June 8, 2017

Against the Gods – Volume 2 / Chapter 111

 

World Ode of the Phoenix · Fragments (6)

Creak….

Pintu bambu kabin itu terbuka dengan hati-hati, dan tampaklah seorang wanita bertubuh rapuh sedang berjalan membawa keranjang yang terbuat dari bambu dan berisi pakaian yang tercuci bersih. Ia tampak berusia sekitar dua puluh tiga sampai dua puluh empat tahun, namun ia memancarkan suasana yang lembut dan menawan dari seorang gadis remaja berusia lima belas atau enam belas tahun. Ia begitu pendiam dan menawan seperti hibiscus (kembang sepatu) yang berada dibawah bulan yang bersinar. Ia mengenakan pakaian kasar berwarna abu-abu, namun hal itu tak dapat menghilangkan sosoknya yang cantik dan bagaikan bintang-bintang itu; Seolah-olah itu seperti air hujan yang berada ditepi gunung. Terutama matanya. Matanya jauh lebih jernih jika dibandingkan dengan batu kristal yang paling murni sekalipun, cukup cantik untuk dapat membuat seluruh dunia kehilangan warnanya jika dibandingkan.

Melihat dengan jelas ditempat ia berada, Yun Che sudah mengantisipasi kedatangan wanita itu. Namun, dalam sepersekian detik ketika wanita itu membuka pintu dan masuk, jantung Yun Che mulai berdetak kencang. Kedua matanya dan ekspresinya terpaku dan ia hanya bisa menatap dengan kosong. Seolah-olah seluruh warna pada dunia tersedot habis kedalam momen tersebut, dan hanya sosok wanita itulah yang tersisa. Seluruh emosi, pikiran, dan semua keyakinan Yun Che mulai melonjak penuh dan hebat … Pada tahun-tahun tersebut, wanita itu telah meninggal dalam pelukannya. Setelah Yun Che menangis, ia menyakini bahwa ia tak akan pernah meneteskan air mata lagi dalam seumur hidupnya. Namun pada saat ini, ia merasakan air matanya mengalir turun dibawah orbit matanya secara tak terkendali dan tak kuasa untuk menahannya…

Jantungnya berdetak kencang seakan-akan emosi yang seharusnya tak lagi menjadi miliknya itu bercampur aduk dalam kekacauan. Yun Che lupa dimana ia sedang berada sekarang; Lupa bahwa ia masih dalam uji coba. Pada titik ini, seluruh emosi dalam dirinya muncul secara bersamaan dan berubah menjadi tangisan yang datang langsung dari jiwanya …

“Ling’er … Ling’er !!”

Bang!

Keranjang bambu yang berada ditangan gadis itu terjatuh ke tanah. Melihat Yun Che yang sedang duduk ditempat tidurnya, mata gadis yang indah itu menunjukkan perasaan bahagia dan terkejut. Ia langsung bergegas kearah depan tempat tidurnya, ekspresinya begitu panik, namun gadis itu memaksakan agar suaranya terdengar lembut dan ramah: “Big Brother Yun Che, kau sudah terbangun … Apakah tubuhmu masih sakit? Apakah kau merasa tak nyaman sepenuhnya? “

Dengan wajah gadis itu yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah Yun Che, suasana kewanitaan yang hanya dimiliki oleh gadis itu mengakibatkan dampak yang sangat berat terhadap jiwa Yun Che. Mata gadis itu dipenuhi dengan perasaan bahagia, cemas, gelisah, sedih, dan kerinduan yang sangat tersembunyi … itu sama persis dengan kenangannya dimasa lalu, begitu juga dengan kehadiran wanita itu yang tak terhitung banyaknya didalam mimpinya. Hanya saja, Yun Che tak pernah berani untuk membayangkan bahwa suatu saat nanti, ia akan melihat sepasang mata yang begitu indahnya itu sekali lagi.

