October 8, 2016

Child of Light – Volume 1 / Chapter 10

 

Between Friends

Karena aku masih sakit, ibu memintakan izin tidak masuk sekolah supaya aku bisa istirahat di rumah.

Setelah sarapan, ibu dan ayah berangkat bekerja. Aku berbaring sendiri di tempat tidur. Aku bosan. Yang kulakukan hanya memperhatikan bentuk-bentuk heaven’s flower.

“Zhang Gong, Zhang Gong, kau di dalam? Cepat buka pintunya.”

“Siapa itu? Inikan masih pagi sekali.”

“Ini aku, Ao De. Kau ini sudah tidak mengenali suaraku ya?”

“Ao De? Kenapa kau datang kesini?” Kataku sambil membuka pintu.

“Zhang Gong, kudengar kau terluka. Apa kau sudah baikan sekarang?”

“Keadaanku sudah jauh lebih baik. Kemarin itu rasanya mustahil. Untung saja bantuan datang tepat waktu. Menurutmu, mengapa ada demonic beast yang berkeliaran di perbatasan desa?”

“Aku juga tidak tahu. Ini, kubawakan bubuk snow spirit. Aku menggilingnya sendiri selama setengah hari kemarin di tempat ayahku,”

“Ah, kau membawakan barang berharga ayahmu untukku?” Snow spirit bukan hanya merupakan harta berharga bagi kepala desa, tapi juga merupakan hasil jerih payah kakek Ao De. Butuh bertahun-tahun baginya untuk memurnikan snow spirit ini.

“Tidak perlu, Ao De. Terima kasih. Aku sudah hampir sembuh total. Jangan sia-siakan spirit powder ini untukku.”

“Sudahlah, jangan sungkan begitu. Cepatlah makan. Kalau kondisimu sudah lebih baik, aku ingin belajar bertarung sihir denganmu.”

“Ao De, terimakasih.” Dengan mata yang memerah, aku memakan snow spirit powder dan merasakan aliran dingin di seluruh tubuhku. Ini membuatku sangat nyaman.

“Untuk apa kau berterima kasih. Pokoknya jangan pernah bilang pada ayahku soal ini. Dan kuharap, saat nanti kau sudah jadi mage hebat, kau tidak akan lupa padaku.”

“Baiklah. Mulai sekarang kita adalah saudara. Kita akan hadapi masalah bersama dan hidup senang bersama. Haha.” Aku lebih tua dua bulan dari Ao De dan kami sudah berteman sejak kecil. Dia memanggilku boss. (Kenapa aku harus lebih tua dari dia? Sejak kecil kami selalu bermain bersama dan kami saling menghargai satu sama lain. Mereka selalu bilang hormati yang tua, sayangi yang muda. Uh.) Aku tidak menyangka Ao De akan bersikap sebaik ini padaku.

Ketulusan yang terjalin di antara anak-anak adalah hal yang sangat berharga.

“Kenapa kau tidak pergi sekolah, Ao De?”

“Guru kelasku sekarang membolehkan kami bermeditasi di rumah untuk meningkatkan kekuatan magic kami.” Beberapa bulan lagi kami akan ujian kelulusan, jadi kami boleh tidak masuk selama sebulan. Bermeditasi di kelas dan di rumah ternyata sama sekali berbeda.”

“Ah, kalian beruntung sekali. Sedangkan aku… Ah.” Mendengar cerita Ao De, aku benar-benar menyesal karena tidak ikut memilih water magic.

“Zhang Gong, selama dua tahun ini kita sama-sama sibuk dan tidak punya waktu untuk bermain bersama. Bagaimana pelajaran light magicmu? Bagaimana gurumu? Setiap kali kita bertemu kau selalu tampak lesu.” Sejak aku belajar dengan si iblis tua, sejak pagi sampai sore, aku jadi jarang sekali bertemu Ao De. Kadang aku bertemu dia sore hari sepulang sekolah, tapi aku sudah terlalu lelah karena latihan ku. Jadi kami sama sekali tidak berhubungan. Makanya, aku tidak menyangka ternyata Ao De masih peduli padaku. Teman yang selalu ada saat dibutuhkan memang teman sejati.

“Guruku benar-benar kejam. Seperti iblis. Si penyihir tua memanggalak, tapi galaknya tidak ada sepersepuluh dari guruku ini.”

“Ah. Lebih buruk dari si penyihir rupanya. Jadi kau benar benar menderita ya.” Ao De terkejut sampai menganga.

