July 3, 2017

Child of Light – Volume 6 / Chapter 20

 

Ke Zha’s Succession

Tiba-tiba, ekspresi Guru Di berubah dan berkata, “Ada sesuatu yang harus ku katakan padamu. Selama liburan ini, Raja Kerajaan telah meninggal dunia. Pangeran Ke Zha sekarang adalah Raja Aixia.”

Aku tercengang, “Apakah Kaisar Kerajaan benar-benar telah tiada?”

Guru Di mendesah. “Itu benar. Sudah sangat sulit baginya untuk mempertahankan hidupnya untuk waktu yang lama. Begitu Pangeran berkuasa, dia akan segera memberikan gelar pada kami para tetua. Setiap orang dari kami memiliki gelar Royal Magician. Kau juga akan menerima gelar itu. ”

Aku tertawa kecil. “Pangeran … Ah! Maksudku, Kaisar Kerajaan benar-benar tahu bagaimana cara untuk memenangkan hati orang-orang. ”

Guru Di berkata, “Kupikir Ke Zha masih melakukan pekerjaannya dengan baik dalam masalah ini. Dia tidak hanya memberikan penghargaan pada kami kami, dia juga akan memberi penghargaan kepada dua keluarga besar dan Dun Yu Xi. Dia juga menjadikan Chuan Song, Dun Yun Xi dan aku sebagai penyihir untuk melindungi Kerajaan. Saat ini, kekuatan Duke Te Yi telah berangsur-angsur turun. Aixia untuk sementara waktu harus tetap aman.”

Aku menjawab sambil tersenyum, “Bukankah itu hebat? Itulah yang kita harapkan. Kita tidak sia-sia.”

Guru Di mengangguk. “AKu telah mengambalikan gelar milikmu kepada Pangeran Ke Zha. Kamu masih terlalu muda. Kamu seharusnya tidak bertindak terlalu mencolok. Hal tersebut juga tidak memberikanmu keuntungan apapun. Kau tidak akan menyalahkan guru, kan? ”

Aku tertawa kecil. “Kenapa aku menyalahkan Guru? Rasa terima kasihku padamu saja rasanya masih belum cukup. Aku tidak ingin menjadi pejabat. Aku tidak akan memiliki kebebasan. Aku masih punya babi kecilku Mu Zi yang masih harus kuperhatikan. Dagingnya sangat berharga dan harga dagingnya lebih sangat berharga. Jika ada sepotong daging yang sangat besar, ketika keduanya terjadi bersamaan, maka hidup tersebut akan lebih nyaman untukku.”

Guru Di marah, “Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan terhadapmu bocah nakal. Ada juga alasan mengapa aku tidak ingin kau mendapatkan gelar tersebut karena aku tidak ingin kau terlalu terganggu. Tugasmu sangat sulit. Raja Naga tidak mudah untuk dihadapi. Bahkan jika kau memiliki bantuan dari klan Naga, kau tetap tidak boleh terlalu senang. Apa kau mengerti?”

Aku dengan serius mengangguk. “Aku mengerti. Guru tidak perlu khawatir tentang itu. ”

……

Mu Zi baru kembali pada hari pembukaan sekolah. Wajahnya terlihat kurang baik. Dia tampak sangat pucat. Aku bertanya, “Mu Zi, apa yang terjadi padamu? Apa kamu kurang sehat? ”

Mu Zi memaksa senyuman dan menjawab, “Tidak apa-apa. Kepalaku hanya sedikit sakit. ”

Aku menyentuh dahinya yang dingin. “Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu harus memberi tahuku. Dengan kekuatan sihirmu, kamu seharusnya tidak mudah jatuh sakit. ​​”

Mu Zi menjawab, “Aku baik-baik saja, sungguh.”

Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari pandangan Mu Zi terhadapku. Sepertinya cintanya padaku semakin dalam. Namun, ada sedikit kesedihan di matanya. Sepertinya ada sesuatu yang menyedihkan telah terjadi.

Aku memanggil beberapa teman baikku untuk makan bersama di Ascending Jade Tide siang itu. Ma Ke berakhir dengan kesuksesan. Hubungan baiknya dengan para Master dan juga kekuatannya yang kuat, sudah cukup untuk pemberian gelar Pangeran oleh Kaisar Ke Zha. Terlebih lagi, Hai Shui yang merawatnya dengan sepenuh hati, dia saat ini adalah orang yang paling bahagia dalam kelompok kami.