Yun Che berangsur-angsur tertegun karena menatap. Bibirnya bergetar tiada henti, dan ia juga tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Pada saat ini, semua pikirannya benar-benar telah hancur. Satu-satunya yang tersisa adalah sosok yang berada tepat didepan mata Yun Che ini tercetak begitu dalam di jiwanya, bahkan kematianpun tak dapat membuatnya lupa. Tanpa mempedulikan hal yang lainnya, Yun Che membuka tangannya yang masih terbalut dengan perban, dengan perasaan terkejut Ling’er berkata “Ah!”, Yun Che memeluknya erat-erat; Begitu eratnya sampai-sampai ia takut kalau gadis itu akan meninggalkannya jika Yun Che sedikit rileks.

“Big Brother Yun Che …” Tubuh Ling’er membeku selama beberapa saat sebelum ia membalas pelukan Yun Che, Yun Che menyandarkan seluruh tubuh Ling’er kedadanya dan berbisik pelan.

“Ling’er … Ling’er … Ling’er …”

Yun Che memahami betapa tak pantasnya dirinya pada saat ini. Hatinya benar-benar dalam keadaan kacau balau. Menangis atas dirinya sendiri, Yun Che dapat mendengar dengan jelas suara tangisan pada dirinya sendiri dan merasakan air mata yang tak kunjung berhenti menetes dari wajahnya.

Setelah kehilangan sesuatu yang begitu menyakitkan dimasa lalu, situasi seperti ini merupakan kejadian yang hanya muncul didalam mimpinya. Kehangatan didalam hatinya hampir cukup untuk membuat jantungnya berhenti berdetak; hal ini membuatnya merasakan jika ia akan mati sekarang juga, ia masih akan tetap merasa bahagia sepenuhnya. Jika memungkinkan, Yun Che ingin memeluknya untuk selamanya dan tak akan pernah melepaskannya lagi; Tak peduli seberapa besar harga yang harus ia bayar untuk itu.

Selama bertahun-tahun, ia sudah terbiasa dengan kehadiran gadis itu, biasa memperlakukan gadis itu sebagai tempat tinggal yang aman bagi Yun Che. Setiap kali Yun Che berdarah dan sekarat, ia pasti akan memanjat mati-matian didepan rumah kecil yang telah dibangun dengan tangan gadis itu sendiri … Setiap kali Yun Che membutuhkan kehangatan, ia tak dapat menahan dirinya untuk datang kesini … Setiap kali Yun Che marah dan menjadi gila, ia juga akan selalu datang kesini untuk mencari suasana yang damai. Dan, gadis itu akan selalu menyembuhkan luka ditubuh dan jiwa Yun Che, berulang-ulang kali. Gadis itu akan pergi ke sungai untuk menangkap ikan untuknya, menepuk punggung Yun Che seperti membujuk bayi untuk tidur … Yun Che terlalu waspada dan akan terbangun setiap setengah jam per jamnya setiap kali ia tertidur. Hanya dengan gadis itu disini, Yun Che dapat tertidur pulas hingga siang pada hari kedua.

Gadis itu adalah satu-satunya sumber kehangatan bagi Yun Che pada saat itu.

Namun, mata Yun Che dibutakan oleh kebencian. Ia hanya meletakkan perasaan balas dendam kedalam hatinya sebagai satu-satunya tujuan dalam hidupnya, dan hal itu menjadi kebiasaan bagi dirinya … Hanya pada saat Yun Che kehilangan gadis tersebut, Yun Che benar-benar mengerti bahwa gadis itu sudah lama menjadi bagian yang terpenting dalam hidupnya jika dibandingkan dengan nyawanya sendiri dan keinginannya untuk membalas dendam..

