October 30, 2017

Child of Light – Volume 9 / Chapter 22

 

Imperial Firewood House

Setelah Pengawas tersebut memasukkannya dalam daftar, dia berkata, “Baiklah, berdirilah di sisi kiri. Seseorang akan segera membawamu ke bagian perkebunan. Berikutnya!”

……

Akhirnya giliranku. Dengan segera aku melangkah maju dan berkata, “Tuan Pengawas, anda dapat memanggil saya Eighteen. Tugasku adalah sebagai tukang potong kayu di tempat perapian ”

Pengawas tersebut mengangkat kepalanya dan melihatku, dia mengernyitkan alisnya lalu berkata, “Apa yang mereka lakukan merekrut orang sepertimu? Tapi aku akan membiarkanmu  karena tidak akan ada yang melihatmu yang buruk rupa. Kau harus bersikap baik dan rajin bekerja mulai besok.”

Aku segera mematuhinya. “Terima kasih, Wakil Pengawas. Saya pasti akan melakukan yang terbaik.”

“Ya!” Pengawas tersebut menyetujuinya seiring memberi isyarat untuk segara menyingkir.

Akhirnya, nama semua orang telah dicatat oleh Pengawas dan dibawa ke tempat kerja masing-masing. Aku di bawa seorang pria gemuk bersama dua orang lainnya. Dia membawa ke sebuah bangunan yang besar dan berkata, “Ini dapurnya. Kedepannya kalian akan bekerja disini. Hei si buruk rupa, kau pergilah ke halaman belakang dapur. Akan ada orang tua di sana yang akan memberikanmu pekerjaan. ”

Aku mematuhinya dan segera berlari menuju halaman belakang.

Halaman itu besar dan berisi banyak orang, ada yang mencuci sayuran sementara yang lain sedang memasak daging, semuanya terlihat sangat sibuk di dapur. Ada tumpukan kayu di sudut tempat di atas tanah. Disini semestinya tempatku bekerja. Ketika aku berjalan mendekat, aku melihat seorang orang tua dengan rambutnya yang sudah putih membelah kayu.

Aku memberi salam dengan rasa hormat, “Halo, Tuan.”

Orang tua itu mengangkat kepalanya dan menatapku lalu berkata, “Apa yang kau inginkan? Kau perlu sesuatu?” Nada suaranya menunjukkan bahwa ia hanyalah tukang pembelah kayu.

Aku menjawab. “Aku di tugaskan untuk membantu anda membelah kayu.”

Orang tua itu memperhatikanku sebelum dengan acuh berkata, “Kalau begitu pergilah dan bawa beberapa kayu untuk di belah. Ingat, kau harus bisa memotongnya dengan sempurna agar orang-orang dapur tidak mengeluh.”

Aku mengangguk seiring aku menemukan batang kayu besar dan duduk. Orang tua itu melemparkan kapak kayu sebelum menunjuk batang kayu yang ada di samping.

Aku meletakkan batang kayu di hadapanku sebelum dengan perlahan membelahnya dengan kapak. Aku menggunakan kekuatanku untuk memotong secara sempurna batang kayu tersebut. Dan sayangnya aku tidak bisa menggunakan tenaga dalam maupun sihirku dalam hal ini. Aku hanya bisa memotongnya dengan kekuatan normalku.

Ketika usai, meski aku tidak banyak membelah kayu, aku merasa lelah dan pinggangku sakit.

Ketika waktu makan malam, tanpa sepengetahuanku, orang tua itu telah membeli beberapa makanan dan membagi setengahnya denganku. “Makanlah dan istirahat lebih awal. Besok, kau harus memotong kayu lagi. Kecepatanmu tidak sebanding dengan orang yang sudah tua seperti aku ini. Bagaimana tidak aku merasa puas? ”

Setelah mengambil sebagian makanan darinya, aku bertanya, “Sudah berapa lama anda di sini?”

Orang tua itu sedikit linglung sebelum berkata, “Aku lupa. Kurang lebih tiga puluh tahun.”

“Anda telah menjadi tukang potong kayu selama tiga puluh tahun? Kenapa anda masih bertahan?” Aku menjawab dengan takjub.

Orang tua itu menjawab “Apa yang menarik di luar sana? Meski disini cukup sulit, tapi setidaknya tetap stabil. Memotong kayu hingga lelah seharian dan tidur setelah makan malam. Bukankah itu bagus? Ah! Iya! Tunggu jangan makan dulu.” Setelah mengatakan itu, dia berbalik menuju rumah pemotongan kayu. Sesaat kemudian, dia kembali membawa botol yang nampaknya sangat di sukainya. Dia berkata, “Tidak mudah untuk mendapatkan ini. Apakah kau mau beberapa?”

Aku bertanya, “Apa itu?”

Orang tua tersenyum dan menjawab, “Wine yang sangat berkualitas.”