Yang membuatku penasaran adalah Mu Zi yang sepertinya telah kehilangan nafsu makannya. Ketika aku memberinya makanan kesukaannya, dia hanya menggigitnya sedikit. Dia benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Setelah makan, aku membawanya ke sudut akademi. “Mu Zi, ada apa? Apakah ada yang salah? Bisa tolong beritahu aku? ”

Mu Zi tiba-tiba melemparkan dirinya ke arahku dan memelukku erat-erat. “Zhang Gong, aku benar-benar tidak ingin berpisah denganmu. Aku benar-benar tidak ingin!” Saat dia mengatakan itu, dia menangis.

Perasaannya campur aduk saat ini. Dengan lembut aku menepuk punggungnya. Aku tahu bahwa jika aku tidak membiarkannya menangis, itu akan menjadi buruk bagi tubuhnya.

Setelah beberapa saat, Mu Zi akhirnya berhenti menangis. Dia mendongak dengan air mata di wajahnya. “Zhang Gong, jika orang tua kita tidak setuju kita bersama, apa yang akan kamu lakukan?”

Aku membelai rambutnya yang panjang dan dengan lembut menjawab, “Gadis bodoh, kata-kata konyol apa yang kamu katakan? Bagaimana mungkin itu akan terjadi? Aku sangat luar biasa, mereka akan menyukaiku.” Setelah aku mengatakan itu, ekspresiku seakan memandang rendah dunia.

Melihat tingkahku yang lucu, Mu Zi tertawa terbahak-bahak. Setelah suasana hatinya sedikit mereda, dia kembali merasa sedih. Dia berkata, “Apa yang baru saja ku katakan adalah benar adanya. Aku tidak bercanda denganmu. Tolong cepat jawab aku.”

Dengan tegas aku menjawab, “Tidak ada yang bisa memisahkan kita, meski itu adalah orang tuamu. Jika mereka tidak setuju dengan hubungan kita, aku akan berusaha meyakinkan mereka. Jika itu benar-benar tidak berhasil, aku akan merebutmu dan membawamu ke suatu tempat yang jauh. Kita akan bersembunyi di tempat yang memiliki pemandangan yang mempesona sehingga mereka tidak dapat menemukan kita. Setelah dalam beberapa waktu tertentu, kita akan … Hehe! Ketika nasi sudah menjadi bubur, aku akan membawamu kembali untuk bertemu lagi dengan mereka. ”

Mu Zi mendesah dan bersandar di bahuku kemudian berkata, “Jika itu berhasil, itu mungkin rencana yang bagus. Tapi apakah itu benar-benar akan berhasil? ”

Aku mengerutkan kening dan berkata, “Dari apa yang kamu katakan, orang tuamu benar-benar tidak menerima hubungan kita. Apa aku tidak cukup baik? Mereka bahkan belum pernah bertemu denganku sebelumnya, mengapa mereka melarang hubungan kita? ”

Mu Zi menjawab, “Kamu tidak mengerti. Bukan masalah kamu baik atau tidak. Hanya saja….”

Melihat bahwa dia ingin berbicara tapi berhenti, aku dengan cemas bertanya, “Lalu apa itu? Tolong beritahu aku. Kemudian kita akan pikirkan solusinya. ”

Mu Zi menggelengkan kepalanya dan menatapku dengan perasaan sedih. “Lupakan! Pada saatnya kamu akan mengetahuinya sendiri. Kita jalani saja. ”

Aku sudah kehabisan kata. Dia selalu mengatakan kalimat ini pada setiap momen penting. Namun, aku tidak tega untuk memaksanya bercerita. Aku hanya dengan penuh kasih sayang perlahan memeluknya untuk meringankan beban di hatinya.

Secara tidak sengaja aku melihat ke bawah dan melihat bahuku yang di sandarinya basah. Kataku sambil tersenyum, “Ahhh! Kamu lihat ini. Bahuku benar-benar penuh dengan ingus dan air matamu. Kamu harus membantuku mencuci pakaianku.” Saat aku mengatakannya, nampak aku telah meringannya bebannya.

Mu Zi mendorongku pergi dengan wajah memerah. “Kamu jorok. Itu ingusmu. Aku akan membantumu mencucinya.” Saat dia mengatakan itu, matanya bersinar. Sebuah bola air terbentuk di tangannya.

Aku menatapnya bingung sebelum berbalik melarikan diri. Mu Zi melempar bola air itu ke arahku sembari dengan cepat mengejarku.

Setelah makan malam, aku mengantarkan Mu Zi kembali ke kamarnya dan juga menasihatinya untuk beristirahat dengan baik.

Aku berjalan ke tempat latihan yang sunyi. Apa yang Mu Zi katakan padaku di siang hari benar-benar membebani hatiku. Sepertinya kalau Mu Zi dan aku ingin bersama, tidaklah mudah. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?

Translator / Creator: Kaho