Berkali-kali, gadis itu akan memintanya sambil meneteskan air mata untuk tak membalas dendam lagi. Itu adalah satu-satunya permintaannya ditengah semua pengorbanan dan pertolongan yang ia lakukan tanpa pamrih, namun Yun Che tak pernah mendengarkannya … Bahkan pada saat-saat terakhir kehidupan gadis itu, ia juga tetap meminta kepada Yun Che untuk tidak membalas dendam kepada guru Yun Che dan guru gadis tersebut… Hal ini bukan dikarenakan yang membunuh gadis itu adalah salah satu anggota dari keluarganya sendiri, melainkan karena gadis itu sangat berharap agar Yun Che bisa menghentikan kehidupannya yang dipenuhi oleh rasa dendam dan kebencian yang tiada akhir itu.

Tak peduli seberapa besar penderitaan ataupun penyesalan yang telah dialami oleh Yun Che, apa yang telah hilang tak akan pernah bisa kembali lagi. Jika ia bisa melakukannya, ia bersedia untuk memberikan semua yang ia miliki sebagai gantinya; Bahkan jika itu adalah kehidupan dan jiwanya sendiri.

“Ling’er … Ling’er … Ling’er …”

Yun Che memeluk Ling’er dengan sangat erat. Terus-menerus, dengan setiap tangisannya, ia sangat berharap bahwa ia tak akan terbangun dari mimpinya ini. Perasaan yang terberkati dengan mendapatkan kembali apa yang telah hilang dulunya merupakan suatu hal yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

“Big Brother Yun Che …” muncul bisikan dari Ling’er disamping telinganya, dengan cahaya dan kabut yang hampir terasa seperti mimpi ini, “Jangan berpikir tentang balas dendam lagi, ok? Arwah gurumu disurga juga pasti tak ingin melihatmu seperti ini … Tak peduli apapun itu, aku bisa berjanji kepadamu selama kau tak membalas dendam lagi … Kita berdua bisa tinggal dihutan bambu ini. Kau akan menemaniku, dan aku, kau, untuk selamanya … seumur hidup … aku akan menjadi istrimu yang paling lembut … dan tak akan pernah meninggalkanmu… ok? “

Aromanya, suaranya, dan perkataannya; semuanya terlihat begitu akrab baginya, dan memang tepat itu adalah aroma dan suaranya. Terlebih lagi, itu adalah kata-kata yang pernah diucapkan oleh gadis itu kepada Yun Che sebelumnya … Dimasa lalu, setiap kali gadis itu mengucapkan perkataan seperti ini, jantung Yun Che pasti akan berdebar-debar, namun tepat setelah itu seseorang pasti akan hancur dan mati dibawah rasa bencinya. …

Setelah kehilangan dirinya, Yun Che bermimpi tentangnya berulang kali. Jika ia bisa mengembalikan waktu, jika langit memberinya kesempatan sekali lagi, ia tak akan pernah menolaknya lagi; Sama sekali tidak.

Tanpa keraguan sedikitpun, Yun Che menganggukkan kepalanya dengan semangat yang ekstrem; Mengangguk sebanyak lima hingga enam kali secara berturut-turut dan berkata dengan nada suara yang serak, “Ya! Ya! Ling’er, aku akan mendengarkanmu. aku berjanji, aku tak akan balas dendam lagi. Dimasa depan, kau akan menjadi hidupku; Hidupmu, akan menjadi hidupku, Dimanapun kau berada, aku akan selalu berada disisimu selamanya, menjagamu selalu dan kita tak akan pernah berpisah hidup dan mati!! “

Setiap kalimat, setiap perkataan, dan setiap emosi muncul dari jiwa Yun Che yang paling dalam. Yang mana perkataan itu sangat ingin diungkapkan kepada gadis itu sejak bertahun-tahun yang lalu.

Ling’er menangis dalam kebahagiaan, tangannya yang putih bagaikan giok itu memeluknya dengan erat-erat, “Big Brother Yun Che, apakah itu benar? Apakah yang kau katakan itu sungguhan? “

“Aku serius. Setiap kata-kata yang kuucapkan tadi adalah sungguhan. Jika aku berbohong, aku bersedia untuk dimusnahkan oleh langit.” Yun Che mengatakannya dengan penuh keyakinan.

