October 4, 2016

Child of Light – Volume 1 / Chapter 2

 

Choosing The Light Element

Ting tong

Aku cepat-cepat memakan dua suap sarapanku lalu terburu-buru pergi ke sekolah.

“Berjalanlah lebih cepat, kau tidak ingin terlambat atau gurumu akan mempunyai kesan buruk tentangmu. Belajarlah dengan benar! Perhatikan jalanmu dan segera pulang setelah sekolah selesai!”

Ibu benar-benar hebat. Dia mengakatakan semua itu setiap hari. Sekarang, sudah mustahil bagiku untuk tidak mengingat semua kata itu di luar kepala. Meskipun begitu perhatiannya itu menghangatkan hatiku.

Namaku Zhang Gong. Tahun ini usiaku 7 tahun. Aku tinggal di dekat kerajaan kota terbesar kedua di Aixia, di sebuah desa kecil di samping kota Sunke. Karena keluargaku tergolong relatif berada, ibu dan ayahku sangat menaruh harapan padaku dan memasukkanku ke Elementary Magic Academy kota Sunke. Aku sekarang ada di kelas tiga. Dari kecil, aku telah menunjukkan ketertarikan terhadap magic, namun aslinya aku adalah anak yang malas. Dalam dua tahun lebih, aku hanya belajar beberapa sihir kelas dasar dan beberapa teori magic dasar.

Hari ini aku harus mengatakan pada guruku, magic element apa yang kupilih. Hal ini akan menentukan akan ditempatkan di kelas mana aku nanti. (Setiap mage punya magic element utama dan tambahan. Mereka hanya akan memilih satu elemen utama sebagai fokus mereka dan juga memilih hingga tiga elemen sihir tambahan sebagai pelengkapnya.) Apa yang harus kupilih…? Aku suka fire magic, tapi rasanya agak terlalu berbahaya. Sangat bertolak belakang degan mottoku yaitu ‘utamakan keselamatan.” Jadi aku harus memilih apa…? Magic mana yang paling aman?

Kupikir-pikir….

Ah, ya. Light magic sepertinya yang paling aman. Dulu, guruku pernah berkata bahwa sebelum kelas lanjutan, tidak akan ada mantra serangan dari light element. Pada dasarnya, light magic adalah murni sebagai pertahanan dan penyembuhan. Aku juga tidak ingin bertarung dengan murid lainnya. Jadi, ya, inilah pilihanku. (Karena kerajaaan Aixia selalu mendorong perkembangan sihir, murid-murid magic academy seringkali diuji untuk meningkatkkan pengalaman praktis mereka serta mengukuhkan tingkatan magic mereka. Namun, murid-murid yang kelasnya masih rendah belum diuji. Yang diuji biasanya adalah mereka yang ada di kelas 5 atau di intemediate magic academy .

Aku ini sebenarnya pintar! Magic elemnt tambahan apa yang kupilih? Aku akan memilih wind magic dan mempelajari beberapa teknik hembusan udara (Major wind magic) atau entah apa. Dengan cara ini, aku bisa dengan cepat melarikan diri saat ada bahaya. Tunggu, tidak, tidak. Wind magic memang cepat, namun tidak bisa menghasilkan gerakan mendadak. Ibu pernah bilang ada ahli spatial magic yang bisa berteleportasi kira-kira sejauh 10 km. (Bahkan saat dia masih menjadi ahli sihir saja!) Spatial magic rasanya cukup bagus, jadi aku akan memilih itu saja!

Setelah memikirkan hal itu dengan matang, akhirnya aku mengambil napas dalam-dalam.

Generasi mendatang akan menyanjung seorang light system Grand Magister, Zhang Gong Wei, Si Anak Cahaya. Zhang Gong Wei nantinya akan menjadi sosok kuat dengan nama besar. Sosok yang tidak dapat lari dari cengkraman tangan nasib. Light magic nya telah terpilih, ditakdirkan untuk menyebar ke seluruh benua. (Belum lagi spatial system magic miliknya yang sering dia gunakan untuk melarikan diri.)

Aku berjalan menuju kota dengan hati gembira dan berangan-angan tentang indahnya kehidupan yang kupikirkan itu. Aku tidak bisa menahan tawa saking bahagianya.

“Zhang Gong”

“Kau ini menyebalkan sekali, Ao De. Kau menakutiku!”

Dia adalah teman sekelas sekaligus sahabatku.

“Kau memilih elemen apa?”

“Aku telah memilih light element untuk yang utama, dan spatial element sebagai tambahan.”

“Pilihanmu benar-benar sesuai dengan dirimu! Ha ha.”

“Kau ini sok tahu. Kalau begitu coba katakan kenapa aku memilih dua elemen itu.”

Aku dikejutkan oleh jawaban Ao De.

“Tentu saja, karena mottomu adalah ‘utamakan keselamatan’.”

“Menyebalkan sekali. Ya, kau benar. Lalu apa yang kau pilih?”

“Aku memilih water element untuk yang utama dan spatial element untuk tambahannya!” kata Ao De sambil membusungkan dada. Raut wajahnya tampak bangga.

“Aku paham kenapa kau memilih spatila element (tentu saja dia akan memilih yang sama denganku), tapi kenapa kau memilih water element?”

