahaya yang kita kenal sekarang tidak akan ada.

Karena bimbingannya yang sangat berpengaruh itulah, sang Grand Magister, atau Si Anak Cahaya, selalu bergetar hatinya saat mendengar nama Xi Lu Xiu, bahkan hingga tiga puluh tahun mendatang.

 

Translator / Creator: Dila fd