Setelah mengucapkan kata-kata ini, Yun Che memejamkan matanya; Ekspresinya begitu damai dan bahagia. Ia merasakan benda tajam menusuk dari belakang punggungnya. Darah menyembur keluar dengan dahsyatnya disaat ia kehilangan kesadarannya dengan begitu cepat ditengah-tengah perasaannya yang begitu berat …

Peristiwa didepan matanya terdistorsi dan lenyap disaat dunia kembali lagi menjadi gelap. Yun Che membuka matanya. Dihadapannya, terdapat dua mata raksasa berwarna emas.

“Aku gagal.” Yun Che tertawa sambil mencela dirinya sendiri, namun berkata dengan mantap. “Awalnya, aku berpikir, dengan kondisi pikiranku pada saat itu, aku dapat melewati tahap ketiga ini dengan mudah. Namun aku terlalu meremehkannya. Heh heh, aku pasti telah mengecewakanmu. Pengejaranku akan kekuatan bukanlah suatu hal yang pasti. “

The Phoenix Spirit melayang keatas, “Respon jiwamu sejak awal berkata bahwa kau sudah mengetahui semua itu hanyalah sebuah ilusi, dan kau pasti sudah pernah melihat sebuah belati yang berada disamping tempat tidur. Kau juga jelas mengetahui bahwa kau harusnya memegang belati itu dan menusuk gadis tersebut, sehingga kau dapat lari dari ilusi tersebut dan melewati ujian ini dengan mudah. Lalu mengapa kau lebih suka tinggal bersama dengan ilusi itu dan menipu dirimu sendiri untuk percaya bahwa semua itu adalah nyata? Terkecuali, jika didalam hatimu, kekuatan besar yang bisa segera kau dapatkan ini tak sebanding dengan ilusi yang bersifat sementara itu? “

“Aku hanya tak dapat melakukannya.” Yun Che menggelengkan kepalanya dengan perlahan, “Ilusi ini berasal dari kenangan didalam jiwaku yang paling berharga. Meskipun itu hanyalah sebuah ilusi, namun itu sangat membekas didalam jiwaku layaknya kebahagiaan yang sejati. Kau tak akan bisa mengerti betapa aku mengasihinya, dan juga betapa besar aku telah berhutang kepadanya. Sekalipun itu hanyalah sebuah mimpi, dan meskipun aku harus kehilangan seluruh kekuatanku untuk membayarnya, aku tetap tak akan pernah mau menyakiti dirinya. “

“Bahkan jika memang begitu, mengapa kau tak segera menghindar, atau bahkan mendorongnya disaat kau merasakan dengan jelas bahwa gadis itu mengambil sebuah belati dan menusukmu?” The Phoenix Spirit bertanya dengan nada bingung.

Yun Che tertawa; Namun itu adalah tawa kesedihan, “Aku mengerti bahwa itu merupakan ilusi yang kau ciptakan dengan sungguh-sungguh berdasarkan apa yang ada diingatanku … Ling’er milikku, meskipun ia harus mati dengan sendirinya, ia tak akan pernah berniat untuk menyakitiku. Namun, aku rela mati ditangannya karena hidupku yang tak sebanding dengan utangku terhadapnya? Untuk bisa mati ditangannya, meskipun itu hanyalah sebuah ilusi, hal itu dapat membuat rasa bersalah yang ada pada diriku menjadi sedikit lebih ringan.”

The phoenix spirit terdiam dalam waktu yang lama.

