August 7, 2017

Child of Light – Volume 8 / Chapter 5

 

The Sword Saint’s Holy Sword

Aku bertanya dengan takjub, “Bukankah keterampilan bela diri yang anda pelajari terfokus pada teknik anda?”

Penatua ketiga menjawab dengan penuh penghinaan, “Tahukah kau pepatah ‘satu gerakan memiliki sepuluh manfaat’? Pada standar kami, teknik sudah lebih dari cukup. Aku menyerang kembali.” Setelah mengatakan itu, dia tanpa henti mengeluarkan jaring cahaya emas ke arahku dari tenaga dalamnya.

Tenaga dalam yang begitu kuat kalau aku tidak menyerap pusat kekuatan suci, aku bukanlah tandingannya. Desa terpencil ini memiliki para ahli yang tak ada tandingannya dan mereka semua berjumlah lima orang. Ini luar biasa.

Aku berteriak, “Elemen cahaya, teman-temanku……” Aku terpikirkan untuk menggunakan Star Light Brilliance untuk melawan serangannya. Saat aku mulai meneriakkannya, ada banyak bintang terang di hadapanku. Aku menjadi senang. Mungkinkah ini berarti bahwa aku tidak lagi perlu melafalkan mantra sihir cahaya tingkat lanjut lagi? Ini hebat.

Aku memerintahkan beberapa bintang cahaya untuk membinasakan jaring cahaya. Setiap bintang cahaya bertubrukan dengan jaring cahaya tersebut. Setelah dua kekuatan yang kuat di atas langit bertabrakan, hujan cahaya menghujani area bertarung itu. Fenomena ini tampak menakjubkan.

Penatua ketiga menatapku dengan takjub. Sudah jelas bahwa langkah yang ku gunakan untuk melawan serangannya akan mengejutkannya.

Aku tersenyum dan berkata, “Anda tidak perlu terkejut seperti itu. Di kerajaan manusia, kemampuan sihirku di anggap yang terbaik atau terbaik nomor dua.”

Penatua ketiga berkata dengan nada dingin. “Lumayan bocah! Kau tidak mudah di jatuhkan, jadi cobalah untuk menerima serangan terbaikku.” Pakaian di tubuhnya bergerak tanpa terpaan angin manapun. Di sekelilingnya tampak tenaga dalamnya yang bangkit sangat dahsyat. Hingga membentuk pusaran emas di sekelilingnya dengan dirinya sebagai pusatnya. Yang membuatku merasa aneh tentang itu adalah adanya jejak cahaya biru di dalam pusaran emas tersebut. ‘Mungkinkah itu adalah Holy Light legendaris? Tapi hanya seseorang di tingkat Legendary War God saja yang bisa mengeluarkan tenaga dalam semacam itu .. Dari apa yang kuketahui, dalam beberapa ribu tahun ini, tidak ada War God yang muncul di dunia ini. Dan aku bertemu salah satunya? Aku sungguh sial. Kekuatan Holy Light sebanding dengan mantra terlarang dalam sihir, dan tidak akan lebih buruk dari itu.”

Aku tidak berani meremehkannya dan segera mengaktifkan Holy Sword di tubuhku sebelum aku berteriak, “Wahai Raja Dewa karuniakanlah Radiant Holy Sword padaku. Yang akan bersinar terang di atas langit surge.” Karena aku mampu mengendalikan Holy Sword, meskipun hanya sebagian kecil saja, aku dapat meminjam kekuatannya untuk merapal serangan mantra sihir terlarang yang telah diberikan Raja Dewa kepadaku. Yang tidak ku ketahui adalah kekuatan sihir tersebut sama terlarangnya dengan sihir itu sendiri.

Pada saat itu, tetua ketiga telah menyelesaikan persiapan serangan terbaiknya dan berteriak, “Serangan mahadahsyat – Holy Light Tornado!” Sebuah tornado kebiruan menuju ke arahku.

Setelah aku merapal mantra, aku merasakan seluruh kekuatan tubuhku berkumpul pada Holy Sword di dadaku. Holy Sword berwarna perak keluar dari tubuhku dan menunjukkan bentuknya di hadapanku. Aku berteriak, “Majulah!” Kekuatan besar Holy Sword melaju ke arah Holy Light Tornado.

Penatua Besar berteriak, “Ini buruk! Ini adalah Radiant Holy Sword!” Dia segera menggunakan jurus terakhirnya bersama tiga tetua lainnya untuk menerima serangan tersebut.

Setelah menggunakan seluruh kekuatan Holy Sword, seluruh energi di tubuhku sepertinya telah lenyap. Aku menggunakan tongkat Sukrad untuk menahan tubuhku yang telah lemah.