“Ao De, apa ada mantra bagus yang kaupelajari?”

“Aku belajar beberapa water element therapy spells dan water element attack spells. Aku juga belajar cukup banyak untuk wind element. Saat ini aku mendapat nilai tertinggi di kelasku untuk penggunaan storm spell.” Haha.

Melihat raut bangga di wajah Ao De, aku jadi ragu. Untuk membuktikan keraguanku, aku bertanya: Apa kau berhasil karena kau mengambil camilan teman-teman perempuanmu? Jadi mereka semua lari?

Tawa Ao De langsung berhenti. Terkejut, dia bertanya:

“Bagaimana kau tahu?”

Hahahaha.

Kami berdua tertawa.

“Zhang Gong, berapa hari kau harus istirahat di rumah?”

“Sekitar empat atau lima hari.”

“Kalau begitu aku akan datang setiap hari untuk menemanimu. Saat kau sudah sembuh, kita, si dua bersaudara akan mencoba sedikit pertarungan magic.”

“Baiklah. Anak-anak lain akan mengolok-olokku karena aku tidak punya attack magic, jadi aku hanya akan melihat.” Ao De memang sudah berlatih dengan baik, tapi kekuatannya tidak akan lebih baik dari pada aku. Akan kutunggu saja sampai dia kelelahan.

Lagipula, kami ini masih anak-anak. Ambisi kami masih kuat.

Dua hari berlalu dengan cepat dan lukaku sudah sembuh. Ao De selalu datang setiap hari. Hari ini kami mengadakan lomba. Aku sendiri juga sangat tertarik, ingin tahu sejauh mana kemampuannya.

“Hai Boss, aku datang. Cepat keluar!”

“Ya, ya, aku kesana. Kau ingin mati ya? Haha!”

“Hey. Kita belum tahu siapa yang akan menang. Kau kan tidak punya attack magic, lalu kau mau menyerangku dengan apa?”

“Coba saja!”

Ao De memasang kuda-kuda. Dia membuat sebuah storm spell, lalu muncullah water shield selagi dia merapal attack magicnya.

Aku mengamatinya dengan tenang. Aku sama sekali tidak khawatir karena aku paham, dengan tingkat kemampuannya itu, dia tidak akan tahu area serangku. Teleportasiku tentu bisa mengatasinya.

Seperti dugaanku, water bullet mengarah padaku. Aku bertelportasi 1 meter kearah kiri. Water bullet terus melesat melewati sisi tubuhku. Ao De mengusapmatanya, mengira dia salah melihat. Setelah itu, segala macam water spell tingkat dasar bertubi-tubi menyerangku. Mana mungkin mantra seperti ini bisa melumpuhkanku.

“Boss, magic apa itu yang lebih cepat dari storm spell ku?”

“Tentu saja teleportasi spatial magic.”

“Boss, bagaimana kau ini? Bukan lomba namanya kalau kau hanya menghindar begitu.”

“Baiklah. Aku tidak akan menghindar lagi. Ayo lanjutkan.” Kataku sambil membuat light prism shield.

Melihat bahwa aku sudah tidak akan menghindar, Ao De melancarkan serangan water bulletnya padaku. Aku tersenyum masam. Kuarahkan light prism shield padanya, sehingga water bulletnya berbalik arah. Semua water bullet kukembalikan padanya sehingga sekujur tubuhnya basah. Dia juga jatuh tersungkur karena water bulletnya sendiri.

“Sudah, sudah. Apa ini? Aku menyerah.”

“Kau sudah ku peringatkan. Jika bukan di area serang, maka mustahil mantramu akan bisa melawanku. Kemampuan defense dan dodging ku sudah mencapai level intermediate mage.”

“Kau benar-benar layak dipanggil boss. Tidak kusangka, bahkan tanpa attack magic pun si boss ini sangat kuat. Mulai sekarang aku akan mengikuti apa katamu.”

Aku bahagia sekali melihat Ao De dengan matanya yang penuh kekaguman.”

“Besok kita ke sekolah bersama. Akan kubawa kau ketempat yang bagus untuk belajar menghindari serangan. Meskipun kau tidak bisa berteleportasi sepertiku, storm spell mu akan mengalami peningkatan.”

“Baiklah, terimakasih, boss.”

Hehe. Terima kasih, dia bilang? Besok dia akan rasakan kekuatan karung-karung itu.

Translator / Creator: Dila fd