“Aku memang haus akan kekuatan, namun didunia ini, ada banyak hal yang jauh lebih penting dibandingkan kekuatan. Aku juga membutuhkan kekuatan karena aku perlu melindungi hal-hal yang terpenting dalam hidupku. Dan sepertinya, entah aku memang tak ditakdirkan ataupun tak memiliki syarat untuk mendapatkan kekuatan phoenix ini … Tetapi, meskipun aku telah gagal dalam ujian ini, aku sudah puas. Karena dalam latihan tersebut mengijinkanku sekali lagi untuk melihat dan memeluknya, dan bahkan hal itu memungkinkan diriku untuk mengatakan janji yang ingin kuucapkan kepadanya bahkan dari dalam mimpiku sekalipun… “

Yun Che tertawa; Ia tertawa begitu ceria, tanpa adanya perasaan enggan ataupun penyesalan.

“Tampaknya gadis yang kau panggil sebagai Ling’er ini pastilah sangat penting bagimu. Dan juga karenanya, perasaanmu menahan penyesalan yang sangat berat. Namun, kau tak perlu menekan penyesalan ini dikedalaman jiwamu. Kau telah melewati siklus reinkarnasi dikarenakan oleh Heavenly Profound Treasure yang mana telah merusak karma yang terdapat didunia ini. Dibawah efek butterfly (kupu-kupu), waktu, dimensi, dan dataran juga akan berubah. Penyesalan dan hutangmu, kemungkinan kau belum kehilangan kesempatan untuk menebusnya.”

“Kau telah melewati siklus reinkarnasi dikarenakan oleh Heavenly Profound Treasure.” Kalimat ini membuat perasaan Yun Che menjadi sangat berat. Ia menatap langsung kearah mata emas yang berada didepannya dan tak dapat mengatakan apapun dalam waktu yang lama.

Heavenly Profound Treasure… Melewati proses reinkarnasi … Mungkinkah, oleh karena itulah dapat dilihat bahwa saat ini ia sedang menjalani dua kehidupan? Dan penyebab mengapa ia menjalani dua kehidupan selama ini … dikarenakan oleh kemampuan Heavenly Profound Treasure yang dapat melewati siklus reinkarnasi?

Heavenly Profound Treasure… Jasmine telah berkata sebelumnya bahwa Sky Poison Pearl yang berada ditubuh Yun Che merupakan salah satu dari Heavenly Profound Treasure. Namun kemampuan dari Sky Poison Pearl ini berpusat disekitar racun, obat-obatan, pemurnian, dan ruangan (kemampuan untuk menyimpan barang-barang). Diatas penemuan tersebut, darimanakah kemampuan untuk melewati siklus reinkarnasi itu berasal?

Sedangkan untuk setengah kata-kata yang telah diucapkannya setelah kalimat itu, Yun Che sama sekali tak dapat memahaminya. Ia bertanya-tanya, “Apa maksud dari kata-kata yang telah kau ucapkan itu?”

“Heh heh …” The Phoenix Spirit tertawa dengan misterius, “Tak masalah bagimu untuk hanya mengerti setengah dari kalimat itu, namun selebihnya adalah rahasia langit yang tak boleh diungkapkan. Seiring dengan kemajuan dan kekuatanmu yang terus meningkat didunia ini, suatu saat nanti kau akan memahami semuanya. “

Yun Che terjatuh kedalam pemikirannya yang dalam lalu menganggukkan kepalanya, “Phoenix Spirit, meskipun kau telah merusak ilusi yang berada dalam ingatanku dan membuat Ling’er menusukku dari belakang hingga aku mati, yang mana sebenarnya hal itu terlihat agak tak menyenangkan, namun aku harus berterima kasih kepadamu. Namun karena aku belum bisa melewati tahap ujian ini, maka aku harus pergi sekarang juga. “

“Tidak, belum saatnya kau pergi. Karena kau, baru saja melewati ujian tahap ketiga.”

“Selamat, manusia yang menanggung kekuatan Evil God. Dalam tahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya ini, Kau adalah praktisi kedelapan yang telah memilih untuk melepaskan kekuatanmu daripada melukai ilusi seseorang yang kau cintai. Kau telah mendapatkan hak untuk mewarisi hadiah dari Phoenix. “

Translator / Creator: fatality