Kekuatan Holy Sword dan serangan dari ke lima tetua itu saling bertubrukan satu sama lain. Seolah waktu telah berhenti. Aku tampak tercengang melihat pemandangan yang aneh di hadapanku.

Penatua Agung bergerak di sampingku secepat kilat. Aku sudah tidak memiliki energi untuk melawan, dan membiarkannya membawaku ke tempat mereka sebelum dia berteriak, “Semuanya, gunakan mantra pertahanan kalian dengan segenap kemampuan kalian!” Saat dia mengatakan itu, dia menggunakan tenaga dalam yang kuat. Untuk melindungi dirinya dan diriku.

Pada saat ini, kekuatan di udara tampaknya bergabung menjadi satu. Pemandangannya benar-benar menjadi putih di hadapanku. Sebuah kekuatan yang besar telah mendorong kelima tetua dan diriku menuju dinding pelindung. Setelah itu, dinding batas pelindungpun hancur. ‘Hong! Hong!’ Suara nyaring tersebut menyebabkan pendengaranku hilang sementara waktu.

Ketika semua indra ku kembali berfungsi, aku menyadari bahwa segala sesuatunya telah berubah. Tebing terjal yang membentuk air terjun pun lenyap. Danau kecil itu telah menjadi tiga kali lebih besar. Di sekitarnya, terdapat desa-desa yang ada di mana-mana. Lima tetua melindungiku di tengah-tengah. Bercak darah terlihat di sisi mulut mereka. Kelimanya tampak tercabik-cabik dengan pakain mereka yang compang-camping, terutama tetua nomor tiga. Dia telah kehilangan hampir separuh rambutnya dan jenggotnya terbakar.

Dengan cepat aku memeriksa tubuhku. Untungnya, tidak ada yang sesuatu yang terjadi. Kecuali hilangnya hilangnya kekuatanku yang cukup besar, hal ini akan membutuhkan banyak waktu untuk pulih, tidak ada sesuatu yang salah. Apakah kelima tetua membantuku menahan ledakan besar tadi? Mengapa mereka begitu baik padaku?

Penatua Agung berteriak, “Apakah semua baik-baik saja?”

Jian Shan berkata, “Kakek, beruntung kakek mengarahkan serangan langsung menuju Heavenly Spring. Orang-orang hanya menderita sedikit luka karena terpental, jadi kami baik-baik saja. Tapi Heavenly Spring telah …… .. “

Penatua Agung memotongnya dan menjawab, “Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu mengatakan apapun lebih jauh. Kembali saja ke desa. Bawalah ia bersamamu.” Setelah dia mengatakan itu, sebuah sinar emas menerpaku. Aku sudah tidak punya energi untuk melawan serangannya. Tubuhku lemas dan aku pingsan.

Setelah aku kembali sadar, aku menyadari bahwa ada orang-orang di sekitarku. Aku tidak langsung membuka mata, dan memeriksa kondisi tubuhku. Aku menemukan bahwa ketiga gold dan di tubuhku bersirkulasi normal. Kekuatan sihirku (Perpaduan ketiga kekuatan berbeda itu hanya bisa dikenali sebagai kekuatan sihir mulai sekarang) sama seperti saat aku berada di air terjun. Holy Sword terdiam tenang di dalam tubuhku. Situasi seperti ini membuatku sangat bingung. Mengapa mereka tidak mengekangku? Tidak mungkin mereka tidak takut bahwa aku akan melarikan diri, bukan?

Suara yang lembut terdengar. “Apa kau sudah bangun, Pewaris Dewa?”

Aku terkejut lalu membuka mataku dan menemukan bahwa kelima tetua itu duduk di depan tempat tidurku. Aku bertanya dengan heran, “Apa itu Pewaris Dewa?”

Penatua Agung menjawab, “Jika kau tidak memiliki kemampuan para dewa, bagaimana kau bisa menggunakan Radiant Holy Sword ?!”

Aku menggaruk kepalaku dan menjawab, “Aku benar-benar minta maaf karena menghancurkan Heavenly Spring. Aku……..”

Penatua ketiga memotongku dan bertanya, “Itu tidak masalah. Bisakah kau memberi tahu kami bagaimana kau bisa mendapatkan kemampuan para dewa? “

Secara naluri aku tahu bahwa aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Jadi, aku menceritakan semuanya yang ku alami dan itu telah terjadi antara aku dan Raja Dewa. Beberapa tetua mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengungkapkan kekagumannya dari waktu ke waktu.

Setelah mendengar ceritaku, para tetua saling memandang satu sama lain sebelum mereka berlima tiba-tiba meninggalkan tempat duduk mereka dan berlutut di depanku.

Translator / Creator: Kaho