“Kau tidak akan mengerti,” kata Ao De, seketika dia agak terlihat seperti orang dewasa.

“Cepatlah katakan kenapa.”
“Ada banyak anak perempuan yang memilih water element! Tidak ada anak laki-laki lain. Jadi, aku bisa mengganggu mereka dan mengambil kudapan mereka! Ha ha.”

“Dasar kau ini anak manja. Akan kuberitahu ayahmu.”

Kuangkat kepalaku tinggi-tinggi, tapi lalu aku berpikir. Memang di kelas water element ada lebih banyak anak perempuan. Tapi jika Ao De tetap mengganggu mereka setelah masuk akademi sihir kelas menengah, dia akan menerima konsekuensi yang tragis. Anak-anak lelaki yang lebih tua di desa ini pernah dihajar habis-habisan karena mengganggu anak-anak perempuan di akademi mereka. Ao De akan tumbuh menjadi anak bandel yang menyedihkan. Aku pun hanya bisa memandang Ao De dengan ragu.

“Kau harus ikut belajar water magic denganku!”

Karena tidak ingin aku mengadukannya kepada ayahnya, dia malah mengajakku untuk mengikutinya!

“Tidak perlu. Cukup kau traktir aku kapan-kapan, dan tidak akan kuberitahu ayahmu. Oke?”

“Oke. Tidak masalah.”

“Kita sudah di sekolah. Cepat, kita hampir terlambat.”

Elementary Magic Academy Kota Sunke adalah magic academy terbesar di kota ini. Luasnya sekitar 20.000 m2 dan ada banyak lahan untuk berlatih dan untuk gedung-gedung fakultas. Kelasku dan Ao De adalah di kelas 3-4.

“Untunglah kita tidak terlambat. Kalau tidak, si penyihir tua itu akan menghukum kita lagi,” ujar Ao De kepadaku.

“Diamlah. Si penyihir tua datang. (Memang, si penyihir tua itu adalah guru kelas kami. Guru Lin, fire element advance mage yang berusia 50 tahun. Dia wanita yang sangat galak dan tidak menarik. Maka, aku dan teman-teman sekelasku menjulukinya ‘Si Penyihir Tua’.)”

“Selamat pagi, Anak-anak.”

“Selamat pagi, Guru.”

Segera setelah si penyihir tua datang, seisi kelas menjadi hening karena tidak ada yang menginginkan gunung api tua ini meletus.”

“Sudahkah kalian semua memikirkan matang-matang tentang magic element yang kalian pilih?”

“Sudah”

“Bagus. Berbarislah di depan dan tuliskan pilihan kalian.”

Saat aku menuliskan pilihanku, si penyihir tua memandangku dan bertanya, “Kau memilih light element sebagai elemen utamamu?”

“Ya, Guru. Betul.”

“Apa kau tahu? Selain para profesional, yang memilih light element sebagai elemen utama mereka hanyalah para biksu yang menggunakannya untuk pengobatan.”

“Benarkah? Mengapa begitu? Aku tidak tahu soal itu.”

Ternyata, saat kedua benua pertama kali bertabrakan 200 tahun lalu, banyak manusia yang mempelajari light magic karena light magic adalah kelemahan ras iblis. Dalam perang, intermediate light element mage memiliki dua fungsi utama. Hal ini karena intermediate light spell dapat digunakan sebagai pengobatan dasar untuk luka-luka sekaligus dapat menghancurkan ras iblis. Light spell dan kegelapan juga memiliki dua fungsi lainnya. Namun kini, 200 tahun kemudian, manusia sudah hidup dengan damai karena tidak ada lagi perang. Oleh karena itu, light spell perlahan-lahan tidak lagi digunakan. Dibandingkan dengan water, fire, earth, dan wind spell yang bersifat praktis, light element tergolong cukup dasar. Di kelas intermediate, light spell juga hanya digunakan untuk fungsi defensif maupun pengobatan. Jadi, kebanyakan orang yang cenderung agresif akan lebih memilih water, fire, earth, atau wind sebagai elemen utama mereka. Sebenarnya ada juga water spell yang dapat menyembuhkan, namun jumlahnya sangat sedikit dibanding light spell. Meskipun begitu, water spell memiliki perbandingan mantra ofensif dan defensif yang cenderung sama, sehingga bahkan para perempuan yang ingin belajar healing spell pun lebih memilih water element. Hanya para biksu yang cinta damai yang memilih light element sebagai elemen utama mereka.

Sebagai bocah berusia tujuh tahun, tentu saja aku tidak mengerti soal ini. Setelah mendapat penjelasan dari guruku, kuberitahu dia tentang mottoku ‘utamakan keselamatan’ dan aku bersikeras memilih light spell.

“Baiklah, kalian semua telah memilih magic element kalian. Kelas kita selesai lebih awal hari ini. Besok kalian akan dibagi ke kelas-kelas berbeda menurut elemen sihir yang telah kalian pilih.”

Yes! Kelas selesai!

Dan begitulah cerita dimulainya pendidikan light spell Si Anak Cahaya. Apa yang akan terjadi esok, kita akan mengetahuinya segera.

Translator / Creator: Dila fd