Aku langsung paham bahwa itu alkohol. Aku melambaikan tanganku dan menjawab, “Aku pikir tidak dulu. Aku memotong kayu terlalu sedikit hari ini. Setelah makan, anda bisa pergi beristirahat. Aku akan terus membelah kayu-kayu itu beberapa lagi. ”

Orang tua itu menatapku, terkejut. “Meskipun kau buruk rupa, tapi kau seorang pekerja keras. Orang tua ini, nampaknya kurang sopan. Kau tau kenapa mereka menempatkan seseorang disini? Kau pasti sudah bisa menebaknya. Aku sudah menua dan kekuatanku berkurang. Aku tidak akan bisa memenuhi kriteria sebagi pekerja di dalam dapur. Aku sudah tidak sopan padamu, tapi jangan terlalu bekerja berlebihan. Mungkin tak apa jika kau ingin membelah kayu sedikit lagi, siapa namamu? ”

Kata-katanya sungguh menenangkan perasaanku. “Panggil aku Eighteen. Anda bisa memanggilku itu mulai sekarang. ”

Orang tua itu menjawab. “Kau bisa memanggilku Si Tukang Kayu. Aku sudah lama melupakan namaku. ”

Aku kaget dan menjawab. “Bagaimana bisa saya memanggil anda seperti itu? Anda jauh lebih tua dariku. Bagaimana kalau begini? Saya akan memanggil anda Paman Tukang Kayu.”

Paman itu meneguk anggurnya dan menjawab, “Terserah kau. Apa kau benar-benar tak ingin minum? ”

Aku tersenyum menggelengkan kepala.

Ketika malam semakin larut, Paman itupun tertidur lelap. Aku mengamati sekelilingku dan keadaannya sangat sepi. Aku mengalirkan kekuatan sihirku dan dengan perlahan mengangkat tanganku. Pancaran cahaya-cahaya kecil tak terhitung jumlahnya muncul, seketika membelah kayu-kayu besar itu menjadi potongan-potongan kecil. Ketika aku melambaikan tangan, kayu-kayu itupun tertata di sudut tempat. Sungguh sayang tongkat sukrad ku di ambil ketika aku di tahan. Saat ini aku tidak akan mampu bertarung melawan Ke Lun Duo.

Setelah menumpuk kayu bakar, aku kembali ke rumah dan menengok sang Paman. Dia tidur dengan mendengkur. Aku mengeluarkan selembar kain dan mengikatnya di wajahku, memusatkan kekuatan sihir ke kakiku. Dengan pelan aku melompat kea tap dapur.

Sekelilingku sungguh sunyi senyap. Karena istananya sangat luas, aku tidak berani pergi jauh, dan hanya berkeliling sekitar 100 meter di sekitar dapur. Keamanan disini sungguh renggang karena aku bertemu pasukan patrol sesekali saja. Aku diam-diam mengingat rute yang ku lalui. Setelah kembali ke rumah kayu bakar, aku mengambil selembar kertas dari dimensi penyimpananku, dan menggambarnya.

Setelah 10 hari, aku telah mendapatkan beberapa informasi terkait istana. Istana ras iblis dibagi menjadi bagian dalam dan luar. Bagian luarnya adalah tempat di mana kami bekerja yang mana mengelilingi seluruh istana. Aku sudah pernah berada di bagian dalam istana. Keamanan di sana sangat ketat. Bahkan gerakan kecil Xiao Rou, dapat mencuri perhatian para penjaga. Mu Zi dan Kaisar Iblis semestinya ada di sana.

Aku dipenuhi dengan pikiran saat aku membelah kayu-kayu itu. Paman berkata, “Eighteen, apa yang kau pikirkan?”

Aku tersentak dari lamunanku dan menjawab, “Tidak ada apa-apa.”

Paman tersenyum dan tidak meneruskan pertanyaannya. Paman merupakan sosok yang sulit di tebak. Meski tak ada gelombang sihir dalam dirinya, semenjak kejadian dengan Ke Lun Duo, aku sedikit waspada dengannya. Setiap malam sebelum aku pergi menyelinap, aku selalu memastikan bahwa Paman telah tidur dengan nyenyak.

Apa yang membuatku merasa senang adalah kecepatan pemulihan sihirku sangat cepat. Meski gold dan masih belum berkembang, akan tetapi sihir yang tersusun oleh elemen cahaya sudah semakin kuat. Gold dan yang ada di kepalaku terlihat samar dan tubuhku dipenuhi dengan kekuatan. Kekuatanku telah mencapai puncak tertingginya seperti yang dulu.

Sedikit misterius, setelah kehilangan gold dan, kekuatanku berkembang pesat. Fenomena yang benar-benar sulit kupahami. Aku juga tidak punya banyak waktu untuk fokus pada hal-hal seperti itu. Ketika aku melatih sihirku, bahkan jika aku meningkatkannya, sinar-sinar samar dapat terlihat dari tubuhku, jadi aku memilih siang hari untuk berlatih sihir. Sementara aku melakukan gerakan berulang membelah kayu, aku diam-diam mengumpulkan elemen cahaya, yang terus merasuk dalam tubuhku.

Translator / Creator: Kaho